Pertemuan dengan petinggi-petinggi penting itu lumayan menguras mentalku. Beruntung Ayah sempat mengajariku ilmu pemerintahan, jadi, aku tidak terlalu bodoh untuk ikut mendengarkan apa yang merekam bahas. Poin utama dari pertemuan ini, Paman Hayam diangkat menjadi raja Swarnanusa. Beberapa kota dalam Swarnanusa yang hendak memberontak akhirnya berhasil diredam. Daripada memakai cara kasar, Paman Hayam justru merangkul dan menggandeng daerah yang meminta untuk mendirikan kerajaan sendiri dengan memberikan beberapa fasilitas umum dan meletakkan sebuah kantor administrasi misi di sana agar lebih mudah untuk menghubungi Laskar ketika ada masalah seperti bandit, siluman, dan lain-lain.
Lalu, untuk hubungan antara manusia dan Siluman, untuk saat ini masih belum ada titik terang. Masih banyak manusia yang menolak kehadiran siluman dan tidak ingin hidup berdampingan. Jadi, Paman Hayam hanya memberikan kebebasan untukku, Nara, Wira, dan Ayah agar bisa keluar masuk Swarnanusa tanpa izin khusus. Sisanya, diperbolehkan masuk selama mendapatkan izin dari Ayah dan sesepuh yang menjaga rajah atau pagar gaib di antara dua negeri ini.
“Paman Omkara bilang apa, Rak?” tanya Nara sekeluarnya aku dari sana.
“Nggak cuma ayah, ada Paman Hayam, Nek Adya, dan lain-lain,” jawabku.
“Ya, itulah maksudku. Terus gimana?”
“Apanya?”
“Hasilnya lo ... dengar-dengar katanya kita bakal masuk akademi.”
Saat ini, aku sudah kembali ke kamarku. Nara masih menjadi pengawal pribadiku. Ya, kupikir hanya dirinya yang sedikit kurang ajar sebagai pengawal pribadi. Tapi justru aku malah senang. Kalau bisa jangan ada yang berubah sedikit pun.
“Yep. Aku, kamu, Wira. Kita bertiga disuruh masuk akademi dua minggu lagi. Cuma itu aja sih untuk sekarang,” jawabku santai.
“Terus Chandra?”
“Chandra kan anak bangsawan. Jadi ya itu urusan dia. Kan kamu tahu sendiri kalau akademi itu lumayan mahal untuk orang yang nggak punya jabatan kecuali untuk orang yang dikasih beasiswa."
“Terus statusmu berarti bukan beasiswa, dong? Kamu kan anak adiknya raja Swarnanusa dan pemimpin Negeri Siluman.”
“Yap, benar sekali. Jadi, tadi yang dibahas cuma kamu sama Wira. Kalian masuk jalur beasiswa pahlawan. Omong-omong Wira mana? Ajak dia ke sini juga. Biar aku jelasin apa aja yang harus kalian lakukan.”
Nara keluar untuk memanggil Wira. Aku menunggu mereka sampai akhirnya mereka kembali ke kamarku. Alasan kenapa aku masih kembali ke kamar adalah karena aku belum sepenuhnya pulih. Badanku masih terasa sangat lemas. Bahkan untuk berdiri saja aku masih sesekali berpegangan pada tembok.
“Sip, kalian udah kumpul. Tadi Paman Hayam ngasih amanah ke aku buat kasih tahu kalian apa aja yang harus kalian lakuin sebelum berangkat ke akademi. Jadi, dengerin baik-baik. Tenagaku udah mau abis untuk kasih berita ulang.”
Kedua temanku itu mendengarkan dengan saksama apa saja yang dibutuhkan. Tidak banyak, sih. Mereka hanya harus mengurus beberapa berkas saja.
***
Sudah tiga hari sejak aku terkapar tak berdaya. Hari ini aku diberi kebebasan Paman Hayam untuk mengunjungi mana saja yang ingin aku kunjungi. Karena kesempatan ini, aku menyeret Nara pulang ke Sekala Bekhak untuk mengunjungi Bi Heera. Remaja itu tidak keberatan karena dia juga ingin mengunjungi Bi Heera. Kendaraan kami saat ini adalah Sembrani. Sepertinya mereka sudah mengakuiku dan mau menurutiku sebagai tuannya. Aku menamai Sembrani yang biasa kukendarai dengan nama Chinmy. Nama yang aneh kata Nara. Sementara Sembrani yang dibawa Nara itu adalah temannya Chimmy. Aku yang memintanya untuk memanggil salah satu temannya lagi.
