Setelah bergelut dengan penjagaan ketat selama lebih dari lima hari, ayah akhirnya sedikit melonggarkan penjagaannya. Nara dan Wira juga melanjutkan tugas yang belum mereka selesaikan kemarin. Nara terlihat tidak puas karena hanya dirinya yang pulang dengan tangan kosong, jadi dia yang paling semangat untuk menyelidiki setiap desa. Wira juga masih ditugaskan untuk mengeksplorasi Lembah Hitam guna mencari bukti lain.
“Ayaaaah, ayo lanjutin latihannya. Jangan manjain aku teruus! Kan kata ayah aku masih punya tugas besar,” rayuku ke Ayah saat makan malam. Aku sengaja merengek karena bosan hanya berdiam diri sementara kedua sahabatku sudah bergerak.
“Tapi, kamu baru sembuh, Sayang,” tolak Ayah.
“Tapi, aku sudah sehat, Ayah. Ayolah. Kemarin saja aku masih gagal dalam semua latihan yang ayah berikan,” rengekku. Ayah terlihat bingung untuk menjawabnya.
“Baiklah, baiklah. Besok bangun pagi. Kita latihan di bawah air terjun lagi.” Ayah akhirnya mengalah.
“Horee!! Makasih, Ayah.” Aku langsung berlari ke arah Ayah dan memeluknya dari belakang. Tak lupa mencium pipinya. Lelaki yang merupakan ayahku itu tersenyum bahagia karena ini. Beliau menepuk kepalaku beberapa kali.
Keesokan paginya, sebelum Irina membangunkanku, aku sudah bangun duluan. Aku langsung menuju ke luar, menghampiri Ayah yang sudah berdiri menantiku di sana. Beliau tersenyum bangga melihatku yang sudah keluar sebelum Irina membangunkanku dengan susah payah.
“Latihannya kaya kemarin kan, Yah?” tanyaku.
“Iya. Kita pakai latihan kemarin sampai kamu bisa menyelesaikannya. Kalau berdasarkan perhitungan ayah, mungkin akan memakan waktu sampai beberapa minggu. Jadi, santai saja,” jawab Ayah. Entah kenapa aku merasa ia sedikit meremehkanku.
“Ayah nggak lagi meremehkanku, kan?” tanyaku penuh selidik. Ayah malah tertawa sambil memegangi perutnya. Emangnya lucu, ya?
“Tenang, Ayah nggak lagi meremehkanmu. Justru Ayah memujimu. Kalau orang biasa, bisa sampai bertahun-tahun baru bisa menguasai semuanya.” Ayah menjawab seraya menyeka air matanya yang menetes akibat tawanya.
“Serah deh, Yah. Up to you.”
Dibandingkan Nara dan Wira, ayah sudah biasa dengan bahasa asingku karena tahu asal usulku. Kemarin, Nara dan Wira langsung sadar dari mana asal bahasa anehku karena sebagian jiwaku pernah singgah di negeri antah.
Seperti biasa, aku mulai memasukkan kakiku ke dalam sungai yang dinginnya mungkin nyaris mendekati 0°. Ayah sudah menungguku di tengah sungai. Sampai aku berhasil menghampirinya meskipun gigiku saling bergemeletuk, Ayah menggandengku ke arah air terjun. Kami langsung duduk di tempat yang sama dengan percobaan pertamaku. Aku langsung memusatkan manaku, berusaha membentuk sebuah selubung energi lembut untuk menjaga udara dingin agar tidak menembus kulitku. Perlahan tapi pasti, aliran manaku yang hampir buyar karena terprovokasi udara dingin berhasil kusatukan di jalurnya lagi. Selubung energi yang tidak stabil perlahan mulai stabil dan menyelubungiku dengan konsistensi mana yang tetap. Ayah yang tadinya meremehkanku langsung speachless. Beliau hanya bisa terdiam di sampingku. Ya, aku bisa mengetahui apa yang ia lakukan sekalipun mataku terpejam karena mana yang kukumpulkan juga memberikan persepsi lingkungan sekitar langsung ke otakku. Sekalipun kelima indraku dikunci dan diarahkan ke dalam diriku, tapi justru kelimanya menajam beberapa kali lipat untuk menangkap apa yang terjadi di luar tubuhku. Suara gemercik air yang menenangkan, aroma rerumputan yang basah terkena embun, semilir angin yang berembus dingin tapi tidak menusuk kulit, dan pemandangan seolah aku tengah membuka mataku padahal mataku masih tertutup yang anehnya sama sekali tidak menggangguku. Aku merasakan ketenangan yang mendalam di semedi ini. Bahkan, saat aku semakin mendalami lagi alam bawah sadarku, perlahan semua indraku yang semakin menajam itu melebur menjadi satu dan membawaku ke bagian terdalam yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata. Hingga kemudian Ayah membangunkanku dari sana.
