Kobaran api di mana-mana. Hanya itu yang bisa kusaksikan sekarang. Di hadapanku, sesosok manusia dengan bagian bawah berupa badan ular meraung marah. Ia mengamuk dan mengacak-acak desa. Dengan semburan apinya, ia membakar banyak rumah yang memang hanya terbuat dari kayu beratap jerami. Anak-anak dan orang tua sudah diamankan di tempat khusus. Tempat yang sebelumnya sudah diberi mantra oleh para penyihir di desa. Karena mantra itulah siluman ular tidak bisa menyentuh, apalagi membakar rumah pengungsian ini. Sementara itu, ksatria dan penyihir yang dirasa cukup tangguh bertugas menahan siluman itu. Aku hanya diperbolehkan menyaksikan dari balik jendela rumah pengungsian. Di sampingku, Nara menatap cemas pada kedua orang tuanya yang berdiri di garis depan. Panjang siluman itu mencapai enam meter. Warna hijau mengkilap dari pantulan cahaya di sisiknya sebenarnya cukup indah, namun aku juga merasa cukup suram.
Meskipun terlihat menyeramkan, aku merasa sosok ular itu sebenarnya tengah bersedih. Sebuah kesedihan yang besar. Namanya Nagagini. Entah mengapa aku jadi mengingat kisah perwayangan di duniaku dulu. Namanya pun sama. Meskipun begitu, yang kuingat saat ini, kisah dan lakonnya benar-benar berbeda dengan di bumi.
“Ibu!” pekik Nara di sampingku. Ia berusaha untuk keluar saat melihat ibunya terpelanting akibat sabetan ekor Nagagini. Bi Heera berusaha memegangi Nara yang terus memberontak. Aku pun ikut memeluk tubuh itu. Nara menangis di dalam pelukanku, sementara tanganku bergerak sendiri dengan mengusap rambutnya perlahan.
Nagagini adalah musuh yang kuat. Bahkan dibutuhkan sepuluh ksatria tingkat pertama dengan lima penyihir tingkat srengenge untuk menyegel seekor Nagagini. Itu pun hanya sampai ia tenang dan berhenti memberontak. Sementara di desa ini hanya ada beberapa ksatria tingkat tiga dan penyihir tingkat buwana. Tentu yang bisa mereka lakukan adalah mencegah agar Nagagini tidak membunuh semua orang.
Pertarungan hidup mati itu akhirnya berhenti ketika semua orang yang melawan Nagagini telah meninggal. Selain orang-orang yang maju ke medan perang, ada banyak korban yang sebelumnya tertimpa reruntuhan atau terpanggang api. Nara sudah tenang setelah terus menangis ketika orang tuanya tak lagi bergerak. Kini lelaki itu tengah tertidur meskipun air matanya masih merembes dan sesekali bibirnya memanggil orang tuanya. Kupandangi tubuh kecilnya yang meringkuk di dalam dekapan Bi Heera. Kami bertetangga. Terlebih orang tua Nara menganggap Bi Heera layaknya ibunya sendiri, jelas saja hubungan kami sangat dekat. Aku baru menyadari sesuatu. Tubuh kami menyusut. Sepertinya ini adalah ingatan tubuh ini yang ingin disampaikan padaku tentang betapa pentingnya Nara untuknya. Meskipun aku sadar, selain dianggap sebagai kakak, tubuh ini juga menganggap lelaki itu sebagai sahabat, sekaligus rival. Setelah kejadin itu, Nara diurus oleh Bi Heera dan membuat kami saling bertemu setiap hari. Namun, ada satu lagi hal yang terlewatkan. Dalam kenangan ini, aku melihat sesosok hitam sedang duduk begitu saja di atas dahan pohon dekat desa kami. Sosok itu bermata merah, menatap kami dengan pandangan angkuh yang mengerikan.
Rasanya, kesadaranku seperti ditarik begitu saja melewati nostalgia masa lalu karena rasa sakit di telapak tanganku. Tanganku terasa benar-benar panas. Kuangkat tangan yang kini telah terbasahi dengan darah. Sebuah perasaan aneh terasa menggelegak di dalam tubuhku mengalir dari telapak tangan ini. Rasanya seperti sebuah aliran lava yang mengalir bersamaan dengan aliran darah dan berkumpul di jantung. Aku berteriak menahan rasa sakit yang belum pernah kualami sebelumnya. Mungkinkah rasa yang sama seperti melahirkan? Entahlah. Aku belum pernah melahirkan. Bi Heera dan Nara berlari masuk ke dalam kamarku dengan raut wajah panik. Mulut mereka terbuka mengatakan sesuatu, namun aku tidak bisa mendengar suara apapun. Suara berdenging memekakkan telinga itu menggangguku untuk mendengar. Bahkan suara yang keluar dari mulutku pun tak dapat kudengar sama sekali. Jantungku berdetak begitu keras dan semakin cepat hingga terasa nyaris meledak. Pandanganku berkabut, duniaku seolah berputar. Membuka mata hanya menambah rasa sakit dan keidaksadaranku saja. Bi Heera merapalkan sesuatu yang kurasa adalah sebuah mantra. Tangan berkeriput wanita paruh baya itu membelai dahiku yang penuh keringat dengan lembut. Aku memilih untuk menutup mataku yang tadi sempat kupicingkan sebentar untuk menikmati sentuhan yang dapat kurasakan. Hingga kemudian ia mendiamkan telapak tangannya di sana dalam jangka waktu yang agak lama. Rasa sejuk seolah menenangkan gejolak panas yang mengalir di dalam tubuhku, memperlambat aliran darah dan menenangkan gejolak jantungku. Kini, perlahan aku bisa merasakan dunia luar. Bahkan aku baru sadar kalau tangan kananku yang penuh darah tanpa luka itu tengah digenggam oleh seseorang. Duniaku seolah kembali tenang seperti semula. Dengan lemas kubuka mataku perlahan. Nara memegang tanganku dengan air mata mengalir di kedua matanya. Suara-suara itu akhirnya dapat kudengarkan. Remaja itu memanggil namaku sebelum kemudian memelukku erat. Aku merintih perlahan karena pelukannya terasa begitu menyakitkan. Nara yang menyadari tindakannya menyakitiku langsung melepaskan pelukannya. Bi Heera sedikit menegur Nara, setelahnya, aku kembali kehilangan kesadaranku.
Aku tenggelam dalam ruang hitam tak berdasar.