Tepat matahari terbit di ufuk timur, kelima belas pelaku sudah diikat dalam satu tempat dengan rantai dari mana di depan penginapan. Warga sekitar berbondong-bondong menyaksikan apa yang terjadi. Dari raut wajah mereka, bisa kupastikan kalo mereka semua sangat bahagia karena sampah masyarakat itu telah ditangkap dan akan diadili. Jelas mereka merasa resah karena adanya Bajing Loncat itu membuat nereka kesulitan untuk berhubungan dengan desa lain, terutama yang berada di seberang Alas Roban. Bahkan mereka juga bercerita kalau tak jarang Bajing Loncat menjarah desa saat tidak ada sama sekali orang yang melewati daerah itu.
“Hoaam ... Mataku berat banget. Ngantuk rasanya,” keluhku pada diriku sendiri. Nara yang kebetulan di sampingku mendengarkan keluhanku dan menempelkan kepalaku di bahunya. Wira sendiri masih berbincang dengan seorang petugas. Kami masih menanti petugas-petugas itu mengumpulkan barang bukti di tengah alas, markas mereka. Untung saja aku tidak membakar habis semuanya. Itulah alasan kenapa si pemilik sihir deteksi itu bisa keluar dengan selamat walaupun kobaran api di luar bangunan terlihat mengganas.
Tak lama setelah aku mengeluh itu, seorang petugas yang sudah menyelesaikan semua urusan dan keperluan mereka menghampiri kami. Ia mendekat, lalu menyalami kami yang seketika langsung berdiri untuk menghormati beliau.
“Terima kasih untuk kalian karena berhasil menangkap mereka. Seandainya kalian gagal juga, kemungkinan misi ini akan menjadi misi rank-S karena banyaknya kegagalan yang diterima. Syukurlah sudah tidak ada korban lagi yang berjatuhan. Kami benar-benar berterima kasih pada kalian karena berhasil menyelesaikan misi ini dengan sangat baik. Bahkan, seandainya kalian hanya berhasil menangkap satu orang saja anggota Bajing Loncat, misi ini akan dikatakan berhasil oleh pusat. Karena kalian berhasil memenuhi syarat untuk naik tingkat, kalian akan menerima kenaikan pangkat sekaligus hadiah apresiasi akan keberhasilan kalian saat pelantikan nanti. Pelantikannya akan dilakukan di kantor administrasi pusat di Majapahit. Kalian akan berangkat ke sana bareng kami. Soalnya, pelantikan itu dilakukan satu minggu lagi bersamaan dengan beberapa Ksatria dan Penyihir lain yang juga naik ke tingkat pertama dan srengenge.”
“Baik, Pak. Kami akan segera mempersiapkan barang kami dan ikut berangkat bersama yang lain. Kalau boleh tahu, kita berangkat jam berapa?” tanya Nara kemudian.
“Dua jam lagi. Kalian juga butuh sarapan dan istirahat. Nanti, salah satu anggota kami yang akan menjadi kusir kalian, sementara kalian bisa beristirahat di dalam kereta,” jawab petugas itu.
Aku mengamati petugas dengan seragam berwarna biru ala pakaian dinas yang berlalu lalang. Semuanya laki-laki dan berjumlah delapan orang. Mereka membawa tiga buah kereta kuda dengan bentuk kereta yang lumayan besar dengan sebuah kerangkeng besi di pintu masuk yang katanya bisa dialiri mana listrik sebagai tempat untuk mengangkut para penjahat itu. Wira sudah kembali dari perbincangannya dengan salah satu petugas. Kupikir-pikir, tidak ada julukan khusus untuk para petugas ini. Tidak seperti di bumi dulu yang memiliki banyak nama dalam setiap instansi. Tapi, bisa kupastikan mereka layaknya PNS di bumi dulu dengan gaji langsung dari kerajaan yang memiliki tugas sebagai penghubung antara kerajaan dan masyarakat. Mereka juga yang mengatur berbagai misi dan administrasi lain untuk kemudian diserahkan dari Laskar ke kerajaan. Benar-benar jembatan yang hebat.
Untuk mendaftar menjadi petugas ini, biasanya ujiannya dilaksanakan setelah ujian Laskar. Ujian mereka juga lebih ke bidang administratif dan pertahanan diri dibandingkan adu kekuatan. Meskipun begitu, pendaftarnya bukan dalam kalangan penyihir saja. Ksatria juga banyak yang mendaftar menjadi petugas administrasi karena fisik juga sangat diperlukan dalam instansi ini, contohnya ya mereka yang menjemput penjahat ini sekarang. Aku bisa jelas melihat semua dari mereka memiliki tanda Lengkung Sabit di telapak tangannya saat bekerja tadi.
“Anak-anak, ayo sarapan dulu!” teriak seorang dari mereka yang membawa sebuah bakul berisi nasi dan dua orang di belakangnya membawa beberapa mangkuk berisi sayur dan lauk. Jelas saja mereka memanggil kami. Selain karena sebutannya anak-anak, hanya kami saja yang masih terbengong-bengong saat mereka datang membawa makanan. Yang lain sudah berlomba-lomba untuk mendekat dan mengambil piring yang sudah disediakan dan duduk dengan posisi melingkar.
