Menjadi seorang anak perempuan dari keluarga kerajaan membuat Fyna merasa sangat terkekang. Di umurnya yang masih belia, ia memilih untuk keluar dari lingkungan kerajaan dan menjadi Laskar untuk mencari apa yang sebenarnya ia inginkan. Awalnya, keluarganya menentangnya keras. Tapi, Fyna selalu bisa meluluhkan hati orang tuanya dan diizinkan dengan syarat ia harus pulang saat waktunya menikah. Fyna menuruti itu.
Waktu berjalan dengan cepat. Ia sempat mengembara sendiri selama beberapa bulan, sampai kemudian ia diselamatkan oleh Geya Asmita dan Nawasena Utama yang tak lain adalah ayah dan ibu Nara. Awalnya, mereka hanya memutuskan untuk berjalan bersama sampai misi mereka selesai, karena kebetulan misi mereka memiliki arah yang sama. Tapi, kebersamaan mereka dalam perjalanan itu membuat Fyna merasa berat untuk berpisah dan sendiri lagi. Geya dan Nawasena juga sudah merasa nyaman dengan kehadiran Fyna yang mampu mencairkan suasana dan pintar.
Tanpa mereka sadari, bibit cinta tumbuh di antara mereka. Fyna dan Geya menyukai lelaki yang sama, Nawasena. Tapi uniknya, bukannya hubungan mereka retak, Fyna dan Geya justru menjadikannya ajang kompetisi karena mereka sendiri sering berlomba akan sesuatu yang bahkan menurut kebanyakan orang tidak perlu. Nawasena juga tahu kalau kedua wanita itu mencintainya dan memilih untuk tetap membiarkan semuanya apa adanya. Sampai suatu hari, Fyna harus pulang ke keraton dan mengikhlaskan Nawasena.
Saat calon pengantinnya berangkat untuk meminangnya, ia mendapat kabar kalau mereka meninggal karena diserang siluman. Fyna takut kalau warga akan terkena dampak itu, akhirnya ia memilih untuk membasmi siluman itu sendiri. Tapi, ia malah bertemu Omkara.
Mereka berdua saling mencintai. Omkara yang selalu datang dengan wujud kucing hitamnya membuat hati Fyna semakin luluh, karena perlakuan lembut lelaki itu tanpa pernah sekalipun menyentuhnya dengan nafsu. Padahal, ada banyak kesempatan untuk mereka melakukan itu. Fyna akhirnya mulai mencoba mengenalkan Omkara pada orang tuanya, tapi, ditolak mentah-mentah. Gadis itu sengaja merahasiakan bahwa Omkara adalah raja siluman karena ia takut orang tuanya makin melarang mereka. Jiwa pemberontak Fyna kembali dan ia memilih kabur dengan Omkara sekalipun ia tahu, kalau itu akan menjadi jalan yang sulit untuknya.
“Kamu yakin mau kabur? Kamu yakin mau ikut aku? Aku sudah bilang sebelumnya, kalau manusia dan siluman itu tidak bisa bersama jika energi mereka tidak cocok. Salah satu dari mereka pasti akan mati saat hamil anak siluman itu. Kalaupun kamu selamat, belum tentu jalanmu akan mudah.” Omkara mencoba meyakinkannya lagi. Tapi, dasar Fyna yang keras kepala, perempuan itu tetap pada pendiriannya. “Kalau aku mati, berarti di situ takdirku. Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau energi kita cocok? Dengan kematianku, selama itu bisa menyelamatkan dunia ini, aku tidak masalah,” ucap gadis itu lembut. Mereka kini di tengah perjalanan menuju Negeri Siluman. Omkara tahu jalur teraman yang berada di luar jangkauan prajurit. Cahaya rembulan menerangi jalan mereka sekaligus menyaksikan bagaimana kedua insan itu tengah berjalan menghampiri takdir yang kejam.
