Penyelidikan terhadap Bram berlangsung tanpa keributan sebesar kasus Vino. Polisi melarang semua pihak membicarakan rincian pemeriksaan, sehingga Panggung Baru dapat kembali berfokus pada pekerjaan. Bagi Acha, ketenangan itu justru terasa asing. Selama berbulan-bulan hidupnya selalu dipenuhi ancaman, persidangan, atau berita buruk.
Ketika tidak ada masalah besar yang harus dihadapi, ia mulai bertanya apa yang sebenarnya ingin dilakukan dengan kariernya.
Tawaran pemotretan kembali berdatangan setelah dokumenter mendapat sambutan baik. Sebagian besar menginginkan Acha memainkan karakter perempuan kuat yang bangkit dari skandal. Pada awalnya konsep itu terasa sesuai, tetapi setelah lima tawaran serupa, ia menyadari industri kembali berusaha memasukkannya ke dalam satu peran.
“Dulu antagonis, sekarang mantan antagonis,” keluhnya dalam rapat bersama Dariel. “Apa gak ada peran manusia biasa yang suka makan ayam?”
Dariel menyodorkan sebuah naskah film. Tokohnya adalah perempuan pemilik toko bunga yang kehilangan ibunya dan harus merawat adik. Tidak ada perselingkuhan, skandal, atau adegan menggoda suami orang.
“Produsernya mau kamu ikut audisi,” katanya.
“Audisi? Dia gak langsung kasih perannya?”
“Katanya kemampuan akting kamu harus diuji. Wajah terkenal gak cukup.”
Acha seharusnya tersinggung, tetapi tantangan itu menarik. Selama ini ia sering mendapat peran karena popularitas. Ia tidak pernah mengikuti pelatihan akting dengan sungguh-sungguh.
Melati yang masih berada di luar negeri menawarkan membantu melalui panggilan video. Jadwal mereka berbeda, sehingga latihan sering dilakukan saat Acha baru bangun dan Melati hendak tidur.
“Jangan cuma menghafal dialog,” pesan Melati. “Cari alasan tokohnya menahan kata-kata.”
“Baru sekolah sebentar udah sok jadi guru.”
“Kalau gak mau dibantu, aku tidur.”
Acha segera meminta Melati tetap tinggal. Mereka berlatih berulang kali. Lina menjadi lawan main ketika koneksi internet buruk, sedangkan Dariel menyewa pelatih profesional agar keputusan audisi tidak bergantung pada hubungan pertemanan.
Ryo juga membantu, meski kemampuannya membaca dialog sangat buruk. Ia mengucapkan semua kalimat dengan nada yang sama sampai Acha tertawa dan kehilangan konsentrasi.
“Ryo cocoknya jadi pohon,” kata Acha.
“Pohon tidak punya dialog.”
“Makanya cocok.”
Di balik candaan, Acha merasa gugup. Audisi tersebut akan menjadi penilaian terhadap kemampuan, bukan citra atau kisah hidupnya. Jika gagal, ia tidak dapat menyalahkan skandal.
Hari audisi tiba. Acha bangun jauh sebelum alarm dan mengganti pakaian tiga kali. Ia akhirnya memilih kemeja polos agar penilai lebih memperhatikan akting daripada penampilannya.
Acha datang dengan pakaian sederhana dan tanpa didampingi rombongan besar. Ada belasan aktris lain menunggu, beberapa lebih muda dan memiliki pendidikan akting lebih panjang. Acha hampir menelepon Dariel untuk membatalkan.
Ia teringat kalimat yang ditulisnya sendiri: ketidaktahuan bukan alasan untuk lari. Acha tetap duduk sampai namanya dipanggil.
Di dalam ruangan, sutradara meminta ia memainkan adegan ketika tokoh utama menemukan surat terakhir ibunya. Pada percobaan pertama, Acha menangis terlalu keras dan membuat setiap gerakan terlihat dramatis.
“Bagus, tapi saya melihat Acha sang artis,” kata sutradara. “Saya belum melihat tokohnya.”
Ia diminta mencoba lagi tanpa air mata. Acha memikirkan Firza, satu-satunya orang tua yang masih dimilikinya, serta rasa takut kehilangan seseorang sebelum sempat mengatakan terima kasih. Kali ini ia membaca surat dalam diam dan hanya membiarkan suaranya patah pada kalimat terakhir.
Ruangan hening sesaat. Sutradara tidak memberi pujian. Ia hanya mengucapkan terima kasih dan mengatakan hasil audisi akan disampaikan minggu depan.
Di luar, Acha merasa kosong. Ia menelepon Ryo dan mengaku mungkin telah tampil buruk.
“Apa Mbak sudah melakukan yang terbaik setelah menerima arahan?”
“Sudah.”
“Berarti sisanya keputusan mereka.”
Jawaban sederhana itu mencegah Acha menghabiskan hari dengan menebak-nebak.
