“Bukannya Arakata punya penciuman super ya, Bib. Kenapa dia tidak curiga pada racun ini?” tanya Wira pada tabib yang masih memeriksa setiap tubuh Arakata.
“Karena racun ini tidak berbau, berasa, dan berwarna,” jawab tabib singkat. Wira mengangguk paham.
“Tapi, kenapa muntahannya bau busuk? Kukira bau busuk itu dari racunnya,” celetuk Wira. Tabib yang masih memberikan beberapa titik akupunktur dan mengalirkan mana dari sihir penyembuh terkekeh pelan.
“Bau busuk itu diakibatkan karena racunnya sudah mengontaminasi organ dalamnya, bereaksi dengan daya tahan tubuhnya, makanya baunya busuk. Layaknya nanah, awalnya dia Cuma kotoran asing yang masuk ke tubuh. Tapi, ada perlawanan dari dalam tubuh yang menangkap zat asing itu dan membuat akhirnya berwarna keputihan dan berbau amis. Kami, para tabib menyebutnya darah putih. Kamu paham, kan?” jelas sang tabib. Wira mengangguk paham. Ia memilih untuk tidak berbicara lagi, memperhatikan apa saja yang dilakukan tabib itu untuk kesembuhan Arakata.
Ia sudah melihat gadis itu terbaring nyaris mati lebih dari sekali. Plot armornya author tebel banget soalnya:v. Tapi, ia tidak pernah terbiasa untuk ini. Kalau boleh jujur, salah satu alasannya masih mengikuti gadis itu adalah karena ia menyayangi gadis itu. Entah hanya sebatas sebagai adik, atau justru sebagai seorang wanita. Tapi, yang pasti, ia sudah menyayangi wanita yang kini terbaring tak berdaya itu dan bertekad untuk menjaganya sekalipun harus bertaruh nyawa. Di hidupnya kini, mungkin hanya ada dia dan Wira sebagai teman satu perjalanan, karena ia memang sudah tidak punya siapa-siapa untuk pulang.
Napas yang tersengal-sengal karena adanya racun di dalam tubuh itu perlahan melambat dan semakin tenang. Kulitnya yang semakin kebiruan juga perlahan kembali cerah terisi darah yang mengalir di peredaran darahnya. Dalam hati Wira, ia berkali-kali mengucap syukur melihat perempuan yang ia sayangi kembali memiliki harapan untuk hidup. Bahkan remaja itu bertekad untuk menjaga gadis di hadapannya agar tidak kembali bermain-main dengan maut. Meskipun ia yakin, itu adalah sebuah hal yang amat berat. Arakata dan bahaya seolah memiliki benang takdir yang saling melengkapi. Di mana pun mereka pergi, malaikat maut seolah ikut mengekori dan enggan untuk meninggalkan mereka. Bahkan sekali pun Arakata selamat setelahnya, sensasi di ambang kematian tetaplah mengerikan untuk orang-orang yang takut kehilangan. Terutama untuk Wira yang merasakan kehilangan banyak hal, kehilangan orang yang ia sayangi sekali lagi mungkin cukup untuk membuatnya merasa tak ada gunanya hidup. Remaja itu menggenggam tangan Arakata mumpung Nara dan Omkara tak ada di sini. Tak masalah baginya meskipun tak bisa bersama dengan gadis itu. Selama ia masih melihat senyum Arakata, baginya semua akan baik-baik saja.
***
Seorang lelaki bertopeng separuh wajah membanting barangnya saat tahu kalau alat yang ia gunakan rusak begitu saja. Ia memang menganggap semua pesuruhnya sebagai alat, tak peduli tentang nurani dan kemanusiaan.
Seorang laki-laki berjubah hitam masuk ke dalam ruangan dengan wajah datar. Ia berlutut di hadapan lelaki bertopeng itu.
“Ada apa, Tuan? Kenapa anda begitu marah saat kembali dari Negeri Siluman?”
Lelaki itu membanting topengnya ke lantai, lalu duduk di kursi yang ada di ruang kerja itu. Ia juga meninju meja dengan emosi yang meledak-ledak.
“Anak sialan! Anak haram yang nggak tahu diri! Kenapa dia bisa tetap hidup walaupun sudah meminum racunku? Sungguh, aku ingin membunuhnya saat ini juga!”