“Kenapa kamu bisa percaya kalau aku benar-benar akan menyelamatkan dunia? Bagaimana kalau ternyata aku bohong dan akan membunuhmu begitu saja?” Omkara kembali bertanya. Rasanya seperti gadis itu percaya begitu saja pada orang asing dan itu membuatnya merasa tak nyaman. Mungkin karena sebuah niat jahat yang terbesit begitu saja di hatinya kalau ia akan membuang gadis itu setelah melahirkan anaknya.
“Mungkin karena kamu bukan orang jahat.” Pernyataan itu keluar begitu saja membuat Omkara makin merasa bersalah.
“Dari mana kamu menebak kalau aku bukan orang jahat? Bagaimana kalau ternyata aku orang jahat?”
Fyna tergelak. Ia mengusap-usap rambut Omkara yang saat itu masih pendek.
“Kalau kamu orang jahat, kamu nggak akan tanya-tanya hal kaya gitu. Kamu juga nggak mungkin biarin aku banyak omong.”
Omkara terdiam. Ia kembali menatap lurus jalan yang remang.
Cinta itu indah dan penuh suka duka. Kehidupan pernikahan mereka dihiasi dengan berbagai jenis cerita yang membuat hidup Omkara yang tadinya monoton menjadi lebih berwarna. Usia enam bulan pernikahan mereka, Fyna dinyatakan hamil dan usia kehamilannya sudah tiga bulan. Lengkap sudah kebahagiaan itu. Kebetulan, beberapa hari lagi adalah waktu ramalan Negeri Siluman. Segera saja Omkara menemui Dewi Kadita, sosok siluman tingkat tinggi yang telah hidup selama ribuan tahun untuk memberikan ramalan-ramalan. Dewi Kadita merupakan seorang gadis yang berpakaian serba hijau dan berwajah ayu, rambutnya hitam panjang, tutur bahasanya sopan, dan tingkahnya yang gemulai. Berdiam di sebuah pantai yang berada di perbatasan Negeri Siluman dengan laut luas. Omkara memilih untuk menghadiri Kadita sendirian, meninggalkan istrinya di rumah karena khawatir akan kehamilan istrinya.
Sesampainya di sebuah gua di pinggir pantai, Omkara masuk ke dalamnya. Pencahayaan yang nyaris tidak ada itu seolah tak terpengaruh dengan mata kucingnya. Ia bisa dengan mudah masuk ke dalam, sampai di sebuah tempat yang memiliki pencahayaan dari batu yang bersinar.
“Ah, Maharaja Omkara sudah tiba. Silakan duduk dulu,” ucap Dewi Kadita menyambut Omkara. Lelaki itu duduk di depan altar batu yang di atasnya terdiri beberapa barang, termasuk barang-barang peramalan.
“Bagaimana ramalan untuk satu dekade ke depan, Nyai?” tanya Omkara serius. Dewi Kadita mengambil sebuah kertas hasil tulisan acaknya yang terjadi saat ia bersemedi tadi.
“Sebelumnya, selamat atas kehamilan Tuan Putri. Bayinya nanti akan terlahir sehat dan berjenis kelamin perempuan. Tapi, sepertinya takdirnya yang tidak akan seindah parasnya kalau tidak segera dilakukan pencegahan.”
Omkara terdiam. Ia bingung harus bereaksi seperti apa. Akhirnya, ia memutuskan untuk bertanya, “Bagaimana caranya? Apakah ada cara untuk mengubah takdir putriku?”
“Bukan mengubah,” Dewi Kadita menggeleng perlahan lalu mengambil sebuah buku yang ada di rak di pojok ruangan dan melanjutkan pembicaraannya, “Tapi, mencarikan jalan lain yang lebih baik sekalipun akan ada banyak hal yang dikorbankan nantinya.”
Dewi Kadita membuka halaman demi halaman buku yang kertasnya sudah menguning itu. Hingga tiba di sebuah halaman yang ia cari.
“Apa pun itu, selama itu yang terbaik untuk putriku, akan kulakukan,” ucap Omkara frustrasi.
“Bahkan, sekalipun kamu mengorbankan nyawamu atau istrimu?” tanya Dewi Kadita tajam. Omkara terdiam tanpa bisa menjawab.
