Seorang lelaki yang berusia seperti 20-an tahun berdiri dengan gagah di depan istana. Pakaiannya mewah layaknya seorang raja yang menduduki takhta. Kulitnya berwarna sawo matang dengan bentuk tubuh kekar dan rambut panjang berwarna cokelat tua yang diikat separuh. Di atas kepalanya, sebuah mahkota sederhana membalut dahinya tanpa meninggalkan kesan lebay, tapi justru makin membawa aura kepemimpinannya. Aku menatap lelaki yang menyambutku itu.
“Maaf, anda siapa? Bagaimana anda tahu nama saya?” tanyaku setelah aku turun dari kereta. Wira dan Nara juga sudah pulih, mereka ikut turun dan berdiri di kanan dan kiriku tapi dengan postur melindungiku. Karena ada indikasi akan menyerang orang yang menyambutku tadi, serentetan pengawal yang berdiri di belakangnya langsung memegang gagang pedangnya, hendak ditarik dari sarungnya. Tapi, lelaki itu mengangkat tangannya seolah memberi aba-aba berhenti.
“Maafkan kebodohan ayahmu ini, Nak. Sampai-sampai ayah lupa memperkenalkan diri. Nama asliku Amartya Omkara Ganendra. Tapi, karena aku adalah raja dari Negeri Siluman ini, maka orang-orang biasa memanggilku Maharaja Omkara. Padahal aku suka dipanggil Amartya.”
Tunggu sebentar! Otakku masih belum bisa sepenuhnya memproses apa yang terjadi. Ayah? Dia ayahku? Aku dan dia lebih terlihat seperti adik-kakak daripada ayah-anak. Serius. Bahkan kami tidak memiliki kesamaan satu pun, kecuali mungkin ... sepertinya tidak ada.
“Hei, kalian tunggu apa lagi? Lepaskan pedang kalian itu dan beri hormat pada mereka! Dia anak gadisku, anak dari maharaja kalian! Cepat!” Alih-alih memperhatikan kami yang masih shock, lelaki itu malah memarahi anak buahnya yang masih ancang-ancang siap menebas. Sepertinya tidak perlu diragukan lagi loyalitas mereka.
Mereka menuruti perintah raja mereka. Kini, mereka semua malah memberi hormat ke arah kami dan berbalik meninggalkan kami, menyisakan dua orang di belakang ‘maharaja’ itu.
“Ayo, kalian masuk. Kita cerita-cerita di dalam,” ajaknya. Karena merasa aneh, aku akhirnya menolak. “Tunggu! Bagaimana mungkin Anda adalah ayah saya. Kalau memang Anda ayah saya, harusnya Anda sudah tua. Atau minimal sudah masuk 30-an tahun lebih. Tapi, bagaimana bisa anda menjadi ayah saya dengan usia semuda itu?”
Bukannya menjawab, ‘maharaja’ itu justru tergelak. Aku yang merasa tidak ada yang lucu tapi ia tertawa terbahak-bahak makin berwaspada. Kenapa setiap ketemu orang baru selalu suka ketawa sendiri, sih? Apa pada kena sindrom orang baru? gumamku pada diriku sendiri.
“Kalian tenang saja. Cerita tentang semuanya kita ceritakan di dalam. Bukannya kamu mau menemukan kebenaran dari segala tanggung jawabmu dan apa yang telah terjadi, kan?” ucap raja itu membuatku berpikir kembali. Karena memang tujuan kami ke sini untuk memberi kotak itu, sepertiga bukan masalah kalau kami masuk.
“Oke, kami ikut Anda untuk masuk ke dalam. Tapi, kalau ternyata Anda berbohong, maka kedatangan saya ini murni untuk menjalankan tugas dari misi.” Mendengar tanggapanku, Maharaja Omkara mengangguk setuju dan mengajak kami masuk. Nara berbisik di sebelah kananku dengan nada khawatir, “Apa ini bakal aman, Ar?”
