Bi Sartika menyambut kami dengan bahagia. Ia langsung memelukku begitu aku memasuki penginapannya. Paman Dwipangga juga langsung memberikan tos pada Nara dan Wira. Kami langsung diarahkan pada kamar yang pernah kami gunakan saat itu. Karena sekarang penginapan sedang ramai, maka lagi-lagi Wira dan Nara mendapat kamar yang sama.
“Makan dulu, yuk! Bibi udah masak enak ini. Kalian lapar, kan?” Karena posisi sudah agak sore dan kami lumayan kelelahan juga kelaparan, kami langsung menyetujui dengan semangat ajakan makan itu. Bahkan, mata Nara langsung berbinar-binar. Mungkin kalau ini di anime, matanya memancarkan bintang-bintang yang berkedip terang.
“Paman Arya mana, Bi?” tanyaku saat memeriksa sekitar. Biasanya, pemuda itu akan berdiri di balik meja bartender untuk membuatkan minuman atau melayani makanan ringan. Tapi, aku tidak melihatnya hari ini.
“Oh, Arya. Dia sudah izin sejak lima hari yang lalu karena menikah. Mungkin masuk kerja lagi lusa,” jelas Bi Sartika. Aku terkejut karena tak kusangka ia sudah menikah beberapa hari yang lalu.
“Wah, kita harus kasih hadiah, nih. Besok belanja buat kasih Paman Arya hadiah, yuk! Sekalian kita cari baju bagus buat pelantikan,” ajak Nara tiba-tiba. Aku melihat isi piringnya yang membuatku merasa wajar kalau Wira selalu meledeknya karena porsi makannya.
“Boleh aja. Sebenarnya pake baju yang kemaren juga nggak masalah, sih. Lagian baju itu juga nggak pernah aku pake,” jawabku. Memang benar baju itu tidak pernah kupakai. Kusimpan dalam tumpukan terbawah dari tumpukan baju yang selalu kubawa. Lagi pula aku hanya punya beberapa baju, sih. Karena sering melakukan perjalanan, ganti baju rasanya terlalu ribet dan membuang waktu. Akhirnya aku memilih untuk meminta Wira menggunakan sihir pembersih untuk kami sampai kami menemui desa untuk menginap, mandi, dan ganti pakaian.
“Aku setuju sama Nara. Lagian, memangnya kamu nggak malu pakai baju yang sama untuk dua acara? Sekarang kita punya uang banyak, jadi, jangan terlalu irit. Jadinya pelit, atau malah medit.” Wira menanggapi. Aku mendengkus kesal.
“Bukannya medit. Tapi, sayang aja bajunya jarang dipakai. Kan jadinya mubazir,” sahutku kemudian. Bi Sartika dan Paman Dwipangga mengamati kami sambil sesekali terkekeh.
“Kalian mau pelantikan? Berarti kalian sudah di tingkat teratas?” tanya Paman Dwipangga seolah baru menyadari arah pembicaraan kami. Aku menelan nasi yang masih kukunyah sebelum kemudian menjawab, “Ya, benar, Paman. Kemarin kami berhasil menyelesaikan dua misi rank-A dengan sangat baik. Makanya kami bisa berhasil naik tingkat dengan singkat.”
Bi Sartika terkejut. Wanita itu langsung bertanya dengan nada khawatir, “Tapi, kalian nggak apa-apa, kan? Misi rank-A itu misi yang sangat sulit. Bahkan, kalian bisa saja celaka karena misi itu.” Aku mendadak merasa bersalah padanya karena aku dan Nara nyaris mati kemarin. Aku berniat untuk menyimpannya sendiri sampai kemudian mulut ember Wira langsung berceletuk, “Kemarin Nara dan Arakata hampir mati.”
