"Kakak salah. Itu tiga."
Audya menatap tutup botol yang berjejer di atas meja. Benar. Hanya tiga, bukan empat seperti yang baru saja diucapkannya. Naura memandang dengan kedua alis terangkat, menunggu pengakuan dari gurunya.
"Iya, kakak salah hitung. Untung Naura teliti."
"Kakak kok bisa salah?"
"Bisa. Kakak juga masih belajar."
Naura menerima jawaban itu dengan anggukan serius. Gadis kecil tersebut kembali menyusun tutup botol berdasarkan warna. Audya menarik napas pelan. Dia harus berhenti memikirkan pesan yang belum dibalas Andira. Dari kantor sampai rumah ini, layar ponselnya sudah terlalu sering diperiksa.
Sebelum pulang tadi, dia sudah menyerahkan daftar dokumen yang belum lengkap pada Mayang. Pekerjaan kantor bisa ditinggalkan di sana. Urusan rumah ternyata tidak semudah itu. Selalu ikut terbawa, bahkan ketika dirinya sedang berusaha mengajarkan penjumlahan sederhana.
Audya memasukkan ponsel ke tas.
Di sudut meja, buku kecil Naura masih terbuka pada halaman minggu lalu. Angka dua yang dahulu miring kini sudah lebih mudah dikenali. Audya menyentuh halaman itu, lalu memuji usaha muridnya. Dia nyaris melewatkan kemajuan sederhana tersebut karena sibuk memikirkan urusan sendiri. Naura sudah menunggunya sejak sore. Dua jam yang dibayar keluarga ini memang seharusnya digunakan untuk Naura. Audya menggeser kursi lebih dekat dan meminta gadis kecil itu menunjukkan latihan yang paling disukainya.
"Sekarang Naura yang kasih kakak soal. Boleh pakai tutup botol merah atau biru."
Wajah muridnya langsung cerah. Menjadi pihak yang memberi pertanyaan ternyata jauh lebih menyenangkan. Naura sibuk memindahkan benda-benda kecil itu, lalu meminta Audya menghitung. Kali ini Audya memperhatikan sungguh-sungguh.
Ketika pelajaran selesai, Naura mengeluarkan kertas gambar dari bawah buku. Ada tiga orang dengan tangan saling terhubung. Satu memakai baju biru, satu berbaju merah muda, dan yang paling kecil memiliki rambut dikuncir dua.
"Ini kita waktu main. Ini papa, ini Nau, ini kakak."
Audya tersenyum. "Boneka kelincinya mana?"
Naura menepuk kening. Dia segera mengambil krayon dan menggambar sesuatu di dekat tangan sosok paling kecil. Telinganya jauh lebih panjang daripada tubuhnya. Audya tidak berkomentar. Kalau Naura bilang itu kelinci, ya kelinci.
"Kakak bawa, ya. Buat di rumah."
"Bukannya mau ditunjukkan ke papa dulu?"
"Nanti papa lihat. Habis itu kakak bawa."
Seolah menunggu disebut, suara langkah terdengar dari arah pintu. Argantara muncul dengan lengan kemeja yang sudah digulung. Naura langsung turun dari kursi dan menghampiri sambil mengangkat gambarnya tinggi-tinggi.
"Papa pulang! Lihat ini. Jangan ditekuk, ya."
Argantara menerima kertas itu. Tatapannya berpindah dari gambar ke Audya yang ikut berdiri.
"Sudah selesai belajarnya?"
"Sudah, Pak. Tadi latihan menjumlahkan."
"Kakak tadi salah. Nau yang benar," lapor Naura tanpa diminta.
Audya ingin menutup wajah. Tentu saja bagian itu yang dilaporkan lebih dahulu. Bukan saat dirinya berhasil membuat Naura duduk dan menghitung sampai selesai.
Argantara menatap putrinya dengan alis terangkat. "Oh, begitu?"
"Saya sempat salah menghitung, Pak," aku Audya. "Sudah dibetulkan Naura."
Pria itu mengangguk, lalu membungkuk mendengarkan penjelasan panjang tentang tutup botol. Naura bahkan menarik tangannya agar ikut duduk. Audya bergeser sedikit untuk memberi tempat.
Di saat seperti ini, wajah Argantara berbeda dengan yang biasa dilihatnya di kantor. Masih wajah yang sama, tetapi dia tidak tampak terburu. Dia menunggu Naura selesai bicara, meski beberapa bagian ceritanya diulang sampai dua kali.
Ponsel Argantara berdering. Naura langsung berhenti di tengah kalimat.
"Papa kerja lagi?"