“Apa tidak bisa diselamatkan semua dari takdir ini?” Suaranya memelan. Dewi Kadita menggeleng lemah.
“Tidak ada yang bisa dilakukan selain ada yang dikorbankan. Jika kamu berniat menjaga istrimu, maka kamu harus bersiap akan kehilangan putrimu dan berakhir dengan kekacauan dunia. Jika kamu berniat untuk menjaga dunia seperti apa yang sudah aku katakan sebelumnya, maka kamu harus bisa merelakan istrimu untuk selamanya.” Suara Dewi Kadita terdengar sangat tegas, seolah menyatakan kalau Omkara diharuskan memilih di antara keduanya. Memang seperti itulah seharusnya.
“Kalau aku memilih menyelamatkan putriku?” tanya Omkara akhirnya. Seolah ia sudah memutuskan dengan yakin.
“Kamu yakin? Apa kamu tidak mencintai istrimu?” tanya Dewi Kadita menanyakan kesungguhannya.
“Sangat. Aku sangat mencintai Fyna. Tapi, sudah tugasku untuk menjaga dunia ini. Seperti yang pernah kujanjikan pada sahabatku ratusan tahun silam. Selain itu, Fyna tidak akan pernah mau mengorbankan bayinya hanya agar ia tetap hidup.”
“Baiklah kalau begitu. Aku akan memberi tahu caranya.” Dewi Kadita menyerahkan buku itu ke arah Omkara.
“Apa ini?” tanyanya bingung sambil membolak-balik halaman buku itu.
“Ini kitab pengetahuan tentang dunia lain, bumi. Dahulu, ada seorang yang datang ke dunia ini dari bumi secara tiba-tiba. Ia datang kemari sambil membawa berbagai pengetahuan tentang dunia lain yang ia tinggali. Katanya, dunia kita ini serupa tapi tak sama. Banyak persamaan tapi sangat banyak pula perbedaannya. Karena itu, dia membuat berbagai tulisan dengan harapan bisa saling berbagi ilmu, salah satunya adalah menggunakan portal untuk berpindah dunia. Ia bahkan menggambarkan bentuk simbolnya di dalam buku ini.
Sebelum membahas caranya, ada dua bentuk perpindahan ini. Berpindah secara jasad atau secara bathin. Kalau mau berpindah secara jasad, maka tidak perlu wadah di dunia yang akan dituju. Tapi, kalau secara bathin, maka perlu wadah di dunia sana kalau tidak ingin bergentayangan. Biasanya jiwa yang pergi ke dunia lain akan tertarik oleh tubuh yang memiliki aura sama. Tapi, risiko dari perpindahan ini adalah, selain tingkat kesulitannya yang tinggi, juga nyawa bisa menjadi taruhannya. Satu kali perjalanan memakan satu nyawa. Karena tidak ada yang mau berkorban untuk orang lain dan tidak ingin menjadi korban sendiri, maka banyak yang tidak mencoba ritual ini.” Dewi Kadita akhirnya menjelaskan satu demi satu cara untuk berpindah dunia. Karena memang itu yang harus ia lakukan.
Hari sudah menjelang malam. Mengantongi pengetahuan dan hasil ramalan dari Dewi Kadita, Omkara melesat dengan cepat untuk pulang. Ia disambut oleh istrinya dengan bahagia sejak saat ia membuka pintu.
Sebenarnya, Omkara tidak ingin merusak suasana ini. Tapi, ia tidak bisa merahasiakannya terlalu lama karena sifat istrinya yang akan marah kalau ada masalah besar yang menyangkut dirinya, tapi tidak ia bicarakan.
“Sayang, aku mau bicara penting,” bisik Omkara yang sedang merangkul istrinya. Fyna mengangguk dan menggandeng tangan suaminya masuk ke dalam kamar. Mereka berdua duduk bersebelahan di ranjang.
