Aku mengantarkan Nara dan Wira di depan gerbang. Ayah sudah membawakan mereka beberapa barang yang diperlukan untuk penyelidikan ini. Sebenarnya, mereka sudah bertanya Ayah kira-kira siapa dalang utamanya dan apa motifnya. Apalagi aku yang katanya merupakan ‘takdir’ untuk menghentikan mereka. Tapi, Ayah bilang kalau Ayah tidak tahu banyak.
“Ayah tidak tahu banyak. Dewi Kadita berkata kalau akan ada sebuah malapetaka besar yang kini sedang dipancing untuk muncul. Tapi, malapetaka jenis apa, itu masih belum tahu. Orang-orang yang memancing malapetaka itu memiliki perisai kuat untuk ditembus, jadi penglihatannya akan itu terblokir begitu saja,” ucap Ayah saat ditanya kemarin. Kami juga tidak bisa menuntut banyak.
“Kalian berdua hati-hati, ya? Sesekali kabari aku kalau kalian sempat. Aku masih memasang telepati pada kalian. Jadi, kalian cukup memanggil namaku tiga kali, kita pasti akan tersambung,” ucapku pada mereka. Selain merelakan mereka untuk sementara, aku juga harus merelakan Jake yang dipinjam Wira untuk mempercepat perjalanannya.
“Tenang aja. Gampang itumah. Sekarang, kamu nikmati aja kebersamaanmu dengan ayahmu. Kami bakal kirim kabar kalo penyelidikan ini mendapatkan hasil.” Nara menepuk kepalaku sebagai tanda perpisahan. Sementara Wira menyalimiku dan merangkulku sebentar. Ia juga berbisik, “Aku berangkat dulu.”
Lambaian tanganku mengiringi langkah mereka yang mulai memacu kuda. Ayah di sampingku merangkul pundakku dan mengajakku masuk ke dalam istana setelah mereka tak terlihat.
“Yah, boleh tanya sesuatu?” tanyaku padanya.
“Boleh dong, Sayang. Mau tanya apa?” Ia menjawab dengan nada yang lembut.
“Kan aku juga dapat tanda Pendar Intan, apa Ayah bisa ajari aku sihir?”
Ayah berpikir sejenak. “Hmm, Ayah bisa aja ajarin kamu. Bisa banget malah. Tapi, Ayah nggak yakin apa kamu bisa nerimanya. Soalnya, kamu itu bukan sepenuhnya siluman juga bukan sepenuhnya manusia. Karena dasarnya juga siluman kebanyakan mampu menguasai sihirnya sendiri tanpa diwarisi atau mewarisi, diajari atau mengajari. Jadi, mungkin Ayah bisa sedikit ajari tentang cara-cara menggunakan sihir daripada langsung jenis sihirnya.” Sepertinya ia sendiri juga tidak terlalu yakin akan hal ini. Kondisiku memang langka. Aku terlahir dari manusia dan siluman yang pada dasarnya tidak pernah bisa bersama.
“Oke, Ayah. Apa pun yang Ayah ajarkan benar-benar berguna untukku. Kalau memang ramalan itu benar, bukankah seharusnya aku melatih diriku dengan sangat keras?” tanyaku antusias.
“Baik-baik. Nanti Ayah ajarkan. Tenang saja, Ayah ini termasuk keras dalam melatih seseorang. Jadi, Ayah pastikan kamu akan menjadi lebih hebat!” ucap Ayah semangat. Aku dan Ayah akhirnya tertawa bersamaan, padahal tidak ada yang lucu.
Rasanya bahagia, ya, punya Ayah! Setelah tiga puluh tahun lebih aku hidup tanpa mengenalnya atau mereka.
.
Sepertinya, benar saja apa yang dikatakannya. Pagi hari, bahkan sebelum ayam berkokok, Ayah sudah membangunkanku. Cuaca di Negeri Siluman sangat dingin, mungkin lebih dingin dari Lawu saat aku berlibur ke sana dulu. Bahkan rasanya gigiku sampai bergemeletuk saking dinginnya. Padahal, saat aku masih di kamar tadi, rasanya hangat. Tapi berbanding terbalik dengan luar istana.
