Tepat setelah Arakata pingsan, Nara segera mundur untuk mengamankan tubuh gadis itu. Lelaki yang tadi diserang juga dengan sigap mundur dan mengalirkan sihir penyembuh kepada Nara. Kawanan siluman celeng tidak lagi menyerang melainkan duduk berbaris dan terdiam seolah menanti Arakata sadarkan diri.
“Hei, kamu! Bisa kamu ceritakan kenapa kamu bisa diserang kawanan celeng di sini? Bisa dibilang ini masih area main kami. Dan kami sama sekali tidak pernah melihat adanya siluman di sekitar sini.” Nara bertanya dengan nada sedikit ketus. Lokasi mereka diserang masih dekat dengan hutan tempat mereka biasa berburu. Mereka belum berjalan terlalu jauh.
“Sebelum itu, kenapa temanmu bisa menyembuhkan siluman? Sihir penyembuh hanya bisa dipakai untuk manusia. Lagipula siluman celeng itu menyerang kita,” jawab lelaki itu tak kalah ketusnya.
“Saya yang nanya duluan kok kamu malah balik nanya?” Tangan Nara sibuk mengipasi Arakata yang masih terpejam. Remaja yang tadi diserang juga masih sibuk mengalirkan cakra untuk memulihkan kondisi Arakata. Mereka akhirnya terdiam dalam waktu yang cukup lama.
“Oke, oke. Aku jawab duluan. Namaku Wira Candrakumara. Aku berasal dari desa Pasai. Desa paling ujung di negeri Swarnanusa ini. Aku berencana untuk pergi ke kota Majapahit untuk mendaftar menjadi anggota pasukan Laskar. Tapi, saat aku sampai di sini, tiba-tiba seekor siluman celeng datang dan mengambil kalungku saat aku sedang mandi. Jelas aku marah. Aku mengejar siluman itu dan berhasil merebut kembali kalung ini.” Ada amarah dan kebencian di mata Wira. Nara bisa memahaminya dalam sekali melihat.
“Lalu?"
"Ya aku ngejar siluman itu dan berhasil mengambil kalungku. Tapi siluman itu terluka. Aku melepaskannya karena kupikir dia akan baik-baik saja nanti. Siapa sangka ternyata sekawanan siluman celeng datang dan menyerangku membabi buta, mungkin mau balas dendam. Aku tidak salah apa-apa. Aku hanya mengambil kembali barangku." Wira bersungut-sungut. Tangannya memegang bandul kalung berbentuk batu berwarna safir. Mirip seperti kalung perempuan.
"Lagian kalau kamu tahu itu berharga, bagaimana bisa kamu membiarkannya begitu saja sampai-sampai bisa dicuri siluman?" Nara sedikit mengomel. Wira memutar bola matanya jengah.
"Ya mana aku tahu kalau bakal ada siluman? Aku nggak kepikiran ada siluman di sini. Setahuku, siluman yang berada di negeri manusia tidak boleh bersinggungan dengan manusia. Karena kulihat ada desa di sekitar sini, kupikir tidak akan ada siluman."
"Ya, ya, ya. Terserah kamu. Setidaknya kamu berhutang pada kami." Nara tersenyum mengejek.
"Argh! Iya, iya. Terserah kamu mau bilang apa."
Hening kembali datang di antara mereka. Wira sudah berhenti memberikan sihir penyembuhan untuk Arakata. Keduanya saling menatap sekitar hingga kemudian perhatian mereka teralihkan saat Arakata melenguh. Gadis itu membuka matanya perlahan.
***
Tepat setelah pandanganku menggelap, aku dihadapkan pada sebuah kenyataan unik. Jiwaku terlepas dari ragaku. Aku bisa melihat Nara dan seorang remaja yang baru kami selamatkan bernama Wira tengah berbincang. Namun, ada satu hal yang lebih unik di hadapanku sekarang. Semua siluman celeng tidak lagi dalam wujud babi hutan, melainkan muda-mudi berbagai paras yang sangat menawan. Ternyata benar, siluman di dunia ini memiliki wajah rupawan. Mereka semua sedang duduk berbaris sembari menunduk tanpa berani menatapku. Padahal aku tidak seram hingga harus ditakuti.
