Tepat setelah kami menghabiskan makanan kami, Paman Hayam juga menyelesaikan minumnya. Aku heran, sejak tadi kulihat ia hanya asyik dengan araknya. Tapi tidak ada tanda-tanda akan mabuk. Padahal arak di dunia ini juga sama memabukkannya dengan arak di duniaku.
“Paman nggak mabuk? Aku lihat tadi paman minum banyak,” tanyaku tanpa ragu. Namun rasa menyengat mendadak menyerang pahaku karena dicubit Nara sedikit keras. Ia melirikku dengan muka tidak enak dipandang. Aku tahu aku lancang, tapi aku tidak bisa menahan rasa penasaranku. Wira ikut memandangku meskipun ia tidak berbuat apa-apa.
Paman Hayam kembali tertawa. Aku heran, sereceh apa humornya? Kalau kulihat-lihat, beliau lumayan tampan. Kalau saja ia bertemu dengan diriku dalam wujud bumi, mungkin aku sedikit tertarik untuk mendekatinya. Tapi, kalau sekarang rasanya tidak mungkin terjadi.
“Ah, maaf, maaf. Aku tertawa lagi. Tenang aja, aku nggak mabuk, kok. Lagian kamu mengingatkanku dengan adikku yang sudah tidak ada. Dia memiliki sifat yang sama sepertimu,” sahut Paman Hayam, “Oh iya, ada yang ingin kutanyakan.” Beliau menenggak arak terakhir sebelum kemudian menatapku kembali.
“Kamu keturunan bangsawan?” tanyanya. Aku menganga bingung. Tiba-tiba teringat kalau aku memang masih keturunan bangsawan.
“Bangsawan? Ah, iya. Ibuku keturunan bangsawan, ayahku orang biasa. Tapi ibuku sudah lama meninggal.”
“Kalo ayahmu?” tanyanya tertarik.
“Ini masih mau dicari,” jawabku ceplas-ceplos.
“Emang nyarinya di mana?” Kali ini Wira yang mengajukan pertanyaan.
“Kalo aku tahu, nggak mungkin aku cari.” Aku menjawab dengan sedikit kesal.
“Lagian kamu tuh aneh lo, Rak. Emangnya ayahmu itu barang kok dicari?” sahut Nara sinis.
“Lah, kan bener. Aku lagi nyari ayah.” Aku sedikit bingung dengan situasi sekarang. Kenapa semua mempermasalahkan tentang pencarianku ke ayah?
“Kamu memang nggak salah. Tapi cara pengucapanmu tentang ‘nyari ayah’ itu kesannya kaya enteng banget gitu loh. Seolah-olah ayahmu di sini tuh barang, bukan orang. Paham, nggak?” jelas Nara seolah ingin mencakarku saking geregetnya. Aku baru paham dengan situasi sekarang dan berakhir dengan tawa tanpa dosa. Paman Hayam juga ikut terkekeh melihatku.
“Nama ibumu siapa?” tanya Paman Hayam saat atmosfer kembali seperti semula.
“Fyneen Charity Kishika.” Paman Hayam nampak terkesiap sejenak sebelum akhirnya ia tersenyum, seolah ia mengenal ibuku.
“Paman kenal ibuku?” tanyaku penasaran.
“Ah, gimana ya bilangnya. Aku mengenalnya, tapi apa hubungan kami, itu tidak bisa kuceritakan saat ini. Apa kalian sudah ada tujuan?” Ia memandang kami bersamaan. Kemudian, Nara menjawab dengan nada tak yakin. “Kami punya tujuan, tapi kami belum tahu tempatnya. Kalau sekiranya paman tahu di mana tempatnya, sudikah untuk mengantarkan kami ke sana?”
“Boleh, boleh. Kalau boleh tahu, di mana tempatnya?”
“Penginapan Randublatung. Paman tahu?”
“Oh, kebetulan aku menginap di sana juga. Kalau begitu, ayo kita ke sana bersama.” Wira memanggil Lestari untuk menghitung jumlah tagihan mereka. Setelah selesai membayar, mereka menuju ke kereta kuda yang terparkir di depan rumah makan. Kali ini, Paman Hayam yang mengendalikan kuda karena ia yang tahu tempatnya. Sementara aku memilih untuk memejamkan mata dengan bersandar pada bahu Nara sambil menunggu sampai tujuan.
***
Sebuah bangunan dengan papan nama “Penginapan Randublatung” terpampang besar di atas pintu. Bangunannya terbilang besar di antara bangunan lain dengan dua lantai. Dindingnya bata merah dan beratapkan genteng tanah liat. Meskipun namanya penginapan, tapi di bagian lantai dasarnya adalah bar dengan beragam arak dan kudapan disiapkan. Kami turun dari kereta mengekor Paman Hayam yang masuk ke dalam tanpa canggung.
“Paman Dwipangga mana?” tanya Paman pada seorang laki-laki yang sedang menuangkan arak dari kendi ke gelas. Lelaki itu sibuk dengan urusannya meskipun mendengarkan pertanyaan Paman Hayam dari balik meja.
“Pak Bos masih keluar. Katanya mau jemput anak sahabat lamanya yang mau ke ibukota.” Tangannya yang terampil memberikan gelas berisi arak itu ke seorang laki-laki lain yang mengantarkan ke pelanggan. Rupanya ia bartender di sini, sementara laki-laki itu adalah pelayannya. Pandanganku terbius oleh tiap gerak-geriknya sekalipun hidungku sedikit terganggu dengan bau alkohol. Baunya tidak terlalu menyengat, tapi cukup untuk menusuk hidung bagi yang memiliki sensitivitas terhadap bau sepertiku.
