Kami mulai menjalankan tugas kami masing-masing. Berterima kasihlah kepada para siluman, karena gara-gara mereka aku bisa mengembangkan sihir telepati sampai bisa digunakan antar manusia. Walaupun penggunaannya masih satu arah. Setidaknya aku sudah bisa sedikit memodifikasi agar mereka juga bisa berbicara padaku lewat sihir ini dengan memanggil namaku sebanyak tiga kali. Lucu, ya? Kaya baca mantra. Mungkin, jika waktunya memungkinkan, aku bisa membuat ‘room’ khusus layaknya grup w******p yang membuat semua anggota yang terdaftar di dalamnya bisa berbicara secara langsung. Tapi, aku masih belum sempat mengembangkannya. Jujur saja, penemuan ini baru terjadi kemarin malam, saat aku bertemu dengan seekor siluman tuyul yang hendak menguntit uangku. Dari situ aku sempat berpikir kalau mungkin hebat bisa berbicara secara telepati ini tidak hanya kepada siluman, tapi juga manusia. Saat aku uji coba, rupanya benar-benar bisa.
Kami berpencar saat kami sudah menemukan markasnya setelah berkeliling dari satu titik ke titik lain dari tempat yang dicurigai. Kami berbagi tugas dalam pengintaian ini sebelum masuk dalam tugas utama kami. Bukankah mengenal musuh dengan baik adalah salah satu cara mencapai kemenangan? Semakin banyak informasi musuh yang kita dapatkan, maka semakin baik dan semakin besar peluang kita bisa menang. Nara kutugasi untuk mengecek adanya jebakan-jebakan fisik di sekitar markas mereka. Kalau perlu, dalam radius satu kilometer dari markas dan juga tempat mereka biasa merampok orang tak boleh luput dari pengamatan. Sementara Wira mendapatkan tugas memeriksa adanya aktivasi sihir atau tidak di sekitar markas mereka. Kedua hal ini bisa jadi ancaman serius kalau-kalau kami harus berkonflik ke luar. Aktivasi sihir juga bisa bermaksud banyak. Bisa sebagai portal teleportasi mereka, bisa juga sebagai senjata lain untuk melindungi diri. Untukku sendiri, aku mencoba meminta tolong beberapa siluman tingkat rendah untuk memata-matai bagian dalam. Karena, aku sempat mendapatkan informasi dari mereka kalau beberapa siluman tingkat rendah dibiarkan berlalu lalang layaknya kucing di kampung. Saat aku bertanya adakah kesempatanku untuk menyelinap masuk, semua siluman yang kutanyai selalu menjawab ‘mustahil’. Alasannya, karena mereka saling mengenal satu sama lain dan adanya sihir deteksi wilayah di sana. Sepertinya pelakunya memiliki kemampuan sihir deteksi yang luar biasa. Dengan kata lain itulah bakatnya. Jelas saja mustahil aku bisa masuk begitu saja.
Aku menanti di sebuah pohon yang berada sekitar dua ratus meter dari markas mereka. Tertutup oleh dedaunan yang rindang dan aku menyamarkan diriku di tengah-tengah siluman kera putih. Ada dua kera putih lain yang kutugasi mengawasi bagian dalam. Mereka akan mengirimkan berbagai informasi lewat telepati padaku.
Saat aku tengah berkonsentrasi dengan mereka, sebuah panggilan datang dari Wira. Aku membuka jalur komunikasi ke sana.
“Kenapa, Wir?”
“Aku menemukan sebuah portal teleportasi di bagian barat. Aku nggak bisa melacak ke mana tujuannya, karena sepertinya portal ini dibuat dengan menghubungkan beberapa tempat sekaligus. Benar-benar monster. Bisa sihir teleportasi aja udah hebat, la ini malah membuat portal yang bisa diaktifkan dengan tujuan yang berbeda-beda.” Remaja itu terkagum sekaligus iri, kurasa. Terdengar dari nada bicaranya. Seolah-olah dia tidak cukup hebat sampai mengiri pada kehebatan orang lain.
