Tubuh Arakata tergeletak tak berdaya. Suhu tubuhnya mendingin dan tubuhnya membiru. Tabib istana yang datang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengeluarkan racunnya dan menyembuhkan Arakata. Tapi, belum ada perubahan yang berarti. Bahkan sekalipun racun itu keluar.
Suara ketukan pintu terdengar membuat Omkara yang tadinya menelungkupkan kepalanya di samping ranjang putrinya terbangun. Ia mempersilakan pelaku ketukan pintu itu untuk masuk. Seorang ketua kelompok dari salah satu kelompok prajurit yang menginvestigasi kejadian ini masuk perlahan lalu berdiri di hadapan raja.
“Apa kalian sudah menemukan siapa pelakunya?” tanya Maharaja Omkara dengan nada dingin.
“Sudah, Yang Mulia. Kami sudah berhasil menangkap pelakunya,” lapor prajurit itu.
“Bawa dia masuk! Seret kalau perlu!” titah Maharaja Omkara tegas. Prajurit itu memberi perintah bawahannya yang ada di luar untuk membawa pelakunya masuk. Seorang wanita yang sudah diikat dan babak belur itu dilemparkan begitu saja di hadapan Maharaja.
“Bisa kamu jelaskan apa maksudnya ini, Irina?” tanya Maharaja Omkara dengan nada mengancam yang membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri.
“Ampun, Baginda. Saya salah.” Irina bersujud dengan air mata berlinang. Ia tidak mengatakan pembelaan apa pun.
“Jelaskan!” bentak Maharaja Omkara dan membuat prajurit yang ikut berdiri berjengit kaget.
“Ampun, Baginda. Saya salah. Anda boleh menghukum mati saya.” Lagi-lagi Irina tidak mau menjelaskan apa yang terjadi. Daripada meminta maaf dan memohon keringanan, Irina terlihat pasrah dan membuat emosi lelaki itu semakin meningkat.
Omkara mendekati ke arah Irina yang masih bersujud. Ia menarik rambut wanita itu, lalu ditamparnya tepat di wajah dengan segala emosi yang ada dan membuat wanita itu sedikit terlempar. Seandainya rambutnya tidak dipegang, mungkin wanita itu sudah terpelanting begitu saja.
“Kenapa kamu diam saja? Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?” Dibandingkan membentak, Omkara malah merendahkan nadanya sampai membuat siapa pun merinding. Irina tahu pasti, amarah lelaki itu tiba di puncaknya. Ia yang paling tahu bagaimana kesedihan lelaki itu saat kehilangan istri dan anaknya. Ia yang paling tahu bagaimana penantian lelaki itu pada anak perempuan semata wayangnya yang harus dipisahkan dengannya. Tapi, sebuah pilihan sulit membuatnya mengkhianati lelaki itu.
“Masih belum mengaku?” tanyanya kembali. Omkara menarik rambut Irina keras sampai kepala wanita itu tertarik ke belakang.
“Dhanu, bawa sini pedangmu!” perintahnya pada ketua kelompok yang masih berdiri di tempat. Ia menyerahkan pedangnya ke arah raja yang masih memegangi rambut wanita itu. Maharaja Omkara melepas pedang itu dari sarungnya dan menempelkan bagian tajamnya di leher wanita itu.
“Katakan alasannya kenapa kamu mengkhianati kepercayaan saya dan siapa yang menyuruhmu, atau kepalamu akan terpisah dari badan!” Maharaja memberikan ultimatum kepada Irina. Tetapi, bukannya ketakutan, wanita itu malah memejamkan mata seolah pasrah akan keadaannya. Karena geram, Maharaja Omkara semakin menekan pedangnya sampai menggores leher dan membuat darah mengalir. Nyaris saja ia memenggal kepala wanita itu, sebuah suara menghentikannya.
“Ayah, jangan bunuh dia,” ucap Arakata lirih. Ia masih tergeletak lemas. Belum ada yang berubah selain kesadarannya yang kembali. Omkara langsung mengempaskan Irina ke lantai dan menghampiri putrinya yang tersadar. Ia memegang tangan putrinya yang dingin seraya menciuminya dengan frustrasi.