“Mau bilang apa? Bilang aja,” ucap Fyna lembut. Omkara akhirnya menceritakan semua yang terjadi. Bukannya bersedih atau apa, Fyna malah meninju d**a Omkara pelan, tapi berbunyi ‘buk’ dan membuat si empunya d**a meringis kesakitan.
“Jangan khawatir. Kita hadapi semuanya bersama. Masalah itu, kita pikirkan nanti. Untuk saat ini aku hanya ingin menghabiskan waktu bertiga denganmu dan bayi di perut ini.”
Bahkan, meskipun Omkara tahu maksud asli istrinya, ia hanya bisa tersenyum untuk membuat ibu hamil itu bahagia.
Benar kata orang, waktu akan berlalu dengan cepat untuk orang yang menikmati dan berbahagia dalam tiap detiknya. Begitulah yang Fyna rasakan. Hingga akhirnya ia merasakan apa yang ibunya dulu rasakan. Bagaimana ia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk sesosok kehidupan baru yang mungil nan lucu itu. Bagaimana ia merasakan sakit dan perihnya sebuah luka yang membuka jalan. Lalu bagaimana rasanya menamai anaknya dengan nama yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Fyna memang sudah meminta pada Omkara agar dirinya yang memberikan nama untuk calon anaknya itu. Tapi, ia akan merahasiakan namanya sampai anaknya lahir.
Atas kesepakatan keduanya, mereka akan mempertahankan keluarga itu selama lima hari. Sebenarnya Omkara meminta agar Fyna menunggu sampai satu tahun hingga ritualnya dimulai, tapi, Fyna menolak. Ia tidak akan sanggup jika harus berpisah dengan anaknya setelah ia hidup lama dalam kebersamaan itu. Ia tidak akan tega berpisah dengan putrinya.
“Apa benar jiwa putriku bisa dibagi dua, Nyai? Apa yang akan terjadi kalau sampai itu terjadi?” tanya Fyna pada Dewi Kadita yang memang datang ke upacara itu untuk memastikan semuanya berjalan sesuai dengan prosedurnya.
“Iya. Memang itu yang harus kita lakukan. Musuh sudah tahu kalau kamu melahirkan anak, tapi mereka tidak tahu seperti apa dan di mana. Tapi, memindahkannya secara jasad ke sana hanya akan mempersulitnya saat ia kembali lagi ke sini. Lagi pula kalau ia ingin kembali dari dunia lain saat jasadnya ikut berpindah akan sulit kecuali diadakan upacara di sisi dunia sana. Aku yakin tidak akan mudah. Jadi, satu-satunya cara adalah membawa sebagian jiwa putrimu dan jiwamu untuk dipindahkan ke bumi. Kamu harus menemukan tempat untuk wadah jiwa putrimu agar tetap hidup sampai waktunya tiba. Tapi, waktumu terbatas di sana. Kamu hanya punya waktu satu jam sampai kamu menyelesaikan semuanya, sebelum akhirnya kamu mati,” jelas Dewi Kadita. Fyna memahaminya.
“Apa yang akan terjadi pada Arakata kalau jiwanya dibagi, Nyai?” tanya Fyna lagi.
“Tenang saja, tidak ada hal buruk yang akan terjadi. Mungkin, dirinya yang berada di bumi akan memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dari umumnya tapi fisiknya lemah, sementara yang berada di sini akan memiliki fisik yang kuat sementara kecerdasannya yang biasa saja.” Tanpa bosan, Dewi Kadita menjawab pertanyaan Fyna.
“Oke.kalau gitu, Nyai. Bisa kita mulai sekarang saja?”
****
Fyna sudah sampai di bumi. Ia merasuk ke dalam tubuh seorang wanita belia yang di bagian bawahnya penuh dengan darah. Suara tangis bayi mengalahkan suara hujan yang berisik itu.
Fyma menoleh di samping bayi itu. Ada sebuah pisau yang berlumuran darah karena darah yang keluar dari jalan bayi ketika gadis itu melahirkan.