“Weh, kamu nggak salah? Kalo dia monster, terus kamu apa?” tanya Nara. Aku memang sengaja menyambungkan sekaligus untuk kita bertiga. Alasannya, karena aku malas mengulang laporan ke Nara.
“Ya aku manusia, lah. Emang apa kalo bukan manusia?” jawabnya sewot. Ah, drama sepertinya akan dimulai.
“Mana ada manusia yang bisa make sihir segila kamu? Kamu sadar nggak, sih, kalo sebenernya kamu tuh udah nyaris di tingkat gila? Yang kutahu, penyihir memang bisa memakai berbagai jenis sihir walaupun selain bakatnya, dia tidak akan mahir. Tapi, aku malah bingung sebenernya bakatmu apa. Karena kamu bisa semua dan semuanya dalam level ‘bakat’.” Nara tidak salah, sih. Karena aku merasa demikian.
“Bakatku pemaksimalan mana dalam sihir. Puas?” Wira sedikit nyolot. Nara menjawab dengan nada kaget, “Gila! Itu bakat yang aneh dan sepertinya terlalu tidak adil untuk diberikan padamu.”
“Maksudmu apa? Aku nggak pantes gitu make sihir ini? Aku nggak sebodoh kamu sampe harus nggak pantes dapet bakat ini.” Nada bicara Wira mulai naik.
“Aku nggak bilang gitu.” Santai sekali Nara menjawabnya. Lalu kupikir, sepertinya bakal jadi ramai kalo tidak segera kuhentikan.
“Kalian berdua diam dan lakukan tugas kalian! Kalau mau debat, nunggu tugas ini selesai. Aku persilakan kalian berdebat sepuasnya. Kalo perlu aku sediain arena buat bertempur kalo nggak puas cuma debat. Sekarang, kalian fokus sama misi kalian. Intelku juga udah balik ini,” leraiku akhirnya. Sebenarnya ingin saja aku mengamati mereka sambil makan kacang. Tapi, intelku sudah bersiap pada laporannya. Kami juga sedang berada di wilayah musuh.
“Intel?” tanya Nara heran. Aku yang lupa kalau salah bahasa, akhirnya meralat perkataanku. “Maksudku mata-mata.”
“Oh, paham. Okelah. Kamu bisa sekalian sambungin siluman itu ke sini?” tanya Nara kemudian.
“Eh, pertanyaanku belum dijawab!” potong Wira tiba-tiba. Aku sempat melupakan itu karena perdebatan mereka.
“Ah, kamu bisa batalkan aktivasinya? Jadi bikin portal sihir itu gagal dipakai kalau-kalau mereka mau kabur atau memanggil bantuan,” perintahku. Wira terdiam sebentar seolah memikirkan segala kemungkinannya, lalu ia menyetujuinya. Beberapa menit kedepan, remaja itu pasti sibuk dalam pembatalan aktivasi sihir. Oke, saatnya urus bagianku. Aku menyambungkan bagian kedua siluman kera putih itu ke dalam sambungan telepati kami yang tadi.
“Yo, silakan sampaikan laporannya,” perintahku pada mereka berdua.
“Biar aku duluan. Sekarang aku lagi ada di salah satu pohon di dalam markas mereka. Mereka bilang nanti malam mau beroperasi lagi. Ternyata informan mereka ada di tiap desa terdekat di sekitar Alas Roban. Dan target mereka adalah pedagang yang masuk ke Alas Roban. Total mereka ada sekitar lima belas orang. Semuanya laki-laki. Saat ini, dua dari mereka yang lagi keluar, jadi total yang di markas cuma tiga belas.” Salah satu dari mereka melaporkan. Yang satunya segera menambahkan saat siluman yang pertama selesai. “Sepuluh dari mereka adalah ksatria, sementara lima lainnya penyihir. Salah satu penyihir memiliki sihir deteksi yang hebat, dia satu-satunya yang tidak meninggalkan markas karena tugasnya menjaga markas. Yang kedua adalah pemilik sihir teleportasi. Dia yang menjadi transportasi anggota dalam jumlah besar. Tiga lainnya aju tidak tahu karena mereka sering ikut dalam penyerangan.” Selesailah laporan mereka. Aku mengangguk paham. Tapi, ada satu hal yang membuatku penasaran akhirnya kutanyakan begitu saja. “Kenapa kalian bisa tahu banyak? Bahkan beberapa detail seperti siapa saja yang tinggal dan apa kekuatan yang dimiliki.”
