Omkara langsung melesat begitu saja sekeluarnya dari kamar Arakata. Lelaki itu langsung berlari dengan kecepatan tinggi dan memukul seseorang yang juga lari di depannya. Nara yang tertinggal ikut mengejar dengan napasnya yang tersengal.
Remaja itu tiba tepat setelah Omkara mengikat seorang lelaki yang berpakaian prajurit.
“Nara, bawa laki-laki itu dan ikuti aku!” perintahnya. Nara langsung memegang lelaki itu dan menyeretnya mengikuti langkah Omkara yang terasa sangat berat karena dipenuhi emosi. Mereka menuju ke penjara bawah tanah. Seorang sipir yang melihat Maharaja mereka masuk ke daerah penjara langsung mengikuti langkahnya dan membuka sel tepat Omkara berhenti.
“Masukkan dia!” perintah Maharaja Omkara lagi kepada Nara. Remaja itu langsung melempar lelaki yang ia bawa dari tadi.
“Penjaga, bawakan saya pisau dan ramuan kejujuran!”
Penjaga yang diperintah langsung bergegas ke ruang penyimpanan untuk mengambil apa yang dibutuhkan Maharaja Omkara. Bisa dibilang isi dari ruang penyimpanan itu adalah alat-alat penyiksaan. Bahkan sekalipun mereka memiliki ramuan kejujuran, mereka tidak serta merta memberikan ramuan itu karena efek ramuan itu bisa bekerja kalau sebelumnya pelaku sudah memberikan satu kejujuran. Selama pelaku belum memberikan kejujuran terkait sebuah kecurigaan, maka ramuan itu tidak bekerja dengan baik.
Penjaga itu kembali dengan tangan berisi ramuan dan pisau. Sang raja mengambil meja khusus dengan sebuah borgol dari besi yang melekat di meja itu dan diletakkan di depan lelaki yang tertangkap itu. Ia juga mengambil pisau yang dipegang penjaga dan membiarkan ramuan itu dipegang oleh penjaga. Sedari tadi, lelaki itu sudah memberontak dan berteriak kalau ia bukanlah pelakunya dan dirinya tidak salah. Karena kesal, Nara tadi sempat menyumpal mulutnya agar tidak berisik.
“Buka sumpalan di mulutnya dan letakkan kedua tangannya di atas meja ini, lalu borgol keduanya!” Sang Maharaja menoleh ke arah Nara. Remaja itu sudah paham kalau titah itu untuknya. Ia segera memegang tangan lelaki itu dan diletakkannya ke atas borgol, atau mungkin bisa dikatakan pasung juga. Lelaki itu memberontak untuk menolak, tapi, ia kalah tenaga. Selesai kedua tangannya terkunci, barulah Nara membuka sumpalan di mulutnya. Ia malas mendengarkan ocehan lelaki itu lebih lama, makanya ia memilih untuk memborgol tangannya dahulu sebelum membuka mulutnya.
“Ampun, Baginda. Saya tidak salah! Bukan saya pelakunya. Lepaskan saya, Baginda. Saya tidak salah,” ocehnya dengan air mata yang berurai. Bukannya kasihan, Nara malah merasa muak dan ingin menggampar mukanya sekarang juga. Tapi, ia masih menghormati Omkara. Lagi pula, melihat posisinya yang sangat tidak nyaman itu, duduk lesehan dengan tangan dipasung di atas sebuah meja yang setinggi kepalanya kalau ia duduk, membuat Nara sedikit senang.
“Kamu yakin kalau kamu tidak salah? Kenapa kamu lari ketika melihat saya?” tanya Omkara dengan nada dinginnya. Matanya lurus menatap ke arah lelaki itu dengan tatapan yang sangat tajam. Bahkan Nara sendiri bergidik melihatnya, padahal tatapan itu tidak ditujukan untuknya.
“S-saya kaget melihat Paduka tiba-tiba berlari mengejar saya, jadi saya kabur.” Lelaki itu menjawab dengan tergagap. Terlihat jelas kalau ia sedikit gelagapan untuk menjawab pertanyaan Omkara.
“Lalu, kenapa kamu mengintip dari balik pilar sejak Wira datang?” tanya Omkara lagi. Mata lelaki itu terlihat resah, melihat ke sana kemari tanpa fokus.
“Saya hanya ingin memastikan Tuan Putri baik-baik saja,” jawabnya. Keagresifannya sudah hilang entah ke mana. Bahkan ia tak bedanya dengan seekor anjing yang ketahuan mencuri.
