Kanvas-kanvas putih berukuran sedang yang belum sempat tergores cat warna di masukannya ke dalam koper. Sejak kepulangannya dari New York, Leah Schultz sibuk mengemas barang di kamarnya yang terang, namun Leah tidak berniat untuk menurunkan semua hasil lukisannya yang ia kumpulkan sejak kecil dari dinding kamarnya. Begitu juga dengan rak besar yang di simpan di depan tempat tidur, seluruh ambalannya penuh dengan hasil karya Leah, mulai dari lukisan amatir yang dia buat saat berusia 11 tahun sampai lukisan profesional yang bisa di jual. Leah membiarkan semua itu terpajang seakan ia memang tak akan meninggalkan ruangan kesukaannya ini. Bibirnya tersenyum lesu sekali lagi sambil memandangi semua lukisannya, seolah dengan memandanginya semakin membuat Leah yakin dengan keputusannya untuk pindah ke New York esok hari.
Karena sudah duduk terlalu lama sejak bangun tidur, Leah beranjak dan mendekati jendela. Mengamati bunga-bunga yang bermekaran diantara rumput hijau depan rumahnya. Sebentar lagi, pemandangan macam ini akan jarang dilihatnya. Tentu saja ia akan dengan mudah merindukan udara Texas yang hangat karena tubuhnya harus bisa beradaptasi dengan cuaca New York yang sedikit lebih dingin. Di New York pula, Leah akan mulai tinggal di lingkungan yang di kelilingi gedung-gedung tinggi, jauh berbeda dengan rumahnya yang tidak bertingkat tapi mempunyai halaman luas. Namun tetap saja di luar semua itu, New York di anggap nya sebagai masa depan, sebagai tempat mewujudkan mimpinya sejak kecil. Jadi dia tidak merasa terlalu terpaksa harus pindah dari Texas, tempat dimana ia tumbuh menjadi seorang pelukis seperti sekarang. Ya, memang benar ia tidak merasa terpaksa, kecuali saat dia melihat pria tua yang kini sedang duduk di dekat bar. Ayahnya tentu satu-satunya orang yang merasa sedih dan sedikit keberatan akan kepindahannya.
Di ambang pintu, Leah sibuk mengamati ayahnya yang tak sadar di perhatikan. Dari balik punggungnya yang sudah sedikit membungkuk, Leah tahu ayahnya pasti sedang memikirkan sesuatu, seperti yang sering dilakukannya beberapa hari terakhir.
“Hey Dad, apa yang kau lakukan pagi-pagi begini?” Setelah berdiri cukup lama di ambang pintu, Leah memeluk ayahnya dari samping yang tengah duduk di kursi sandar andalannya.
“Pagi Apple,” Ayah nya melirik Leah sejenak dengan susah payah, lalu tertawa kecil dan melanjutkan, “Apple of my eyes. Aku sedang melihat foto-fotomu.” Kulit tangan Randall Schultz yang mulai memunculkan kerutan menyentuh setiap foto di dalam album yang ada di pangkuannya.
“Ah, selalu saja memanggilku dengan sebutan itu, kau tahu aku bukan lagi anak kecil.” Leah masih belum melepaskan pelukannya, dia malah membenamkan wajahnya di leher Randall. Ia tak ingin di anggap anak kecil namun hal yang sedang dia lakukan sama sekali tidak sejalan dengan apa yang di protesnya tadi.
“Saat kau sudah jauh dariku, aku bersumpah kau akan sangat merindukan panggilan itu.”
“Wah, ini saat kita pertama kali merayakan ulang tahunku.” Telunjuk Leah mengarah ke satu foto melewati wajah ayahnya, mengulur waktu untuk membahas hal yang sama berulang kali. Ayahnya senang sekali memancing pembicaraan.
Leah menyadari wajah Randall yang tertekuk dan tidak menanggapi kalimatnya, “Ayolah, apakah kau akan terus bersedih sepanjang aku jauh darimu?” Lalu ia melepaskan pelukannya dan mulai membuat sarapan. Leah jelas tahu apa yang membuat ayahnya murung beberapa hari ini.
