Sudah tiga hari sejak aku membuka mataku karena racun itu. Ayah, Nara, dan Wira masih berada di istana karena mereka masih mengkhawatirkanku. Rasanya mereka terlalu protektif kepadaku, buktinya makananku saja harus lolos uji dari ketiganya sebelum kusantap. Bahkan, Irina juga ikut protektif menjagaku setelah kejadian itu. Ia terlihat sedikit lebih bahagia terutama setelah anaknya ikut dirinya ke istana. Ayah menjamin keselamatan dan pendidikan putrinya itu
Omong-omong, kembali ke tiga hari lalu, di mana ada pembicaraan penting di antara kami semua, termasuk membahas tentang nasib Irina itu.
Seselesainya aku memakan bubur ayah, kami membahas tentang Irina. Ayah sudah menceritakan semua yang ia tahu dari lelaki yang memata-mataiku yang sempat ditangkapnya kemarin. Untuk lebih meyakinkan apa yang sebenarnya terjadi, ayah memerintah prajuritnya untuk membawa wanita itu ke kamarku. Wanita itu menceritakan segalanya setelah kurayu dan sedikit diancam Ayah.
“Aku memiliki seorang putri yang tinggal dengan ibuku di desa. Tapi, ia diculik oleh laki-laki bertopeng dan meninggalkan surat di kamarku. Awalnya aku tidak percaya, tapi, ancamannya bukanlah omong kosong. Leher putriku nyaris dipenggal olehnya. Jadi, aku terpaksa melakukan apa yang ia minta, karena terakhir aku ingin menipunya, putriku tiba-tiba diserang siluman lain yang terkontaminasi mana hitam. Mohon ampun, Yang Mulia. Anda boleh menghukum saya, tapi tolong jaga putri hamba. Hanya itu saja yang mau hamba katakan, Yang Mulia. Hamba tidak memiliki pengakuan lain selain ini.”
“Saya tidak mau menjaga putrimu. Memangnya siapa dia?” jawab Ayah ringan. Betapa shocknya diriku dan Irina yang mendengar jawaban Ayah.
“Ayah, kok kaya gitu, sih?” tanyaku kaget.
“Ya, saya nggak mau jagain anak orang. Biar ibunya sendiri yang jaga.”
“Ya, tapi kalo ibunya dihukum, nggak ada yang bisa jagain, Yah!” jawabku masih belum paham dengan perkataan ayah.
“Memangnya kamu mau kalo Irina dihukum?” tanya Ayah. Aku yang baru paham ke mana arah perkataan ayah langsung tertawa. Irina masih tidak memahami arah pembicaraan ini, terlihat dari raut wajahnya yang masih berekspresi sedih.
“Maksudnya, ayah nggak akan menghukum mati kamu, Irina. Tapi nggak tahu kalo hukuman yang lain,” ucapku memberitahu. Kasihan melihatnya sedih karena merasa kalau Maharaja Omkara, ayahku, marah besar kepadanya.
“Astaga. Terima kasih banyak, Yang Mulia. Hamba akan benar-benar mengabdikan diri hamba kepada Yang Mulia.” Irina sampai tersujud saking bahagianya.
“Jangan senang dulu! Kamu masih punya hukuman atas apa yang kamu lakukan!” ucap Ayah tiba-tiba menjadi serius. Irina masih tidak mengangkat kepalanya dari lantai. Ia tahu benar kalau Maharaja pasti sangat marah padanya. Biar bagaimanapun, aku adalah satu-satunya keluarga yang tersisa milik Ayah. Ayah mana yang tidak marah saat melihat anaknya nyaris dibunuh. Tapi, aku yakin Ayah juga memikirkan pengabdian dan apa yang sudah Irina berikan untuknya, juga berusaha memosisikan dirinya saat berada di sisi Irina. Buktinya, ia membatalkan hukuman mati untuk Irina, padahal pelaku satunya sudah dipenggal ayah setelah disiksa habis-habisan.
“Bawa anakmu ke sini! Biarkan ia menjadi dayang untuk kerajaan ini. Aku akan menjamin pendidikan dan keselamatannya, karena aku tidak ingin memiliki dayang yang bodoh. Bayar kesakitan anakku dengan pengabdian anakmu. Kamu sanggup?” titah Ayah mutlak. Irina langsung mengangkat kepalanya dan menangis bahagia. Ia langsung izin untuk pulang dan mengambil putrinya.
Sekeluarnya Irina dari ruanganku, Ayah mulai memasang wajah serius kembali. Beliau menarik kursi mendekati tempat dudukku dan menyuruh Nara dan Wira untuk berdiri di dekatnya.
“Kalian pasti menyadari kalau ini bukanlah kasus sederhana. Fakta kalau ditemukannya kerangka ular derik tiga warna di Lembah Hitam sendiri sudah sangat mencurigakan. Lembah Hitam memang bukan daerah terlarang, tapi masuk ke sana memiliki risiko yang lebih tinggi daripada manfaatnya. Lalu, fakta kalau ternyata Arakata terkena racun dari bisa ular itu sendiri seperti sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Bisa jadi dia sejak awal sudah mengejar putriku untuk dibunuh. Tapi, karena sebelumnya jiwa Arakata terbagi dua dalam dua dunia, orang itu kesulitan melacak Arakata. Sampai akhirnya ia menemukan Arakata karena kasus yang kalian tangani kemungkinan berada satu jalur dengan rencananya. Inilah hasilnya, orang itu bahkan sampai mengirimkan orang yang tidak terduga untuk membunuh Arakata. Kalau bukan karena semesta yang belum mengizinkannya meninggal, mungkin saat ini kita sedang menggelar prosesi pemakaman.” Ayah mengatakan ini dengan menggenggam tanganku.