“Bangun, Nak. Udah waktunya berhenti.”
Aku membuka mataku perlahan. Terik mentari langsung menembus pupilku dan sampai di saraf penglihatan. Aku terkejut saat mengetahui kalau matahari sudah nyaris meninggi.
“Cepat banget siangnya, Yah? Perasaan aku baru saja mulai,” tanyaku ke Ayah. Ayah malah menepuk bahuku dan menyuruhku untuk segera bangun.
“Bangun dulu, yuk. Pulang, mandi, terus sarapan. Nanti ayah jelasin di sana.”
“Okelah. Perutku juga sudah keroncongan.”
***
Ayah menepati janjinya. Setelah sarapan, beliau langsung memulai penjelasannya.
“Bersemedi di bawah air terjun yang dingin pada pagi hari itu berguna untuk melatih pembentukan manamu di berbagai medan, pengontrolan mana, juga penambahan kapasitas mana yang kamu punya untuk digunakan sebagai sihir. Melihatmu mampu membentuk alur mana dari alam dan memasukkannya ke dalam wadah mana di dalam dirimu sehingga kamu bisa mencapai alam bawah sadar tanpa terpengaruh udara dingin karena selubung energi yang kamu bentuk dari mana di dalam wadahmu membuktikannya kalau kamu memiliki kemampuan pembentukan mana yang luar biasa. Tapi, hanya bisa membentuk tanpa bisa mengendalikannya akan membuat bakatmu sia-sia. Jadi, sehabis istirahat sebentar, kita akan melanjutkan latihan kedua, latihan pengontrolan kekonsistenan mana. Latihan ini bagus untuk menguji seberapa mampu kamu mengeluarkan mana sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan,” jelas Ayah.
“Oke, Ayah. Ayo kita lakuin sekarang aja,” ajakku antusias.
“Istirahat dulu!” titah Ayah tak mau dibantah.
“Tapi, Yah ....”
“Nggak ada tapi-tapian. Kamu baru sembuh dari racun itu. Tubuhmu butuh istirahat. Kalau kamu nggak mau mendengarkan Ayah, Ayah malah nggak mau ngelatih kamu. Paham?”
Aku terpaksa mengangguk. Untuk urusan ini, ayah tidak mau memanjakanku sepertinya.
Setelah dua jam kami beristirahat, Ayah mengajakku ke bawah pohon tempat kami berlatih sebelumnya. Saat kuperhatikan, jumlah buah Dimar yang disiapkan ayah sepertinya tidak sebanyak sebelumnya. Bahkan satu keranjang saja tidak penuh. Sepertinya Ayah tidak lagi meremehkanku.
“Ambil satu buahnya dan coba alirkan mana dengan jumlah yang tepat dan stabil untuk membuat buah Dimar ini bercahaya.” Ayah menyerahkan satu buah Dimar ke arahku. Aku menerimanya dan mulai untuk mengeluarkan mana sesuai dengan jumlahnya. Tapi, baru lima detik mana itu mengalir dan buah Dimar bercahaya, tiba-tiba saja buah itu meledak dan membuatku kaget. Ayah menyerahkan lagi satu buah ke arahku. Aku menerimanya sambil menghela napas sedikit kesal.
“Jangan terlalu cepat kesal. Memang sulit untuk menyesuaikan jumlah mana yang keluar dan menjaga kekonsistenannya. Tapi, sudah ada kemajuan kalau kamu bisa bertahan lima detik. Bukannya sebelumnya kamu tidak bisa bertahan lebih dari tiga detik?” tanya Ayah dengan nada menggoda. Aku memanyunkan bibir makin kesal.