Spontan aku dan Nara langsung menginjak kakinya dengan keras. Posisi kami kebetulan berseberangan. Aku, Nara, dan Bi Sartika berada di sisi yang sama di meja persegi panjang ini, sementara Wira dan Paman Dwipangga di sisi seberang. Kami makan bukan di tempat pelanggan, ada sebuah ruangan khusus untuk tamu dan keluarga dan ruangan itu yang kami gunakan sekarang.
“Astaga. Tapi kalian tidak apa-apa, kan? Kalian sehat, kan?” Aku yang kebetulan berada di tengah, jadi Bi Sartika paling dekat denganku langsung memeriksa diriku. Ia memegang mukaku dan memeriksa setiap jengkalnya. Hidup ini lucu, ya? Yang bukan siapa-siapa terkadang malah jauh lebih menyayangi kita daripada orang yang mengaku dirinya saudara. Aku memang belum pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki saudara atau keluarga kandung, baik dalam kehidupanku yang lalu maupun kehidupanku saat ini. Tapi, aku sudah mengamati banyak keluarga. Tak jarang ada anak yang ditelantarkan orang tuanya di panti asuhan, padahal itu darah daging mereka dengan alasan dia tidak ingin merawat anak itu. Tak jarang juga ada anak yang diberikan ke panti asuhan karena saudara pihak orang tuanya tidak ada yang mau merawatnya, sementara orang tuanya sudah meninggal. Padahal ada darah mereka juga di dirinya. Tapi, mereka yang tidak terjalin ikatan darah apa pun terkadang bisa sangat menyayangi satu sama lain. Seperti yang aku rasakan saat ini.
Melihatnya yang terlalu khawatir, aku lantas memegang tangannya lembut seraya menatap matanya dengan senyum. Bi Sartika masih sedikit panik sebelum kemudian sedikit tenang.
“Bibi tenang aja, ya? Aku udah nggak papa. Kemarin memang ada sedikit kecelakaan, tapi, kebetulan kami bertemu orang yang hebat. Jadi, kami bisa selamat. Semua sudah berlalu, Bi. Mungkin memang itu prosesku untuk menjadi lebih kuat dan bertemu dengan ayahku. Bibi tenang, ya? Sekarang aku sudah sehat, kok. Nih, buktinya aku makan banyak. Aku juga sehat banget,” hiburku. Mata Bi Sartika tiba-tiba berkaca-kaca sebelum akhirnya menangis. Aku memeluknya seraya mengelus-elus punggungnya. Hangat. Rasanya seperti aku sedang memeluk ibu.
“Bibi takut. Dulu, bibi juga punya kakak. Dia seorang Laskar seperti kalian. Sampai suatu hari, dia mengambil misi rank-A untuk kenaikan pangkatnya. Tapi, pamitnya sebelum berangkat misi menjadi pamit terakhirnya karena ia gugur dalam misi. Jadi bibi takut kalau kalian kenapa-kenapa.” Bibi bercerita ketika tangisnya mulai surut. Paman Dwipangga berpindah tempat untuk mendekati bibi dan mengelus pundak istrinya.
“Bibi tenang aja, oke? Kami akan jaga diri baik-baik, kok. Beruntung aku punya penyihir hebat dan ksatria yang kuat, jadi, aku aman. Bibi tenang saja, ya?” Aku berusaha menenangkan beliau.
“Bukannya Bibi bermaksud apa-apa, tapi, kehilangan seseorang yang kamu sayangi itu menyakitkan. Bibi nggak bisa bayangin gimana perasaannya Heera kalo denger ini. Jangan cerita ke dia, ya? Bisa-bisa kamu dikurung di rumah nggak boleh keluar,” kelakar bibi saat dirinya mulai tenang. Ia terdiam sebentar, lalu melanjutkan perkataannya. “Mungkin terdengar aneh, tapi Bibi sudah menyayangi kalian sejak awal kita bertemu saat itu. Terutama kamu, Arakata. Bibi hanya punya satu anak laki-laki sebelum rahim Bibi diangkat karena penyakit. Bibi pengen banget punya anak perempuan. Saat itu, Bibi sebenarnya sempat meminta kamu untuk Bibi rawat dari Heera. Tapi, dia menolak. Bibi juga tidak bisa memaksakannya. Bibi sebenarnya senang banget pas dapat kabar kalau kamu mau menginap di sini. Sayangnya saat itu Bibi lagi punya urusan yang tidak bisa ditinggal, jadi Bibi tidak bisa menyambutmu. Bibi harap kamu juga menyayangi Bibi, ya?” Kini tahulah aku apa alasan kenapa bibi begitu takutnya sampai menangis. “Iya, Bi. Bagiku, Bi Heera dan Bibi itu seperti ibuku sendiri,” jawabku.