“Kamu mau apa, Sayang? Mana yang sakit? Biar Ayah carikan obatnya di mana pun itu. Kasih tahu Ayah, mana yang sakit.”
Arakata menggeleng lemah. “Aku nggak minta apa-apa, Yah. Jangan bunuh Irina. Dia orang baik,” bisik Arakata dengan segenap tenaga yang ia punya, lalu kesadarannya kembali menghilang. Omkara yang kesal berteriak sambil meninju dinding kamar Arakata sampai retak. Beruntung tidak ambruk dan menimpa anaknya. Kalau sampai ambruk, dobel menyesallah dia.
“Dhanu! Seret dia ke penjara bawah tanah! Terus interogasi dia sampai mengaku! Terserah mau pakai cara apa, asalkan jangan sampai mati!” perintah Maharaja. Dhanu menyeret Irina yang masih menangis tanpa suara, diikuti anak buahnya yang tadi menyeret wanita itu masuk.
Di tempat yang jauh, seorang lelaki tertawa terbahak-bahak. Ia melihat bagaimana Arakata yang keracunan dan terjatuh dengan tubuh membiru. Kalau nasibnya baik, mungkin gadis itu akan bertahan dua puluh empat jam. Tapi, kalau gadis itu tidak beruntung, mungkin ia akan mati hanya dalam waktu lima jam. Tapi, lelaki itu justru menganggap kematian dalam waktu lima jam adalah keberuntungan. Karena rasa sakit yang diakibatkan dari racun itu sangat-sangat menyiksa setiap detiknya. Bahkan, ketika kesadaran menghilang, orang yang terkena racun akan tetap merasakan rasa sakit yang menyayat di setiap selnya.
“Satu-satunya orang yang akan menghancurkan rencanaku sudah dihabisi. Entah ke mana mereka menyembunyikan selama lima belas tahun ini. Tapi, itu semua tidak akan berarti setelah aku menemukan gadis itu. Sepertinya memang semesta berpihak padaku.” Ia lantas tertawa dengan ekspresi puas. Rencananya berjalan dengan mulus. Lelaki itu menaiki kuda sembrani dan pulang ke Swarnanusa.
***
Wira memacu kudanya untuk menyelidiki Lembah Hitam, area kosong yang berisi pekatnya mana hitam sebagai tempat awal yang siluman itu lalui sebelum akhirnya mengamuk dan menghancurkan desanya. Siluman tingkat rendah memang tidak mungkin lewat sini apa pun alasannya. Mereka jelas tahu dengan pasti kalau mereka sampai lewat sini, hanya kegilaan yang akan mereka terima terlepas dari apa pun kepentingan paling mendesak yang mereka punya sampai harus rela menerobos daerah terlarang ini.
Wira sudah sampai di tempat itu. Di depannya, berdiri sebuah gunung yang menurutnya lebih mirip disebut bukit daripada gunung. Tapi, mau itu gunung atau bukit, fakta bahwa tanah ini adalah tanah tanpa kepemilikan tidak dapat dihindari siapa pun. Manusia juga nyaris tidak mungkin menetap di sini dalam waktu lama kalau tidak ingin keracunan mana hitam.
Mungkin kasus ini mirip dengan gunung Salak yang memiliki eksistensi mana hitam yang lumayan pekat. Tapi, penjaga gunung itu mampu mengunci perputaran mana agar tidak merambah ke mana-mana, apalagi ke daerah pemukiman di kaki gunung. Nek Adya juga membantu memperbarui pagar tak kasat mata yang menjaga agar mana hitam tetap di sana dan menjaga gunung itu dari kerusakan.
Meskipun sudah bertahun-tahun berlalu sejak insiden itu, Wira tetap berharap agar masih ada sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai petunjuk. Sekecil apa pun itu. Kasus ini terlalu biasa untuk sekadar dikatakan kecelakaan alam. Bahkan motifnya saja tidak jelas.