“Lihat aja, ini nanti aku langsung bisa!” ucapku kesal. Lagi-lagi buah Dimar pecah dalam hitungan kelima aku mengalirkan manaku. Ayah malah tertawa terbahak-bahak.
“Konsentrasi! Ikuti instingmu, ikuti pergerakan alurnya. Atur mana yang keluar sesuai dengan jumlah mana yang dibutuhkan buah Dimar itu. Kamu harusnya sudah bisa merasakannya lewat persepsi sihir yang kamu rasakan saat kamu mengumpulkan manamu, kan? Coba keluarkan secara perlahan sesuai dengan jumlahnya, lalu pertahankan aliran itu layaknya kamu sedang menjaga aliran air dari sebuah lubang. Terus pertahankan sampai dirimu terbiasa dengan cara menjaga konsistensi mana.”
Aku mengikuti saran Ayah. Perlahan, kupejamkan mataku. Diriku mencoba mengumpulkan mana yang akan kukeluarkan dari tubuhku dan juga mencoba membaca keadaan sekitar dari mana yang ada di luar tubuhku. Latihan di bawah air terjun dingin pagi tadi sepertinya berguna sekali. Aku bisa dengan mudah melakukan pembentukan mana, padahal sebelumnya aku kesulitan untuk membentuk mana.
Saat aku mengikuti saran Ayah, perlahan buah Dimar bercahaya. Cahayanya stabil dan tenang saat aku membuka mataku perlahan-lahan. Jika kuhitung, aku berhasil melewati lima detik dan buah ini tidak pecah. Jujur saja aku juga sudah merasakan perbedaannya dan mampu merasakan berapa banyak mana yang kukeluarkan sesuai dengan jumlahnya.
“Tahan sampai satu jam. Setelah itu kamu lulus,” perintah Ayah. Aku yang terkejut akan ucapannya tanpa sengaja mengacaukan jumlah mana dan membuat buah Dimar di tanganku meledak.
“Ayaaaahhh. Kalo kasih tahu jangan mendadak! Lagian satu jam itu nggak sebentar, loh!” protesku kesal. Ayah malah terkekeh.
“Ayo, kamu bisa. Ulangi lagi dan harus sampai satu jam. Sebelum bertahan sampai satu jam, kamu belum boleh berhenti.”
Aku menghela napas. Yah, setidaknya aku bisa melakukan hal yang butuh waktu bertahun-tahun untuk orang lain sementara aku hanya butuh dua kali saja. Ya, dua kali.
***
Makan malam kali ini rasanya seperti aku belum makan selama seminggu. Rasanya latihan sehari ini benar-benar menguras tenagaku sampai di titik terakhir.
“Entah Ayah harus bersyukur atau marah, tapi sepertinya racun yang masuk di tubuhmu menjadi berguna juga untukmu,” celetuk Ayah tiba-tiba. Aku terkejut dan langsung memandang Ayah.
“Maksudnya, Yah?” tanyaku tak paham.
“Racun yang masuk di dalam tubuhmu itu memang merusak berbagai macam organ dalammu. Tapi, racun itu tidak hanya masuk ke dalam organ dalam saja. Racun itu juga ikut beredar ke peredaran darahmu dan juga memengaruhi aliran manamu. Sehingga secara tidak langsung, saat penawarnya diberikan, penawar itu tidak hanya membersihkan racunnya saja, tapi juga aliran manamu sampai akhirnya semuanya bersih dan lancar. Itulah kenapa kemampuanmu dalam pengendalian mana menjadi lebih mudah. Lima belas tahun tanpa tersentuh jelas saja membuat aliran manamu tidak bersih karena tanpa sadar, kamu pasti terpapar berbagai energi. Apalagi sebelumnya juga kamu sempat terkontaminasi mana hitam. Jadi, setidaknya karena alirannya bersih, peredaran mana milikmu jadi lebih mudah. Setelah makan, kamu beristirahatlah di kamar. Ayah yakin kamu pasti sangat kelelahan.”
Aku menaati saja apa yang ayah perintahkan. Toh tubuhku juga sudah menjerit minta istirahat.