“Omong-omong kamu masih sering kirim kabar ke Heera, kan? Kasihan dia nungguin kabar kamu di rumah.” Aku mengangguk. Kebetulan memang aku selalu menyiapkan waktu khusus untuk menuliskan apa yang kulakukan setiap hari sampai kemudian aku kirimkan ketika sampai di desa terdekat.
“Selesai makan, kalian bisa beristirahat. Kalian pasti capek, kan?” Kami langsung memakan nasi di piring kami dengan lahap hingga habis.
***
Kami sudah berkumpul di kamarku dengan pandangan menatap Wira tajam. Kami menuntut pertanggungjawaban atas rasa penasaran kami sejak tadi.
“Kalian kenapa, sih? Tiba-tiba nyeret aku ke sini dan pelototin aku kaya gitu,” protesnya seolah amnesia.
“Tanggung jawab! Kamu bikin kami penasaran!” tuntutku. Ia semakin memasang wajah bingung.
“Tanggung jawab kenapa? Emang aku ngapain?” elaknya. Dengan sedikit kesal, Nara menyahut, “Yang kamu bilang di kereta tadi, Wira! Kamu mau ngajak adu pedang?” Njir, nih anak kalo ngomong suka sekata-kata. Ngamuk boleh, tapi tolong filter kata-kata yang mengandung konotasi dan membuat sebuah keambiguan.
“Aku penyihir, nggak pake pedang!” protes Wira Out of Topic.
“Stop it! Berhenti debatin omong kosong! Wira, kalo kamu beneran lupa, perlu aku pukul pake gagang pedang biar inget? Nara, berhenti omongin hal ambigu atau kamu aku banting saat itu juga!”
“Oke, oke, Rak. Kamu ngeri kalau udah marah. Sebenernya nggak ada alasan apa-apa sih, aku jadi pendiam gitu. Cuma nggak suka aja sama suasana banyak orang baru. Kan kalian tahu kalo pertama kita ketemu juga aku nggak banyak omong,” jawabnya santai. Nara langsung memasang wajah cengo setelah mendengar alasan yang ‘sangat tidak masuk akal’ itu.
“Bukannya aku kemarin udah bilang kalo alasan yang aku punya itu aneh? Kalian aja yang terlalu pengen tahu.” Wira membela diri. Kalau diingat-ingat, sih, apa yang dikatakannya ada benarnya.
“Terserah, lah, Wir. Sana kalian berdua keluar! Aku mau mandi terus tidur!” usirku kesal. Wira langsung keluar setelah sedikit terkekeh, Nara mengikuti di belakangnya sambil menggerutu. Tapi, saat ia nyaris menutup pintu, Wira melongokkan kepalanya sambil mengatakan hal yang manis. “Terima kasih udah peduli. Bagiku, kalian itu memang bukan teman, tapi kalian adalah kakak sekaligus adik juga sahabat yang aku cintai.” Aku dan Nara tidak sempat bereaksi apa-apa dalam beberapa detik setelah mendengar kata-kata Wira karena terlalu terkejut. Anak itu memang tidak bisa ditebak.