“A-ayah serius, ba-bawa aku k-keluar dingin-dingin gini?” tanyaku dengan uap air yang terbentuk keluar dari mulutku. Rasanya tambah dingin ketika aku hanya memakai selembar baju tidur yang lumayan tipis. Aku tidak sempat—atau mungkin tidak boleh—berganti pakaian, masih memakai baju tidurku dengan kondisi muka berantakan.
“Ayah serius banget. Untuk meningkatkan kapasitas mana, kamu juga perlu melatih tubuh dan jiwamu bersamaan. Ayah percaya pada ketahanan dan kekuatan ragamu. Tapi, bagian dalamnya masih sangat lemah. Mungkin karena memang jiwa yang harusnya mengisi bagian itu sempat dipindahkan ke dunia lain selama lima belas tahun,” jelas Ayah. Aku ingin protes, tapi ini bukan waktunya aku untuk protes.
Kemarin juga ayah cerita tentang usia jiwaku. Berhubung di dunia ini dan bumi selisihnya dua kali lipat, maka, usia separuh jiwaku yang dari bumi sudah berusia tiga puluh tahun. Usia yang sama dengan usiaku mati. Lagian alasanku mati tidak serta merta Truk-kun yang menabrakku. Sekalipun tidak ada insiden dengan Truk, aku tetap akan mati dengan alasan gagal jantung. Karena raga yang kutempati hanya bisa tiga puluh tahun. Uniknya lagi, saat aku menempati raga itu, jiwaku juga membentuk raga agar serupa dengan jiwa. Itulah alasan kenapa aku di duniaku yang asli dengan yang di bumi bagai pinang dibelah dua.
Sepertinya latihan berat ini tidak hanya berhenti dengan keluar saat udara dingin seperti ini saja. Ayah mengajakku ke sebuah sungai dengan air terjun yang tidak jauh dari istana. Beliau masuk ke dalam airnya seolah air itu air hangat. Padahal kutahu betapa dinginnya air itu.
“Arakata, ayo, ikut Ayah,” ajaknya. Aku ingin menolak lagi, tapi, aku ingat akan tanggung jawab dan kewajibanku. Jadilah aku mengikuti langkahnya.
Salah satu kakiku sudah menyentuh permukaan air. Tiba-tiba saja rasa dingin itu sudah sampai di otak dan membuat sekujur tubuhku merinding karenanya. Tapi, aku coba untuk memaksakannya. Berakhirlah kedua kakiku masuk ke dalam air sungai ini. Dari pinggir, tingginya hanya semata kaki. Ayah sudah menungguku di tengah, yang mana itu sebatas pinggangnya ayah yang berarti setengah dadaku. Wajar, ayahku lumayan tinggi. Baru saja ketinggian air itu mencapai pertengahan betisku, tapi, rasanya kakiku seperti mati rasa. Ayah menggandeng tanganku saat aku berhasil menghampirinya. Beliau mengajakku ke dekat air terjun yang alirannya tidak terlalu deras.
“Coba kamu kontrol manamu di bawah air terjun ini. Ubah manamu menjadi sebuah selubung energi yang lembut, yang melindungimu dari rasa dingin. Tapi, kamu tidak boleh mengambil mana dari luar. Kamu harus mengembangkan sendiri mana yang ada di dalam tubuhmu. Karena kamu manusia, wadah manamu di dalam tubuhmu lebih besar dari siluman. Siluman lebih sering menggunakan mana luar untuk digunakan, terutama siluman tingkat rendah. Itulah kenapa mereka sangat mudah bereaksi dengan mana hitam karena secara tidak langsung, tubuh mereka yang layaknya spons menyerap mana hitam dan menjadi tidak terkendali. Karena di tubuhmu ada darah manusia juga, Ayah yakin kamu bisa memakai hanya mana dalam saja,” jelas Ayah. Aku memahaminya meskipun tidak bisa menjawab kecuali anggukan kepala dengan gigi yang terus bergemeletuk menahan dingin.
