Pesta baru saja dimulai. Tepatnya sesaat setelah aku menembakkan anak panah berapi ke markas persembunyian mereka. Ada sekitar sepuluh gubuk kecil dengan dinding kayu dan atap jerami serta tiga bangunan besar. Menurut keterangan siluman kera putih tadi, bangunan paling besar merupakan bangunan milik pemimpin mereka dan orang yang memakai sihir deteksi. Dua lainnya adalah gudang yang menyimpan harta rampokan mereka. Sebagian mereka gunakan untuk berfoya-foya, sebagian lagi sengaja mereka simpan sebagai koleksi. Bangunan-bangunan kecil sering kali hanya digunakan untuk tidur atau melakukan hal yang memuaskan hasrat biologis mereka.
Kecepatan anak panahku dan reaksi dari pemilik sihir deteksi tidak dapat disamakan. Jelas sekali belum sempat ia bereaksi dengan mengaktifkan jebakan dari dalam, sebagian besar rumah sudah terbakar. Terutama tiga bangunan utama mereka. Api dari mana memang cepat menyebar dan sulit dimatikan tanpa air dari mana. Jelas saja tanpa perlu waktu lama, seluruh bangunan yang dihinggapi anak panahku sudah terbakar hebat. Tujuh orang tersisa yang hendak berangkat membegal akhirnya berlari ke arah markas saat melihat adanya api yang membakar tempat persembunyian mereka. Dari atas sini, aku mengambil anak panahku dan mulai membidik salah satu dari mereka. Dari kelihatannya, ada seorang penyihir dengan bakat penyembuh yang masih tertinggal di sini. Sesuai peraturan umum yang tak tertulis, dalam melawan satu kelompok perlu untuk melumpuhkan support lawan terlebih dahulu. Terutama mereka yang memiliki kemampuan menyembuhkan dan memberikan buff pada kawan mereka. Bisa dibilang akan sangat merepotkan jika ada mereka dalam sebuah pasukan.
Saat anak panahku terasa sudah pas, langsung kulepaskan begitu saja. Sayangnya salah seorang dari mereka menyadari datangnya anak panah dan langsung menangkisnya hingga jatuh. Sepertinya aku tahu alasan kenapa mereka sulit ditangani. Kemampuan mereka bukan kaleng-kaleng.
Aku langsung meloncat ke berbagai pohon untuk mengacaukan tebakan mereka. Siluman kera putih membantuku dengan ikut berpindah di berbagai tempat seraya berteriak-teriak layaknya kera yang sedang bermain, sehingga situasi makin gaduh dan membingungkan. Syukurlah ketua mereka tidak ada di sini, jadi tidak terlalu berat untukku.
Di hutan ini, silumannya memang hanya ada siluman kera putih. Kata mereka, dulu leluhur mereka berasal dari sini sebelum kemudian pindah ke Negeri Siluman. Jadi, sebagian dari mereka bermaksud untuk menjaga tempat leluhur mereka berasal seraya menjaga tempat itu dari pengusik. Sayangnya mereka terlalu lemah untuk bisa mengusir gerombolan Bajing Loncat yang kata mereka m*****i hutan ini. Jadi, dengan keinginan mengusir mereka, para siluman kera putih itu setuju untuk membantuku mengusir mereka walaupun nyawa yang jadi taruhan.
“Si alan! Kalo berani sini, turun! Aku habisi kamu sampai nggak bersisa!” Salah seorang dari mereka berteriak dengan nada kesal. Seorang yang sepertinya dikatakan memiliki sihir deteksi keluar dari bangunan utama yang terbakar. Ia mendekati rombongan kelompoknya dan bergabung dengan mereka. Dari atas sini, aku bisa tahu kalau mereka sedang berbisik-bisik satu sama lain. Sepertinya akan semakin sulit dari sini. Karena, secara tidak langsung, aku sudah bisa mengetahui apa yang mereka bicarakan. Benar saja! Orang yang baru keluar dari bangunan itu langsung menoleh ke arahku. Ah, sepertinya tak ada gunanya menyembunyikan diri sekarang. Tapi, sebelum aku menampakkan diri, aku menghubungi Nara lewat telepati. “Nar, gimana keadaan sana?” Bukannya Nara, justru Wira yang menjawab, “Nggak terlalu bagus. Tapi, kami sudah menumbangkan dua orang. Sekarang si Nara lagi bertarung ngelawan ketuanya. Nggak bisa diganggu.”