“Jake, kamu tunggu di sini, ya? Jangan kabur. Bisa habis aku sama Arakata kalo kamu kabur,” ucap Wira seraya menepuk-nepuk boko*ng Jake. Kuda itu meringkik seolah menjawab perkataan Wira dan melanjutkan memakan rerumputan di sana. Hewan-hewan tidak terkena efek mana hitam. Karena itulah mereka bisa bebas berkeliaran di dalam hutan. Tanah ini benar-benar masih alami karena nyaris jarang tersentuh tangan manusia.
“Nyaris nggak ada tanda apa-apa. Udah delapan tahun lebih tragedi itu terjadi. Wajar aja kalo nggak ada bekasnya,” gumam Wira. Ia masih menyusuri daerah itu sambil sesekali merasakan aliran mana, siapa tahu ada aliran ganjil yang ia rasakan. Tapi, hasilnya nihil. Benar-benar bersih tanpa sisa apa pun. Saat lelaki itu memutuskan untuk kembali ke arah Jake untuk keluar dulu karena hari sudah mulai gelap, kakinya mendadak tersandung sesuatu. Wira tersungkur di atas sebuah kerangka. Lelaki itu terkejut dan sedikit memundurkan tubuhnya. Saat ia melihat dengan saksama, rupanya itu adalah kerangka dari sebuah ular yang lumayan besar. Ia tidak tahu jenis ular itu sampai ia menemukan ekornya yang berbentuk khas. Itu ular derik tiga warna, ular yang diketahui paling beracun dan tidak ada penawar selain darah ular itu sendiri. Tapi, karena orang yang terkena bisa ular ini secara langsung akan langsung mati dalam beberapa menit, maka tidak ada kasus selamat setelah taringnya menancap ke kulit. Menurut alkemis terkenal dalam sebuah laporannya, bisa ular ini memang bisa diekstrak. Tapi, bisa yang sudah diekstrak akan memiliki daya kerja yang sedikit lebih menurun dari gigitan secara langsung. Hanya saja, penawarnya masih belum bisa ditemukan karena ular yang bersangkutan otomatis sudah mati saat diekstrak bisanya. Katanya, mereka yang sudah terkena bisa yang sudah diekstrak ini memiliki ciri-ciri layaknya mayat, tapi sebenarnya masih hidup.
Di dalam laporannya berisi tata cara pengekstrakannya disertai cara penyimpanan agar tetap ampuh sekalipun disimpan bertahun-tahun. Tapi, jurnal dan laporan itu ditarik peredarannya dan hak izin terbitnya oleh raja Swarnanusa dengan dalih takut disalahgunakan. Semua jurnal dan laporan itu dibakar habis di setiap perpustakaan yang ada. Wira pernah membacanya, dan bahkan memiliki salinannya karena kebetulan penulis dan penelitinya adalah tetangganya. Setelah kejadian itu, tetangganya menghilang saat sedang meneliti di Lembah Hitam. Menurut investigasi, tetangganya itu mati karena terpatuk ular derik tiga warna yang sedang ia amati dan mayatnya tidak ditemukan karena dimakan hewan buas.
“Siapa yang dengan piciknya ngelakuin ini? Apakah otaknya sudah rusak sampai-sampai melakukan hal biadab ini? Jelas-jelas bisa ular ini tidak untuk tujuan baik,” gumamnya pada dirinya sendiri. Wira memperhatikan sekitar tempat ular itu mati. Kalau kematiannya murni, seluruh tumbuhan dan hewan yang berada radius tiga meter dari jasadnya akan ikut mati karena bisanya yang sangat kuat itu. Tumbuhan baru akan hidup lagi setelah tulang belulangnya hancur lebur menjadi tanah. Itu pun masih memakan waktu yang lama. Jadi, melihat kondisi lingkungan yang masih bagus padahal tulangnya masih ada, Wira dengan pasti menebak pasti ada seseorang yang mengekstrak bisanya sampai habis dan membuangnya di sini untuk mengurangi kecurigaan.
Wira memilih untuk meninggalkan tulang itu setelah menguburkannya dengan layak. Setidaknya, makhluk itu juga makhluk hidup yang memiliki perasaan.