Aku melirik kedua temanku yang malu-malu. Wira tadi langsung duduk di sebelahku setelah berbincang dengan petugas. Makanya aku pas di tengah mereka. Karena perutku juga sudah melilit tak keruan, aku akhirnya bangkit dengan memegang tangan keduanya untuk ikut maju. Sebenarnya aku juga malu, tapi, malu tidak bisa membuatku kenyang. Aku terpaksa membuang rasa maluku dan ikut mendekat untuk makan. Petugas yang tadi berbincang denganku menyerahkanku tiga piring untuk diberikan Nara dan Wira.
Aku mengambil nasi dan sayur serta lauk di atas piringku, lalu duduk di sebelah lelaki tadi karena memang ia paling pinggir. Ia sudah menghabiskan separuh isi piringnya.
“Omong-omong kita belum saling memperkenalkan diri. Namaku Sagara Agni. Kamu bisa memanggilku Sagara. Berurutan ke kiri ada Linggapati, Kuda Prana, Nararya, Lanang Dhanapala, Pamungsu, Adijiwa, dan yang terakhir Akandra. Kalau kalian?” Lelaki yang tadi menyalimi Nara atau Sagara memperkenalkan dirinya dan teman-temannya. Kami pun juga perlu memperkenalkan diri walaupun kutahu sebenarnya mereka sudah tahu nama-nama kami. Formalitas lah, istilahnya.
“Oke, aku Arakata Ratnaduhika Paramesti, sementara di sebelahku ini Rajendra Narasimha, dan yang satunya bernama Wira Candrakumara. Kalian bisa memanggilku Ara, Raka, atau Arakata, dia bisa dipanggil Nara, sementara satunya bisa dipanggil Wira. Salam kenal.” Seraya memperkenalkan diri, aku juga menunjuk keduanya ketika nama mereka yang kuperkenalkan.
Kini, kami akhirnya bisa makan dengan khidmat dan tenang.
***
Sagara tidak berbohong saat berkata kalau kusir kami berasal dari anggotanya. Justru Sagara sendiri yang menjadi kusir di kereta ini. Perjalanan kami masih memakan waktu tiga hari dengan jalur khusus yang hanya diketahui oleh petugas untuk mencapai ke ibukota. Jarak normalnya adalah lima hari lewat jalur biasa. Sagara yang ditemani Akandra menjadi kusir kami sekaligus menjadi penjaga komplotan itu dengan berjalan paling belakang. Dari belakang sini, mereka dapat melihat dengan jelas apa yang dilakukan penjahat-penjahat itu dengan jelas, sehingga mereka tidak mendapat kesempatan untuk kabur. Aku tadi sempat bertanya pada Sagara, apa tidak takut kalau mereka menggunakan sihir dari dalam sana? Rupanya, di dalam kereta itu ada mantra pematah sihir dan penghalang mana.
Jarak usiaku dan Sagara selisih dua tahun. Tapi, dia tidak ingin dipanggil kak, bang, atau malah om. Katanya, walaupun kami berselisih dua tahun, tapi terkadang pola pikir kami mengalahkannya dan membuat kami jadi terlihat lebih dewasa. Aku tidak paham apa maksudnya, tapi aku iyakan saja.
Berlalunya waktu tanpa terasa begitu cepat. Kami berjalan dari pagi sampai sore, lalu berhenti di desa terdekat untuk makan dan membeli persediaan makan untuk besoknya seraya tidur di penginapan dengan bergantian jaga untuk menjaga gerombolan bandit yang sudah ditangkap. Awalnya, kelompokku tidak mendapatkan jatah jaga. Tapi, sebagai wujud terima kasih karena sudah menjadi kusir kami, kami sepakat untuk ikut ganti berjaga saat malam. Hingga perjalanan tiga hari dua malam itu selesai dengan ditandai berdirinya gerbang ibukota yang gagah. Kami langsung menuju ke kantor administrasi misi pusat untuk menyerahkan tahanan dan mengambil hadiah uang kami. Hadiah lainnya akan diberikan saat pelantikan kami.
“Sepertinya kita akan berpisah sampai di sini saja, Kak. Terima kasih untuk waktunya.” Aku menyalami Kak Akandra begitu keluar dari ruangan untuk mengambil hadiah. Kebetulan saja kami berpapasan dengan Kak Akandra yang hendak masuk untuk menyerahkan laporan.
“Kamu benar, Dik. Kalau ada apa-apa, kalian bisa menghubungi kantor administrasi. Omong-omong, malam ini sampai hari-H, kalian mau nginep di mana? Punya kerabat kah di sini?” Kak Akandra memang ramah.
“Tenang saja, Kak. Kami punya kerabat di sini. Kebetulan pemilik penginapan Randublatung itu kerabat saya. Jadi, kami tidak perlu khawatir akan tempat tinggal dan makanan. Lagi pula bonus misi kami masih sangat banyak,” jawabku sambil tersenyum. Nara tiba-tiba menyahut bertanya, “Omong-omong Sagara mana, Kak?”