“Aku tidak percaya hobi mu sejak kecil akan membuatmu menjauh dariku. Aku bahkan akan berusaha agar bisa membuatkan kelas lukis mu di sini, Nak.”
Leah menurunkan bahunya, “Bukankah kita sudah membahas ini?” Tidak tertarik untuk membicarakannya lebih lanjut.
“Baiklah, baiklah. Kau sudah besar dan aku menghargai keputusanmu.” Randall menutup album dan mulai berjalan ke arah dapur, dimana putri nya berkegiatan.
“Ingatlah bahwa aku pergi bukan karena aku tak menyayangimu, Dad.”
“Iya aku tahu itu.” Jelas Randall. Walau bibirnya berkata demikian, namun sampai hari ini hati kecil nya masih belum bisa melepaskan Leah. “Ayo mana roti ku?” Lanjutnya.
Tangan Leah yang masih meninggalkan noda warna-warni akibat membereskan koleksi cat lukisnya semalam dengan lenturnya menggerak-gerakan pisau berlapis mayones di atas satu helai roti. Ia memerhatikan ayahnya yang memandang kosong ke arah jendela di belakang Leah.
“Ku rasa sebaiknya kau mulai lagi untuk mencari pendamping, kau tahu itu hanya agar kau tak kesepian.”
Randall menarik napas agak berat, “Jangan membicarakan hal semacam itu padaku. Kau yang lebih pantas mencari pendamping untuk masa tuamu nanti.”
“Hmmm… Sepertinya belum waktunya. Mungkin karena aku di besarkan oleh seorang Randall Schultz, aku jadi tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan siapapun.”
Mata Randall mengamatinya lekat-lekat. “Pria tua sepertiku lebih baik fokus pada pekerjaan. Kau lah yang harus mulai mencari teman pria agar tak ada yang memandangmu sebagai seseorang yang menyukai sesama…”
“Hentikan, Dad. Siapa pula yang peduli.” Leah memutar bola matanya sambil menyodorkan satu piring berisi dua tumpuk sandwich ke hadapan Randall.
Randall belum cukup puas menggoda putrinya, padahal Leah sudah menunjukkan jurus memutar bola andalannya akibat kesal. “Terhitung sejak kau beranjak remaja, hanya ada berapa pria yang kau ajak ke rumah ini? Seingatku hanya Daniel, Oscar, dan siapa yang jangkung dan berambut gimbal itu?”
“Dad! Sudahlah, berhenti mendesakku dengan pembicaraan tentang pencarian pasangan ini.”
Tawa Randall melebar, “oke oke aku berhenti. Tapi berjanji lah untuk menjadikan ku sebagai orang pertama yang akan kau ceritakan begitu kau bertemu pria New York.”
Pada saat yang bersamaan, Leah tidak sempat menanggapi ayahnya lagi karena pukul 8 adalah waktu yang terlalu berisik untuk mengobrol. Bibi Diana -begitulah Leah menyebutnya- datang dengan segerombolan suara anjing seperti biasa. Diana Taylor adalah tetangganya sekaligus seseorang yang sudah bekerja di rumah Randall Schultz selama kurang lebih 7 tahun terakhir. Wanita paruh baya itu membantu Randall dan Leah untuk mengurus rumah. Setiap hari Diana datang pukul 8 dan akan pulang pukul 2 siang, tugas pasti nya adalah memberi makan anjing-anjing mereka sesaat sebelum ia mengerjakan hal lain.
“Selamat pagi Schultzs. Semakin hari mereka semakin besar saja.” Sapa Diana Taylor sedikit berteriak sambil menggiring anjing-anjing itu.
Belum sempat ia menyapa Diana, keributan sudah menyerangnya lebih dulu. “Oh, oh Sheba, Rusty, Chester ikuti Bibi Diana. Apa yang kalian lakukan dengan kakiku?” Keluh Leah sambil menyebut nama ketiga anjing peliharaan yang mengganggunya di dapur. Sementara tiga lainnya dengan tenang mengikuti Diana ke halaman belakang untuk makan.
“Lihat, mereka tidak rela kau pergi besok.”