Matahari sudah terbenam sejak tadi. Wira menaiki Jake untuk pergi ke luar Lembah Hitam ini untuk bermalam. Ia sempat menangkap seekor ayam untuk makan malamnya. Setidaknya, ia tidak memperlakukan ayam dengan buruk dan memakannya untuk hidup, bukan mengambil bisa seekor hewan yang tidak ada urusannya dan membuang mayatnya begitu saja. Sedangkan bisanya digunakan untuk menyelakai orang lain.
Baru saja Wira hendak tidur setelah makan malamnya. Lelaki itu memang sudah dua malam tidur di bawah bintang. Hari pertama ia lakukan untuk menyelidiki jalur masuk utama, tapi, hasilnya nihil. Jadilah dia kemari untuk melanjutkan investigasi. Wira suka sekali memandangi langit malam yang berbintang. Apalagi hanya ada cahaya rembulan yang menyiraminya dengan sinar lembut, sehingga tidak mengganggunya menatap bintang-bintang itu. Api unggun yang ia buat mulai meredup. Bahkan bulan juga sudah lengser dari titik tertingginya. Sebuah siluman merpati yang berwujud manusia dengan sayap dan kaki merpati berukuran seperti burung merpati normal datang ke arahnya membawakan sebuah surat. Setelah membaca surat itu, Wira langsung menaiki Jake yang masih tertidur dan memacunya dengan cepat menuju kerajaan Siluman.
Arakata sedang dalam bahaya.
***
Layaknya negeri Swarnanusa, Negeri Siluman juga memiliki perkampungan dan banyak rakyat. Beberapa perkampungan homogen, beberapa yang lain heterogen. Untuk perkampungan homogen, biasanya di dalamnya hanya ada satu jenis siluman. Seperti perkampungan celeng, perkampungan kera putih, dan lainnya. Untuk perkampungan ini biasanya terletak di tempat-tempat terpencil di Negeri Siluman dan benar-benar berbaur dengan alam. Beberapa dari mereka sering berpindah tempat untuk berburu atau lainnya. Bahkan tak jarang berpindah ke Swarnanusa untuk beberapa waktu sebelum akhirnya kembali lagi ke tanah mereka, Negeri Siluman.
Perkampungan heterogen biasanya lebih dikenal sebagai kota. Karena memang kota-kota di Negeri Siluman berisi berbagai macam ras dan mod siluman, dari yang tingkat rendah sampai tingkat menengah. Untuk tingkat menengah ke atas sampai atas biasanya tinggal di istana-istana dan menjabat sebagai pemimpin mereka dalam sistem pemerintahan mereka. Meskipun nampaknya tidak terlalu teratur, tapi percayalah. Tidak ada rakyat Negeri Siluman yang kelaparan. Mereka semua hidup dengan sejahtera. Alasan kepindahan mereka ke Swarnanusa juga tak lain karena tradisi beberapa kelompok yang mengharuskan mereka bermigrasi. Itu pun semua yang keluar masuk secara otomatis terdata oleh kelompok daerah asal mereka masing-masing. Alasan Wira menyelidiki ini untuk mengetahui faktor apa yang membuat sesiluman Gandarewa bisa masuk ke Swarnanusa. Padahal sebelumnya sudah ada perjanjian antar dua pihak yang direalisasikan dalam pembuatan penyelubung mana yang melingkupi Swarnanusa dan mencegah siluman selain tingkat rendah untuk masuk ke dalam negeri itu.
“Aahhh, kenapa aku dapet tugas yang harus mikir pake otak, sih? Kalo bergelud mah ayo! Tapi kalo mikir gini, rasanya mau pecah kepalaku!” keluh Nara. Ia mengacak-acak rambutnya karena kesal. Rocky dan dirinya sudah memutari banyak desa dalam dua hari ini. Selepas dari istana, ia langsung memulai investigasinya dan memeriksa berbagai tempat. Bahkan dengan kemungkinan-kemungkinan terabsurdnya tentang teori bagaimana bisa Gandarewa menerobos masuk Swarnanusa.
“Seandainya aja bisa gantian sama Wira. Tapi aku yakin dia nggak mau tukeran tugas. Yang ada malah aku dikata-katain lagi sama dia.”
