Melati berangkat mengikuti program akting dua minggu kemudian. Hanya Dariel, Acha, dan Lina yang mengantarnya ke bandara. Sarah memilih tidak datang agar perpisahan itu tidak terasa seperti pengawasan keluarga Hardiansyah.
Dariel memberikan sebuah buku catatan kepada Melati. Tidak ada permintaan agar ia pulang atau menunggu. Ia hanya berpesan supaya perempuan itu menuliskan semua hal yang dipelajari.
“Terima kasih masih datang,” kata Melati.
“Kita tetap teman.”
Melati menatapnya cukup lama, lalu mengangguk. Ia memeluk Acha sebelum melewati pemeriksaan.
“Jaga Panggung Baru,” pesannya.
“Jaga diri sendiri dulu.”
Kepergian itu langsung diberitakan. Banyak orang menduga Melati kabur setelah putus dari Dariel. Panggung Baru mengeluarkan keterangan bahwa keberangkatannya merupakan program pendidikan yang telah melalui proses resmi. Tidak ada rincian hubungan pribadi yang diberikan.
Acha mengira perhatian media akan tetap tertuju pada Melati. Ternyata dua hari kemudian, sebuah foto dirinya memeluk Ryo di stasiun beredar. Foto itu diambil pada kunjungan terakhirnya dan disertai judul bahwa Acha merebut asisten Sarah setelah gagal mendapatkan Dariel.
Dariel membanting salinan artikel ke meja rapat. “Kenapa semua hubungan harus dibilang rebutan?”
“Karena judul ‘dua orang dewasa pacaran’ kurang menarik,” jawab Acha.
Tim hubungan masyarakat menanyakan apakah mereka boleh mengonfirmasi hubungan itu. Acha meminta waktu untuk berbicara dengan Ryo. Ia tidak ingin keputusan dibuat hanya karena media lebih dahulu mengetahui.
Ryo sedang memimpin rapat ketika ditelepon. Mereka baru dapat berbicara malam hari. Acha menjelaskan pilihan yang tersedia: menyangkal, diam, atau mengonfirmasi tanpa memberi rincian.
“Kamu maunya apa?” tanya Ryo.
“Aku mau hubungan ini tetap milik kita. Tapi menyangkal terasa kayak malu.”
“Diam tidak sama dengan menyangkal.”
Mereka sepakat tidak membuat pengumuman khusus. Jika ditanya dalam pekerjaan resmi, Acha akan mengatakan sedang menjalin hubungan, tetapi identitas dan rinciannya bersifat pribadi. Ryo akan memberi jawaban serupa kepada perusahaan.
Keputusan itu diuji pada konferensi promosi dokumenter. Seorang wartawan menunjukkan foto tersebut dan bertanya apakah Ryo adalah target baru.
Acha menatap lurus ke depan. “Saya sedang memiliki hubungan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan lama saya. Saya tidak akan memberikan nama atau rincian lain.”
Wartawan berikutnya bertanya apakah Sarah kembali membayar hubungan tersebut. Dariel mengambil mikrofon sebelum Acha menjawab.
“Pertanyaan tentang dokumenter silakan,” katanya. “Menghina kehidupan pribadi artis kami tidak akan mendapat jawaban.”
Video sikap Dariel menyebar dan mendapat dukungan. Namun Acha menghubunginya setelah acara untuk memastikan ia tidak membela karena merasa berutang.
“Aku membela aturan agensi,” jawab Dariel. “Kalau besok wartawan melakukan hal sama ke artis lain, aku juga akan berhentiin.”
“Bosku ternyata berguna.”
“Terlambat sadar.”
Masalah belum selesai. Sarah dipanggil dewan perusahaan karena Ryo dianggap memiliki konflik kepentingan. Ia adalah pegawai Hardiansyah Group sekaligus pasangan artis dalam agensi yang dimiliki keluarga tersebut.
Ryo menawarkan mengundurkan diri setelah menyelesaikan penempatan. Acha menolak jika keputusan itu dibuat hanya untuk melindungi namanya.