“Siapa kalian? Apa mau kalian? Kenapa aku ada di sini?”
“Maaf, Tuan Putri. Anda sedang berada di alam lelembut. Tempat yang hanya bisa didatangi lelembut dan roh, baik roh manusia maupun siluman. Untuk siluman tingkat rendah seperti kami yang tidak bisa sembarang mengubah wujud kami kecuali kami mencapai syarat tertentu, salah satunya cara agar kami bisa berkomunikasi dengan manusia adalah dengan membawa mereka ke alam lelembut. Seperti yang kami lakukan sekarang.” Seorang dari mereka menjawab pertanyaan sekaligus menjelaskan tentang dunia ini kepadaku. Tapi aku masih bingung. Banyak hal yang tidak bisa diterima nalar terjadi begitu saja.
“Sebentar! Aku masih bingung pada banyak hal. Pertama, apa bedanya lelembut dan siluman? Lalu, kenapa kalian memanggilku Tuan Putri? Aku bahkan bukan ratu atau pemimpin kalian.” Para siluman di hadapanku saling berhadapan. Tampaknya mereka sedang memikirkan bagaimana cara sederhana untuk menjelaskan situasi yang terjadi saat ini kepadaku. Hingga akhirnya salah satu dari mereka yang kelihatannya adalah kepala kawanan mulai menjelaskan padaku.
“Maaf jika saya lancang, namun, izinkan saya menjelaskan kepada Tuan Putri. Sebelumnya, ini adalah pengetahuan dasar dunia. Di dunia ini ada tiga tingkatan alam. Hal ini hanya diketahui ras siluman dan penghuni alam lelembut. Pertama ada alam nyata, alam yang bisa disentuh secara fisik sekaligus tempat bagi manusia dan wujud kasar siluman. Kedua, ada alam lelembut. Sering juga dibilang sebagai alam astral. Penghuninya adalah makhluk yang tidak memiliki jasad kasar seperti kita. Hanya ada wujud halus dari mereka. Di dalam alam lelembut juga masih ada dua tingkatan, tingkat pertama dan yang paling tinggi adalah tempat di mana roh orang yang sudah meninggal berada. Lebih tepatnya roh orang yang tidak memiliki terlalu banyak dosa. Alam lelembut tingkat pertama terkesan lebih damai daripada alam lain, karena memang itu adalah tempat peristirahatan terakhir. Alam lelembut tingkat kedua adalah tempat yang kita tempati sekarang. Berasal dari berbagai entitas energi yang kekal. Entitas yang sudah ada sejak dunia ini baru diciptakan. Beberapa orang menyebutnya ‘Sing Bahu Rekso’. Termasuk juga entitas yang mendiami suatu wilayah, mereka tinggal di alam ini. Selain Sing Bahu Rekso, alam ini juga menjadi tujuan untuk mereka yang meraga sukma. Peristiwa berpisahnya roh dan raga. Seperti yang kita lakukan sekarang ini. Lalu yang terakhir adalah alam bawah. Tempat para iblis dan asura bersemayam. Mereka dipercaya sebagai makhluk paling jahat yang dapat menghancurkan dunia dengan mudah. Tidak banyak informasi tentang dunia bawah. Karena dunia itu sudah disegel sejak ribuan tahun lalu.” Sedikit banyak aku paham dengan apa yang siluman itu katakan. Hanya saja, Tuan Putri? Aku masih bingung dengan panggilan itu.
“Oke, aku paham dengan sistem alam di dunia ini. Hanya saja, mengapa kalian memanggilku Tuan Putri? Itu panggilan yang terlalu berlebihan menurutku.” Aku akhirnya dapat melayangkan protes kepada mereka.
“Hmm, anu, bagaimana, ya, cara menjelaskannya? Intinya ada hal yang tidak bisa Tuan Putri ketahui. Tapi yang pasti, anda adalah pemimpin kami.” Ah! Aku tambah bingung.
