Seminggu sudah kami berkelana di atas gerobak berkuda. Karena Wira kehilangan tunggangannya saat bertempur dengan celeng, terpaksa kami membuat gerobak sederhana agar bisa mengangkut semuanya sekaligus. Rocky dan Jake menarik gerobaknya bersamaan. Setidaknya beban mereka tidak seberat awalnya karena barang bawaan kami cukup banyak. Ya, meskipun kini sudah habis tak bersisa. “Ah, tinggal sebentar lagi kotanya terlihat,” celetuk Wira yang kini gantian menjadi kusir, sedangkan Nara tengah terlelap di sebelahku karena ia baru saja mendapat jatah kusir. Selama perjalanan ini, kami saling bercerita satu sama lain dan dari situlah kami tahu bahwa Wira sudah sering pergi ke ibukota. Sehingga, meskipun tanpa peta, kami memiliki pemandu sebagai bayarannya menumpang kami. Yah, meskipun anak itu hanya akan menjawab ketika ditanya dan bercerita secara garis besar saja. Atau bisa juga untuk memberi pengumuman penting seperti, ‘sebentar lagi hujan turun.’ Benar saja, begitu kami keluar dari hutan, gerbang kota terlihat megah berdiri berwarna kemerahan. Patung berbentuk manusia dengan kepala, sayap, dan ekor elang berdiri tegak di sebelah kanan gerbang, sementara bagian kirinya adalah sebuah patung dengan bentuk burung sepenuhnya. Aku teringat dua mahkluk mitologi berbentuk burung dari dunia asalku, Garuda dan Jatayu. “Itu yang kanan Garuda, yang kiri Jatayu, kan?” tanyaku sedikit ragu pada Wira. Remaja itu menoleh ke arahku sebentar lalu kembali menatap jalanan. Ia berdehem untuk menjawabnya. Tak lama kemudian, ia membuka mulut untuk melontarkan pertanyaan yang kurasa menjadi pertanyaan yang akan ditanyakan sebagai respon semua orang yang tahu atau penduduk asli. “Katamu kamu belum pernah ke Majapahit. Kok tahu tentang dua dewa kota ini? Ini termasuk kisah tersembunyi dari kota Majapahit. Gak semua orang tahu tentang dua dewa burung itu.” Ah, ternyata dua burung mitos itu dijadikan dewa di kota ini. Aku baru mengetahui kalau memang dua makhluk itu adalah kisah tersembunyi. Pantas saja aku tidak menemukan data apa pun di memori gadis ini. “Anu, itu, aku gak sengaja pernah denger dari pengembara yang lagi berburu di hutan. Karena penasaran, aku menguping sedikit. Mereka cuma bilang katanya di gerbang Majapahit ada dua patung, yang satu patung campuran manusia dan burung, itu namanya Garuda. Yang satu lagi sepenuhnya burung, katanya namanya Jatayu. Cuma sebatas itu, kisahnya kurang tahu aku.” Buru-buru aku mencari alasan untuk ini. Siapa sangka mitologi di dunia asalku hampir mirip dengan mitologi di dunia ini. Hanya berbeda jalan cerita saja. Tokohnya mirip dari segi fisik dan nama. Bahkan nama kerajaan-kerajaan yang dipakai di Indonesia menjadi nama-nama kota di dunia ini. Meskipun sejarahnya bisa kupastikan hampir sepenuhnya tidak mirip. Kecuali beberapa tokoh hebat yang mungkin namanya sama, tapi tidak dengan kisah hidupnya. Aku bisa tahu ini karena sempat bertukar cerita dan informasi dengan Wira terkait beberapa kota besar di dunia ini. “Ya, begitulah. Banyak orang yang hanya tahu tentang dua tokohnya, tapi tidak kisahnya. Nah, sebentar lagi kita akan melewati gerbang kota. Kalian punya tanda pengenal kalian, kan? Persiapkan dari sekarang. Nanti penjaga gerbang akan memeriksa tanda pengenal kita. Berbeda dengan kota-kota yang kita lewati kemarin, keamanan di ibukota dan beberapa kota besar lainnya memang lebih ketat.” Aku segera membangunkan Nara lalu bergegas mengeluarkan kartu pengenalku dari tas. Nara juga segera mengambil tasnya dan mulai mencari tanda pengenal miliknya. Tapi, aku bisa menebak apa yang terjadi dari raut wajah Nara yang sedikit panik sembari mengubrak-abrik tas berisi pakaiannya. Senyum miringku terangkat licik. “Kenapa? Tanda pengenalmu hilang?” ledekku. Mukanya memerah karena malu dan kesal. Aku terbahak-bahak begitu saja karena tidak bisa menahan tawaku. Nara segera menatapku curiga. Ia mendekat ke arahku dan merebut tas tempatku meletakkan tanda pengenalku. Namun, ia tidak menemukan apa-apa di sana. “Woy, jangan diberantakin! Ah, capek aku beresinnya,” keluhku sembari memasukkan kembali