“Sagara ada di depan. Kamu bisa nemuin dia di halaman depan tempat kereta. Ya sudah kalau ternyata memang punya kerabat, jadi setidaknya tidak terlalu keluar banyak uang. Kalau begitu saya duluan. Ini laporannya sudah ditunggu di dalam.” Kami mempersilakan dan laki-laki itu langsung masuk ke dalam ruangan tempat kami keluar tadi.
Benar saja. Kami bertemu dengan Sagara yang sedang menyisiri rambut RJ di parkiran. Sesekali ia tampak sedikit berbincang dengan kedua kuda itu. Kupikir wajar saja kalau ia merasa sayang pada RJ, karena aku dan Nara pun merasakan hal yang sama. Mungkin karena RJ adalah kuda penurut yang tidak banyak ulah.
“Kalian mau ke mana?” tanya Sagara saat melihat kami mendekat. Aku mengelus-elus Jake yang sepertinya masih kelelahan itu. Sementara Nara mendekati Sagara dan menjawab pertanyaannya. “Kami mau ke penginapan Randublatung. Kami akan tinggal di sana sampai penobatan di mulai. Kalau kamu sendiri mau pulang ke mana?”
“Sebagai seorang petugas administrasi, kami tidak punya tempat pulang yang tetap. Apalagi untuk divisi keamanan kaya aku ini. Jadi, kami cuma bakal tinggal di asrama khusus sampai selesai tugasnya dan balik lagi ke wilayah kerjaku,” jawabnya. Kami mengangguk paham.
“Berapa lama di sini?” tanyaku.
“Besok sudah selesai. Jadi, kami bakal kembali ke tempat jaga kami besok.”
Aku mengacungkan tanganku mengajaknya bersalaman. Ia menerimanya dengan ringan.
“Jangan lupain kami, ya? Kalau memang berjodoh, mungkin kita bakal ketemu lagi,” ucapku sedikit berat. Sekalipun cuma tiga hari, di sana ada canda dan tawanya, loh. Jelas saja terasa berat
“Tenang. Nggak mungkin aku lupain,” jawabnya seraya terkekeh. Kami melepaskan salaman kami. Ia beralih dengan meraih bahu Nara dan berpelukan dengan remaja itu.
“Kapan-kapan kita pasti ketemu lagi.” Hanya itulah ucapan yang diucapkan Sagara dan diamini Nara. Sementara itu, ia hanya bersalaman dengan Wira seraya mengulas senyumnya sedikit. Mereka langsung melepaskan tangannya tanpa tunggu lama.
Aku dan yang lain langsung naik ke kereta yang mana Wira yang menjadi kusir. Sebenarnya aku menyadari satu hal tentang anak itu. Ia menjadi lebih pendiam setelah selesai mengalahkan bandit itu dan petugas-petugas itu datang. Ia semakin diam setelah berbincang dengan Adijiwa.
Karena aku sudah merasa jengah, akhirnya aku mulai membuka suaraku. “Wir, kamu kenapa? Akhir-akhir ini jadi pendiam. Padahal biasanya paling rese.”
Wira hanya berdehem tanpa menjawab sepatah kata pun.
“Jangan kebiasaan, Wira! Kamu lupa apa yang aku bilang di lantai atas waktu itu? Kita ini teman. Sudah selayaknya kita saling berbagi masalah dan solusi. Kami nggak bisa bantu apa-apa kalo kamu diem aja kaya gini.” Aku mulai sedikit kesal. Remaja itu terlalu tertutup saat ia merasa masalahnya tidak penting dan tidak merugikan orang lain. Padahal, dia butuh sharing agar beban yang ia bawa berkurang.
“Serius kalian bisa diandalkan? Lagian ini bukan masalah yang perlu solusi. Aku cuma lagi punya suasana hati yang jelek.” Setidaknya, kalimat ceplas-ceplosnya sudah kembali. Walaupun aku masih belum yakin kalau ia sudah baik-baik saja.
“Kamu nggak usah lebay, Wir! Kami lupa kalo kita temen? Apa cuma kami yang nganggep kamu temen sedangkan kamu nggak?” sergah Nara. Aku salah fokus pada kata lebay yang ia pakai. Mereka jelas tahu artinya karena aku lumayan sering mengucapkannya sendiri saat aku kesal akan sesuatu yang terasa tidak masuk akal.
“Bukan gitu! Kalian temen aku. Aku seneng bisa kenal kalian dan temenan sama kalian. Tapi, kadang ada hal yang nggak bisa aku ceritain karena aneh.” Wira akhirnya mulai terbuka.
“Apa kamu lupa kalo di sini nggak ada yang bener? Jadi, apa pun itu, nggak akan aneh buat kamu.”
Wira akhirnya menghela napasnya panjang. “Oke, aku ceritain. Tapi, kita udah sampe ini. Temuin tante dulu, terus kita kumpul di kamar Arakata. Aku cerita di sana nanti."