Jelas saja, di sana juga sama panasnya dengan di sini. Wira kemudian menambahkan, “Kami nggak terlalu terdesak. Apa kamu mau aku ke sana buat bantu? Dari nadamu kayanya ada hal di luar ekspektasi yang terjadi.” Ah, tebakan penyihir itu tepat sasaran. Tapi, menarik Wira untuk kemari bukanlah hal yang bagus kurasa. Karena yang ada di sana adalah petarung-petarung hebat. Dan aku yakin ditangkapnya dua orang itu juga kemungkinan karena serangan dadakan Wira dengan rantai mana super kuatnya.
“Nggak usah, Wir. Kalian fokus aja sama rencana kita. Aku juga akan nyoba nyari caranya. Jadi, kalian bisa bertarung dengan tenang. Lagi pula anak buahku ada banyak di sini.” Aku mencoba menenangkan mereka. Jelas saja akan sulit kalau mereka malah tidak fokus.
“Oke, oke. Begitu kami selesai di sini, kami bakal langsung ke sana.”
Aku sengaja langsung memutuskan sambungannya untuk menghindari mengganggu konsentrasi mereka lebih jauh. Sekarang aku harus memikirkan bagaimana caranya agar bisa lolos dari mereka. Aku belum menguasai sihir teleportasi. Aku sendiri juga belum menemukan bakatku. Nara dan Wira bilang, mungkin bakatku adalah telepati atau mengendalikan siluman. Tapi, aku merasa itu bukan bakatku.
“Kami tahu kamu ada di sana! Keluar sekarang atau kami serang kamu pakai sihir!” ancam salah satu dari mereka. Aku tidak tahu itu masuk gertakan semata atau benar-benar ancaman. Tapi, daripada turun, aku memilih untuk meloncat-loncat bersamaan dengan siluman kera yang ikut memutari markas mereka.
Saat aku sampai di sebuah titik yang pas, aku langsung menembakkan anak panahku tanpa tunggu lama. Sepertinya mereka tidak memperkirakan ini. Anak panahku langsung menancap di lengan seorang penyihir yang kuduga penyembuh milik mereka. Aku sempat mengoleskan obat tidur dosis tinggi di ujung anak panahnya. Jadi, sepertinya sebentar lagi orang itu tidak akan sadarkan diri.
Seorang dengan pedang di tangannya langsung mencabut anak panahku dan membalut lukanya untuk menghentikan pendarahan. Namun, penyihir itu tiba-tiba kehilangan kesadarannya dan pingsan begitu saja. Mereka langsung meletakkan tubuh itu di tengah-tengah lingkaran mereka. Setidaknya satu orang tumbang. Kini, aku mulai mempersiapkan anak panah berikutnya dan hendak meloncat pindah posisi. Tapi, sebuah mana berbentuk petir menyambarku dari tempat mereka. Beruntung aku sempat menghindarinya. Sepertinya salah satu penyihir itu memiliki bakat listrik atau petir. Melihat bekas sambarannya membuatku berpikir mungkin akan gosong jika sampai mengenaiku.
Seorang dari penyihir itu mencoba menyembuhkan penyihir yang terkena anak panahku tadi. Tapi, sepertinya sia-sia karena level sihir penyembuhannya tidak sehebat si korban.
Aku bertanya-tanya mengapa mereka masih belum maju. Sepertinya mereka tipe yang banyak pertimbangan untuk maju ke medan perang. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Selagi mereka menebak-nebak apa yang terjadi dan berapa banyak musuh, aku harus menjatuhkan mereka sebanyak mungkin. Lagi, aku mencoba untuk memanah mereka lagi. Hanya saja kali ini dalam keadaan aku bergerak dan berpindah. Syukurlah kemampuanku hebat. Dua lagi tumbang dalam dua kali bidikanku. Sisa lima lagi. Satu Ksatria dan empat penyihir. Sepertinya mereka sudah memahami polaku, buktinya mereka kini mampu menghindar dan bahkan menyerang balik.
Hingga kemudian, saat anak panahku melesat, seorang penyihir dengan bakat teleportasi itu membuka portalnya ke arah anak panah datang dan membuka ujungnya tepat di belakangku. Anak panah itu menancap langsung di bahuku.
“Konyol banget sih, njir,” umpatku kesal pada diriku sendiri. Aku langsung membuka botol penawar obat tidur ini dan langsung menenggaknya begitu saja.