“Ya sudahlah. Terserah kalian. Tapi apa aku bisa kembali ke ragaku lagi? Aku khawatir temanku akan mengkhawatirkanku.” Aku menatap mereka yang masih berbincang, meskipun aku tidak bisa menyebutnya berbincang juga. Terlihat dari atmosfer yang makin mencekam disertai urat yang muncul di dahi. Meskipun kami sedang berbeda alam, tapi aku bisa melihat dengan jelas keberadaan mereka.
“Ah, maafkan kami. Jika Tuan Putri ingin kembali ke raga kembali, anda cukup memusatkan pikiran anda dan mencari tali gaib yang menghubungkan antara jiwa dan raga anda. Dengan begitu, secara insting Tuan Putri dapat kembali ke tubuh dengan sendirinya.” Demikianlah penjelasan singkat dari siluman ini. Ah, aku bahkan belum tahu nama mereka.
“Sebelum aku kembali, boleh aku tahu nama kalian?” tanyaku seraya menyapu pandangan menatap sekitar dua puluh siluman itu.
“Tidak semua dari kami memiliki nama. Terlebih kami hanyalah siluman rendahan. Kami hanya mendapat nama saat kami berhasil mencapai tahap di mana kami bisa mewujud sebagai manusia. Tapi, izinkan hamba selaku pemimpin mereka serta satu-satunya yang sudah memiliki nama untuk memperkenalkan diri.” Siluman yang sejak tadi menjelaskan kepadaku itu unjuk bicara. Ia meletakkan kepalan tangan kanannya di d**a dan membungkuk sedikit sebelum kemudian memperkenalkan diri. “Nama hamba Yaswanta. Dari ras siluman celeng. Kami sedang bermigrasi ke negeri Swarnanusa untuk musim kawin kami. Biasanya kami pergi ke tempat yang tidak ada manusianya, karena meskipun tidak ada manusia, negeri Swarnanusa selalu memiliki benda berkilauan untuk kami gunakan mas kawin untuk menikah. Sehingga sudah tradisi setiap lima tahun sekali kami melakukan migrasi sementara. Namun, kemarin kami melakukan kesalahan. Kami pikir tempat ini tidak berpenghuni sehingga kami mencarinya di sini. Lalu, tanpa sengaja salah satu anggota kami mengambil kalung pemuda itu. Kami tahu kami yang salah. Tapi, ia membunuh salah satu keluarga kami. Jadi kami tidak tinggal diam.” Yaswanta terdiam setelah memperkenalkan diri sekaligus menjelaskan keadaannya padaku.
“Oke, aku paham. Saya, sebagai perwakilan dari kaum manusia, izinkan saya meminta maaf untuk ini. Karena minimnya kepahaman antar sesama memicu kesalahpahaman.” Aku membungkuk meminta maaf, namun, Yaswanta segera mencegahku dengan sedikit meninggikan suaranya, “Jangan menunduk, Tuan Putri!” Aku yang terkejut segera menegakkan tubuhku kembali. Ia pun melanjutkan, “Tak ada yang perlu anda mintakan maaf. Ini sepenuhnya salah saya dan anak buah saya. Kedudukan anda lebih tinggi dari kami. Anda tidak pantas meminta maaf, apalagi menunduk kepada kami.”
Astaga … sebegitunya kah? Baiklah, jika itu mau mereka. Tak ada salahnya aku mengikuti keinginan mereka. “Baiklah. Terserah kalian. Sekarang aku mau pamit untuk kembali ke ragaku kembali. Permisi.” Aku mencoba mengikuti apa yang Yaswanta ajarkan padaku tadi. Kupejamkan mataku untuk merasakan keberadaan tali jiwa. Di mana itu? Aku terus mencari. Hingga akhirnya kutemukan apa yang kucari. Tali jiwa itu berada di dalam jantungku, menghubungkan antara jiwa dan ragaku. Saat aku mampu meraih tali jiwa itu, mendadak sebuah pusaran hitam menyedotku keras. Aku merasa seolah seluruh panca indraku kembali. Saat kubuka mata, Nara dan Wira menatapku lekat. Hanya saja, ada perbedaan arti dari tatapan mereka. Tatapan Nara penuh akan rasa lega yang luar biasa. Sementara Wira menatapku dengan hati-hati sekaligus bertanya-tanya. Sepertinya ini tidak sesimpel yang kukira.