Cabang yang dipimpin Ryo mengalami masalah besar ketika audit menemukan sejumlah laporan biaya tidak sesuai. Tidak ada bukti Ryo mengambil uang, tetapi sebagai pemimpin ia bertanggung jawab atas pengawasan tim.
Atasannya meminta ia menandatangani laporan yang menyatakan kesalahan dilakukan seorang staf administrasi. Ryo menolak karena transaksi bermasalah juga disetujui manajer lama sebelum dirinya datang.
“Kalau saya tanda tangan, Nita akan menanggung semuanya,” katanya kepada Acha melalui panggilan video.
“Ada bukti persetujuan manajer lama?”
“Ada, tapi beberapa berkas hilang.”
Acha menyarankan Ryo menyimpan salinan dokumen yang masih tersedia dan berkonsultasi dengan bagian kepatuhan pusat. Ia berhenti sebelum terdengar seperti mengambil alih.
“Maaf. Ryo pasti sudah tahu.”
“Tidak perlu minta maaf karena memberi pendapat. Keputusan akhirnya tetap saya.”
Ryo melaporkan masalah tersebut. Akibatnya, ia dicopot sementara dari jabatan sampai pemeriksaan selesai. Kabar itu menyebar di kantor dan membuat sebagian staf menganggapnya gagal memimpin.
Sarah menawarkan memindahkannya kembali ke pusat tanpa menunggu audit. Ryo menolak perlindungan khusus. Ia ingin proses membuktikan apa yang terjadi.
Acha bangga, tetapi khawatir Ryo mengorbankan diri demi prinsip. Ia menawarkan datang. Ryo meminta agar ia tidak membatalkan jadwal penting hanya karena merasa harus menyelamatkannya.
“Aku datang bukan buat menyelamatkan,” kata Acha. “Aku cuma mau nemenin.”
Kali ini Acha berangkat tanpa menunggu ada pekerjaan di kota sekitar. Ryo menjemputnya dengan wajah lelah. Apartemennya tidak serapi kunjungan pertama. Dokumen memenuhi meja dan makanan instan menumpuk di dapur.
Acha tidak mengomel. Ia memesan makan, lalu duduk memeriksa jadwalnya sendiri sementara Ryo menyelesaikan laporan. Kehadiran tanpa percakapan panjang membuat ruangan terasa lebih ringan.
Keesokan hari, mereka menemui konsultan hukum perusahaan. Bukti menunjukkan pengeluaran palsu telah berlangsung sebelum Ryo memimpin. Namun Ryo tetap lalai karena tidak memeriksa dua akun lama ketika mengambil alih.
“Saya siap menerima evaluasi atas kelalaian itu,” katanya. “Tapi saya gak akan menandatangani laporan yang menyalahkan satu staf.”
Nita kemudian menyerahkan salinan cadangan yang disimpannya. Ia takut mengeluarkannya karena manajer lama mengancam akan melaporkan kesalahan administrasi kecil miliknya. Dengan dokumen tersebut, aliran dana akhirnya dapat ditelusuri.
Pemeriksaan membebaskan Ryo dari dugaan penyalahgunaan, tetapi perusahaan memberi teguran atas pengawasan yang lemah. Manajer lama dilaporkan kepada pihak berwenang.
Atasan menawarkan Ryo kembali memimpin dengan syarat memperpanjang penempatan enam bulan. Kesempatan itu membuatnya bimbang. Kariernya akan berkembang dan ia dapat memperbaiki sistem yang gagal, tetapi ia sudah kelelahan hidup jauh dari keluarga serta Acha.
Mereka membicarakannya di tepi sungai. Acha menegaskan dirinya akan mendukung pilihan apa pun, meski berharap Ryo pulang.
“Kali ini aku berani bilang,” katanya. “Aku pengin kamu dekat. Tapi aku gak mau keinginanku jadi perintah.”
Ryo mengaku juga ingin pulang. Selama ini ia takut keputusan kembali akan terlihat seperti bukti dirinya tidak mampu menyelesaikan penempatan.
Acha menunjuk jam tangannya. “Apa tulisannya?”
“Pulang bukan berarti gagal.”
“Aku kasih itu bukan cuma buat hiasan.”
Ryo tetap meminta waktu satu malam agar keputusan tidak dibuat hanya karena Acha sedang berkunjung. Ia menghitung keuangan, berbicara dengan keluarga, dan menyusun rencana penyerahan tugas.
