Mendadak dadaku terasa sesak, menyesal karena harus meninggalkan wanita paruh baya yang merawat kami dengan seluruh cintanya ini sendirian. Sepertinya Nara merasakan hal yang sama. Ia menggigit bibir bawahnya sampai berdarah. Perasaan kami semakin terasa sakit saat melihat Bi Heera yang menggantung baju kami di sebelah kasur tempatnya tergeletak.
“Loh, Bibi! Astaga. Bukannya kemarin lukanya bibi sudah kusembuhkan? Kenapa bibi masih lemah? Apa ada luka lain yang terlewat?” Setelah rasa sesak di dadaku berkurang, aku menghampirinya dengan khawatir. Wajahnya terlihat pucat dan sayu. Nara mengekor di belakangku sembari menahan isakannya.
“Tidak ada yang salah, Arakata. Bibi kan sudah tua. Jadi wajar kalau sakit-sakitan. Sudah, jangan sedih gitu. Kan bibi jadi ikutan sedih,” hiburnya. Ia memegang pipiku dengan tangan sedikit gemetar. Air mataku kembali mengalir saat tangannya menyentuh pipiku dengan hangat.
“Kita ke Majapahit yuk, Bi? Di sana ada tabib hebat. Ada Nek Adya juga yang bisa nyembuhin nenek. Ada siluman-siluman tingkat tinggi bawahannya ayah yang mungkin juga bisa nyembuhin nenek,” isakku. Nara hanya terdiam di seberangku dan memegang salah satu tangan Bi Heera tanpa banyak berkata.
“Nggak usah, Sayang. Gimana? Kamu sudah bertemu ayahmu?” tanyanya dengan senyum lembutnya yang tak berubah. Aku makin menangis melihatnya masih bisa tersenyum seperti biasa. Nara akhirnya tak mampu membendung lagi air matanya. Ia langsung menangis sekeras-kerasnya sembari memeluk Bi Heera.
"Eeh, anak laki kok nangis tu kenapa, lo. Nggak boleh nangis. Bibi nggak apa-apa, kok. Ini cuma karena bibi udah tua aja, jadi bibi nggak kuat bangun. Nah, Arakata. Gimana? Udah ketemu ayahmu, kan? Ganteng nggak?" Bibi mengulangi lagi pertanyaannya. Seolah menyatakan kalau dirinya baik-baik saja.
“Sudah, Bi. Ayah ... ayahku raja di kerajaan Siluman. Sementara ibuku, Fyna, ternyata adalah anak dari pemimpin negeri ini. Jadi, aku adalah anak dari dua pemimpin negeri. Tapi bagiku, bibi masih menjadi orang tua terhebatku. Ayo kita berobat ya, Bi? Bibi harus sehat. Nanti aku ajak jalan-jalan ke tempat ayah."
“Syukurlah kalau kamu sudah bertemu ayahmu. Kamu tidak perlu bersedih. Kamu sekarang tidak sendiri. Bukannya kamu sudah bertemu ayah dan keluarga dari pihak ibumu? Kamu juga punya teman baru, kan? Sudah, jangan khawatirkan bibi,” ucapnya lemah.
Alasan kenapa aku tidak memaksakan bibi untuk dibawa berobat adalah karena kami menghormati beliau. Karena aku yakin, kalau bibi menolak dan kami masih memaksakan diri, hasilnya tidak akan baik.
“Kenapa bibi nggak mau, lo? Kan ini demi bibi juga.” Kali ini Nara yang membuka suaranya.
“Bibi mau mati di tanah ini. Dulu suami bibi juga mati di sini,” tutur Bi Heera singkat. Aku sudah menyangka ini akan terjadi. Terlebih orang-orang di luar tadi menatap kami yang baru tiba dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Bi, aku pernah berjanji akan mengenalkan temanku ke bibi. Jadi, bibi tunggu sebentar. Biar aku panggilkan dulu.”
Aku langsung memanggil Wira yang ada di Majapahit. Remaja itu memahaminya dan segera meluncur kemari. Ayah yang meminjamkan sembraninya.
Dua jam kemudian, Wira tiba dengan napas yang agak ngos-ngosan. Sepertinya Sembrani meluncur dengan kecepatan penuh, mengingat aku dan Nara ke sini memakan waktu hampir empat jam.
“Ayo, Wir masuk!” Aku memandu Wira menemui Bi Heera. Wanita itu tersenyum saat melihat Wira.
“Kamu anak baik yang kemarin mengobati bibi, ya? Maaf, ya. Bibi tidak bisa menemuimu dalam keadaan sehat. Terima kasih sudah mau berteman dengan Nara dan Arakata. Terima kasih sudah menjaga anak Bibi.” Bibi memegang tangan Wira.