Aku duduk di tempat yang ayah tunjuk. Di bawah air terjun itu memang ada sebuah batu yang agak menonjol, jadi, kalau aku duduk bersila di atasnya, air sungai hanya sebatas perutku saja. Sulit rasanya berkonsentrasi untuk membuat mana dari dalam dengan kondisi dingin dan air yang terus mengalir dari atas. Semilir angin juga seolah memprovokasi dan membuat udara makin dingin. Aliran mana yang sudah aku bentuk mendadak buyar saat konsentrasiku sedikit terpecah.
Hingga matahari naik dan membuat lingkungan menjadi lebih hangat, aku masih belum bisa mengendalikannya. Tidak seperti guru-guru lain yang membiarkan muridnya mengerjakan tugasnya sendirian, Ayah ikut menemani di sampingku tepat di air terjun yang deras. Beliau mengajakku berhenti saat udara hangat sudah tiba.
“Setelah ini, kamu bisa mandi dan sarapan. Kamu juga bisa beristirahat selama dua jam setelah makan sampai latihan yang kedua. Sampai sini paham, kan?” tanya Ayah setelah menjelaskan apa saja yang harus kulakukan ini. Aku mengangguk paham. Gigiku masih bergemeletuk sekalipun aku sudah keluar dari sana. Ayah yang tahu kalau aku kedinginan menyampirkan jubahnya untuk kupakai menghalau udara dingin. “Ayah, tapi jubah Ayah jadi basah!” protesku.
“Nggak papa. Cuma jubah, gampang dibersihin. Anak Ayah lagi kedinginan masa mau Ayah biarin?” jawabnya santai.
“Kalo emang kaya gitu, kenapa nggak dari tadi aja, Yah? Kan tadi juga kedinginan,” balasku kemudian.
“Ayah sebenarnya nggak tega liat kamu kedinginan kaya gitu. Tapi, gimana lagi. Kamu perlu sedikit latihan berat untuk ke depannya. Kita nggak pernah tahu sejauh apa masalah di masa depan. Satu-satunya cara untuk menghadapinya adalah mempersiapkan yang terbaik dan memberikan yang terbaik.” Ayah mengatakannya dengan senyumnya yang manis. Anehnya, aku malah ingin menangis.
“Sana, kamu mandi dulu. Makan, terus istirahat dulu. Tapi, kamu masih harus melatih konsentrasimu saat istirahat. Jangan buang waktu sia-sia. Ayah tahu kamu capek, tapi, ini yang terbaik,” ucap Ayah. Beliau lalu pergi ke arah berlawanan denganku yang ke arah kamar. Kamar mandiku sebenarnya berada di dalam kamar, hanya saja pintunya yang tidak menggambarkan bentuk kamar mandi pada umumnya membuatku kebingungan saat awal di sana. Kamarku sendiri cukup luas, mungkin ukurannya sama dengan ukuran ruang tamu ditambah ruang keluarga di panti tempatku dulu tinggal. Padahal hanya kamar tidur dan di dalam sini hanya ada aku sendiri.
Irina yang sudah menantiku di depan pintu segera membuntutiku saat aku mencapai di depannya. Tanpa ragu, ia ikut masuk ke dalam kamar dan membantuku merapikan diri. Meskipun rasanya hari ini ia tidak melemparkan pertanyaan terlebih dahulu sebelum kutanya. Aku memintanya menungguku di luar kamar mandi selama aku membersihkan diriku. Sepertinya ia sudah menyiapkan ini semua saat aku masih latihan. Sebuah bak berisi air hangat dan aroma jeruk yang menenangkan membuat badanku rileks kembali. Setelah selesai membersihkan diri, aku keluar dengan kondisi sudah berpakaian lengkap. Selama tidak ada acara resmi, ayah membebaskanku untuk memakai apa saja. Tapi, kalau akan ada kunjungan atau acara resmi lainnya, aku diwajibkan memakai gaun milik tuan putri.
Dua jam sudah berlalu sejak aku sarapan. Aku menghampiri Ayah yang sedang duduk di bawah pohon rindang. Tadi, salah seorang prajurit yang menyampaikan pesannya agar aku datang kemari. Jadi, di sinilah aku saat ini.
“Sekarang jenis latihan apa, Yah?” tanyaku sedikit antusias. Beliau menyuruhku duduk bersila di hadapannya.