barang-barang yang ia acak-acak. “Balikin tanda pengenalku!” pintanya serius. “Siapa yang sembunyiin coba? Aku gak merasa ngambil punyamu,” sahutku sengit. “Balikin atau aku geledah kamu?” ancamnya serius. Aku yang tahu ancamannya bukanlah omong kosong segera mengeluarkan sebuah lempengan tembaga dari sakuku. Tanda pengenal dibuat saat penduduk Swarnanusa memasuki usia dua belas tahun. Terbuat dari lempengan tembaga berketebalan 2 cm dan seukuran dengan kartu ATM. Tidak perlu khawatir akan kehilangan tanda pengenal, karena bagi mereka yang berprofesi sebagai penyihir dapat menyimpan tanda pengenal itu dengan sihirnya. Sedangkan untuk ksatria, tanda pengenal dapat dilebur dengan senjata seumur hidupnya. Satu hal yang agak terlupa dari ingatanku, ketika ksatria merasa dirinya sudah siap, ia akan melakukan ujian pembuatan senjata. Ujian itu dilakukan di desa masing-masing. Namun, untuk mereka yang ingin bergabung pasukan bisa mengikuti ujian di ibukota sekalian ujian masuknya. Seperti yang akan kami lakukan nanti. Gerbang kota dapat mereka lewati dengan aman. Penjaga gerbang langsung mempersilakan kami masuk setelah memverifikasi keaslian tanda pengenal kami. Terlihat sederhana, tapi sebenarnya ada sihir tertentu yang ditanam di dalam tanda pengenal. Karenanya, meskipun pembuatan tanda pengenal dapat dilakukan di setiap desa, petugas yang menerbitkan tanda pengenal adalah pemerintah pusat. Jadi tidak bisa dipalsukan. “Wir, kamu mau bermalam di mana? Udah ada tempat atau belum?” tanya Nara saat kami berjalan di dalam kota. Meskipun dinamakan ibukota, bagiku ini hanya sebuah desa yang ramai. Rumah-rumah dari batu bata merah menjulang, paling tinggi hanya tiga lantai. Setelah masuk melewati gerbang, jika kita terus mengikuti jalan utamanya, dalam jarak 300 meter akan menemui pasar yang lumayan ramai. Ada banyak hal dijual di situ. Saat ini kami sedang mencari tempat untuk makan siang. Dikarenakan persediaan makanan kami habis, maka mencari rumah makan adalah solusi terbaik untuk perut yang keroncongan. “Aku sih di mana aja bisa. Ikut kamu juga boleh. Biasanya kalau aku ke ibukota, aku menyewa kamar di tempat penginapan. Jadi memang tidak punya tujuan khusus,” jawab Wira dengan tangan yanga asyik mengemudi kuda. “Oke. Ikut kita aja. Aku kira kamu udah ada kerabat di sini gitu, jadi kalau mau ke tempat saudara biar kami anterin. Tapi kalo kamu ikut, kami bakal seneng banget.” “Ikut kalian aja. Ah, itu ada rumah makan langgananku. Ayo mampir sana aja,” ajak Wira seraya menunjuk sebuah rumah makan di pinggir jalan. “Oke, siap. Kita mah nurut aja. Iya nggak, Rak?” Nara menatapku saat bertanya. Aku mengangguk dan berdehem mengiyakan. Rasanya masih terlarut oleh suasana ramai pasar ini. Sejak aku datang ke dunia ini, melihat keramaian baru kudapati lagi saat ini. Meskipun di bumi dulu aku introvert, tapi aku suka menatap keramaian yang berlalu lalang. Wira memarkirkan gerobak berkuda di tempat parkiran khusus. Ada banyak kuda-kuda lain yang sedang memamah rumput. Ada juga beberapa kereta kuda yang jauh lebih layak dari gerobak kuda milik kami. Tanpa babibu, kami turun dan masuk ke dalam rumah makan itu. Aku menyapukan pandanganku ke dalamnya. Ada banyak sekali meja-meja pendek yang diisi oleh para pelanggan. Dari pakaian mereka, aku bisa menebak beberapa dari mereka adalah pengelana seperti kami. Model rumah makan ini lesehan dengan meja berbentuk bundar dapat diisi dengan banyak orang sekaligus. Ah, tidak ada meja kosong. Sepertinya kami harus menunggu sedikit lebih lama. Pandangan mataku tanpa sengaja mengarah ke tangga yang berada di pojok ruangan. Seorang laki-laki berpakaian mewah dengan dua pengawal di sisi kanan kiri turun dari atas ruangan. Beberapa pelanggan yang sedang menikmati minuman di sebuah meja mendadak berdiri dan mengikuti langkah laki-laki itu saat ia tiba di lantai bawah. Hanya menyisakan seorang lelaki yang masih asyik dengan arak di gelasnya. “Kok ada yang dari atas? Memang beda, ya?” tanyaku dengan raut bingung. “Oh, itu di ruangan atas sana disebut kelas pertama. Tempatnya para pejabat dan