“Dad, yang benar saja? Belum satu hari aku meninggalkan Texas dan kau sudah menghubungiku.”
Leah baru tiba di New York tiga jam yang lalu dan sekarang ia mulai kesal karena Ayahnya sibuk merecokinya.
“Aku hanya mencari waktu sebelum kau benar-benar sibuk, Apple.”
Bola mata Leah berputar. “Berhenti menyebutku dengan sebutan buah itu.” Ia senang sekali berdebat dengan Ayahnya.
“Bisakah kau bersikap manis pada Ayahmu ini?”
“Oh baiklah. Jadi, apa yang sedang Ginger lakukan?”
“Astaga anak ini.” Randall Schultz protes dan membuat Leah tertawa lebar.
Sambil berbincang dengan ayahnya di telepon, Leah membuka satu demi satu koper yang berisi sebagian alat lukisnya. Ruang utama apartemennya berantakan, semua barang belum ada pada tempatnya dan itu membuat Leah lumayan bingung bagaimana cara menatanya.
“Anak itu di luar. Sudah setengah jam ia di teras, terlihat murung dan lehernya tidak berpisah dari lantai.”
Leah tersenyum sambil membayangkan anjing kesayangannya itu. Ginger pasti bingung mengapa majikannya ini tidak memberi kecupan pagi.
“Sesekali ajak lah dia menonton TV bersamamu, Dad. Dia kesepian tanpaku.”
Randall berdecak. “Uh, apakah aku terlihat ada waktu bahkan untuk menyalakan TV, sayang?”
Leah mengangkat bahunya. “Seharusnya dia ikut bersamaku.”
“Kau bisa mengambilnya kapan pun kau mau.”
“Akan aku pikirkan. Hei Dad, sepertinya aku harus pergi sekarang. Scott menungguku di galeri sementara apartemen ini masih berantakan. Aku bahkan tak yakin bisa makan siang atau tidak.”
“Hei, kau bahkan belum memberitahuku bagaimana situasi di sana.” Lagi-lagi Randall menahannya untuk mengakhiri panggilan.
“Astaga aku tidak ada waktu untuk itu.”
Ayahnya membuang napas berat. “Jangan terlalu memaksakan diri.”
Andai saja bisa. Tapi bukankah semua orang harus memaksakan diri jika ingin pekerjaannya cepat selesai? Tentu saja, dan Leah yakin ayahnya tahu itu. Mereka hanya sedang beradaptasi karena ini kali pertama Leah dan Randall hidup terpisah.
“Mau tak mau aku harus mulai membereskannya. Kita akan berbicara lagi nanti. Bye Dad, aku mencintaimu.” Ujar Leah dan memutuskan panggilan sepihak.
Seharusnya Leah memiliki banyak waktu di hari pertama kedatangannya di New York, mungkin sekedar menikmati Sundae atau duduk menikmati matahari dengan kacamata hitam di cuaca yang mulai panas ini. Namun apa boleh buat, ia datang ke sini untuk tujuan yang jelas. Karir nya tidak menyuruhnya untuk bersantai.
Dengan kekacauan di apartemennya, Leah mulai merasa gerah. Sehingga ia harus beberapa kali menepiskan rambutnya yang bergelombang ke belakang. Sebelum meninggalkan apartemen, setidaknya ia harus menyingkirkan koper-koper ini dari penglihatannya. Hari ini akan berjalan sangat panjang, jadi Leah tak mau begitu pulang nanti, hal pertama yang ia lihat adalah serakan barang-barangnya yang sangat banyak ini. Ia mulai mendorong koper dan memasukannya ke dalam lemari besar di sudut ruangan.
Siang ini Leah ada janji dengan Scott, si pemilik galeri seni yang mulai akrab dengannya. Mereka akan mulai membicarakan banyak hal, termasuk pameran dan studio lukis Leah yang tak lama lagi akan di buka. Namun Leah pikir ini akan memakan waktu lama, maka ia kembali mengangkat ponselnya, mencari kontak Scott di sana.
“Hai Scott bagaimana kabarmu?”
“Cuaca hari ini tak memberiku alasan untuk tidak dalam keadaan baik. Bagaimana denganmu, oh, apakah kau sudah sampai?”
“Aku mendarat beberapa jam lalu, namun ada sedikit masalah. Ku kira aku akan sedikit terlambat menemuimu di galeri.”
“Tidak masalah, sayang. Aku pun ada janji dengan orang lain selain dirimu. Tapi pastikan saja kau datang sebelum gelap.”
“Sempurna! Sampai bertemu nanti, Tuan Hubacher.”
Leah merasa lega karena lelaki yang terpaut umur cukup jauh dengannya itu memakluminya. Ia akan berutang budi seumur hidupnya pada Scott karena sudah memberi kesempatan ini.
Selagi Leah melanjutkan kegiatannya membereskan barang, ia di hentikan oleh pemandangan dari balik dinding kaca apartemennya. Leah berhenti sejenak, membuka jendela, menghirup udara dan mengamati semua yang tertangkap matanya. Di kota hutan bangunan ini, hidupnya sebagai pemimpi akan benar-benar di mulai.
...
