Wira dan Nara sudah kembali setelah bertugas selama seminggu lebih. Aku yang di istana tidak kebagian tugas apa-apa kecuali melatih manaku. Ayah juga sedikit mengajarkanku ilmu pemerintahan, administrasi negara, dan berbagai macam ilmu untuk memerintahkan negara.
Kami semua sedang berkumpul di ruang pertemuan khusus. Aku juga diseret Ayah untuk menghadiri pertemuan ini sebagai pelajaran. Mengingat kedua orang tuaku yang keduanya sama-sama merupakan anggota kerajaan, jelas di darahku mengalir darah pemimpin negeri. Bahkan Ayahku sendiri masih menjabat sebagai Maharaja, sebagai tokoh tertinggi dari negeri. Wajar saja kalau Ayah ingin aku bisa mempelajari ilmu negara.
Dalam pertemuan ini, beberapa petinggi kerajaan ikut hadir dan menatapku dengan tatapan penuh selidik. Mereka juga menatap Wira dan Nara dengan tatapan yang sama. Mungkin mereka heran, bagaimana bisa manusia ikut ke dalam pertemuan khusus petinggi siluman. Beberapa dari mereka sudah tahu aku, terutama untuk siluman-siluman tingkat tinggi yang mengetahui tentang pengobatan. Ayah yang sedikit menimbulkan keributan saat aku diracuni itu mengundang bukan hanya tabib kelas atas, tapi juga siluman tingkat tinggi yang memiliki pemahaman lebih dalam bidang medis dan pengobatan. Meskipun hasilnya nihil, sih. Tidak ada yang berhasil menyembuhkanku karena mereka tidak tahu racun apa yang meracuniku.
“Semuanya sudah kumpul?” tanya Ayah hendak memulai diskusi.
Di dalam ruang pertemuan ini, sebuah meja berbentuk bundar berada di tengah ruangan dengan kursi yang berbaris melingkar. Ayah duduk di salah satu sisi dan aku duduk di sebelah kirinya. Di kanan Ayah, seorang lelaki yang kuketahui adalah siluman elang yang juga seorang Mahapatih Negeri Siluman. Berurutan secara melingkar dari siluman elang itu, berjejerlah raja-raja yang mengepalai berbagai daerah masing-masing dan merupakan bawahan langsung Ayah. Jadi, secara tidak langsung bisa dibilang kalau Ayah adalah raja dari semua raja yang ada di Negeri Siluman.
Wira dan Nara duduk di sebelah kiriku dengan Nara yang berada di sampingku pas. Mereka berdua termasuk dalam jajaran tamu sekaligus merupakan salah satu topik untuk pertemuan ini.
“Sudah, Baginda. Semua sudah berkumpul di sini,” jawab seorang yang bertugas sebagai moderator dalam diskusi ini. Aku mengenalnya dengan nama Kripala, seorang siluman kura-kura yang terkenal dengan kebijaksanaannya. Kripala bangkit dari kursinya dan sedikit berdehem. Ia melihat semua tamu yang hadir. Ada sekitar lima belas raja, ditambah seorang Mahapatih, Nara, Wira, Ayah dan aku. Total ada dua puluh orang yang duduk melingkar. Kripala, sang Moderator duduk di kursi tersendiri.
“Sebelum dimulai, izinkan saya memperkenalkan tamu kita pada kalian. Yang pertama ada Arakata Ratnaduhika Paramesti, putri sulung sekaligus putri satu-satunya Maharaja Amartya Omkara Ganendra. Di sebelahnya, Rajendra Narasimha, sahabat dari Arakata sekaligus seorang utusan dari Negeri Swarnanusa dan yang akan membawakan laporannya terkait apa yang terjadi antara Swarnanusa dan Negeri Siluman. Juga ada Wira Candrakumara, sahabat dari Arakata dan juga utusan. Mereka berdua akan sama-sama memberikan laporannya terkait apa yang terjadi pada beberapa siluman karena ditemukannya anomali di Swarnanusa dan disebabkan oleh siluman tingkat menengah yang seharusnya masuk ke Swarnanusa. Untuk itu, pertemuan ini akan saya serahkan ke Maharaja Amartya Omkara Ganendra. Kepada beliau, kami persilakan.”
Kripala duduk lagi di kursinya. Ia juga membawa beberapa catatan untuk mencatat hal penting. Bisa dibilang ia adalah moderator sekaligus notulen.