“Sepertinya ibu ini begitu ingin mati dan membunuh anaknya. Maaf, aku malah menggagalkan rencanamu untuk mati dengan anakmu karena aku ingin menyelamatkannya. Fyna bisa menebak dengan pasti karena memori kilas balik hadir di otaknya. Bayi yang baru lahir itu memiliki paras yang persis dengan Arakata. Apakah karena perpindahan ini membuat tubuh yang dirasukinya jadi memiliki penampilan yang sama dengan bayinya di negerinya.
Gadis belia itu melahirkan sendiri di sebuah rumah kosong di pinggir sungai. Fyna yang melihat sebuah kertas dan pena akhirnya memutuskan untuk menulis sebuah memo dan diletakkan di dalam kardus. Ia meliliti bayi kecil yang sudah ia potong pusarnya itu dengan kain-kain bersih yang ia temukan. Penerangan hanya dari lampu minyak di sudut ruangan. Fyna lalu keluar dengan menutupi atas kardusnya dengan plastik-plastik yang ada di dalam gubuk.
Menurut memori otaknya, ada sebuah panti asuhan di dekat sini. Fyna segera membawa dirinya yang makin terasa lemas karena energinya nyaris habis. Sesampainya di sana, ia langsung mengetuk pintu panti, tapi, tidak ada jawaban. Sampai Nara akhirnya mendengar suara langkah kaki tergopoh-gopoh saat gadis kecil itu menangis kedinginan. Fyna langsung bersembunyi dan melihat bagaimana bayinya diambil dari jauh. Ia langsung keluar dari lingkungan panti dengan cepat.
Setetes air turun dari pipinya dan terasa hangat. Berbaur dengan air hujan, tangisnya makin kencang. Sementara kepalanya berdenyut makin keras. Tubuhnya kesakitan semua, baik tubuh yang ia tumpangi maupun jiwanya sendiri. Fyna akhirnya terjatuh terduduk setelah berjalan cukup jauh dari panti asuhan dan menangis meraung di sana. Suara hujan menyamarkan teriakannya yang sedari tadi ia tahan. Ia lelah berpura-pura kuat. Ia lelah terus tertawa dan bahagia. Ia ingin menangis, menumpahkan semua sampai semuanya lega. Lalu, di tengah tangisnya itu, Fyna tertawa sendiri. Tertawa terbahak-bahak layaknya orang yang bahagia, kendati air matanya masih mengalir tanpa sanggup ia hentikan. Lalu secara perlahan, rasa dingin itu perlahan merambai dirinya yang masih terduduk di bawah hujan. Fyna memilih untuk merebahkan dirinya dan memejamkan mata.
Aku mencintaimu, Omkara, Arakata. Aku mencintai kalian bahkan sampai napas terakhirku kuembuskan. Saat duniaku yang berwarna itu ditunjukkan warna baru, aku suka itu. Pertemuan pertama kita adalah pertemuan yang unik yang akhir-akhir ini baru kusadari kalau dirimu sengaja melakukannya untuk pertemuan ini. Kamu tahu, aku ingin sekali bersamamu dalam menjaga gadis kecil kita. Menemani pertumbuhannya sampai ia menginjak remaja dan bercerita tentang seorang lelaki yang ia sukai. Aku juga berharap bisa melihat wajah cemburumu saat Arakata mulai menyukai laki-laki lain selain dirimu. Aku berharap bisa menyaksikan bagaimana anak gadis kita itu menemukan belahan jiwanya lalu menikah dengannya. Setelah itu, hanya ada kita berdua yang menikmati hari tua kita dengan bahagia. Aku sangat mengharapkan itu semua terjadi. Tapi, bukan maksudku menyalahkan takdir, karena pertemuan kita itu adalah takdir. Aku bahagia bisa bertemu denganmu. Tolong, jaga anak kita saat kamu bertemu dengannya lagi nanti. Selepas Fyna menggumamkan kata-kata terakhirnya itu, ia mengembuskan napasnya yang terakhir.
Di panti asuhan, Arakata yang sudah tertidur mendadak terbangun dan menangis, sementara di dimensi lain, seorang lelaki juga menangis hebat karena kehilangan wanita terkasihnya.