“Entahlah. Tapi, semoga saja aman. Walaupun aku belum pernah bertemu dengannya, tapi sepertinya ia tidak akan melakukan hal yang jahat pada kita. Biarkan saja kita dengarkan apa yang mau ia bicarakan, atau aku nggak akan pernah tahu bagaimana kebenaran yang ada sebenarnya.” Aku menanggapi Nara. Di sebelah kiriku, Nara hanya berkata, “Ya, kita nggak akan pernah tahu kalau belum dicoba.”
****
Suasana awkward itu terjadi di sebuah ruangan besar dengan kursi berukir indah yang rasanya seolah seupil upil di tengah piring yang. Karena, posisi kursi dan meja itu di tengah ruangan besar. Padahal kursi itu hanya ada tiga ditambah satu kursi milik raja. Yang lebih uniknya lagi, tidak ada meja sama sekali untuk pertemuan ini.
Semua yang hadir –empat orang totalnya—, sama sekali tidak ada yang membuka suara. Karena malas menunggu terlalu lama, aku akhirnya mulai mengeluarkan kotak yang menjadi misi utama ini.
“Kami diberikan tugas mengantar ini. Kalau tidak ada keperluan lain, izinkan kami keluar untuk menyelesaikan yang lain.”
Mendengarnya, Maharaja Omkara itu menghela napas panjang sebelum kemudian mulai bercerita.
“Oke, biarkan aku kembali ke lima belas tahun yang lalu.”
Lima belas tahun yang lalu
Ada sebuah ramalan kuno yang harus dilakukan setiap sepuluh tahun sekali. Suatu hari, hasil ramalan itu mengeluarkan prediksi yang mengerikan. Sebuah bencana besar yang akan meratakan seluruh tanah ini dalam kekuasaan tiran orang serakah. Kunci permasalahan ini adalah sebuah keturunan dari persilangan antara manusia dan siluman. Karena manusia dan siluman nyaris tidak mungkin bisa bersama dan menghasilkan keturunan, maka pencarian manusia yang akan menjadi pengantin Maharaja Omkara terjadi bertahun-tahun.
Hingga suatu hari seorang gadis menghantui mimpi Omkara tiap malam. Karena ia penasaran, akhirnya dirinya memilih untuk mencari siapa gadis itu. Hari demi hari menyusuri tiap tempat Swarnanusa, tapi belum ketemu juga. Sampai akhirnya ia berhasil menemukannya beberapa hari sebelum ia menerima pinangan dari laki-laki. Karena Omkara merasa kalau miliknya akan diambil orang, maharaja itu memerintahkan anak buahnya untuk membunuh calon mempelai yang ada di kereta dan anak buahnya. Mungkin memang terdengar jahat, tapi, itulah cara siluman berlaku.
Karena pernikahan itu terjadi atas unsur perjodohan, Fyna tidak terlalu merasa sedih. Ia justru takut rakyatnya akan mendapat masalah di jalan itu kalau sampai ada siluman yang tinggal di sana. Wajar saja dia merasa begitu, faktanya Fyna adalah putri kerajaan, anak kedua dari permaisuri utama. Kekhawatirannya itu muncul karena sudah ada korban jiwa. Dengan membawa pedang di pinggangnya, ia berkuda ke arah jalan itu dengan selamat. Sesampainya di sana, ia bertemu dengan Omkara yang sedang duduk bersila di atas batu sambil menyilangkan tangannya di d**a. Matanya terpejam seolah tengah semedi.
“Permisi, apa anda terluka? Apa anda diserang siluman yang ada di sini?” Fyna bertanya khawatir. Gadis itu turun dari kudanya untuk memeriksa Omkara.
Setelah Fyna berdiri tepat di depannya, Omkara membuka matanya. Netra Omkara berwarna biru muda dengan alur berbentuk layaknya kristal berwarna perak di selaput pelanginya. Jujur saja, gadis itu seolah langsung tenggelam dalam pesonanya. Terlebih kulitnya yang berwarna sawo matang justru terlihat lebih eksotis.