“Tapi, Paman. Kira-kira siapa yang melakukan ini? Apa motifnya?” tanya Wira.
“Kalau motifnya, kemungkinan mereka tahu kalau Arakata akan menjadi faktor penghalang mereka sesuai dengan ramalan. Tapi, untuk ‘siapa’ pelakunya, terlalu samar. Yang pasti dia adalah orang yang menginginkan perubahan besar ini,” jawab Ayah.
“Paman, tolong jujur. Apa benar paman SAMA SEKALI tidak tahu apa-apa tentang ramalan ini?” tanya Nara dengan menekankan kata ‘sama sekali'. Sama seperti Nara, aku juga mempertanyakan hal ini.
Ayah sepertinya tahu kalau menyembunyikan ini tidak membawa kebaikan apa pun. Awalnya, ia hanya terdiam sambil memandangi kelambu di atas ranjangku.
“Baiklah, aku ceritakan apa yang aku ketahui sekaligus alasan kenapa aku menyembunyikannya. Bermula dari awal Dewi Kadita mendapatkan ramalannya. Sebuah entitas gelap nan penuh angkara murka yang disegel sejak ribuan tahun yang lalu akan kembali bangkit dan mengamuk karena dibangkitkan oleh seseorang yang menginginkan kekuasaan dunia. Lalu, hadir seorang perempuan dengan darah siluman dan manusia yang menghentikannya. Awalnya, Dewi Kadita ingin mengatakan dan mengumumkannya pada khalayak umum. Tapi, ia mendapat bisikan lagi dari alam untuk tidak memberitahukan siapa pun kecuali aku, karena aku yang akan menjadi ayah dari wanita itu. Dari sanalah aku mulai mencari perempuan dari kaum manusia yang mampu berbagi energi kehidupan denganku, tapi, tidak ada satu pun yang cocok. Sampai akhirnya hatiku mati karena setiap kali aku mulai jatuh cinta pada seorang wanita, ia harus mati karena tidak mampu bertahan dengan energiku. Saat aku bertemu ibumu, hatiku rasanya hidup lagi. Bahkan, sekali pun aku harus kembali berpisah dengannya, aku masih memilikimu untuk alasanku hidup. Merahasiakannya adalah salah satu tugasku selain memiliki seorang putri dan merelakan kehilangan sesuatu yang kusayangi. Jadi, aku harap kalian bisa menjaga Arakata seperti kalian menjaga nyawa kalian sendiri!”
Kami semua terdiam. Entitas gelap? Takdir? Rasanya semua seperti tertulis sangat rinci oleh penulis skenario. Tapi, kenapa harus aku? Aku bahkan tidak memiliki apa-apa. Aku hanyalah anak yatim piatu yang tidak memiliki apa-apa, baik di duniaku yang lalu maupun sekarang kecuali orang yang berharga untukku. Memikirkannya saja membuat kepalaku mau pecah.
“Baik, Paman. Kalau tugas paman adalah kehilangan orang yang paman sayangi, maka tugas kami adalah menjaga agar paman tidak kehilangan lagi. Kami berjanji dengan jiwa dan raga kami untuk menjaga Arakata. Aku sendiri hanyalah anak yatim piatu yang kehilangan orang tuaku karena amukan siluman yang terkontaminasi mana hitam. Tapi, aku yakin pelaku di balik ini semua sama dengan pelaku yang meracuni Arakata dan yang menginginkan kebangkitan entitas itu. Benang kusut ini perlahan terurai. Terima kasih banyak, Paman. Dan tolong izinkan kami menjaga putri paman bersamaan dengan saya yang ingin menguak alasan kematian orang tuaku.” Wira berlutut sambil meletakkan tangannya di d**a. Sepertinya ia serius dengan apa yang ia katakan. Nara juga ikut berlutut di samping Wira.
“Saya juga berjanji akan menjaga Arakata, Paman. Mendiang orang tua saya menyerahkan Arakata untuk saya jaga. Arakata adalah alasan hidup saya. Jadi, izinkan saya juga menjaga Arakata.”
Jujur, aku terharu. Air mataku menetes begitu saja melihat bagaimana mereka yang begitu peduli padaku. Ayah menepuk pundak keduanya dengan wibawanya.
“Kalian tidak perlu meminta izin. Karena, akulah yang akan meminta kalian untuk menjaga putriku. Aku menerima sumpah kalian seperti sumpahnya Ksatria. Kalian harusnya tahu betapa sakralnya sumpah itu, kan?”
“Kami mengerti, Paman.”
Kembali ke saat ini. Dibandingkan menjaga, kupikir mereka lebih seperti terlalu protektif terhadap apa saja yang kulakukan. Bayangkan saja, bahkan untuk pergi menemui Christalya, putri Irina, yang berada di bangunan lain selain bangunan utama saja sudah seperti Paspampres yang mengawal presiden.