Lelaki berjubah hitam itu membiarkan saja apa yang dilakukan tuannya untuk melampiaskan amarah. Ia sabar menunggu sampai emosi tuannya mereda. Setelah emosinya mereda, lelaki berjubah itu baru mengatakan berita yang akan ia katakan sebelumnya.
“Sepertinya anda tidak perlu khawatir, Tuanku. Sebentar lagi, proyek besar ini akan selesai. Kalau kita bisa menyelesaikannya, maka gerbang akan terbuka dan sang Penghancur akan terbebas dari segel yang membelenggunya.”
Si Tuan itu langsung memandang bawahannya terkejut. Benarkah secepat itu? Is kira masih butuh beberapa tahun lagi sampai proyek besar ini berhasil.
“Kamu serius? Bukannya kata kamu masih kurang setengah jalan saat aku menanyakanmu beberapa bulan yang lalu?” tanya si Tuan dengan nada tidak percaya. Lebih ke arah ingin memastikan dari pada bertanya.
“Saya serius, Tuan. Persembahan yang kita siapkan memiliki energi yang sangat besar. Jadi, segel penutupnya langsung melemah hanya dengan beberapa siluman tingkat rendah yang terkontaminasi mana.”
Si Tuan itu langsung tertawa terbahak-bahak. Tawanya terdengar sangat puas. Ia mengambil topengnya yang ia banting tadi, lalu dielusnya perlahan. Jarinya menyusuri setiap lekuk corak di permukaan topeng.
“Sepertinya, waktu untukku menguasai dunia tidak lama lagi. Dengan keluarnya ‘dia’ dari segel yang menyegelnya, maka kehancuran dan penataan ulang negeri ini akan mudah. Dan aku akan menjadi satu-satunya Maharaja dari semua kota di Swarnanusa dan juga Negeri Siluman. Hahaha!” Seolah berkepribadian ganda, lelaki itu langsung mengubah suasana hati dan emosinya dari amarah yang sangat menjadi kebahagiaan yang sangat. Pelapor tadi juga tersenyum.
***
Aku sudah bangun dengan kondisi yang masih lemah. Dengan susah payah, aku sedikit mendudukkan dirinya dengan bersandar di ranjang. Ayah dengan telaten menyuapiku dengan bubur hangat.
“Enak?” tanya Ayah dengan lembut. Aku mengangguk karena mulutku penuh.
“Enak, Yah. Siapa yang masak bubur ini, Yah?” tanyaku saat bubur di mulutku sudah kutelan.
“Ayah yang masak. Syukurlah kalau enak.” Ayah tersenyum melihatku mau makan suap demi suap dari bubur buatannya. Tapi, aku tak menampik fakta karena memang bubur itu rasanya sangat enak.
Selesai menyuapiku dengan bubur, beliau memberikanku beberapa ramuan. Ayah juga menyuruhku untuk tidur dan beristirahat untuk memulihkan tenagaku. Biar bagaimanapun, aku tetap perlu beristirahat agar tubuhku pulih seperti semula karena racun yang masuk ke dalam tubuh ini bukan main bahayanya.
“Ayah, Irina ke mana? Kok aku nggak lihat?” tanyaku saat aku selesai celingukan mencari keberadaan Irina.
“Kenapa kok kamu mencari Irina, Sayang?” tanya Ayah.
“Biasanya, wanita itu berdiri tak jauh dari tempatku tidur. Tapi, sekarang aku tidak melihatnya sama sekali. Di mana dia, Ayah?” tanyaku polos. Aku hanya khawatir padanya, jadi aku mencoba untuk memancing Ayah mengatakan sebenarnya.
“Iya, mereka pergi setelah mendapat kekuatan baru,” jawab Ayah terpatah-partah
“Masa sih? Ayaah nggak bohong, kan?”
“Iya, iya. Ayah jujur. Irina sekarang sedang di ruang tahanan rumah. Ia mencoba untuk meracunimu kemarin,” ungkapan yang bagus.
Aku sebenarnya sudah tahu itu semua. Tapi, menghukumnya saat ini tidak membawa keuntungan apa-apa. Aku hanya tidak ingin Irina kehilangan pekerjaannya.