Nara memilih berhenti di salah satu kota. Ia sudah memutari kota itu untuk menyelidiki, apakah ada aktivitas mencurigakan di dalamnya. Menurut penyelidikannya, sebenarnya manusia tidak terlalu diterima di Negeri Siluman ini. Tapi, karena dia memakai lencana khusus dari Maharaja Omkara, akhirnya ia bisa dengan tenang berkeliaran dan menyelidiki berbagai tempat. Terlebih jarak dari desa satu ke desa lain tidak terlalu jauh.
Hari sudah larut. Ia berhenti di sebuah penginapan dua puluh empat jam yang ada di dalam kota. Karena lencana itu, ia bisa langsung mendapat kamar tanpa membayar. Nara memperhatikan bulan dari dalam kamarnya. Ia memanggil nama Arakata tiga kali, tapi tidak ada jawaban. Perasaannya yang sudah tidak enak dari tadi semakin diperkuat dengan dirinya yang mendadak menjatuhkan gelas saat berhenti di satu desa tadi sore. Apalagi, ia sudah tidak bisa menghubungi Arakata lagi setelah terakhir ia menghubungi gadis itu ketika insiden gelas jatuh itu baru terjadi.
“Astaga, Arakata kenapa? Apa dia udah tidur? Tapi, biasanya dia masih bisa jawab kalo pun udah tidur,” gumam Nara khawatir. Ia merebahkan dirinya di kasur dengan posisi jendela terbuka karena ingin menikmati embusan angin malam.
Sebuah siluman merpati datang dan masuk ke dalam kamarnya. Siluman itu langsung memberikan surat yang ia bawa ke arah Nara. Setelah selesai membacanya, lelaki itu langsung bangkit dan membawa barang-barangnya. Ia sempat berpamitan pada resepsionis dan langsung mengambil Rocky untuk ia kendarai.
“Sialan! Firasatku tak pernah salah!” pekik Nara yang mengendarai Rocky secepat mungkin.
***
Wira tiba lebih dulu setelah beberapa kali memakai sihir teleportasi. Jake yang kelelahan langsung ia tinggal begitu saja di halaman istana dan ia langsung berlari menuju ke kamar Arakata. Prajurit yang kebetulan berjaga di sana langsung mengamankan Jake karena mereka tahu kalau laki-laki itu pasti panik karena sahabatnya keracunan parah tanpa ada penawarnya.
Nara tiba tak lama kemudian. Kebetulan lelaki itu masih belum jauh dari istana. Ia memang menyisiri kota dan kampung yang berada di sekitar istana terlebih dahulu. Jadi, jaraknya masih tidak terlalu jauh dibandingkan Wira yang sudah sampai perbatasan.
Nara melihat sosok Wira yang masih berjalan tersengal-sengal. Mananya sudah habis karena sihir teleportasi yang ia pakai tadi lumayan jauh, hampir melebihi kapasitas yang ia bisa. Makanya ia tidak bisa langsung berteleportasi ke kamar Arakata. Karena langkah Nara yang panjang, remaja itu bisa menyusul Wira dengan mudah.
“Gimana sama Ara?” tanya Nara ke arah Wira.
“Nggak tahu. Aku juga baru dateng,” jawabnya sambil menggeleng lemah. Mereka tiba di depan pintu kamar Arakata. Setelah Nara mengetuk pintunya beberapa kali, Omkara mempersilakan mereka masuk.
“Gimana sama keadaan Ara, Paduka?” tanya Nara gugup. Omkara hanya menggeleng sambil menatap Arakata. Nara dan Wira yang baru datang langsung terkejut melihat betapa parahnya kondisi sahabatnya. Wira langsung memahami satu hal saat melihat kondisi Arakata.
“Maaf, Paduka. Kalau hamba berbicara lancang. Tapi, boleh hamba tahu apakah tabib bisa menemukan ini racun apa?” tanya Wira berani. Nara menginjak kaki Wira karena merasa tidak sopan, tapi, Omkara tidak mempermasalahkannya.