“Wira nggak kamu ajak?” tanya Nara saat kami sudah berangkat.
“Bukannya nggak aku ajak. Dianya mau di sana aja. Mumpung ayah masih di Majapahit, dia berniat untuk belajar sihir dari ayah,” jawabku santai.
“Waw, anak yang rajin belajar.”
“Ya, nggak kaya kamu,” sarkasku. Nara malah terkekeh.
“Omong-omong, reaksinya Bi Heera kalau tahu kamu keturunan raja Siluman gimana, ya?” tanya Nara sambil mengamati pemandangan di bawahnya.
“Entahlah. Siapa yang tahu? Nanti kita kasih tahu aja pelan-pelan,” sahutku.
“Ya, kamu benar. Nah, itu udah kelihatan desanya. Pakai Sembrani cepet banget, ya?”
Aku mengangguk. Kuelus rambut Chimmy yang panjang. Alasanku menamainya Chimmy karena warnanya yang kuning mengingatkanku pada sebuah boneka dari boygrup ternama di bumi dulu.
Saat kami turun dari Sembrani, semua warga keluar dari rumah masing-masing. Mereka jelas sudah sangat mengenal kami, mengingat kami yang tumbuh dan berkembang di desa itu.
Sesaat setelah aku turun dari Chimmy, aku langsung berlari ke rumah Bi Heera. Meskipun sempat rusak ketika p*********n kemarin, sepertinya sudah dibangun kembali sehingga kembali utuh lagi. Aku dan Nara yang langsung membuka pintu rumah Bi Heera. Sedikit aneh karena aku tidak menemukan beliau di tempat favoritnya
Mengingat Bi Heera seringkali duduk di ruang tengah sembari terkadang melakukan pekerjaan kecil seperti menganyam tampah, atau menjahit baju. Aku bisa saja berpositif thinking kalau saja aku melihat ada kain yang bertumpuk di ruang tengah atau lembaran bambu yang sudah disasak sampai halus dan tipis agar tidak melukai tangan. Tapi, aku tidak menemukannya. Yang lebih anehnya lagi, biasanya bibi akan langsung tergopoh-gopoh menghampiri kami saat mendengar suara kami, tapi ini masih tidak terdengar suaranya. Apa bibi masih mandi?
"Bibi, aku dan Nara pulaang!" panggilku saat merasakan keheningan yang tak wajar. Nara juga bereaksi sama dengan memanggil nama bibi.
"Bi Heera ..., anakmu yang paling tampan ini pulang. Bibi di mana?"
Lagi. Hening tanpa suara. Aku dan Nara berpandangan dengan tatapan yang tak terjelaskan. Tapi, dari tatapan ini kami membagikan perasaan yang sama. Sebuah kekhawatiran dan ketakutan yang besar. Karena tidak menemukan beliau di ruang tengah, kami segera mencari ke penjuru ruangan. Aku akhirnya menemukan beliau dengan sedikit terkejut saat melihatnya masih terbaring di atas ranjang dalam keadaan lemah. Dengan refleksku, aku segera memanggil Nara yang memeriksa bagian belakang rumah. Siapa sangka bibi tengah terbaring lemah di dalam kamarku yang berisi beberapa barangku yang masih tertinggal. Air mataku terjatuh tanpa bisa kutahan. Nara yang langsung menghampiriku juga langsung meneteskan air matanya. Sementara bibi malah tersenyum menatap kami dengan sorot mata penuh kerinduan. Mendadak dadaku terasa sesak, menyesal karena harus meninggalkan wanita paruh baya yang merawat kami dengan seluruh cintanya ini sendirian. Sepertinya Nara merasakan hal yang sama. Ia menggigit bibir bawahnya sampai berdarah. Perasaan kami semakin terasa sakit saat melihat Bi Heera yang menggantung baju kami di sebelah kasur tempatnya tergeletak.