Salah satu dari mereka menjawab, “Karena kami sudah tinggal di sini sejak lama. Kami juga sudah sering mengamati mereka. Tapi, kami butuh beberapa kepastian untuk mengatakan semuanya. Selama mereka masih di dalam markas, kami tahu sebagian besar. Tapi, ketika mereka keluar markas untuk menyerang, kami tidak tahu lagi. Kadang mereka bahkan membawa gadis muda maupun laki-laki muda yang menurut mereka cantik untuk pelampiasan hasrat mereka.”
“Oke, stop. Aku paham. Nggak usah dijelasin lagi. Aku benci sama hal kaya gitu. Tapi, kenapa kalian mau bantu kami yang manusia?” tanyaku lagi. Sepertinya mereka tidak bosan pada pertanyaanku.
“Karena hutan ini suci, mereka pengotor. Mereka hanyalah sampah yang mengotori kesucian hutan ini. Selain itu, kami diperintahkan untuk menghormati dan membantu anda.” Lagi-lagi jawaban seperti itu yang kudapat. Seolah ada orang yang memerintahkan siluman untuk hormat dan melayaniku. Aku sendiri tidak paham kenapa dan siapa.
“Oke, oke. Aku paham. Semua siluman yang kutanyai punya jawaban yang mirip dengan inti yang sama. Sekarang, kalian bisa kembali. Aku dan kelompokku juga akan mundur untuk menyusun ulang rencana. Kamu udah selesai, kan, Nar?”
“Udah. Cuma beberapa jebakan aja, jadi bisa langsung diamankan. Aku ganti pake hewan liar buat kena jebakannya.” Jawaban Nara terdengar bersemangat. Sepertinya ia menyukai tugasnya ini. Aku beralih bertanya ke Wira yang masih hening. “Gimana, Wir kamu udah selesai belum?”
Wira berdehem sebelum menjawabnya, “Belum. Aku selesai sekitar tiga menit lagi. La gimana? Ada masalah apa?”
“Bisa dihentikan pembatalannya? Ubah jadi penundaan waktu pengaktifan dan pembatasan orang yang bisa diangkut dalam sekali jalan. Karena satu orang harus menjaga markas, dua orang masih di luar markas, maka total yang akan berangkat dua belas orang. Kalau dibatas hanya bisa mengangkut enam orang, maka sisa enam orang di sini. Ah, iya, buat seperti itu saja. Kamu bisa, kan?” perintahku. Wira kembali berpikir sebelum akhirnya menyanggupinya. Saat aku berbalik untuk mundur, tiba-tiba teringat akan sesuatu. “Hei, Siluman, kalian tahu yang mana pemimpin mereka?” tanyaku pada kedua siluman itu. Mereka menjawab bersamaan, “Tahu. Yang punya codet di mata kirinya.”
Oke, aku sudah mengantongi beberapa identitas mereka.
***
Malam sudah menggelap. Gemintang tersebar di atas langit. Aku selalu mengagumi langit malam di dunia ini, begitu terang dan berkilauan. Tanpa polusi, tanpa pencemaran. Benar-benar masih alami dan menenangkan. Seperti yang tengah kulakukan sekarang ini, memandangi sekaligus mengagumi langit dari jendela kamar.
“Udah siap semua?” tanyaku pada kedua sahabatku itu. Nara mengencangkan ikat pedangnya, sementara Wira membenarkan sarung tangannya. Aku juga sudah memeriksa jumlah anak panah yang akan kumasukkan ke dalam tempatnya. Aku sengaja membawa semuanya, jaga-jaga kalau nanti dibutuhkan.
“Sudah, dong,” jawab mereka berdua serempak.
“Udah siap buat huru-hara?” tanyaku lagi dengan nada agak semangat.
