Air mataku keluar tanpa permisi. Seumurku hidup, baru kali ini aku bertemu dengan orang yang memiliki hubungan darah denganku. Dengan ragu aku bertanya, “Bolehkah saya memelukmu?”
Omkara merentangkan tangannya untuk menyambutku. Aku berlari begitu saja dan memeluknya yang kini berkaca-kaca. Kupikir ia orang yang kejam dan tidak mudah melankolis. Tapi, jika menyangkut orang yang ia sayangi, sepertinya ia tidak segan untuk menangis dengan keras.
“Ayah rindu sama kamu, Nak. Ayah rindu kamu. Kamu benar-benar mirip ibumu dan mewarisi sifatnya.” Omkara masih memelukku dengan terisak. Aneh, rasanya dadaku menghangat. Perasaan nyaman yang belum pernah kurasakan tiba-tiba hadir dan mengeluarkan semua rasa sepiku lewat air mata. Aku semakin keras kalau menangis.
Apakah seperti ini rasanya punya ayah? Andai saja ibu masih ada, mungkin saat ini kita akan berpelukan bertiga layaknya sebuah keluarga lengkap yang bahagia. Tapi, aku tidak menyesalinya. Bertemu dengan ayahku saja sudah menjadi suatu kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Tanpa kusadari, aku jatuh tertidur saat kelelahan menangis.
Hari sudah malam saat aku terbangun. Mataku sembab, hidungku memerah, suaraku sedikit bindeng. Seorang dayang yang sepertinya menantiku terbangun di pojok ruangan langsung menghampiriku yang baru terbangun.
“Selamat malam, Nona. Perkenalkan saya Irina, saya adalah dayang yang akan bertanggungjawab pada kebutuhan anda di sini , Saat ini anda ditunggu Maharaja untuk menemuinya di ruang makan. Sudah waktunya makan malam. Apakah Nona ingin mencuci muka dahulu?” sambutnya. Aku mengangguk seraya turun dari ranjang dengan sedikit lemas.
“Di sini ada cermin?” tanyaku padanya. Dayang itu menyerahkan sebuah cermin tangan berbentuk lingkaran yang berdiameter 30 cm. Aku menerimanya sambil memperhatikan diriku di cermin. Sungguh buruk rupa.
“Bisa tolong antarkan aku ke kamar mandi? Aku perlu membersihkan diriku dan merapikan penampilanku yang buruk ini,” pintaku.
“Baik, Nona. Mari hamba antarkan ke kamar mandi. Apa Nona perlu bantuan? Seperti membantu menyisir rambut atau merapikan pakaian?” tanyanya kemudian.
“Hah? ... Oh, nggak usah. Aku bisa sendiri. Kamu temenin aku aja.” Sempat sedikit loading tadi, tapi, aku akhirnya memahami maksudnya. Rasanya seperti menonton drama kolosal tentang dayang dan ratu saja.
Selesai merapikan diriku, aku menuju ruang makan dengan dayang yang dari tadi mengikutiku. Sebenarnya aku merasa risih karena diikuti terus apa pun yang kulakukan. Mungkin, kalau aku tidak melarangnya, ia akan ikut masuk ke dalam kamar mandi untuk membantuku merapikan baju. Hanya saja, itu memang sudah tugasnya dan aku tidak bisa protes akan hal itu.
“Yang lain ke mana, Kak?” tanyaku pada dayang itu saat kami sampai di ruang makan. Ruang makan itu sepi dengan sebuah meja dan kursi yang memanjang tapi terkesan dingin dan belum ada hidangan sama sekali. Jarak umur kami sepertinya lumayan jauh. Jadi, aku mencoba menghargainya dengan memanggilnya ‘Kak’. Tapi, bukannya menjawab, dayang itu malah celingukan bingung. Seolah mencari aku sedang berbicara dengan siapa.
“Aku bicara sama kamu. Kok malah bingung?” tanyaku tak paham. Jelas-jelas hanya ada dirinya di sini.
“Mohon maaf, Tuan Putri. Maafkan kelancangan hamba.” Tanpa bisa diprediksi, dayang yang dari tadi bersamaku langsung berlutut dan memohon dengan ketakutan. Bukan hanya takut dan tidak berani, dayang itu bahkan sampai meletakkan kepalanya ke bawah.
“HEI! Kamu ngapain?!” tanyaku panik. Ia masih merendahkan kepalanya ke lantai sampai memohon ampun.
“Nggak, berdiriin dulu kepalamu baru saya maafkan!” ancamku akhirnya. Bahkan aku tidak tahu salahnya apa.
Barulah dayang itu berhenti dan mengangkat kepalanya. Aku kembali bertanya, ”Bisa cerita kenapa kamu ngerasa salah dan minta dihukum?”
“Tuan putri, tolong jangan memanggil saya dengan sebutan Kak. Panggilan itu tidak cocok untuk saya. Saya hanya pekerja rendahan, memanggil seseorang dengan sebutan ‘Kak’ hanya bisa dilakukan untuk mereka yang status sosialnya tinggi.”
Ah, aku baru tahu itu.
“Baiklah. Maafkan aku karena merepotkanmu. Lalu, aku harus memanggilmu apa agar tidak salah lagi?”