“Melatih pergerakan mana berarti berlatih memaksimalkan kinerja jiwa. Pagi hari adalah waktu yang sangat baik untuk melatih kemampuan wadah mana agar bertambah kapasitasnya. Jadi, latihan penambahan kapasitas sekaligus pengontrolan mana kamu lakukan di pagi hari. Untuk saat ini, kamu hanya perlu menjaga kekonsistenan mana. Mana yang keluar dalam jumlah yang sedikit lebih banyak atau sedikit akan berpengaruh besar pada sihir. Satu saja gelombang yang berbeda akan membuat sihir gagal dan malah berbalik menyakiti si pengguna. Jadi perlu sekali untuk menjaga kekonsistenan mana. Untuk manusia biasa lainnya, mereka biasanya mendapatkan latihan kontrol mana sejak kecil. Tapi, kamu sempat berpisah dengan jiwa yang mengandung wadah manamu sejak bayi. Jadi, perlu pembiasaan untuk mencapai konsistensi yang pas,” jelas Ayah panjang lebar.
“Terus, latihan kita gimana, yah? Mau berendam di air terjun lagi?” tanyaku penasaran. Ayah malah menjitak kepalaku pelan.
“Padahal ayah baru bilang kalo latihan itu cuma dilakukan di pagi hari. Jadi, sekarang kamu punya latihan yang beda.” Aku mengelus-elus bekas jitakan Ayah sambil mendengarkan apa yang beliau katakan.
“Iya, iya, Yah. Sakit, tau, dijitak.”
Ayah terkekeh.
.
Benar kata ayah, latihan ini berbeda dengan yang kami lakukan tadi pagi. Latihannya sederhana, aku hanya harus mengalirkan mana di buah Dimar, buah yang bisa menyala saat terkena aliran mana yang stabil dan tenang. Ini memang latihan dasar untuk pengontrolan mana. Tapi, berhubung buah Dimar jarang ada di Negeri Swarnanusa, akhirnya manusia-manusia di sana mengakalinya dengan membuat tiruan dari karet. Selain lebih praktis karena tidak mudah busuk, alat itu juga bisa kembali lagi setelah pecah dan dapat digunakan bertahun-tahun lamanya. Kalau buah Dimar sendiri lumayan unik. Buah itu berbentuk seperti buah Tin dengan warna kulit biru. Apabila mana yang mengalir ke dalamnya tenang, maka pengontrolannya sudah baik. Tapi, kalau sedikit saja ada perbedaan jumlah mana yang masuk, maka buah itu akan meledak.
Aku mengambil salah satu buah dan mulai mengalirkan mana ke dalamnya. Belum sampai lima detik, buah itu meledak begitu saja dan membuatku terkejut. Ayah yang mengawasiku langsung tertawa terbahak-bahak menertawakan kegagalanku. Beliau mengambil sapu tangan yang ada di saku untuk mengelap mukaku yang terkena isi dari buah ini.
***
Di sebuah ruangan yang gelap, dengan semua jendela yang tertutup tirai dan udara yang lembab, seorang pria tengah duduk di kursi dengan gaya angkuhnya. Mulutnya mengisap cerutu dan mengembuskan asapnya begitu saja ke sebuah wajah seorang anak perempuan yang tengah diikat. Anak itu menangis sesenggukan karena rasa sakit dan takut, sementara wanita di hadapannya tidak berdaya untuk melawan dan memilih untuk menangis memohon ampunan dan pembebasan. Biar bagaimanapun, ia hanyalah siluman tingkat rendah yang kebetulan bisa berubah menjadi manusia karena memang dalam garis keturunannya, mereka selangkah menuju menengah rendah. Jadi, mereka hanya punya kekuatan yang cukup untuk menjadi manusia.
“Aku akan melepaskan putrimu kalau kamu mau melakukan tugas ini,” ucapnya santai. Di tangannya, ada sebuah botol kecil berisi cairan. Tanpa diberitahu pun Irina tahu kalau isi di dalamnya adalah racun. Tapi ia memilih diam dan tidak menjawab, karena ia tahu apa yang dimaksud oleh lelaki itu dan ia memilih untuk tidak melakukannya. Wanita itu hanya menatapnya dengan tatapan lurus yang tajam.