Dari awal pertemuan itu, mereka mulai saling terikat satu sama lain. Berbagai pertemuan-pertemuan lain mulai intens terjadi. Padahal, saat itu Fyna mulai dipingit setelah sebelumnya dibebaskan berkelana karena sekarang sudah masuk umurnya menikah. Tapi, Omkara bisa dengan mudah menerobos istana itu dengan wujud kucing hitam. Saat pertemuan demi pertemuan itu terjadi, Omkara juga memeriksa kecocokan energi mereka untuk perlakuan tindak lanjut. Rupanya memang cocok. Ia akhirnya menceritakan semuanya, tentang dirinya yang menjadi raja siluman, dirinya yang butuh banget gadis manusia untuk dibuahi dan menghasilkan anak yang akan menghentikan semuanya, juga tentang rasanya pada Fyna yang bukan omong kosong saja. Karena keduanya merasa hal yang sama dan mantap dengan pilihan ini, Fyna akhirnya meminta restu pada ayahandanya. Tapi, ayahandanya menolak dengan kata-kata kalau Omkara bukanlah lelaki pilihannya. Bisa dibilang, walaupun Majapahit adalah pusat dari kerajaan Swarnanusa dan di dunia ini hanya ada satu kerajaan yang menjadi acuan dari berbagai kota besar di dalamnya, tapi, pemimpin kota besar juga memiliki hak yang tidak jauh beda dari raja. Dengan kata lain, akan sangat mudah jika sewaktu-waktu ia dimundurkan paksa kalau tidak memiliki dukungan kuat.
Karena rasa cintanya pada Omkara yang besar, ia akhirnya memilih untuk kabur dan mengikuti Omkara untuk hidup bersama. Beberapa bulan setelah mereka bersama, Fyna akhirnya diamanahi seorang bayi di kandungannya. Awalnya, semua berjalan baik-baik saja. Tapi ternyata, suatu hari saat sudah waktunya untuk ramalan hebat itu, sebuah hasil besar terjadi di luar perkiraannya. Ternyata, isi ramalannya adalah bayi hebat itu akan dibunuh oleh orang-orang yang memiliki ambisi menguasai dunia. Satu-satunya cara untuk mencegah pembunuhan adalah dengan membawa sebagian jiwanya ke dunia lain. Tapi, untuk ritual ini tidak mudah. Bayarannya adalah nyawa.
“Kamu yakin mau ngelakuin ini, Sayang?” Sambil merangkul istrinya yang masih berkeringat karena baru selesai melahirkan, Omkara bertanya ragu. Tidak bisa dipungkiri, ia jatuh cinta pada wanitanya itu. Seorang bidan masih memandikan bayinya yang berlumuran darah.
“Aku yakin, Sayang. Anak kita dan dunia ini jauh lebih penting daripada nyawaku,” jawab Fyna yakin. Omkara mencium kening istrinya dengan air mata yang meleleh di kedua matanya. Namun, Fyna masih bisa tegar sekalipun ia akan meninggalkan semuanya.
“Kalau nggak, izinkan aku yang menggantikan posisimu. Biarkan aku yang mengorbankan diriku dan kamu yang hidup dengan anak kita,” ucap Omkara tanpa ragu. Tapi, Fyna menggeleng tegas. Ia meraih tangan suaminya dan diciumnya dengan lembut. Ia lalu melepaskan tangan suaminya saat bidan itu memberikan bayinya pada Fyna.
“Jangan! Kamu nggak boleh pergi dulu. Biarkan kamu yang membimbing anak kita nanti kalau sudah saatnya. Seperti yang kamu bilang, anak kita akan menjadi orang hebat nantinya. Aku bisa merasakan adanya inti Ksatria dan Penyihir yang sangat kuat di dalamnya. Karena aku tahu kamu hebat, biarkan kamu yang mengurus anak kita ini. Ya?”