“Tidak masalah, Bi. Saya senang bisa membantu meskipun sedikit. Lagi pula, saya tidak bisa menyembuhkan banyak. Arakata yang mengurus semuanya,” jawabnya jujur. Wira juga memegang tangan Bi Heera lembut.
“Tidak. Kamu sudah melakukan banyak hal. Seandainya kamu tidak berusaha menyembuhkan saya, mungkin saya sudah tiada sejak kemarin sebelum saya sempat bertemu Arakata dengan jelas.”
Tiba-tiba saja sebuah keributan terdengar di depan. Tak lama kemudian, dua orang laki-laki yang sangat kukenal dan akhir-akhir ini masuk ke kehidupanku ikut masuk dengan sedikit panik.
“Ayah? Paman Hayam? Kenapa kalian ikut ke sini?” tanyaku kaget.
“Apalagi? Ayah ingin berterima kasih pada orang yang sudah merawat anak ayah sampai sebesar ini. Juga untuk orang yang sudah istri saya percayai dan dianggap sebagai ibunya. Terima kasih banyak, Bu.” Ayah mengecup tangan Bi Heera penuh hormat. Paman Hayam juga mendekati Bi Heera dan berlutut.
“Maafkan saya, Bi. Sebagai paman, saya gagal merawat keponakan saya. Saya juga gagal untuk menjaga kakak saya dan negeri ini. Terima kasih sudah mau merawat keponakan saya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Saya tidak tahu apa yang harus saya berikan untuk ibu sebagai ucapan terima kasih.” Paman Hayam bersimpuh di hadapan Bi Heera. Sontak orang-orang yang ada di sana ikut bersimpuh. Secara Paman Hayam adalah pemimpin Swarnanusa. Kalau sampai pemimpin bersimpuh, secara tidak langsung mereka yang hanya rakyat ikut bersimpuh.
“Sudah, sudah. Berdirilah, Nak. Kamu tidak perlu meminta maaf. Untuk ayahnya Arakata, saya senang akhirnya bisa bertemu dengan orang yang dicintai Fyna. Tolong tetap cintai anak ini sampai akhir hayatmu. Sampai ia menemukan belahan jiwanya. Untuk Anda, sang Raja, tolong lindungi negeri ini dan putriku baik-baik. Itu adalah cara kalian membalas apa yang sudah kulakukan. Ah, akhirnya aku bisa pergi dengan tenang.”
Paman Hayam berdiri. Beliau dan Ayah berdiri bersebelahan. Aku berpindah posisi ke sisi Nara, juga Wira. Kami tak bisa lagi menahan air mata yang mengalir deras.
“Arakata, sepertinya Bibi akan bertemu ibumu dan suamiku. Tolong bahagia, ya? Maafkan Bibi yang belum bisa memberikan yang terbaik untukmu. Sekalipun kamu tahu bebanmu berat, ingatlah kalau kamu tidak sendiri. Bibi akan terus mengawasimu di sana, bersama ibumu dan suami bibi. Kalau kamu lelah, menangis saja. Di sana tugas orang yang di sampingmu dimulai.”
Aku memegang tangan Bi Heera dengan terisak. Air mataku tak pernah berkeinginan untuk berhenti mengalir. Terlebih saat melihat wajahnya yang semakin memucat. Siapa sangka ini akan menjadi pertemuan terakhir kami.
“Tolong ... tolong bertahanlah lebih lama, Bi! Aku belum berhasil membahagiakan Bibi. Huuuhuu. Bibi jangan pergi. Arakata ... hiks ... Arakata butuh Bibi,” tangisku pecah. Bahkan Ayah dan Paman Hayam juga berkaca-kaca. Beberapa warga yang ikut menonton juga turut menangis terisak-isak mendengar tangisanku.
“Maafkan Bibi ya, Sayang. Tugas Bibi sudah selesai. Bibi ... bahagia bisa bersamamu. Jangan menangis, ya?”
Hening. Bi Heera sudah memejamkan mata untuk selamanya. Mengembuskan napasnya yang terakhir. Air matanya sempat mengalir sesaat setelah matanya terpejam. Meskipun begitu, bibirnya tersenyum. Senyuman yang damai. Berbanding terbalik dengan kami yang menangis keras.
“Hei, sudah. Bi Heera bilang jangan menangis. Kalian ... kalian tidak boleh ... huhuhuuu ... kalian tidak boleh menangis,” ucap Nara di sela tangisannya yang keras.
Hari itu, aku merasakan bagaimana kehilangan orang yang benar-benar berharga di hidupku.