“Mukamu terlihat familier ...,” Omkara berpikir sejenak. Lalu, raut wajahnya tampak seperti mengingat sesuatu. “aku ingat kamu adalah penjaga yang berada di dekat putriku saat ia pingsan kemarin. Padahal, aku sudah memerintahkan semua prajurit untuk tidak berlalu lalang atau berjaga di lorong arah kamar putriku, kecuali di pintu masuk lorongnya. Kenapa kamu ada di sana?”
Lagi-lagi mata dari lelaki itu bergerak gelisah. Ia menjawab dengan sedikit gagap, “A-anu. Tadi, s-saya kebetulan lewat sana. Jadi, saya tanpa sengaja lewat sana. Saya, saya lupa kalau ada jalan selain lewat sana.” Jawabannya terlalu berbelit-belit. Karena kesal, Omkara menusukkan pisaunya tepat di tangan lelaki itu yang ter borgol. Lelaki itu berteriak karena kesakitan. Ia kembali menangis memohon ampunan.
“Jawab jujur atau setiap jarimu aku potong satu persatu!” perintah Omkara. Tapi, bukannya menjawab jujur, lelaki itu masih berbelit-belit. Karena makin kesal, Omkara akhirnya memotong satu ruas jari tengah lelaki itu. Ia langsung berteriak karena kesakitan, sementara Omkara tersenyum puas.
“Mau jujur, atau kuhabisi jarimu!” ancamnya. Dengan sedikit bergetar, akhirnya ia menjawab dengan jujur.
“B-bukan saya yang menaruh racun di makanan Tuan Putri.”
“Aku nggak nanya itu! Itu fakta yang sudah kutahu! Yang aku tanya, kenapa kamu ada di sana?” Bisa saja saat ini Omkara memberikan ramuan kejujuran yang sudah ia siapkan, karena lelaki itu sudah mengungkapkan satu kejujuran dalam kasus ini. Tapi, Omkara masih belum puas menyiksanya. Lelaki itu masih menangis seraya meringis kesakitan karena salah satu jarinya hilang sepertiga. Darah mengalir tanpa henti dari luka itu.
“S-saya disuruh seseorang untuk pergi ke tempat Tuan Putri dan selalu mengawasi Tuan Putri hari ini.” Akhirnya lelaki itu menjawab dengan pelan. Ia sudah tidak kuat jika harus disiksa lagi.
“Apa kamu dan Irina sekongkol?”
Lelaki itu menggeleng pasti. “Tidak. Tapi, orang yang menyuruh kami sama,” jawabnya singkat.
“Penjaga, berikan ramuan kejujuran itu ke Nara. Nara, kamu bisa paksa dia untuk menelannya. Setelah itu, kita lanjutkan interogasi tahap kedua!”
Benar saja, setelah Nara memberikan ramuan kejujuran, mereka menunggu selama beberapa saat sebelum Omkara berjongkok di depan lelaki itu. Bisa Nara lihat dengan jelas, iris mata lelaki itu menjadi berwarna ungu dengan tatapan yang hampa.
“Ceritakan semuanya!”
Lelaki itu mengangguk lalu mulai membuka mulutnya.
“Aku hanyalah seorang anak petani miskin yang tidak suka susah. Aku mendaftar sebagai prajurit karena kudengar bayarannya besar. Tapi, karena aku suka berjudi, uang gaji dari pekerjaan ini tidak cukup. Lalu akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang memakai topeng setengah wajah, menutupi bagian atasnya. Ia menawariku banyak uang dengan satu tugas darinya. Cukup melihat apa saja yang dilakukan Tuan Putri. Karena aku setuju, ia sempat memberikan sihirnya ke dalam mataku.
Sampai kemarin, ia memintaku untuk datang. Ia memberitahukan kalau seorang utusannya akan meletakkan racun ke dalam makanan Tuan Putri. Tugasku hanya memata-matai keduanya karena lelaki itu takut Irina tidak menjalankan tugasnya. Irina melakukan ini karena anaknya disandera dan nyaris dibunuh.” Mata lelaki itu kembali hidup dan warnanya kembali ke semula. Satu fakta lain dari ramuan kejujuran adalah karena semua kejujuran dikatakan sekaligus. Tidak bisa ditanya-tanya dan lebih memuat informasi penting daripada informasi sepele. Maka dari itu perlu satu kejujuran dari kasus yang akan memancing semua jawaban kebenarannya.
“Untung Arakata mencegahku membunuh Irina,” gumam Omkara.
“Penjaga, urus dia! Kategorikan ia dalam tahanan kelas berat. Lepaskan Irina dan kurung dia di dalam kamar! Nara, ayo kita kembali ke atas. Biar masalah penjara ini diurus mereka.” Omkara lebih dulu keluar dari sel setelah menginstruksikan apa saja yang harus mereka lakukan. Nara mengikut di belakangnya.
***