Tatapan mereka memberikan banyak pertanyaan. Meskipun begitu, aku tidak bisa menjelaskan semua yang terjadi. Bahkan aku saja melupakan banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan pada Yaswanta. Karena, kalau dilihat-lihat sepertinya ia sudah masuk kategori sepuh di dunia siluman. Tentu kebijaksanaannya tidak dapat dianggap remeh, begitupun pengetahuannya. Tipikal kepala dari sebuah kelompok.
Kini, kami bertiga sedang duduk melingkar dalam suasana yang hening. Benar-benar hening karena tidak ada yang membuka percakapan. Hanya desir angin yang berembus menggesek dedaunan dan menciptakan harmoni khas hutan yang tenang. Juga suara serangga-serangga kecil seperti tonggaret ibaratkan suara dawai biola dalam orkestra alam. Konstan dan menenangkan. Para siluman celeng baru saja pergi setelah sebelumnya menunduk hormat ke arahku. Wira semakin memandangku dengan tatapan aneh.
“Huft … sampai kapan kalian akan saling diam?” Akhirnya aku memutuskan untuk membuka percakapan.
“Aku punya banyak pertanyaan untukmu,” sahut Wira tiba-tiba. Aku tersenyum miring. Biar bagaimanapun, aku sudah menduga ini akan terjadi. Siapa pun pasti akan memiliki banyak pertanyaan saat melihat ada hal yang tidak biasa pada orang lain.
“Kalo kamu, Nar? Mau tanya juga?” Aku memancing pertanyaan.
“Nggak, Arakata. Terlalu banyak pertanyaan yang sebenarnya berputar di otakku dan aku yakin kalau kamu juga kebingungan akan jawaban, makanya aku lebih memilih untuk mencari jawaban bersamamu dan memecahkan masalah ini bersama-sama.” Uh, so sweet. Tanpa kusadari senyumku mengembang dengan pipi yang memanas. Sial! Bisa-bisanya aku malu-malu seperti remaja karena perkataan seorang bocah? Meskipun aku di sini baru lima belas tahun, tapi usia jiwaku sudah tiga puluh tahun!
Aku berdehem pelan untuk menetralkan suaraku agar tidak bergetar. Lalu kembali membuka kata, “Apa yang ingin kamu tahu, Wira? Seperti yang dikatakan Nara, aku sendiri masih kebingungan akan apa yang terjadi.” Wira terlihat berpikir sejenak. Ia lalu menanyakannya, “Apa hubunganmu dengan siluman? Bukannya kamu ini ksatria? Kenapa kamu bisa memakai cakra? Untuk sekarang, hanya pertanyaan itu yang dapat kutanyakan. Aku sendiri bingung mau bertanya apa karena terlalu banyak yang ingin kutanyakan.”
Kutarik napasku dalam-dalam lalu kuembuskan perlahan. Bahkan aku sendiri masih belum menemukan semua jawabannya. Kupandang lurus di matanya. Jujur saja, dia terlihat cukup tampan meskipun tidak setampan Nara. Kesan pertamaku saat melihat wajahnya adalah ia anak yang songong. Bukan bermaksud su’udzon. Tapi mukanya benar-benar tipe orang yang suka mengajak ribut. Rambutnya berwarna kuning cerah dengan netra amber. Alisnya melengkung tegas seolah tidak pernah santai karena selalu terlihat kaku. Tubuhnya tinggi tegap, sedikit lebih tinggi dari Nara, tapi tidak lebih kekar dari sahabatku itu. Maklumlah, Wira adalah penyihir, yang mana jarang melatih fisiknya dan lebih mengasah otaknya. Setelah puas mengamati Wira, pandanganku beralih ke arah Nara selaku objek perbandingan. Dari segi proporsi wajah, Nara adalah tipeku banget. Meskipun di dunia manusia tidak pernah kutemui orang yang berambut perak alami kecuali penderita albino. Netranya berwarna hijau cerah. Aku merasa seakan sedang memandang sebuah hutan yang mendamaikan. Dengan gradasi warna hijau dan biru yang berkelok-kelok indah dan bersinar ditimpa cahaya. Benar-benar seperti rumah yang penuh dengan kehangatan. Seperti yang tengah terjadi sekarang ketika mata kami beradu pandang.