bangsawan. Tempatnya kelas elit.. Ayo kita duduk di tempat yang barusan ditinggal pengawal-pengawal tadi.” Wira menarik tanganku untuk menuju ke meja di pojok ruangan itu. Dari ekor mataku, dapat kulihat Nara mengekor dengan raut wajah kesal. Apa dia sudah terlalu kelaparan, ya? “Permisi, boleh kami duduk di sini?” tanyaku mencoba bertanya sopan pada satu-satunya lelaki yang tidak ikut rombongan prajurit tadi. Yah, kupikir itu wajar, dari seragam mereka juga sudah dapat ditebak kalau mereka tidak berasal dari satu tempat yang sama. “Silakan!” Ah, dingin sekali manusia satu ini. Kami pun duduk di meja bersamaan dengan Wira memanggil pelanggan. “Eh, Wira. Kamu ke ibukota lagi?” tanya seorang pelayan wanita yang kalau kulihat mungkin sebaya dengan kami. Dari tatapannya yang berbinar, aku bisa menebak kalau ia memiliki rasa dengan teman baruku ini. “Iya, Les. Aku mau ikut ujian masuk pasukan Laskar. Kenalin dua teman baruku, yang perempuan namanya Arakata Ratnaduhika Paramesti, panggil aja dia Arakata. Sedangkan yang laki-laki namanya Rajendra Narasimha. Panggil aja Nara. Mereka berdua nolongin saya waktu di perjalanan. Nara, Arakata, gadis ini anak pemilik rumah makan ini. Namanya Sri Lestari. Panggilannya Lestari.” Wira mengenalkan kami satu persatu pada gadis itu. Kami berdua menyalaminya seraya saling menyapa. Saat gadis itu menyalamiku, ia agak menahan tangannya lebih lama di genggamanku. Ia kemudian melepas sembari meminta maaf. “Kalian mau pesan apa?” tanya gadis itu sopan seraya menyerahkan selembar catatan menu ke arah kami. Rupanya meskipun di dunia pararel, daftar menu tetap menjadi keharusan, ya. Aku dan Nara membaca daftar hidangan yang ada di daftar menu. Menu di sini jauh lebih sederhana daripada di duniaku dulu. Akhirnya aku dan Nara sama-sama memesan nasi bumbu dan bebek, sementara Wira hanya berkata ia memesan menu andalannya. Untuk minuman, aku memesan teh, sementara Nara memesan legen. Rupanya air nira juga ada di dunia ini. “Kalian mau ikut ujian masuk pasukan Laskar?” Seorang laki-laki yang sejak tadi duduk diam melihat kami akhirnya membuka suaranya. Kuperhatikan baik-baik, sepertinya ia juga seorang pengembara. Mungkin usianya kisaran 35-an tahun. “Iya, Paman. Kami ingin ikut ujian masuk pasukan Laskar. Kalau Paman sendiri? Apa Paman juga mau ikut?” jawabku sekalian bertanya. Bukannya menjawab, laki-laki itu malah tertawa terbahak-bahak.. “Ada yang lucu?” tanya Nara sedikit sinis. Lelaki itu masih mengulum senyumnya. Meskipun akhirnya ia menahan tawanya dengan berdehem sebentar saat melihatku dan kedua temanku kebingungan dengan tingkahnya. “Maaf, maaf. Bukannya aku menertawakan temanmu. Aku tertawa karena heran, aku masih muda sudah dipanggil paman. Aku belum setua itu untuk dipanggil paman,” jawabnya saat tawanya sudah mereda. “Receh amat sih, njir. Gitu doang ngakak,” gumamku yang mungkin terdengar seperti gumaman tidak jelas. “Kamu ngomong apa, Rak?” bisik Nara ke arahku. “Itu, aku bilang ….” Ucapanku terpotong dengan kehadiran Lestari yang membawa pesanan kami. Huft, selamat. Jujur saja, aku merindukan bakso Pak Yono yang ada di dekat kantorku. Seandainya di daftar menu ada bakso, aku akan langsung memilihnya tanpa pikir panjang. Kulirik pesanan ‘biasanya’ milik Wira. Ternyata ia memesan nasi putih dan sayur-sayuran yang aku tidak terlalu tahu apa saja. Sepertinya bayam dan kangkung yang ditumis dengan wortel. Hmm, unik. Setelah pesanan kami lengkap, kami mulai makan dan seolah melupakan keberadaan laki-laki tadi. Hingga akhirnya ia berdehem menyita perhatian kami. “Ah, aku belum mengenalkan diri, ya. Walaupun aku tahu nama kalian dari percakapan kalian dengan pelayan tadi. Kalian bisa memanggilku Hayam. Salam kenal semuanya.” “Salam kenal, Paman. Kalau paman ingin berbincang, mungkin bisa dilakukan nanti. Biarkan kami makan dulu, perut kami terlalu keroncongan untuk diajak berbincang,” pintaku saat melihat tatapannya yang penuh rasa penasaran. Aku tidak berbohong. Faktanya, rasa lapar ini lumayan melilit sejak semalam karena kami kehabisan makanan lebih awal dari perkiraan.