Kehidupan Acha perlahan menemukan ritme baru. Ia tidak lagi menerima pekerjaan sebanyak dahulu, tetapi setiap kontrak kini diperiksa bersama tim hukum Panggung Baru. Ia juga mengisi pelatihan bagi model muda dan terlibat dalam pengembangan seri lanjutan dokumenter.
Hubungannya dengan Ryo berjalan tanpa pengumuman resmi. Mereka kadang terlihat makan bersama, tetapi tidak menanggapi tebakan media. Ryo mulai nyaman dengan divisi barunya, sementara Acha belajar bahwa memiliki pasangan di kota yang sama tidak berarti harus bertemu setiap hari.
Pada suatu sore, sebuah paket tiba di apartemen. Tidak ada nama pengirim. Di dalamnya terdapat telepon baru dan sebuah kartu bertuliskan satu nomor.
‘Satu pekerjaan terakhir. Bayaran dua kali lipat dari tarif tertinggimu.’
Acha langsung memasukkan semuanya kembali ke kotak. Ia menelepon Lina dan keamanan gedung, lalu melaporkannya kepada pengacara. Telepon itu diperiksa tanpa dinyalakan karena mungkin berisi alat pelacak.
“Mbak tahu siapa pengirimnya?” tanya Lina.
“Enggak. Tapi dia tahu alamat dan tarif lamaku.”
Hanya beberapa mantan klien yang mengetahui angka tertinggi tersebut. Arsip Big5 juga mungkin memuat catatan pembayaran tidak resmi. Setelah kasus Vino, banyak salinan data beredar di antara staf dan pengacara.
Malamnya, nomor pada kartu menghubungi ponsel kerja Acha. Pengacara menyarankan agar ia tidak menjawab. Namun pesan berikutnya memuat foto Firza sedang keluar dari kantor.
‘Kami hanya ingin bicara. Kalau menolak, masa lalu ayahmu akan menjadi berita berikutnya.’
Acha memberi tahu Firza. Ayahnya terlihat kesal, tetapi tidak terke surprisedkan terkejut. Ia menduga ancaman berhubungan dengan seorang mantan rekan bisnis bernama Bram yang pernah menjadi pemegang saham Big5.
“Dia tidak pernah terseret kasus karena Vino menyembunyikan keterlibatannya,” jelas Firza. “Bram memakai jasa perempuan untuk mendapatkan informasi dari pesaing. Bisa jadi dia tahu pekerjaan rahasiamu dari awal.”
“Kenapa Ayah baru bilang sekarang?”
“Karena Ayah tidak punya bukti. Dan kamu sudah cukup menghadapi perkara Vino.”
Acha marah. Ia merasa Firza kembali memilihkan informasi apa yang boleh diketahuinya. Firza meminta maaf dan mengakui niat melindungi telah membuatnya mengulang kesalahan Sarah.
“Mulai sekarang, gak ada lagi rahasia yang menyangkut keselamatanku,” tegas Acha.
“Ayah setuju.”
Mereka memeriksa dokumen lama bersama. Bram ternyata pernah mengirim pembayaran kepada salah satu perusahaan cangkang milik Vino. Ia juga memiliki hubungan dengan merek yang baru-baru ini menawari Acha kontrak iklan berbayar tinggi.
Ryo datang setelah selesai bekerja. Ketika mendengar ancaman tersebut, reaksi pertamanya adalah meminta Acha tinggal sementara di tempat aman. Ia berhenti sebelum mengubah kekhawatiran menjadi perintah.
“Menurutmu bagaimana?” tanyanya.
Acha memilih meningkatkan keamanan apartemen dan tinggal bersama Firza beberapa hari. Ia tidak ingin sendirian, tetapi juga tidak ingin bersembunyi tanpa batas waktu.
Telepon dalam paket akhirnya diperiksa. Tidak ada bom atau pelacak, hanya aplikasi komunikasi yang telah dipasang. Polisi mengizinkan pengacara menyalakannya di lingkungan terkontrol.
Pesan pertama muncul segera.
‘Targetnya istri seorang calon gubernur. Dekati suaminya dan dapatkan rekaman. Tidak ada hubungan fisik. Tiga miliar dibayar di muka.’
Acha mengenali pola tawaran itu. Dulu ia akan menilai tingkat kesulitan, menyusun karakter, dan menghitung bonus. Sekarang yang dirasakannya hanya muak karena seseorang menganggap pengakuannya di depan publik tidak lebih dari strategi menaikkan tarif.
Pengacara menyarankan membalas untuk mengumpulkan bukti. Polisi belum dapat bertindak hanya berdasarkan paket dan pesan. Acha bersedia bekerja sama, tetapi menetapkan batas bahwa dirinya tidak akan bertemu pengirim tanpa operasi resmi.
Ia mengetik, ‘Lima miliar dan identitas klien harus jelas.’
Balasan datang beberapa menit kemudian. Pengirim menyetujui harga dan mengirim lokasi pertemuan di hotel. Nama klien tetap dirahasiakan.