Pagi berikutnya, Ryo menolak perpanjangan. Ia bersedia tinggal sampai pengganti ditemukan dan sistem audit diperbaiki, tetapi akan kembali sesuai akhir penempatan awal.
“Yakin?” tanya Acha.
“Yakin. Saya mendapat pengalaman yang saya cari. Bertahan lebih lama hanya untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain bukan alasan yang sehat.”
Mereka merayakannya dengan kembali ke toko roti. Nita ikut bergabung dan mengucapkan terima kasih karena Ryo tidak membiarkannya dijadikan kambing hitam. Ia juga meminta maaf kepada Acha karena masalah kantor membuat Ryo melewatkan penayangan dokumenter.
“Bukan salah kamu,” jawab Acha. “Dan masalah ini memang lebih penting dari satu acara.”
Acha benar-benar memercayai kata-katanya kali ini.
Sebelum pulang, ia membantu Ryo menyusun kardus kosong. Masih ada beberapa bulan sebelum kepindahan, tetapi melihat kardus itu membuat masa depan terasa lebih dekat.
“Kalau sudah pulang, kita gimana?” tanya Ryo.
“Tetap saling kenal. Bedanya gak perlu video call buat makan bareng.”
“Statusnya?”
Acha menarik napas. Ia telah menunggu kepastian seolah sebuah nama akan menciptakan keamanan. Padahal selama berbulan-bulan, tindakan mereka sudah menunjukkan pilihan masing-masing.
“Kalau Ryo masih mau, aku mau kita pacaran,” katanya.
Ryo tersenyum, tetapi tidak langsung menjawab. Ia bertanya apakah Acha membuat keputusan karena dirinya akan pulang.
“Enggak. Aku memutuskan karena selama jauh pun aku tetap memilih jujur sama kamu. Pulang cuma bikin aku berhenti cari alasan buat menunda.”
Ryo menerima. Tidak ada cincin atau janji besar. Mereka hanya berjabat tangan seperti dua orang yang menandatangani perjanjian, lalu tertawa karena kebiasaan itu terlalu mirip pekerjaan.
Acha menarik tangan Ryo dan memeluknya.
“Yang ini gak ada pasal pembatalan?” tanya Ryo.
“Ada. Kalau kamu bohong, mengatur hidupku, atau lupa sarapan tiga hari berturut-turut.”
Ryo menambahkan pasal bahwa Acha tidak boleh menghilang ketika marah. Kesepakatan lucu itu tidak memiliki kekuatan hukum, tetapi dibangun dari pelajaran yang mereka jalani bersama.
Ketika kereta Acha berangkat, jarak belum benar-benar berakhir. Namun kali ini ada tanggal kepulangan dan keputusan yang dibuat tanpa pengorbanan tersembunyi. Ryo akan kembali bukan demi menyelamatkan hubungan mereka, melainkan karena ia sendiri memilih kehidupan yang ingin dibangun.
Dalam perjalanan, Acha memberi kabar kepada Firza dan Lina mengenai status barunya. Lina membalas dengan puluhan gambar perayaan, sedangkan Firza hanya menanyakan kapan Ryo dapat diajak makan malam resmi.
“Kenapa semua orang lebih heboh daripada aku?” keluh Acha melalui pesan suara.
Ryo menjawab bahwa selama ini semua orang sudah melihat hubungan mereka, hanya Acha yang membutuhkan waktu untuk memberi nama.
Mereka juga sepakat tidak mengumumkannya kepada publik. Bukan karena malu, tetapi karena Acha ingin memiliki sesuatu yang tidak langsung berubah menjadi bahan berita. Dariel diberi tahu sebagai sahabat dan pemimpin agensi agar tidak terkejut jika kabar muncul.
Dariel mengirim ucapan selamat disertai ancaman bercanda kepada Ryo. Sarah justru meminta maaf karena dahulu menjadikan kedekatan mereka bagian rencana. Kini ia berjanji tidak ikut campur.
Acha menatap pemandangan dari jendela kereta. Ia pernah mengira hubungan harus disembunyikan untuk membuatnya aman atau dipamerkan agar terasa nyata. Bersama Ryo, ia menemukan pilihan ketiga: menjaganya dengan batas yang mereka tentukan sendiri.