***
Hari pelantikan akhirnya tiba. Aku dan yang lainnya sudah berdandan rapi untuk berangkat ke kantor administrasi pusat. Dibandingkan yang saat upacara pembukaan, saat ini aku memilih memakai pakaian yang lebih simpel. Lagi pula tidak ada keharusan memakai baju formal layaknya upacara pembukaan kemarin, karena saat ini kami sudah menjadi Laskar. Nara dan Wira juga setuju denganku, jadi, daripada memakai jas, mereka memilih membeli baju baru yang nyaman untuk mereka bawa saat pelantikan.
Keadaan lapangan depan kantor administrasi sudah dipadati banyak petinggi. Dari yang kutahu, sih, semuanya adalah petinggi petugas administrasi, dilihat dari seragam mereka yang terlalu formal dan kaku dibandingkan petinggi kerajaan yang biasanya lebih terkesan mewah. Dari yang kulihat, hanya ada sekitar sembilan orang yang akan naik tingkat – ditambah kami tiga orang, total dua belas calon— dan kebanyakan dari mereka sudah berusia dewasa. Hanya kami bertiga saja yang masih remaja.
Bisa kurasakan tatapan sinis itu menghunjam ke arah kami dari beberapa Laskar yang akan dilantik. Wajar, sih. Mungkin mereka berpikir kalau kami memakai jalur orang dalam karena berhasil mencapai tingkat tertinggi dalam waktu singkat. Kalau menurutku bukan yang tertinggi, karena masih ada tingkat nol untuk Ksatria dan Nirwana untuk penyihir. Tapi, tingkat itu hanya akan diberikan pada mereka yang benar-benar memiliki kemampuan luar biasa yang diakui banyak orang. Untuk saat ini, belum ada yang mencapai sana. Jadi, tingkat pertama dan Srengenge diakui sebagai tingkat tertinggi.
Bisik-bisik dan gerak-gerik tak berguna akhirnya berhenti total saat seseorang laki-laki berusia paruh baya menaiki podium. Tidak seperti pejabat kebanyakan yang berperut buncit, pak tua itu masih saja mempertahankan kekekaran tubuhnya meskipun jambang dan rambutnya nyaris memutih. Ia mulai membuka suaranya.
“Sugeng enjing, semua!”
“Sugeng enjing,” jawab semuanya serempak.
“Sebelumnya, izinkan saya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Laskar di hadapan saya ini. Kalian semua adalah Laskar yang hebat. Laskar yang mengutamakan misi dan keamanan penduduknya sehingga menciptakan ketenteraman di hati para penduduk. Hari ini, kami akan secara resmi menaikkan tingkat kalian mencapai tingkat tertinggi dengan harapan kalian bisa berkontribusi sebanyak mungkin untuk negeri ini. Tidak ingin berlama-lama, silakan kalian maju setelah nama kalian disebut untuk menerima lencana baru kalian.” Satu persatu dari mereka maju, sampai tibalah pada giliran Wira. Tatapan yang kami terima sebagian besar adalah tatapan tajam, tapi, tak sedikit juga yang menatap kami kagum. Biasanya, mereka yang tahu kebenarannya lah yang menatap kami kagum.
Setelah tiba pada giliranku, upacara ini otomatis selesai. Tidak seperti upacara kenaikan pangkat di bumi dulu, di sini lebih ke arah to the point daripada di bumi yang terlalu banyak rentetan susunan acara. Jelas saja, aku jauh lebih menyukai di sini. Capek kelamaan berdiri.
“Hey, kamu! Anak kecil! Kamu masuk pake jalur apa sampai bisa naik pangkat secepat itu? Bukannya kalian baru jadi Laskar kemaren? Jangan sombong kalian. Nyogok berapa biar bisa cepet naik pangkat?” Semakin tinggi pangkat, semakin banyak akses dan fasilitas yang di dapat. Semua orang tahu itu. Tapi, hanya sedikit orang yang menyadari kalau tanggung jawab yang harus ditanggung juga makin besar. Seperti laki-laki di hadapanku saat ini. Mukanya sangar dengan banyak codet menghiasnya. Usianya kisaran 45-an tahun. Sudah tua.