Rencana dibuat. Seorang polisi perempuan akan masuk menggantikan Acha setelah kamera hotel memperlihatkan siapa yang datang. Acha hanya berada di ruang pemantau.
Ryo tidak menyukai keterlibatannya. “Kita baru saja keluar dari kasus Vino.”
“Aku tahu. Tapi kalau aku diam, mereka akan mencari perempuan lain.”
“Mbak tidak bertanggung jawab menyelamatkan semua orang.”
“Aku juga gak mau jadi pahlawan. Aku cuma saksi yang bisa membantu.”
Setelah berbicara panjang, Ryo memahami perbedaannya. Ia tidak ikut operasi karena tidak memiliki kewenangan. Ia menunggu bersama Firza di kantor pengacara.
Hari pertemuan tiba. Dari layar pemantau, Acha melihat seorang lelaki berkacamata memasuki kamar hotel. Ia bukan Bram, melainkan mantan manajer jadwal Big5 bernama Anton. Lelaki itu membawa kontrak dan uang muka tunai.
Polisi perempuan yang menyamar meminta identitas klien. Anton mengatakan semuanya berasal dari Bram, tetapi target politik tersebut sebenarnya hanya kedok. Tujuan mereka adalah merekam Acha menerima uang, lalu memakainya untuk membuktikan dokumenter Panggung Baru penuh kebohongan.
Setelah bukti cukup, petugas masuk. Anton ditangkap dan perangkatnya disita. Di dalam laptop ditemukan percakapan dengan Bram serta rencana menyebarkan foto Firza.
Bram dipanggil untuk diperiksa. Ia menyangkal, tetapi jejak transfer dan pesan menghubungkannya dengan jebakan tersebut. Kasus baru dibuka atas dugaan ancaman, pemerasan, dan penyalahgunaan data pribadi.
Saat Acha kembali ke kantor pengacara, Firza langsung memeluknya. Kali ini ia tidak marah karena Acha mengikuti operasi yang direncanakan dengan aman. Ryo menunggu sampai Firza melepaskan pelukan, kemudian bertanya bagaimana perasaannya.
“Marah,” jawab Acha. “Mereka pikir aku gak mungkin berubah, jadi aku pasti mau menerima uang lagi.”
“Keputusan mereka tidak menentukan perubahanmu,” kata Ryo.
Panggung Baru mengeluarkan pernyataan singkat bahwa ada upaya menjebak salah satu artisnya dan perkara telah diserahkan kepada pihak berwenang. Tidak ada nama calon gubernur atau rincian pekerjaan palsu yang diumumkan.
Dariel ingin memastikan Acha tidak kembali menerima tawaran semacam itu sendirian. Ia mengusulkan Panggung Baru membuka saluran pelaporan untuk artis yang mendapat pekerjaan mencurigakan. Tim hukum akan memeriksa tanpa menghakimi pelapor.
“Jangan pakai namaku buat programnya,” pesan Acha.
“Tenang. Gak ada yang mau kasih nama ‘Hotline Dek Tua’.”
Candaan Dariel membuat ketegangan mencair. Melati yang mengikuti rapat melalui panggilan video juga tertawa dari luar negeri.
Beberapa hari kemudian, polisi memastikan Bram dilarang meninggalkan kota selama pemeriksaan. Anton bersedia bekerja sama dan menyerahkan daftar orang yang pernah direkrut untuk pekerjaan serupa. Kasus tersebut lebih luas daripada Acha, tetapi kali ini ia tidak mencoba mengurus seluruh korbannya sendiri.
Ia kembali menjalani terapi dan mengakui bahwa tawaran lima miliar sempat membangkitkan rasa kehilangan terhadap kekuasaan yang dahulu dimilikinya. Bukan karena ingin menerima, melainkan karena uang sebesar itu pernah membuatnya merasa tidak dapat disentuh.
“Sekarang apa yang membuatmu merasa aman?” tanya psikolog.
Acha memikirkan Firza, Lina, Dariel, dan Ryo. Namun ia tidak ingin keselamatannya hanya bergantung pada orang lain.
“Kemampuan bilang tidak dan tetap hidup setelahnya,” jawabnya.
Pada malam hari, ia mengajak Ryo makan di warung mi tempat pertemuan pertama mereka. Acha menceritakan jawaban tersebut. Ryo mengingatkan bahwa mengatakan tidak bukan berarti harus menghadapi akibat seorang diri.
“Aku tahu,” kata Acha. “Makanya aku ajak kamu ke sini.”
Ryo tersenyum. Mereka bersulang dengan gelas teh.
Tawaran terakhir itu tidak menggoda Acha kembali menjadi dirinya yang lama. Ia justru membuktikan bahwa perubahan bukan ucapan sekali di depan kamera. Perubahan adalah keputusan yang harus dipilih ulang ketika pintu lama dibuka dan uang besar di baliknya masih terlihat mengilap.
Acha pernah menjadi antagonis dalam banyak cerita. Kini ia tidak berusaha menghapus semua halaman tersebut. Ia hanya memastikan, ketika tawaran berikutnya datang, pena untuk menulis tindakannya tetap berada di tangannya sendiri.