Malamnya, kabar lain datang. Polisi menemukan bukti cukup untuk menetapkan Bram sebagai tersangka, tetapi pengacaranya menawarkan kesepakatan pengembalian kerugian dan kerja sama membongkar jaringan perekrutan. Acha diminta memberikan keterangan tambahan.
Ia mendatangi kantor penyidik bersama pengacara. Anton telah mengakui bahwa beberapa perempuan direkrut melalui agensi model dengan janji pekerjaan iklan. Sebagian tidak mengetahui tujuan sebenarnya sampai berada di lokasi.
Acha menyerahkan nama-nama yang masih diingatnya dari masa lalu. Ia tidak menuduh tanpa bukti, hanya menjelaskan kapan dan bagaimana tawaran pernah disampaikan.
Seorang penyidik bertanya apakah dirinya bersedia menjadi saksi di pengadilan jika perkara dilanjutkan.
“Bersedia,” jawabnya.
Kali ini jawaban itu tidak terasa seperti memasuki permainan lain. Ia tahu prosedurnya, memahami batas perannya, dan memiliki pendamping.
Seminggu setelah audisi, Dariel memanggil Acha ke kantor. Sutradara film ikut menunggu melalui sambungan video. Acha berusaha membaca ekspresi mereka, tetapi keduanya menjaga wajah serius.
“Kami ingin menawarkan peran itu kepada Anda,” kata sutradara. “Dengan syarat mengikuti lokakarya akting selama dua bulan.”
Acha menutup mulutnya. Ia ingin langsung menerima, tetapi meminta kontrak dikirim untuk diperiksa lebih dahulu. Kebiasaan baru itu membuat Dariel tersenyum bangga.
Setelah sambungan berakhir, Acha berteriak dan memeluk Lina. Dariel ikut diberi pelukan meski mengeluh hampir tidak dapat bernapas.
“Aku dapat karena audisi, kan?” tanya Acha.
“Iya. Bukan karena dokumenter dan bukan karena aku.”
“Bagus.”
Sore itu ia menemui Ryo di warung mi. Ryo membawa sepotong kue kecil untuk merayakan. Acha bercerita tentang lokakarya, jadwal syuting, dan ketakutan bahwa dirinya tidak cukup berbakat.
“Takut lagi?” tanya Ryo.
“Iya. Ternyata berubah gak bikin takut hilang.”
“Mungkin berubah membuat kita tetap bergerak meski takut.”
Acha mengangguk. Ia memandang orang-orang di warung yang tidak memperhatikannya. Tidak ada kamera, berita, atau kontrak rahasia di meja mereka.
Selama ini Acha mengira panggung adalah tempat dengan lampu paling terang dan tatapan paling banyak. Kini ia memahami panggung yang sebenarnya dapat muncul di mana saja seseorang harus memilih tindakannya: ruang sidang, ruang terapi, meja kerja, atau percakapan bersama orang yang dicintai.
Peran yang diterimanya dalam film mungkin membawa kembali popularitas, mungkin juga gagal di pasaran. Namun keberhasilannya yang paling penting sudah terjadi sebelum kamera menyala. Acha berhasil datang sebagai dirinya sendiri, menerima penilaian tanpa manipulasi, dan tetap merasa berharga sebelum mengetahui hasilnya.
Sebelum pulang, Ryo menanyakan apakah peran baru itu akan mengharuskan Acha pergi lama. Jadwal sementara menunjukkan syuting selama tiga bulan di luar kota. Kali ini Ryo tidak menyembunyikan bahwa ia kecewa membayangkan jarak kembali muncul.
“Dulu aku yang belajar ditinggal kerja,” kata Acha. “Sekarang gantian Ryo.”
Mereka tidak langsung menyusun aturan. Kontrak belum selesai dan jadwal dapat berubah. Namun keduanya sepakat pengalaman jarak jauh pertama akan dipakai sebagai pelajaran, bukan alasan menolak kesempatan Acha.
Ryo mengantar Acha sampai mobil dan memintanya memberi kabar setelah tiba. Acha mencium pipinya cepat sebelum masuk. Seorang pengunjung warung mungkin melihat, tetapi ia tidak lagi memeriksa apakah ada kamera.
Momen itu bukan strategi untuk memperbaiki citra ataupun bahan iklan. Ia hanya ucapan terima kasih kepada seseorang yang mendampinginya tanpa mengambil alih panggung.
Di rumah, Acha menempelkan halaman pertama naskah di meja kerja. Di sampingnya ia meletakkan surat penghentian kontrak lama bersama Sarah. Dua dokumen itu menunjukkan jalan yang sangat berbeda: satu memintanya memainkan perasaan orang, sedangkan yang lain mengundangnya memainkan tokoh dengan jujur.
Untuk pertama kalinya, Acha tidak ragu memilih panggung mana yang ingin dimasukinya.