“Kenapa? Kamu nggak takut kalau anakmu ...,” Ia mengarahkan tangannya di leher seolah menyembelih. “kubunuh?”
Tubuh wanita itu gemetar hebat. Ia tidak ingin menjadi pengkhianat, tapi ia juga tidak ingin menghancurkan seseorang, apalagi mengkhianatinya. Keduanya sama-sama penting bagi wanita itu.
“Apa kamu pikir aku bercanda, hah? Aku nggak akan segan buat bunuh dia!” Lelaki itu menarik rambut anak perempuan yang sedang diikat itu. Wanita itu masih belum mengeluarkan suaranya sampai kemudian sebuah pisau dikeluarkan dari saku lelaki itu. Ia menarik rambut anak perempuan itu sampai tertarik ke belakang. Lehernya yang mulus diekspos begitu saja, sementara bagian tajam belati diarahkan ke leher anak itu. Sang wanita yang tidak sanggup melihat putri semata wayangnya meninggal akhirnya mengalah.
“Dasar manusia bangsattt! Lepasin anakku! Oke, aku akan jalankan tugas ini. Tapi, lepaskan putriku! Jangan sakiti dia!” Setelah meraung marah, wanita itu akhirnya berkata dengan nada rendah seolah memohon. Semakin ia tahan, justru air matanya semakin keluar bersama dengan rasa menyesal karena telah gagal menjadi ibu yang melindungi putrinya dan bawahan yang melindungi atasannya.
Lelaki dengan rambut kecokelatan itu tertawa puas. Ia menyerahkan sebotol racun itu pada wanita itu bersamaan dengan sang anak.
“Kamu tahu ini apa?” tanyanya sambil membuka sebagian baju anak itu. Ada sebuah tonjolan kecil seukuran ibu jari di sana. Wanita itu tahu benar apa itu. Benda itu adalah larva bom, yaitu larva yang bisa meledak kalau pemicunya dilepaskan. Pemicunya sendiri adalah bagian ekornya yang terputus saat ia hendak digunakan. Jika ekornya dihancurkan, maka larva yang ada di tubuh inangnya akan meledak.
“Aku tidak mau tahu. Kamu harus menjalankan tugasmu dalam waktu 2x24 jam. Lebih dari itu, anakmu akan meledak bersama larva ini. Paham?” Wanita itu mengangguk dengan berat. Selepas lelaki itu pergi, ia memeluk putrinya yang menangis ketakutan. Wanita itu melepaskan ikatan dengan perlahan dan membawa putrinya pulang.
***
Latihanku berjalan sampai sore. Bahkan, Ayah membawa pekerjaannya kemari untuk menemaniku berlatih ditemani ledakan-ledakan yang berbunyi setiap beberapa menit sekali. Tapi, rupanya Ayah tidak terganggu sama sekali. Beliau masih aktif memeriksa setiap dokumen dan tugas yang ada di hadapannya.
“Ayaah, udah sore. Bisa kita sudahi hari ini?” tanyaku sedikit merengek. Ayah melihat ke arah langit, lalu ke keranjang buah Dimar yang tersisa beberapa saja.
“Habisin dulu buahnya, baru kita masuk!” perintah Ayah seolah mutlak.
“Yah, buah ini enak nggak kalo dimakan?” tanyaku iseng. Kupikir Ayah akan mengabaikanku, rupanya ia menjawab pertanyaanku.
“Nggak enak. Buah ini nggak ada rasanya. Jadi, memang digunain buat latihan. Atau juga bisa diekstrak terus minyaknya buat kehidupan sehari-hari, kaya buat masak atau diolah jadi sabun.” Aku mengangguk paham.
“Yah, aku pengen nanya lagi, boleh?” Tanganku mengambil sisa buah yang hanya tinggal tiga buah. Baru saja aku mengaliri mana, buah pertama pecah begitu saja.
“Boleh, nanya apa, Sayang?” Ayah meletakkan kertasnya dan menghadap ke arahku. Bisa-bisanya ia menyuruh prajuritnya untuk juga memindahkan meja dan kursi agar bisa melanjutkan pekerjaan dengan nyaman.