“Nggak perlu khawatir. Kalian sudah menjaga anakku selama ini, jadi kalian bisa memanggilku sedikit santai dan menanyakan apa pun. Menjawab pertanyaanmu, tabib istana belum tahu racun apa yang digunakan. Ini pertama kalinya bagi kami mengetahui racun ini.”
Wira akhirnya mendapat sedikit titik terang. Ia pun menjelaskan kepada Nara dan Omkara terkait kerangka ular derik tiga warna yang ia temui tadi sekaligus menjelaskan tentang bisa ular itu.
“Aku curiga ini adalah bisa ular derik tiga warna. Dilihat dari bentuk Arakata yang mirip seperti mayat karena tubuhnya yang seolah tak dialiri oksigen dan membiru serta suhu tubuhnya yang sesuai dengan suhu ruang. Satu-satunya cara adalah mencari ular derik yang bisanya dipakai untuk meracuni Arakata. Tapi, itu tidak mudah. Kita bahkan tidak tahu siapa pelakunya dan di mana ia membuang bangkainya. Apakah malah justru dibakar habis. Kalaupun ada, kemungkinan tulang belulangnya sudah habis menjadi tanah,” jelas Wira.
Omkara semakin frustrasi. Lalu, ia coba bertanya, “Lalu, kerangka yang kamu temukan itu, apakah itu obatnya?”
“Aku tidam tahu pasti, Baginda ...” Omkara menyela, “Paman saja.” Wira lalu mengilanginya, “aku tidak tahu pasti, Paman. Kalau kita salah, bisa jadi malah membahayakan nyawanya. Tapi, berdiam diri juga tidak lebih baik. Jadi, izinkan saya kembali ke sana untuk mengambil rangka makhluk itu.”
“Baik, kuizinkan kamu. Kalau bisa, lakukan dengan cepat. Arakata sudah terkena racun ini sejak matahari baru tenggelam, dan sekarang matahari nyaris terbit. Kita tidak pernah tahu kapan waktunya berakhir. Karena sewaktu-waktu, Arakata bisa meninggal karena racun ini,” titah sang Raja. Wira mengangguk paham.
“Maaf, Paman. Boleh pinjami aku satu kuda? Jake masih kelelahan karena aku bawa berjalan jauh semalaman,” pinta Wira. Nara menyela, “Aku ikut!”
“Nggak! Kamu di sini aja! Jagain Arakata. Aku yakin Paman Omkara akan sibuk karena banyak pekerjaan. Aku khawatir pelaku utamanya mengincar nyawa Arakata saat tidak ada yang menjaganya. Jadi, biarkan aku saja yang mencari kerangka ular itu. Kamu jaga Arakata. Paman juga sudah memiliki tugas penting lain untuk segera diselesaikan!” tolak Wira. Nara yang memahami kondisinya langsung setuju. Ia duduk di samping ranjang Arakata dan menggenggam tangan gadis itu.
“Baik, Paman. Tolong tunjukkan kudanya. Aku akan segera berangkat.”
Omkara keluar terlebih dahulu, diikuti Wira yang mengekor di belakang. Mereka menuju kandang kuda untuk mencari kuda terbaik. Mereka sudah menemukan salah satu yang terbaik. Saat Wira hendak menaiki kudanya, Omkara memberikan sesuatu di dalam bungkusan kecil.
“Ini adalah pil pemulih mana milik siluman. Meskipun kami lebih memakai mana luar, terkadang pengambilan mananya berjalan dengan lambat. Jadi, pil ini bertugas untuk mempercepat progres pengumpulan mana luar. Setidaknya ini akan membantu memulihkan manamu dengan mengambil dari mana alam.”
Wira menerima bungkusan itu. Ia meminum salah satu pil dan menggunakan sihir penyembuhan untuk punggungnya yang sakit karena dari tadi di atas kuda tanpa henti.
“Tolong bertahan, Arakata. Aku akan mencari obatnya secepat mungkin,” gumam Wira dengan d**a yang terasa sesak. Sesekali ia mengaktifkan sihir teleportasinya untuk jarak beberapa kilometer agar tidak terlalu memakan waktu lama.