“Sudah, dong!” jawab mereka kembali dengan nada yang sama semangatnya. Aku terkekeh dengan tanggapan mereka. Kami akhirnya keluar dari penginapan dengan kesiapan penuh. Salah satu siluman kera putih tadi memberitahuku kalau salah satu anggota Bajing Loncat ada di desa ini. Bahkan ia sudah mengikuti orang itu. Menurut perkiraan kami, dia pasti akan kembali ke markas mereka sebentar lagi untuk memulai p*********n bersama yang lainnya melalui portal teleportasi yang dibuat salah satu anggota mereka.
“Yang itu bukan, sih, salah satu anggotanya?” tanya Nara menunjuk seorang laki-laki berusia sekitar 45-an yang berjalan ke balik pepohonan di tepi Alas Roban. Aku mengangguk mengiyakan. Salah satu siluman itu yang memberitahuku. Karena tidak memungkinkannya melakukan pembunuhan di sekitaran desa, aku meminta Wira untuk memberikan sirep padanya agar tertidur. Membawanya ke hutan untuk dieksekusi mungkin. Tapi, karena aku tidak tega untuk membunuh manusia, aku memilih untuk meminta Nara untuk mengikatnya dengan sihir paling kuat dan menyimpannya di dalam kamarku. Dia akan sadar paling tidak pada pagi hari, jadi sedikit meyakinkan untuk ditinggal.
Kami melanjutkan dengan segera menuju ke tempat tadi. Beberapa siluman kera putih sudah menunggu kami di sana, sementara seekor lagi yang tadinya membuntuti salah satu anggota Bajing Loncat ikut berloncatan antar pepohonan di belakangku. Bedanya dengan Nara dan Wira yang saat mengintai tadi berjalan di bawah, sekarang mereka bergabung denganku berloncatan dari satu dahan ke dahan lain. Selain efisiensi waktu, dengan cara ini juga dapat meminimalkan kemungkinan kami berpapasan dengan anggota mereka. Aku sempat berpikir sehebat apa mereka. Bayangkan saja, dari lima belas orang, sekalipun tak pernah berhasil satu pun tertangkap oleh Laskar yang bertugas. Berarti bisa dibilang menangkap salah satu anggota tadi adalah pencapaian besar, ya? Terlepas dari dirinya lengah atau tidak.
Salah satu siluman yang sudah berjaga di sekitaran lokasi portal mengabarkan kalau mereka masih kebingungan. Ada satu tambahan personel dari luar, sepertinya dari desa satunya. Lalu, mereka mulai bersiap-siap untuk berangkat enam orang.
“Dari sini kita pisah. Wira, bawa Nara ke tempat mereka ngerampok. Kamu serang mereka di sana. Kita tunggu aja dari pihak siluman kera putihnya, di mana mereka beraksinya. Nanti kalian langsung ke sana. Dari sini biar aku yang urus.” Mereka setuju tanpa banyak protes. Wajar saja, kami sudah mendiskusikannya dari tadi siang akan pembagian tugas ini. Sebenarnya Nara sedikit tidak ikhlas membiarkanku sendiri. Tapi, tidak mungkin, kan, dia membelah diri? Lagi pula, menurut perkiraanku, yang pertama dikirim adalah petarung utama mereka. Support dikirim terakhir, karena mereka punya daya tarung yang tidak semahir ksatria. Nara tadi sempat bertanya, kenapa penyihir yang memiliki sihir teleportasi tidak langsung memperbaiki portal itu. Jawabannya simpel, perbaikan portal tidak hanya dalam hitungan menit. Memperbaiki portal umumnya dilakukan dalam waktu sehari karena memakai sihir yang tidak sedikit.
“Nona Arakata, mereka datang di titik dua. Baru saja tiba.” Ah, laporan sudah masuk. Aku memang menyebar siluman kera putih yang ada banyak di hutan ini pada titik-titik kemungkinan mereka datang. Jadi, setelah pasti di mana mereka datang, Wira dan Nara langsung ke sana. Sementara aku memulai pestaku juga.
Sepertinya malam ini akan meriah.