“Kayanya udah waktunya gua turun.” Aku menarik anak panah yang menancap di bahu dan langsung turun dari pohon. Ksatria yang tertinggal seperti seorang ahli jarak dekat. Aku langsung mengeluarkan pedangku.
“Akhirnya muncul juga kamu, pengecut. Dasar anak j*lang, beraninya bermain-main dengan Bajing Loncat!” Seorang yang mengumpat kasar itu adalah satu-satunya Ksatria yang masih sadar.
“Kalo mau bacot, ayo adu bacot lewat pedang ini! Bukannya kamu bernafsu banget buat bunuh aku?” ucapku memprovokasinya. Matanya makin melotot karena kesal. Kobaran api yang menjadi latar belakang pertarungan ini juga perlahan meredup karena kehabisan bahan bakar.
“Sini! Maju, kamu, setan! Biar kuputus lidahmu itu!” Sekalipun gerakannya kasar dan membabi-buta, aku bisa tahu kalau tenaga yang ia keluarkan sangat hebat. Sampai-sampai aku terpukul mundur beberapa langkah saat pedangku dan pedangnya beradu. Ia menyerang bagian sampingku dan berhasil aku halau sebelum akhirnya ia menyabetkannya lagi secara vertikal ke arahku. Aku memilih untuk meloncat mundur. Kami lalu saling maju dan beradu pedang lagi dalam keadaan sengit. Sampai kemudian dia melakukan tebasan vertikalnya lagi. Aku meloncat dan bersalto di udara melewatinya dan langsung menancapkan pedangku ke bahunya lalu mendarat di belakang bandit itu dengan posisiku dan dirinya saling membelakangi. Ia menjerit kesakitan. Amarahnya yang makin bergelegak membuatku makin waspada. Dengan bahu kanan yang sobek, ia masih bisa mengendalikan pedang seolah tanpa masalah apa-apa.
“Pernahkah kamu mendengar kalau kamu harus berhati-hati pada singa yang terluka? Kalau belum, akan langsung kuberitahu bagaimana ganasnya singa yang terluka.” Perkataannya tidak berlebihan. Ia kembali berkonsentrasi dengan tingkat konsentrasi yang sangat hebat. Lelaki itu langsung menebas begitu saja, membuat sebuah angin tajam yang ikut menebas. Aku langsung meloncat, tapi sayangnya masih sedikit terlambat. Kakiku tergores angin tajam itu sampai berdarah. Tanpa tunggu lama, aku langsung meminum ramuan penyembuh. Karena tidak mungkin aku menggunakan sihirku saat ini.
“Sunto, kamu butuh bantuan, nggak? Ayo kita serang beramai-ramai.” Seorang dari penyihir itu berteriak ke arah lelaki yang sedang adu pedang denganku. Rupanya namanya Sunto. Tapi, anehnya lelaki itu menolak. Padahal mereka akan langsung menang kalau mengeroyokku saat itu juga.
“Eeh, kenapa nggak mau?”
“Aku Ksatria! Walaupun aku adalah bandit, tapi darahku masih darah seorang Ksatria! Kami tidak mengeroyok musuh yang sendirian untuk mengalahkannya.”
Lelaki itu menatapku lalu berkata, “Maaf ada yang menginterupsi. Ayo kita lanjutkan pertarungan kita!”
Tapi, sepertinya tugasku sudah selesai.
Nara datang dengan membawa enam orang yang terikat oleh mana berbentuk rantai dan menjatuhkannya begitu saja.
“Ketua kalian sudah kami tangkap! Sekarang kalian menyerah atau kami bunuh mereka!” Meskipun terlihat kesal, mereka akhirnya menyerah juga.
Satu fakta menarik yang kudapatkan dari mereka adalah loyalitas mereka yang sangat tinggi kepada pemimpin mereka. Selain itu, rasa setia kawan mereka juga sangat tinggi. Kalau pengguna teleportasi mau kabur, tadi sangat mudah dilakukan. Tapi, dia tidak bisa karena kalau dia pergi, itu tandanya dirinya berkhianat. Yah, setidaknya itu adalah tebakanku. Siapa sangka justru benar-benar seperti itu. Bisa dibilang ini adalah pertaruhan besar. Sedikit saja dari mereka memiliki sikap individual, mungkin rencana yang sudah kami susun akan berantakan.
Kami memanggil petugas administrasi untuk mengurus penjahat-penjahat ini. Untunglah di desa itu ada kantor administrasi cabang, jadi, tidak makan waktu lama sampai petugas datang dan mengangkut sampah-sampah masyarakat itu.