“Dad, sarapan lah lebih dulu. Aku ingin menemani mereka makan.” Lagi-lagi Leah menghindari pembicaraan itu. Ia tahu hanya akan ada kesedihan jika mereka terus membahasnya.
“Yang benar saja kau lebih memilih menemani anjing makan dari pada ayahmu sendiri.” Randall bergumam sendirian setelah langkah kaki Leah menjauh menghampiri ke enam anjingnya, Leah jelas masih bisa mendengar keluhan itu.
“Bibi Diana, biar aku saja. Kau bisa mengerjakan yang lain.” Katanya begitu ia sampai di halaman belakang rumahnya.
Diana mengangguk. “Tentu. Kau harus menghabiskan banyak waktu bersama mereka sebelum terbang besok,” dan memberikan kotak besar berisi makanan anjing pada Leah.
Para anjing dengan berbagai ras itu makan dengan rakus, membuat Leah sibuk memerhatikan mereka dan tidak bisa mengalihkan pandangan. Ia sendiri tidak percaya bahwa esok akan benar-benar tiba, karena ternyata masih ada yang harus di tinggalkannya selain ayahnya. Ke enam anjing yang sudah menemaninya selama dia hidup di Texas juga mau tak mau harus berpisah dengannya. Faktanya, mereka bukanlah anjing adopsi, bukan juga anjing yang sengaja di beli di Pet Shop, melainkan anjing tak bertuan yang di temukan di jalanan. Kalau bukan karena ayahnya yang sangat penyayang pada binatang, Leah pasti tidak akan mempunyai teman sebanyak ini.
Salah satu anjing tertua di rumah keluarga Schultz menghampiri Leah dengan tatapan yang tak biasa. Ginger, seekor Golden Retriever jantan yang gagah meninggalkan mangkuk makan nya yang belum habis. Bulu halusnya yang panjang dan berwarna emas tua itu bergerak gerak seiring dengan langkah kaki nya yang lebar, lalu membenamkan kepalanya begitu sampai di perut Leah. Ginger adalah satu-satunya anjing yang bukan mereka temui di Texas, melainkan di Los Angeles, tempat tinggal Leah yang lama. Namun meski begitu, Ginger adalah satu-satunya yang sangat dekat dengan Leah.
“Ginger, apakah kau sedih?” Sebagian besar wajah Ginger habis di usap dan di cium Leah, tindakan yang selalu di sukai anjing tua bertubuh besar itu.
“Kau tidak usah takut saat aku tidak bersamamu. Kau tahu, Dad adalah dokter hewan paling hebat di Texas, dia akan menjamin kesehatanmu selama aku pergi. Dad pasti tahu jika matamu bermasalah lagi.” Kini Leah memeluk Ginger. Objek yang sedang Leah ajak bicara memang bukan manusia, namun anjing pintar ini seakan mengerti apa yang dikatakan tuan nya. Karena sekarang wajahnya memelas dan tak ingin melepaskan diri, bahkan sepertinya Ginger tidak tertarik untuk menghabiskan makanannya.
Sambil membiarkan dirinya basah di jilat oleh Ginger, Leah kembali teringat pada masa ia menemukan anjing ini di Los Angeles bertahun-tahun lalu.
…
Randall Schultz melepas kaca mata hitamnya setelah turun dari mobil. Acara yang baru saja di hadirinya membuat dia memutuskan untuk mengabulkan keinginan putrinya. Leah memaksa pergi ke tempat tinggal lamanya sebelum mereka kembali ke Texas. Sebenarnya tidak banyak yang ingin Leah lakukan, dia hanya penasaran dengan kondisi rumah lama sejak dia meninggalkan lingkungan ini dua tahun lalu. Itu juga hanya karena mereka sedang berada di Los Angeles, menurutnya kesempatan ini hanya akan terjadi satu kali.