“Sugeng Enjing semua. Kalian semua saya undang di sini, yang pertama adalah untuk memperkenalkan putriku secara resmi ke petinggi-petinggi yang ada di Negeri Siluman. Dia adalah anakku dari Fyna lima belas tahun yang lalu. Jadi, saya harap kalian mau menerimanya sebagai Putri Mahkota sekaligus calon pemimpin masa depan kalian.
Yang kedua, mantan raja Swarnanusa memberikan saya sebuah pesan. Ia mengatakan adanya pengkhianatan yang secara tidak langsung juga berhubungan dengan siluman. Tapi, ia tidak bisa mengatakan dengan jelas maksudnya karena khawatir akan dibaca oleh pengkhianat. Intinya, di sini saya akan membahas tentang oknum yang membantu pengkhianatan ini, karena mantan raja itu adalah mertua saya. Jadi, saya juga butuh membereskan ini semua karena juga menyangkut dua negara.
Yang ketiga, saya akan membahas tentang hasil yang dibawakan Wira dan Nara terkait dengan beberapa kejadian yang menimpa Swarnanusa. Kemungkinan besar ada hubungannya dengan Negeri Siluman dan beberapa oknum di dalamnya. Jadi, hari ini, kita akan membahas hal ini. Ada dari kalian yang memiliki pendapat lain?”
Semua raja yang hadir terdiam saling memandangi satu sama lain. Kripala yang menangkap kalau tidak ada yang akan memberi pendapat akhirnya bangkit dan memimpin jalannya diskusi ini.
“Karena tidak ada yang akan memberikan pendapat, silakan Maharaja Amartya Omkara Ganendra untuk melanjutkan pembahasannya.”
Ayah berdehem dulu sebelum mulai berbicara.
“Seperti yang kalian tahu, lima belas tahun yang lalu Fyna, istriku, melahirkan Arakata. Tapi, karena takdir, Fyna harus meninggal dan aku menitipkannya di Swarnanusa. Hari ini aku ingin mengumumkan kepada semuanya kalau Arakata kembali ke Negeri Siluman sebagai putri mahkota sekaligus calon pemimpin di negeri ini. Silakan berikan sambutan untuknya.”
Aku berdiri karena kode dari ayah. Semua raja yang hadir langsung berdiri dari kursi dan berlutut di hadapanku.
“Sumpah setia kepada Tuan Putri. Terimalah penghormatan dan abdi kami.” Mereka serempak memberikan sambutan kepadaku. Aku sedikit kikuk dan menjawab, “Saya, Arakata Ratnaduhika Paramesti menerima sumpah setia dan abdi kalian. Berdirilah untuk Negeri Siluman ini!”
Semua raja yang berlutut langsung berdiri begitu aku memerintahkan. Sebelumnya, Ayah sudah memberitahu aoa yang harus kukatakan, jadi aku bisa menjawab dengan lancar.
Ayah kembali mengambil alih jalannya diskusi.
“Yang kedua, aku mendapatkan pesan dari mantan raja Swarnanusa. Pesan itu hanya berisikan kalau pengkhianat yang menggulingkannya bekerja sama dengan salah satu siluman tingkat tinggi dari Negeri Siluman. Untuk itu, aku ingin agar raja-raja di sini mulai mengawasi daerah otonominya. Jika kalian menemukan aktivitas yang mencurigakan, kalian bisa menindaklanjutinya atau melaporkannya padaku. Karena, masalah ini bukan hanya masalah Swarnanusa. Negeri kita juga terancam karena campur tangan dari beberapa pihak.
Yang ketiga, Wira dan Nara akan melaporkan apa yang sudah mereka selidiki.”
Nara yang bangun terlebih dahulu. Ia membuka catatannya yang sedikit lusuh karena sepertinya ia pakai di setiap waktu selama seminggu.
“Sebelumnya, izin memperkenalkan diri. Saya Rajendra Narasimha. Saya utusan dari Swarnanusa sekaligus orang yang menyelidiki beberapa kejadian di negeri ini.
Laporan ini saya mulai dari salah satu desa yang berada di luar otonomi raja mana pun dan berada dekat dengan perbatasan dengan Swarnanusa, Desa Ical. Desa itu dilanda satu wabah yang menyebar sekitar delapan tahun yang lalu. Wabah itu membuat banyak warga mati karena penyakit. Lalu, seorang berpakaian serba hitam yang misterius mengatakan kalau penyakit ini dapat disembuhkan dengan cara pergi ke Lembah Hitam. Awalnya mereka tidak percaya. Tapi, ada salah seorang siluman yang memberikan pengakuan, sehingga mereka menjadi percaya dan pergi ke sana.
