Bi Heera berdiri di depan pintu seraya menahan air matanya agar tidak mengalir, meskipun kutahu itu sia-sia. Dua kuda kesayangan kami, Rocky yang dibawa Nara dan Jake yang kubawa seolah ikut antusias dengan perjalanan ini. Aku sendiri bingung apa yang harus kurasakan. Sebab, meskipun aku antusias dan penasaran tentang ayahku –atau ayah milik tubuh ini--, aku juga merasa berat meninggalkan Bi Heera yang sendirian di rumah ini.
“Tenang aja, Bi. Aku akan jaga Arakata dengan sepenuh hati. Bibi nggak usah khawatir, oke?” Kulihat Nara berusaha menenangkan Bibi meskipun kutahu rasanya nyaris percuma.
“Bibi baik-baik di sini, ya? Kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang yang lain. Nanti aku usahain buat kabarin bibi kalo aku udah sampe di ibukota. Aku juga usahain buat teratur kirimin bibi pesan biar bibi nggak terlalu khawatir. Sekarang, Arakata sama Nara berangkat dulu. Bibi baik-baik, ya?” Air mataku turut mendampingi perpisahan ini. Saat kupeluk tubuh rentanya, rasanya seperti pulang ke rumah. Benar-benar nyaman. Tak ingin berlarut-larut, kulepaskan pelukan itu dan mulai memantapkan diri untuk berangkat. Tidak hanya Bi Heera, beberapa tetangga yang lain juga turut mengantarkan kepergian kami. Di atas kuda, sudah disiapkan beberapa kantung berisi makanan kering dan tahan lama, setidaknya agar kami tidak kelaparan dalam seminggu perjalanan menuju ibukota. Tempat pasukan Laskar berada.
“Kami berangkat dulu, Bi. Juga buat semuanya, tolong jaga Bibi, ya?” pamitku setelah meneguhkan hati untuk menaiki Jake. Nara juga sudah selesai berpamitan dengan warga desa lain. Bibi benar-benar berusaha keras untuk menahan air matanya yang baru saja mengalir deras saat kupeluk. Kini, kami berdua benar-benar berangkat.
“Nar, kamu tadi udah pamitan sama Sekar?” tanyaku di tengah-tengah kuda yang melaju. Nara yang hampir mendahuluiku sedikit memperlambat lajunya untuk mengimbangi Jake agar dapat mendengar suaraku.
“Kamu tadi bilang apa?” tanyanya memintaku untuk mengulang pertanyaan.
“Udah pamitan sama Sekar, belum?” Aku mengulang pertanyaanku.
“Kamu sendiri udah pamitan sama Raka?” tanyanya balik. Aku menatapnya kesal.
“Kebiasaan. Ditanya ganti nanya. Jawab dulu pertanyaanku!”
“Udah, sih. Tapi dianya malah ngambek. Dia nanya kenapa harus aku yang ikut kamu. Tapi ya aku jawab aja karena kamu tanggung jawabku.” Laki-laki itu menjawab tanpa rasa bersalah sama sekali. Aku bahkan tidak yakin apa ia memiliki kadar kepekaan yang cukup selain untuk bertahan hidup.
“Jadi orang kok ya nggak peka. Dia itu naksir kamu, tau!” ucapku serius.
“Oh ….” What the hell?! Cuma oh doing?!Sumpah, aku gemas sama manusia model dia.
Saat kami kembali melanjutkan perjalanan, Jake dan Rocky tiba-tiba bertingkah aneh. Terpaksa kami menghentikan laju kami.
“Nar, mereka bertingkah aneh. Kemungkinan di depan ada, deh. Soalnya ada bau darah dari sini.” Aku menoleh ke arah Nara. Remaja itu sepakat denganku. Ia memilih untuk turun dari atas kuda dan mengikat talinya di pohon. Aku juga mengikuti apa yang dilakukan sahabatku itu. Setelah itu, Nara menunduk untuk memeriksa jejak kaki di tanah.
“Di depan ada gerombolan siluman celeng,’’ ucapnya. Sebenarnya aku ingin tertawa. Di dalam ingatan tubuh ini, siluman celeng memiliki sifat yang mirip dengan babi ngepet di duniaku dulu. Sama-sama suka mengambil barang orang lain. Bedanya, babi ngepet mencuri untuk kepentingan pribadi dan yang dicuri adalah uang, sedangkan siluman celeng di sini mencuri barang-barang yang terlihat berkilau atau berharga untuk menarik betina. Entah kenapa aku jadi mengingat burung Namdur.