“Iya, aku tahu aku tampan. Kalau mau mandang sepuasmu, jawab dulu pertanyaan Wira. Jangan buat anak orang kesal menunggu,” celetuk Nara tiba-tiba. Reflekku segera memutuskan pandangan dengan memalingkan wajah. Tanganku meraih ranting yang berada di sampingku dan kulempar ke arahnya. Ia terkekeh dengan sorot mata jail.
“Sialan kamu! Nggak usah pede, kamu nggak seganteng itu sampe buat aku terpesona,” umpatku kesal. Salahku malah membandingkan mereka berdua, bukannya menjawab pertanyaan Wira. Tidak kupungkiri, jantungku sedikit berdebar karenanya.
“Iya, iya. Lalu kamu mau jawab apa, hmm?” Nara menanyakannya sekali lagi. Kali ini, pandangan kami beradu lagi. Namun, bukan dengan tatapan terpesona seperti tadi. Melainkan sebuah bentuk isyarat untuk memutuskan apakah rahasia ini akan kubocorkan pada Wira atau tidak.
“Sebelumnya aku mau tanya, kamu bisa jaga rahasia atau tidak?” Wira yang sudah menanti dengan wajah kesal menatapku makin kesal.
“Apakah wajahku terlihat seperti ibu-ibu bermulut ember?” tanyanya sinis.
“Siapa yang tahu. Tapi kalau kulihat, mukamu lebih ke arah orang yang suka ngajak ribut. Baiklah, aku beritahu sebuah rahasia. Tapi janji jangan bongkar kepada siapa pun. Bahkan sekalipun itu orang yang sudah kamu kenal baik, entah itu saudaramu, orang tuamu, sahabatmu, atau siapa pun yang kau kenal maupun tidak kenal. Kecuali kalau sudah waktunya, baru diriku sendiri yang akan mengumumkannya pada dunia.” Aku kembali mengingatkannya. Mukanya makin terlihat kesal.
“Kalau nggak mau bilang, nggak usah cerita. Nggak ada pentingnya juga buat aku.” Wira memilih untuk tidak mendesakku lebih lanjut. Sejujurnya, aku bingung akan jawab apa.
“Aku punya dua tanda,” ungkapku akhirnya. Meskipun lebih tepat jika disebut mencicit. Namun anehnya, Wira dapat mendengarnya. Tersurat jelas lewat ekspresi mukanya yang terkejut begitu saja.
“Apa maksudmu dua tanda?”
Kubuka kepalan tanganku dan menunjukkan tanda yang ada di telapak tangan. Awalnya hanya Lengkung Sabit yang terlihat, namun, saat aku mengalirkan sedikit cakra ke telapak tanganku, Pendar Intan juga ikut muncul di tengah-tengah Lengkung Sabit. Wira terbelalak heran. Aku tidak terkejut. Karena, belum pernah ada manusia di dunia ini yang memiliki dua tanda seperti ini.
“Ka-kamu serius? Itu, itu ada dua tanda? Bagaimana bisa?” Ia sampai tergagap.
“Dua rius. Makanya sekarang aku lagi mau mencari kebenarannya. Itulah alasan kenapa aku dan Nara pergi ke ibukota.”
Wira berusaha mencerna fakta yang ada di depannya. “Walaupun aku masih bingung, tapi aku percaya aja sama omonganmu. Berarti sekarang kita punya tempat tujuan yang sama. Bersama lebih baik daripada sendiri.”
"Yeah, kamu benar. Berdua lebih baik daripada sendiri." Aku menghentikan aliran cakraku dan membuat Pendar Intan yang tadinya bersinar menjadi meredup dan menghilang.
"Kapan kamu sadar kalau kamu punya dua tanda? Bukannya setiap usia dua belas tahun itu selalu ada pembuatan Tanda Pengenal? Salah satu yang didata dalam pembuatan tanda pengenal adalah tipe kekuatan dan simbol tangan. Seharusnya petugas curiga kalau ada yang punya dua simbol."
"Simbol ini muncul belum lama ini. Tepatnya saat aku sudah menginjak usia lima belas tahun. Dari situ tiba-tiba muncul Pendar Intan setelah malam yang melelahkan." Aku menghela napas sembari mengusap-usap telapak tanganku. Benar-benar malam yang menyakitkan dan melelahkan.
"Oke, aku paham garis besarnya." Kutoleh Nara yang masih sibuk menggambar abstrak dengan ranting yang kulemparkan tadi di tanah. Sepertinya, perjalanan melelahkan ke ibukota tidak semelelahkan itu karena bersama-sama.