Meskipun terdengar seperti membujuk, tapi perkataan Fyna adalah mutlak. Ia adalah orang yang keras kepala dan teguh pendirian. Selama ia berkata B, bahkan walaupun langit runtuh menimpa orang yang menjawab B pun, ia tidak akan mengganti jawabannya. Akhirnya Omkara memilih untuk mengalah. “Oke. Tapi, izinkan aku merasakan keluarga utuh ini untuk beberapa waktu.” Fyna menyanggupinya.
“Omong-omong, apa kamu sudah punya nama untuk anak kita ini?” tanya Omkara pada Fyna. Wanita itu mengangguk semangat. “Aku pengen kasih nama anak kita Arakata Ratnaduhika Paramesti. Kamu setuju, kan, Sayang?” Gantian Omkara yang mengangguk semangat. “Ya, aku sangat setuju. Itu nama yang indah.”
Lima hari sudah berlalu suasana keluarga itu mereka rasakan. Takut kalau perpisahannya semakin berat, Fyna bersikeras untuk segera memulai ritual itu. Lima penyihir terbaik dikumpulkan di sebuah daerah yang luas. Di tanahnya sudah tergambar berbagai bentuk simbol untuk menjadi portal mereka. Sebelum memulai ritual, Fyna menggores tangannya untuk meneteskan darah di tengah lingkaran itu. Omkara juga menyumbangkan beberapa tetes darahnya sebagai ganti persembahan, karena darah siluman tingkat tinggi sepertinya memiliki kekuatan yang cukup untuk menjadi syarat persembahan. Fyna juga menggores sedikit tangan Arakata untuk meneteskan darahnya sebagai tanda kalau jiwanya lah yang hendak pergi. Tangis Arakata menggema membuat Omkara juga meneteskan air matanya. Fyna memangku Arakata dengan posisi yang tidak akan membuatnya tergeletak saat kesadarannya sudah menghilang. Setelah beberapa saat para Penyihir membacakan mantranya, tubuh Fyna melemas dan tangis Arakata berhenti begitu saja, berganti dengan tangis Omkara yang meledak tanpa sanggup ditahannya.
“Kenapa takdir begitu kejam? Aku bahkan baru bertemu dengan seseorang yang kucintai dan mencintaiku setelah ratusan tahun aku hidup dalam kesendirian. Di saat awalnya aku berharap hanya membuat keturunan untuk menyelamatkan dunia ini, siapa sangka justru sekarang diriku yang butuh diselamatkan. Di saat awalnya aku berpikir akan membuang wanita yang akan menjadi ibu dari anakku begitu saja, justru rasanya aku yang terbuang karena pemikiran picikku itu. Astaga. Aku ... aku bahkan baru saja merasakan bagaimana tangan lembut putriku menggenggamku dengan penuh cinta, melihat bagaimana istriku menggendongnya dengan tatapan penuh kasih, kini mereka akan meninggalkanku dalam kesendirian di sini. Takdir, begitu lucunya kah candaanmu ini?!” raungan Omkara memenuhi seluruh tempat. Ia bahkan sampai terduduk dan menunduk di depan sebuah ritual yang akan menghabisi nyawa istrinya dan menyebabkan ia berpisah dengan putrinya karena permintaan Fyna untuk menitipkan Arakata pada Bi Heera setelah ia tiada.
Tepat setelah upacara itu selesai bersamaan dengan tangis Arakata yang menggema. Omkara tertatih-tatih mendekati mereka berdua. Ia mengambil putrinya untuk digendong dan memeluk istrinya dengan air mata yang berurai tanpa henti. Ia menanggalkan semua kewibawaannya dengan menangis dan meraung sejadi-jadinya saat istrinya yang sudah tidak bernyawa dalam pelukannya itu terasa masih hangat.
Dunianya seolah ikut mati bersama sang istri.