Sebelum menjawab pertanyaannya, aku kembali mencoba di bola yang kedua dari belakang. Lagi-lagi pecah saat baru kualiri.
“Negeri Siluman terkenal akan sumber daya alamnya yang sangat beragam. Sementara untuk pengolahannya, Swarnanusa memiliki banyak sekali inovasi-inovasi dari setiap daerahnya. Bahkan, bukan tidak mungkin sumber daya alam di sini menjadi sebuah pendapatan yang besar untuk kedua belah pihak. Kenapa nggak menjalin hubungan diplomatik aja?” Aku meraih buah terakhir lalu mencobanya, lagi-lagi pecah sebelum Ayah menjawab pertanyaanku.
“Alasannya kompleks, Nak. Nggak semudah saling barter lalu sejahtera, nggak. Mengingat bagaimana hubungan emosional dari kedua warganya yang nyaris tidak bisa bersatu. Juga bagaimana perjanjian yang dibuat leluhur kami untuk tidak lagi saling berhubungan satu sama lain, terutama hubungan percintaan dan lainnya. Jadi, ini bukan serta merta ekspor dan impor saja, tapi banyak bidang juga,” jelas Ayah. Kini aku paham alasannya kenapa keduanya lebih memilih saling mengunci daripada saling berbagi.
“Ayah, ayo masuk! Kita makan malam, aku lapaar!” Aku ingin menyeret Ayah, tapi, melihat bagaimana pekerja yang masih menumpuk membuatku membatalkan ideku. Menyentuh pekerjaannya berarti berniat menantang bergelud. Hanya Fyna saja yang masuk dalam kategori pengecualian.
Aku sudah bersiap dan memakai baju tidurku. Seperti biasa, Irana yang bertugas melayaniku. Aku segera menuju ruang makan untuk mengisi perutku yang lapar. Wajar saja, seharian penuh berlatih konsistensi membuat energiku terkuras habis. Aku makan dengan Ayah di meja makan tanpa bersuara, etika kerajaan.
Selepas makan, aku memilih untuk kembali ke kamar untuk tidur. Rasanya badanku lelah sekali. Apalagi habis makan membuatku mengantuk. Tapi, ini bahkan belum sampai ke kamarku, baru saja aku setengah jalan, kantuk itu perlahan datang dengan kuat. Tak lama kemudian, badanku terasa sakit dan panas, menjalar dari perutku sampai ke dasa dan kepala rasa sakitnya. Aku berteriak karena tidak tahan dengan rasa sakit ini. Ayah yang kebetulan masih di ruang makan langsung berlari mendengar jeritanku. Ia mendapatiku yang tergeletak sambil kejang-kejang. Kuakui, rasa sakitnya seperti seluruh tulang diremukkan bersamaan, dilelehkan menjadi abu, lalu ditata lagi. Sepertinya penuh dengan pukulan, penuh dengan hujaman. Aku masih tidak bisa merasakan apa pun selain rasa sakit. Anehnya, rasanya beda dengan sakit saat aku mendapatkan tanda kedua itu. Sakit yang ini jauh lebih menusuk, merusak, dan menghancurkan. Sakit yang lalu hanya memasukkan informasi kekepalaku, tentang banyak hal. Akhirnya, aku memilih menyerah untuk bangkit saat sebuah gumpalan darah keluar dari perutku saat aku muntah. Ayah, maaf, aku belum bisa berjuang dengan keras.
***
Omkara terkejut mendengar pekikan putrinya. Ia langsung berlari menuju ke arah suara. Begitu kagetnya ia saat melihat Putrinya tergeletak dengan kesakitan. Ia langsung memerintahkan prajurit untuk memanggil tabib istana. Saat Omkara Henda membopong putrinya, sebuah gumpalan darah keluar dari tubuh Arakata saat ia muntah. Setelah itu Arakata tidak sadarkan diri. Omkara langsung membawa putrinya ke kamarmu dan menjemput tabib sekenanya. Rupanya, sebuah racun masuk ke dalam tubuh Arakata.
“Adakan investigasi lebih lanjut. Jangan biarkan siapa pun masuk ke dalam sini atau keluar tanpa persetujuan. Berani menyentuh putriku, berarti siap untuk kehilangan nyawa!”