“Di depan ada orang yang lagi di serang!” beritahu Nara dengan panik. Celeng sendiri termasuk siluman lemah. Tapi beda cerita kalau yang menyerang satu kawanan. Ah, iya. Meskipun mereka babi, tapi mereka punya leher sebagai bukti bahwa mereka memang jadi-jadian, bukan asli binatang. Kami segera berlari mendekati arena pertarungan itu. Seorang remaja berambut kuning cerah sedang menghadapi sekawanan celeng. Dia melirik kami dari ekor matanya. Bahkan sekalipun kondisinya tidak bisa dikatakan baik, ia tidak meminta tolong pada kami. Sepertinya harga dirinya melarang itu. Entah kenapa, pikiran jailku datang tiba-tiba.
“Hei! Kamu bisa selesaikan ini semua sendiri?” tanyaku sambil berteriak. Nara memukul kepalaku pelan dan kubalas dengan lirikan sinis.
“Kalian lihat aja. Aku bisa sendiri,” jawabnya yang terkesan sombong menurutku. Sebab, jelas-jelas ia sudah cukup babak belur untuk bertahan dari serangan puluhan celeng. Parahal lelaki itu adalah seorang penyihir yang secara teknis merupakan tipe penyerang jarak jauh sekaligus support. Kurasa, membiarkannya bertarung sendirian tidak akan membuatnya menang.
“Beneran mustahil deh dia bakal menang,” bisikku pada Nara.
“Aku setuju. Sekalipun dia penyihir yang bisa terus menerus meregenerasi lukanya dan merapalkan mantra penyembuh, tapi dia punya keterbatasan mana. Bantuin aja, yuk!” ajak Nara. Aku sedikit berpikir. Rasanya malas berurusan dengan tipe manusia sepertinya.
“Ya udah, lah. Ayo bantu,” jawabku sedikit terpaksa. Nara mengembangkan senyumnya lalu ia berlari masuk ke pertempuran. Kulihat lelaki yang diserang tadi berdecih pelan, meskipun tak kupungkiri matanya menyiratkan kelegaan yang luar biasa.
Aku mencari dahan pohon yang cukup tinggi agar jangkauan pandanganku meluas. Setelah itu, kulepaskan busur yang sejak tadi tergantung di punggungku. Anak panah sudah bersusun rapi di tabung khusus yang kuberi tutup. Setelah kubuka tutupnya, salah satu anak panah kuambil dan kuletakkan di tali busur. Tanganku menarik anak panah itu dengan pandangan mata membidik salah satu siluman celeng. Hap! Satu siluman celeng yang meloncat ke arah Nara berhasil kutumbangkan dengan satu kali serang.
“Makasih, Bos!” ledeknya sambil tertawa. Aku bergidik sambil kembali mengarahkan arah anak panah ke siluman yang lain. Sementara aku asyik dengan anak panahku, Nara sibuk menghalau dan membelah tubuh siluman itu. Pergerakanku terhenti ketika sebuah suara bergema di kepalaku. “Tolong!” Kuedarkan pandanganku untuk mencari siapa pemilik suara ini.
“Kumohon! Tolong hentikan!” Suara itu menghentak secara tiba-tiba membuatku terkejut. “Nara! Berhenti!” teriakku reflek. Rupanya bukan hanya kami yang berhenti, siluman itu juga ikut berhenti mendengar suaraku. Aku loncat dari atas dahan dan mendekati siluman yang sekarat. Total ada sekitar delapan celeng yang berhasil tumbang. Kuletakkan tanganku di salah satu siluman yang berhasil kupanah perutnya. Dari situ, sebuah cahaya tiba-tiba keluar dari lambang Pendar Intan yang sebelumnya sudah ditutup Bi Heera. Luka dari anak panah yang sebelumnya sudah kucabut, pendarahannya berhenti secara perlahan hingga total. Lukanya juga menutup perlahan. Selesai dengan satu siluman, aku melakukan hal yang sama dengan tujuh lainnya. Akhirnya kedelapan siluman celeng itu berhasil sembuh. Sebagai gantinya, kesadaranku perlahan menggelap dan aku pun tumbang.