“Mohon maaf, Pak. Kami berhasil sampai sini karena usaha kami. Lagi pula, selama kami berhasil menyelesaikan beberapa misi rank-A, kami bisa naik pangkat dengan mudah,” jawabku dengan nada yang kubuat bersahabat.
“Ha? Misi rank-A? Nggak usah mimpi kamu! Mustahil bocah kaya kamu bisa selesaiin misi rank-A. Bahkan orang dewasa saja belum tentu bisa menyelesaikannya. Kalau jalur normal, kalian perlu menyelesaikan 150 misi rank-E sampai B agar bisa naik pangkat dari tingkat kedua menuju pertama. Dan itu nggak mudah. Bocah macam kalian mana bisa selesaiin 150 misi secepat itu.”
Ah, orang sepertinya adalah tipe orang yang sangat menjengkelkan. Sok paling senior sampai meremehkan orang lain dan menganggap pencapaian orang lain yang tidak bisa dicapainya dilakukan dengan kecurangan.
“Gini, deh, Pak. Saya menawarkan duel sama bapak karena Ksatria berbicara dengan pedangnya. Kalau bapak menang, bapak boleh membatalkan kenaikan pangkat saya, bahkan menurunkannya sampai tingkat lima. Kalau saya menang, saya hanya meminta bapak untuk tutup mulut dan jangan banyak bicara. Setuju?” Aku memulai penawaran. Karena kondisi di tengah lapangan masih ramai, terutama petinggi-petinggi yang gagal kembali ke tempat kerja mereka karena penasaran, kondisi menjadi sedikit memanas. Wira dan Nara menahan kata-kata mereka karena aku melarang mereka berbicara untuk saat ini. Si bapak itu mukanya memerah, entah malu atau marah.
“Oke! Saya terima.” Beliau menghadap salah satu petugas untuk meminta duel. Karena banyak yang menyangsikan kemampuan kami dan, mereka akhirnya memperbolehkannya. Seorang dari petugas mengajukan diri sebagai wasit, penontonnya adalah mereka yang tadi menghadiri upacara kenaikan pangkat.
“Peraturannya, jangan saling membunuh. Pemenang ditentukan ketika lawan sudah menyerah atau tidak sadarkan diri dalam lima detik. Kalian paham?” Salah seorang petugas membacakan peraturannya. Aku dan paman itu sudah berhadapan dan mengangguk paham.
“Baiklah. Duel akan dimulai. Bersedia, siap, yak!”
Serangan langsung dilancarkan ke arahku dari depan. Sepertinya lelaki itu meremehkanku. Aku langsung memajukan kaki kananku dan menekuk kedua lututku agar lebih pendek, sehingga pedang yang harusnya menusuk leherku jadi melewati atas kepalaku. Aku sengaja mundur dengan posisi pedang masih di dalam sarungnya. Saat aku menarik pedangku, aku langsung memakai kecepatan penuh untuk menuju ke belakangnya dan menempelkan pedang di lehernya dengan posisi layaknya memeluk sebelum ia sempat bereaksi. Lelaki itu akhirnya menyerah saat tahu bahwa aku bisa dengan mudah memenggal kepalanya saat itu juga.
“Pemenangnya adalah Arakata. Dia sudah membuktikan pada kita kalau dia bisa dan layak menyandang Ksatria tingkat pertama. Sekarang, kalian semua boleh bubar. Terima kasih kepada seluruh penonton yang menyaksikan duel hebat ini.”
Lalu, orang-orang yang berada di lapangan mulai membubarkan diri masing-masing dengan perasaan sedikit terkejut.
“Kayanya, gua makin jago cuma gara-gara dua kali dapet misi. Padahal gua nggak banyak main pedang,” gumamku pada diriku sendiri.