“Saya memang sudah mempertimbangkan pekerjaan lain,” kata Ryo. “Saya ingin posisi yang tidak membuat setiap keputusan pribadi dianggap bagian tugas Bu Sarah.”
Mereka membicarakannya bersama penasihat kepatuhan. Solusinya, Ryo tidak boleh menangani urusan apa pun yang terkait Panggung Baru dan Acha. Setelah pulang, ia dapat dipindahkan ke divisi berbeda atau mengikuti perekrutan di perusahaan lain.
Sarah menyatakan tidak akan memberi rekomendasi khusus selain catatan kinerja yang sama seperti pegawai lain. Ryo setuju.
Di tengah persoalan tersebut, Acha menerima tawaran iklan besar. Merek itu bersedia memakai wajahnya jika ia mengunggah foto romantis bersama Ryo untuk memanfaatkan perhatian publik.
Nilai kontraknya dapat mengganti hampir seluruh pekerjaan yang hilang. Manajer menyerahkan keputusan tanpa memberi tekanan.
Acha menolak.
“Dulu aku dibayar memainkan hubungan,” katanya. “Aku gak mau hubungan nyata berubah jadi pekerjaan baru.”
Ryo mengetahui tawaran tersebut dari laporan konflik kepentingan. Ia bertanya apakah Acha menyesal kehilangan uang sebanyak itu.
“Sedikit,” jawab Acha jujur. “Tapi aku lebih menyesal kalau nanti setiap kali pegang tanganmu, aku mikir soal jumlah tayangan.”
Sebulan setelah foto beredar, perhatian media mulai berkurang. Beberapa orang masih mengirim komentar buruk, tetapi hubungan mereka tidak runtuh karena tidak dipamerkan atau disangkal.
Pada panggilan video malam Minggu, Ryo memperlihatkan kardus-kardus yang mulai terisi. Penempatannya akan berakhir enam minggu lagi.
“Aku boleh jemput?” tanya Acha.
“Boleh, asal gak batalin kerjaan.”
“Aku atur jadwal.”
Acha menutup panggilan dengan perasaan tenang. Ia pernah mengira menjaga rahasia berarti membangun kebohongan. Kini ia memahami privasi berbeda dari penipuan. Mereka tidak menyembunyikan keberadaan satu sama lain, hanya menolak menyerahkan hubungan kepada publik.
Rahasia yang sehat tidak meminta seseorang menyangkal kenyataan. Ia hanyalah ruang yang pintunya dapat dibuka oleh pemiliknya sendiri.
Beberapa hari kemudian, fotografer yang mengambil gambar di stasiun menawarkan foto lain kepada Panggung Baru agar tidak diterbitkan. Dariel menyerahkan pesan tersebut kepada pengacara karena terdengar seperti pemerasan.
Foto tambahannya tidak memuat sesuatu yang memalukan. Acha dan Ryo hanya terlihat berbicara serta berpelukan. Namun Acha kesal karena momen pribadi diperlakukan sebagai barang dagangan.
“Kalau kita beli, orang itu akan terus datang setiap punya foto,” kata Acha. “Jangan.”
Agensi mengirim peringatan hukum dan menyiapkan keamanan ketika Acha bepergian. Pada wawancara berikutnya, Acha menjelaskan batasnya dengan tenang. Ia tidak menyangkal memiliki pasangan, tetapi tidak memberi izin media mengikuti keluarga atau tempat tinggal mereka.
Tanggapan publik lebih banyak mendukung. Beberapa penggemar bahkan menegur akun yang mencoba menyebarkan alamat apartemen Ryo.
Acha tetap mengganti rute dan melaporkan ancaman. Namun pengalaman itu membuktikan ia dapat mengatakan “ya, hubungan itu ada” dan “tidak, kalian tidak berhak memiliki seluruh bagiannya” dalam waktu bersamaan.
Ryo mengatakan bangga karena Acha mempertahankan batas tanpa menyerang siapa pun. Acha membalas bahwa pelajaran tersebut mahal karena kehilangan kontrak iklan. Mereka tertawa, tetapi tahu ada sesuatu yang lebih berharga daripada bayaran: hak menentukan bagian hidup yang tetap menjadi milik mereka.