“Udah lama keluarnya?” Paman Hayam akhirnya duduk di kursi yang berada di depan meja bar. Aku dan yang lainnya masih berdiri di belakangnya karena bingung harus berbuat apa. Kulihat-lihat lagi, bangunan bar ini lebih mirip seperti budaya barat daripada di Indonesia seperti yang biasa kulihat di drama kolosal.
“Lumayan. Mungkin sebentar lagi pulang. Memangnya kenapa, sih? Itu tiga anak di belakangmu siapa? Kamu nggak habis nyulik anak, kan?” Ekspresi laki-laki bartender itu mendadak terkejut dengan sedikit bergidik. Paman Hayam menatapnya dengan ekspresi kesal. “Nggak usah bikin cerita, Arya. Mereka ini kemungkinan yang dicari Dwipangga. Mereka cerita kalau mereka dari desa Sekala Bekhak. Mereka mau ke tempat kenalan bibi mereka, pemilik penginapan Randublatung. Jadi aku bawa aja ke sini.” Tangan Paman Hayam menyomot salah satu makanan yang dibungkus daun pisang. Ia menoleh ke arah kami yang masih berdiri bingung. ”Ah, kasihan sekali bosku itu karena yang dicarinya rupanya sudah sampai lebih dulu,” celetuk Arya dengan tampang tak berdosa.
“Kalian bertiga kenapa nggak duduk? Nggak pegel? Sana duduk aja. Kalau kurang kursinya, kalian bisa ambil di salah satu meja yang kosong buat duduk di sini. Biar enak ngobrolnya sambil nunggu pemilik penginapan ini kembali. Kalau mau makanan, ambil aja di atas meja. Tapi bayar masing-masing. Aku lagi gak punya banyak duit.” Jujur sekali kau, Paman. Aku memilih duduk di kursi yang hanya ada dua biji itu, sementara Wira mengalah dan mengambil kursi lain karena keduluan Nara.
Tak lama waktu berselang, seorang laki-laki bertubuh agak tambun berlari dengan tergopoh-gopoh. Ia menatap ke arahku dan Nara, lalu kami berdua dipeluknya erat. “Astaga. Paman mencari kalian keliling kota, tapi tidak ketemu. Siapa sangka kalian sudah ada di sini. Syukurlah. Aku tidak tahu harus bilang apa pada Heera kalau sampai kalian kenapa-kenapa.”
“Maafkan kami, Paman. Tadi kami bertemu Paman Hayam di rumah makan dan diantar ke sini. Karena kebetulan paman itu juga menginap di sini,” Aku meminta maaf dengan ekspresi menyesal setelah Paman Dwipangga melepaskan pelukannya.
“Iya, tidak apa-apa. Aku justru berterima kasih pada Hayam karena mau menjaga dua keponakanku.” Kalau diingat-ingat, kami pernah bertemu ketika aku dan Nara masih berusia delapan tahun. Saat itu, Paman Dwipangga yang datang ke Sekala Bekhak untuk beberapa urusan. Anehnya beliau tidak lupa pada kami, padahal aku sendiri hampir melupakan wajahnya.
“Siapakah gerangan anak muda tampan ini? Apakah teman kalian?” Pandangan Paman Dwipangga beralih ke arah Wira. Aku hampir terbahak-bahak melihat ekspresi Wira yang malu-malu dengan pipi memerah sebab disebut tampan. Apakah anak itu tidak pernah dipuji orang sebelumnya? Nara menjawab pertanyaan Paman Dwipangga dengan nada jahil, “Lelaki tampan ini adalah teman kami, Paman. Kami menemukannya saat ia dengan gagah berani bertempur dengan sekawanan celeng.” Tawaku akhirnya meledak. Ekspresi Nara benar-benar sangat mengesalkan unuk dilihat. Kini muka Wira makin memerah, bukan karena malu tapi kesal.
“Sudah, sudah. Jangan kalian ganggu anak orang. Oh iya, Wira, maukah memperkenalkan dirimu pada Paman?” Paman Dwipangga melerai sebelum dimulainya pertarungan. Wira yang sudah berhasil mengendalikan dirinya akhirnya menjawab dengan sedikit lesu, “Namaku Wira Candrakumara. Desa asalku Desa Pasai. Aku ke Ibukota hendak mengikuti ujian menjadi pasukan Laskar.”
“Jadi kalian satu tujuan? Baiklah, kalian pasti lelah. Sekarang ayo ikut aku. Akan aku antar kalian ke kamar kalian. Tapi Nara dan Wira satu kamar tidak apa-apa, kan? Aku hanya menyiapkan dua kamar kosong. Kan nggak mungkin membiarkan Arakata dengan Nara. Jadi Wira, untuk beberapa malam ini hingga ujian dimulai, kamu harus akur dengan Nara, ya? Nara juga berhenti mengisengi temanmu. Ayo, angkut barang kalian.” Sepertinya Paman Dwipangga cukup peka dengan hubungan Nara dan Wira. Aku mengulum senyum karena muka masam mereka berdua. Aku bahkan tidak tahu apa alasan kenapa mereka bisa sebegitu sulitnya akur. Aku mengekor Nara dan Wira yang sudah lebih dahulu keluar
“Berapa hari lagi ujian dimulai, Paman?” tanya Nara. Sekembalinya dari mengambil barang. Ia menenteng tas berisi pakaiannya dan membawakan tasku. Aku tak memintanya membawakan barangku. Tapi, Nara tipe laki-laki gentle.
“Tiga hari lagi. Istirahatlah dalam waktu tiga hari itu.”
***