“Panggil nama saya saja, Nona. Saya amat senang akan hal itu”
“Oke. Aku terima maumu. Omong-omong, di mana ayah dan yang lainnya?” tanyaku padanya. Sekalipun jujur saja, kata ‘ayah’ masih terasa canggung di lidahku.
“Maharaja sedang berbincang dengan kedua teman Nona di depan. Katanya, beliau minta dipanggilkan saat Tuan Putri sudah siap untuk makan malam. Jadi, izinkan saya memanggil beliau dahulu.” Dengan gesit, Irina langsung menuju ke luar ruang makan. Istana ini sangat besar. Aku yakin akan tersesat kalau tidak ditemani Irina.
Tak berapa lama aku menunggu, pintu ruang makan sudah terbuka. Sosok tampan Maharaja Omkara masuk ke dalam dengan dramatis dan menyilaukan mataku. Disusul Nara dan Wira yang sebenarnya sama-sama menyilaukan, hanya saja mereka tidak memiliki wibawa sama sekali di mataku.
“Aku bahkan nyaris lupa kalo beliau itu ayahku,” gumamku lirih. Siapa sangka Omkara mendengar gumamanku dan memilih untuk mengerlingkan mata genit dan membentuk tangan seperti pistol seraya ditembakkan ke arahku bersamaan dengan kerlingan mata kananya. Ia juga membuat efek suara ‘pwing’ yang jelas terdengar. Nara dan Wira menahan tawanya, sementara aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
“Haha, sudah-sudah. Ayo kita berbincang santai sembari makan malam. Ayo, dimakan semuanya.” Aku menatap sederetan makanan mewah yang dihidangkan lewat troli sebelum diletakkan di atas meja dalam beberapa kali berbalik. Hasilnya, satu meja penuh dengan makanan.
“Siapa yang mau menghabiskan sebanyak ini?” tanya Wira heran. Nara menepuk dadanya bangga.
“Yah, si perut karet mah bisa diisi apa aja. Omong-omong, aku masih heran. Apa semua siluman itu bisa awet muda?” tanyaku yang penasaran.
“Kenapa? Merasa kalah saing sama ayah, ya?” Ayah malah meledek.
“Bukan gitu, Yah. Aku takut disangka jalan sama kekasih daripada sama ayahnya kalau lagi jalan-jalan ke luar,” jawabku santai.
“Ya nggak apa-apa. Biar kamu terhindar dari buaya-buaya. Soalnya kamu, kan, cantik.” Ayahku malah jadi menggombal. Nara dan Wira memakan makanan mereka dengan khidmat.
“Ya nanti Arakata nggak laku, Yah. Gimana Arakata bisa nikah coba kalo orang-orang salah kira.”
“Ya nggak papa. Kalo ngadepin Ayah aja nggak berani, masa mau ngelamar anak om. Lawakan apa itu. Ya kan, Nara, Wira?”
“A-ah, i-iya, Om.” Karena panik, Nara dan Wira menjawab dengan gugup.
“Ayah, jawab pertanyaanku,” rajukku. Ayah malah tertawa. Ia meminum air di gelasnya sebelum kemudian mulai berbicara.
“Umur ayah panjang karena ayah adalah siluman tingkat tinggi. Ayah termasuk siluman kucing hitam, siluman yang terkenal dengan nyawa sembilannya. Umur kami bahkan bisa menyentuh angka ribuan tahun dalam nasib yang mujur. Kamu sekarang sudah tidak penasaran lagi, kan?” tanyanya. Aku mengangguk paham.
“Setelah kalian berhasil menemukan saya dan menyerahkan Arakata serta proposal permintaan raja kalian, apa yang mau kalian lakuin berikutnya?” tanya Ayah ke arah Nara dan Wira. Kedua remaja itu menghentikan aktivitasnya untuk sementara guna menjawab pertanyaan dari sang Maharaha.
“Untuk sementara, kami tetap di sini karena kami masih menginvestigasi bagaimana bisa Gandarewa masuk ke dalam tabir yang tidak bisa dimasuki semua tingkatan manusia kecuali tingkat terendah dan tertinggi. Saat kami selesai dengan tugasnya, bolehkah kami membawa Arakata kembali?” Nara menjawab sekaligus mempertanyakan apa yang ingin ditanyakannya.
“Ah, itu juga aku heran. Biarkan kami membantu investigasimu. Omong-omong, aku membebaskan Arakata, mau ke mana saja ia pergi. Asalkan sesekali pulang untuk menemui ayahnya yang sendirian ini,” jawab ayah.
“Kalau Wira?” Kini gantian aku yang bertanya.
“Aku ingin menyelidiki siapa yang menjadi dalang, sampai-sampai biasanya mereka tidak lewat situ bisa diarahkan lewat daerah kosong itu,” jawab Wira. Aku bisa memahami akurnya sampai sinu
“Eh, tunggu! Kenapa kalian kerjanya pisah? Kenapa nggak bareng-bareng aja?” tanyaku baru paham.
“Kami memilih seperti ini untuk menghemat waktu, Arakata. Kamu bisa menikmati waktu kebersamaanmu dengan ayahmu. Nanti, kalau kami selesai, kami bakal nemuin kamu lagi “
Baiklah, sepertinya bagus. Aku mengangguk setuju saja akan sarannya.