Bukan rahasia lagi, New York meraih gelar sebagai negara bagian terpadat ke empat di Amerika Serikat. Dengan penduduk yang hampir mencapai 20 juta jiwa dan kendaraan yang tak kalah padatnya, semua orang yang tinggal di kota ini harus bersedia menerima kenyataan itu. Tidak terkecuali bagi Kiev Johnson yang baru saja merasa lega karena telah berhasil memarkikan mobil tidak jauh dari gedung tujuannya.
“Mr. Johnson!” Sapa seseorang begitu Kiev membuka pintu kaca yang besar.
Kiev membuka kacamata hitamnya dan menyalami lelaki berjanggut itu. “Akhirnya kita bertemu, Mr. Hubacher.”
“Uh uh, lihatlah cuaca di luar. Aku setuju New York panas sekali siang ini.”
“Musim panas rasanya hanya akan tiba dalam beberapa jam ke depan.” Kiev berasumsi, setelah melewati musim dingin yang panjang, ia seolah belum siap dengan panasnya cuaca tahun ini.
Kedua lelaki itu tertawa selagi mengamati ruangan. “Area yang cukup luas, kau hebat bisa menemukan tempat seluas ini untuk bisnis mu, Mr. Hubacher.” Ujar Kiev memuji.
Lelaki di hadapannya tersenyum singkat, “Scott mungkin akan terdengar lebih akrab.”
Permintaan itu hanya membuat Kiev mengangguk tersenyum. Scott adalah klien Kiev selanjutnya. Setelah diskusi pertama mereka dua bulan lalu yang harus di lakukan daring, akhirnya Kiev bisa menemuinya hari ini.
“Kita bisa mengobrol di ruanganku. Aku sudah tidak tahan ingin mengakhiri diskusi kita di surel ataupun Facetime.” Ujar Scott antusias.
“Maaf karena aku baru bisa menemuimu hari ini, membangun firma sendiri ternyata tidak semudah yang ku kira.”
Kiev baru saja membuka firma design interior miliknya sendiri delapan bulan ke belakang. Setelah memutuskan untuk keluar dari pekerjaan lamanya di Amsterdam, ia akhirnya memberanikan diri membangun firmanya sendiri bersama sahabatnya. Tanpa di sangka-sangka, Scott adalah klien ke lima yang sudah ditanganinya sejak perluncuran pertama. New York membuatnya sibuk tak berkesudahan.
Scott terlihat sangat memaklumi. “Sudahlah, anak muda yang tengah sibuk tidak seharusnya meminta maaf. Ayo, akan ku tunjukan jalannya.”
Langkah Kiev mengikuti Scott yang berjalan di hadapannya. Ia mengamati ruangan yang di lewatinya dan sesekali ide muncul. Terkadang, gagasan di kepalanya muncul tanpa aba-aba. Mereka tiba di ruangan Scott yang tidak terlalu besar namun terlihat nyaman. Sofa berbahan kulit coklat dengan tanaman hijau di pinggirnya terkesan elegan.
“Silahkan duduk, jadi kita harus mulai dari mana. Pembicaraan kita di surel belum benar-benar serius.”
Kiev mengangguk setuju. “Kita akan membahas anggran yang siap kau keluarkan, dengan begitu aku bisa mulai menata sesuai dengan pengeluaranmu. Aku akan membuatkan contoh gambarnya dan kau akan memeriksa jika saja harus ada yang di perbaiki nantinya.”
“Itu bukan masalah. Namun sebenarnya, aku harus berkata jujur padamu.” Ujar Scott sedikit ragu, membuat Kiev bertanya-tanya. Bukan hanya galeriku yang memerlukan sentuhan rancanganmu, tapi juga ada satu tempat tambahan.”
Kening Kiev berkerut, ia sudah menyiapkan waktu untuk klien selanjutnya setelah Scott. Ia tidak yakin jika harus merancang satu proyek lagi. “Oh, aku belum menyiapkan waktu untuk yang satu itu.”
“Aku tahu ini mendadak, tapi ku harap kau bisa mempertimbangkannya.”
Selagi Kiev berpikir, pintu ruangan Scott terbuka tanpa ketukan. Seorang wanita berambut coklat terang memunculkan kepalanya. Kiev melihat dengan jelas mata gadis itu membelalak ketika tahu bahwa Scott tengah berbincang dengan dirinya, ia dan gadis itu sempat berpandangan beberapa detik.
“Schultz, tunggu di luar!” Kiev mendengar bisikan Scott pada gadis itu. “Oh, maaf Kiev. Anak itu memang selalu terburu-buru.”
“Selagi kau memikirkan itu, aku akan keluar sebentar.”
Sekat ruangan ini terlalu tipis sehingga Kiev bisa mendengar jelas perbincangan mereka di luar. Kiev tidak memiliki sifat yang suka mencampuri urusan orang, namun kali ini sesuatu mendorongnya untuk mendengar percakapan antara Scott dan gadis itu.
“Schultz, apakah tanganmu cedera sampai lupa mengetuk pintu? Itu tamu penting.”
“Maafkan aku, Scott. Aku tidak tahu kau tengah bertemu seseorang.”
“Kau bilang akan terlambat, bukan?”
“Ya, tapi aku mulai muak membereskan apartemen. Jadi aku langsung menemuimu.”
“Dengar, kau tunggu di sini. Aku akan membiarkanmu masuk jika memang perlu. Asal kau tahu, dia yang akan merancang ruangan untuk studio mu nanti.”
Jika yang Kiev dengar tadi tidak salah, ia merasa bisa mempertimbangan permintaan Scott.