Di dalam kesaksian seorang warga yang lolos dari wabah itu, dia berkata awal mereka pergi ke Lembah Hitam sekitar dua ratus siluman. Tapi, dari catatan yang didapat dari kantor administrasi misi yang dikumpulkan oleh Wira, pelaku yang menyerang Swarnanusa hanya berisikan sekitar lima puluh siluman saja. Saya mendapatkan informasi ini ketika saya mencari di desa paling jauh dari istana ini dan berada dalam wilayah otonomi raja Dirandra. Saat itu saya bertemu dengan mantan penduduk desa Ical yang memilih untuk tidak ikut karena tidak percaya pada pria berpakaian serba hitam itu dan memilih untuk pergi ke desa lain.
Dari sini, bisa kita tarik beberapa kesimpulan. Kesimpulan pertama, kedua kejadian ini tidak berkaitan sama sekali. Tapi pertanyaannya, ke mana perginya dua ratus siluman itu? Kedua, bisa jadi kejadian ini saling keterkaitan. Beberapa siluman tingkat rendah yang tidak kuat akhirnya mengamuk dan saling membunuh di dalam Lembah Hitam. Tapi, Wira tidak bisa menemukan jejak apa pun di dalam Lembah Hitam. Yang ketiga, bisa jadi ini semua berkaitan dengan ular derik tiga warna yang dikabarkan bisa memakan banyak siluman sekaligus karena dia memiliki waktu puasa yang panjang. Ini bisa jadi kemungkinan terbesar, karena Wira berhasil menemukan kerangka ular derik tiga warna yang kemudian diketahui kalau bisanya sudah diekstrak dan dia dibunuh. Buktinya adalah Arakata yang berhasil sembuh dari racun yang tidak terdefinisi setelah meminum air rendaman ekor ular derik tiga warna.” Nara duduk lagi di kursinya. Wira ganti berdiri.
“Sebagian pekerjaan saya sudah disinggung di laporan Nara. Tapi, sebelum saya memulai, izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Wira Candrakumara. Saya juga sahabat Tuan Putri Arakata sekaligus utusan dari Swarnanusa. Saya menemukan kerangka ular derik tiga warna tepat sebelum Tuan Putri diracuni. Jadi, saya hanya menguburkannya saja. Ular itu cukup besar. Tapi, masih kuat kuangkat sendiri. Saat saya mendapat kabar Tuan Putri diracuni, saya sempat kembali untuk melihat keadaan Tuan Putri. Beruntung dulu saya pernah membaca tulisan teman saya tentang ular derik tiga warna, jadi saya tahu dengan jelas ciri-ciri dan bentuk akibat bisa ular itu.
Sebenarnya penawar racun itu adalah darah ular yang sama yang mematuk korban. Tapi, ternyata anggota tubuh lain juga bisa. Dari situ saya mengambil kesimpulan kalau pelaku ini sudah mempersiapkan racun ini sejak jauh hari. Lagi pula, tidak ada satu pun tumbuhan yang mati di sekeliling kerangka ular derik tiga warna itu. Artinya, memang bisa ular itu sudah diekstrak dan dihabiskan. Fakta kalau Arakata berhasil sembuh adalah fakta yang sangat jelas. Lalu ....” Baru saja Wira hendak melanjutkan, pintu ruang pertemuan tiba-tiba terbuka. Dhanu masuk ke ruangan dengan ekspresi yang kacau.
“Maaf, Baginda. Maaf juga para raja. Saya mendapatkan kabar buruk. Ada radiasi mana hitam yang sangat pekat dari Swarnanusa dan memengaruhi semua siluman tingkat rendah yang ada di sini. Banyak siluman tingkat rendah yang berbondong-bondong menuju ke Majapahit guna menghampiri sumber dari radiasi mana hitam yang luar biasa ini. Semua siluman tingkat rendah mengganas dan mengamuk, menghancurkan apa saja yang mereka lalui.”
Semua yang hadir terkejut. Diskusi dibubarkan saat itu juga. Ayah langsung memerintahkan semua raja untuk kembali ke negara mereka dengan teleportasi dan berusaha semaksimal mungkin menjaga agar rakyat mereka tidak mengamuk. Sisanya, ayah menyerahkan Swarnanusa pada kami selama beliau mengurusi negerinya sendiri. Ia tidak ingin ada banyak siluman yang masuk ke Swarnanusa dan menghancurkan apa yang ada di hadapan. Jadi, ayah yang mengurus semua siluman agar tidak melewati perbatasan.