“Aku bahkan lupa kapan terakhir kali meninggalkan rumah ini. Bangunan ini membuat ku tidak ingin mengingat apapun.” Leah membuka mulut, lebih tepatnya dia berbicara untuk dirinya sendiri ketika melihat kondisi rumahnya. Selain penasaran dengan itu, ada satu hal lagi yang ingin ia lihat namun ia merasa tak perlu memberitahu Randall. Walaupun ia sendiri tidak mengharapkan apa-apa dari apa yang di carinya.
“Rumah ini sudah hancur karena tidak terawat.” Randall melepaskan tangan Leah dan menatap bangunan tua di depannya. Pagar kayu yang rapuh, beberapa genting yang juga sudah lepas, rumah ini sama sekali tidak pantas di sebut tempat tinggal.
Leah tidak mengikuti Randall yang berjalan lebih jauh ke arah rumah itu, dia lebih tertarik dengan suara anjing yang sedari tadi menggonggong pelan tak jauh dari tempat nya berdiri. Anjing itu ada di depan rumah yang juga kosong, -namun keadaan rumah itu lebih baik- berjarak tiga rumah dari tempat tinggal lamanya. Merasa dirinya terpanggil oleh anjing itu, Leah mulai menghampiri tanpa ragu.
“Hei manis.” Leah agak ragu saat hendak menyentuh kepala anjing berjenis Golden Retriever yang ukurannya tidak terlalu besar, namun anjing itu sangat ramah pada Leah. Kemudian Leah menyadari ada luka di kaki anjing itu dan dia teringat sesuatu.
"Ginger! Apakah kau benar Ginger?” Tanya Leah lebih kepada dirinya sendiri.
“Cepat sekali kau membirkan nama pada anjing itu.” Randall Schultz sudah berdiri di sampingnya begitu dia menyadari bahwa Leah tidak di dekatnya tadi.
Leah tampak berpikir sejenak, “Aku dan temanku dulu yang memberinya nama Ginger.” Ia ingat betul temannya yang juga pemilik rumah ini. Leah sempat berteman sebelum temannya pindah entah kemana.
“Kau yakin dia anjing yang sama?” Ujar Randall sambil mengikuti gaya Leah yang tengah berjongkok.
“Bekas luka di kakinya ini terlalu meyakinkan dan sulit untuk membuatku tidak percaya bahwa dia memang Ginger. Aku dan temanku yang mengobatinya. Dulu dia sangat kecil seperti anjing yang baru lahir.” Ginger adalah bayi anjing yang tak bertuan selalu diam di rumah ini. Kemudian tangan Leah tidak berhenti mengusap tubuh Ginger yang sudah membesar dari terakhir kali dia melihatnya dan sepertinya anjing itu menyukainya.
“Aku juga ingat matanya yang kecil ini saat dia bayi dan pertama kali membuka mata. Dia sama sekali tidak berubah.”
“Mungkin dia sudah punya tuan sekarang.”
Kalimat Randall membuat pandangan Leah menyapu sekeliling, “aku tidak menemukan siapapun di sini. Lagi pula di Amerika, anjing yang bertuan tidak mungkin berkeliaran Dad.”
Randall tersenyum membenarkan perkataan anak perempuannya sambil terlihat mengamati anjing itu, “Kau ingin membawanya pulang bersama kita ke Texas?” Lalu ia kembali berdiri dan mengenakan kaca mata nya akibat matahari yang terik.
Leah menatap singkat mata Randall yang tertutup kacamata, “aku tidak berani berharap jika kau tidak mengijinkannya.”
“Tentu saja aku juga menyukai si bulu berwarna emas ini.”
“Apa itu artinya aku boleh merawatnya seumur hidupku?” Suara Leah berubah antusias.
“Ya, seperti aku yang akan melakukan hal yang sama padamu.” Jawab Randall.
Leah tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia nya dan dia dengan cepat melompat ke arah Randall. Membiarkan tubuhnya mungil nya di putar-putar di depan rumah kosong milik teman lamanya.
Masih dalam pelukan Randall, matanya menatap satu jendela penuh debu di depannya. “Aku tidak akan mengingatmu dan bertanya tanya tentang mu lagi setelah ini, aku dan Ginger akan pergi jauh dan tidak akan pernah kembali persis seperti yang kau lakukan.” Batin Leah