Argantara melihat layar, menolak panggilan, kemudian mengetik pesan singkat.
"Nanti papa telepon balik. Sekarang Naura tadi sampai mana?"
Audya menunduk, merapikan buku yang belum perlu dirapikan. Ada rasa hangat yang muncul tanpa diminta. Dia tahu satu panggilan yang ditunda tidak berarti semua masalah selesai. Namun wajah Naura yang kembali cerah cukup menjelaskan betapa berartinya beberapa menit itu.
"Pak, kalau sempat, latihannya bisa diulang pakai benda di rumah. Tidak perlu lama. Lima atau sepuluh menit juga boleh."
Kalimat itu keluar sebelum Audya sempat mempertimbangkan siapa yang sedang diberinya saran. Dia langsung menambahkan penjelasan dengan gugup.
"Maksud saya, supaya Naura ingat. Bisa sama mbak pengasuh juga."
"Caranya seperti tadi?"
"Iya. Misalnya menghitung sendok sebelum makan. Jangan terlalu banyak dulu. Kalau sudah lelah, berhenti."
Argantara mengambil dua tutup botol. "Kalau papa punya dua, lalu Naura kasih satu, jadi berapa?"
"Tiga! Gampang itu, Pa."
"Kalau begitu besok kasih papa soal yang lebih susah."
Naura tertawa. Audya ikut tersenyum sambil memasukkan alat tulis ke tas. Sore yang tadi terasa berat perlahan lebih ringan. Paling tidak, satu anak di hadapannya sedang bahagia.
Larasati datang ketika Audya hendak berpamitan. Wanita itu menanyakan perkembangan cucunya, lalu mendengarkan penjelasan Audya tanpa memotong.
"Dia lebih mudah kalau pakai benda langsung, Bu. Kalau hanya angka di buku, cepat bosan."
"Ya sudah, pakai cara yang membuat dia senang belajar saja. Jangan dipaksa harus cepat."
Audya mengangguk lega. Dia sempat takut dianggap terlalu lambat karena masih mengulang hal yang sama.
"Kamu sendiri kuliah dan magangnya masih lancar?" tanya Larasati.
"Masih, Bu."
"Kalau jadwalnya berbenturan, kabari. Supaya Naura tidak menunggu."
"Baik, Bu."
Audya memikirkan pertemuan besok pagi. Untungnya tidak berbenturan dengan jadwal les. Cukup satu tempat kerja yang perlu dimintai izin. Dia tidak ingin membatalkan pelajaran lagi hanya karena belum mampu mengatur semuanya.
Setelah menumpang salat, Audya kembali ke ruang depan. Naura menunggunya bersama gambar yang sudah disimpan di antara dua lembar kertas kosong agar tidak kusut.
"Kakak pulang sekarang?"
"Iya. Ibu kakak menunggu di rumah."
Naura tampak hendak merajuk, tetapi kali ini dia hanya memegang tangan Audya sebentar.
"Besok papa yang main hitung sama Nau. Kakak datang lagi hari Kamis, ya?"
"Iya. Jangan lupa istirahat juga."
Argantara mengantar sampai teras. "Perlu diantar?"
Audya menggeleng. "Terima kasih, Pak. Masih ada angkutan. Haltenya juga belum sepi."
Dia mengatakannya tanpa tergagap. Mungkin karena barusan melihat pria itu duduk menghitung tutup botol. Ternyata bos besarnya bisa diajak bicara seperti manusia biasa juga. Pikiran itu membuat Audya hampir tertawa sendiri.
"Kalau sudah sampai, kabari."
Audya mengangguk, lalu berjalan keluar sambil memegang map tipis berisi gambar Naura. Di angkutan, dia sempat membukanya lagi. Tiga orang bergandengan tangan. Sederhana sekali, tetapi dibuat dengan sungguh-sungguh.
Sesampainya di rumah, senyumnya mereda ketika melihat Dina duduk di samping ayah. Andira belum pulang. Pesannya juga belum mendapat jawaban.
Audya meletakkan tas, mencuci tangan, lalu duduk menghadap ibunya.
"Bu, tadi wali kelas Andira telepon. Besok kita diminta datang ke sekolah."
Dina langsung menegakkan punggung. "Kenapa?"
"Masalah kehadiran. Kita dengarkan langsung besok, ya. Aku ikut."
Wajah Dina memucat. Audya menggenggam tangan ibunya sebelum wanita itu mulai meminta maaf lagi.
"Sekarang kita cari tahu dulu, Bu. Jangan menebak-nebak sendiri."
Dia mengucapkannya juga untuk dirinya. Sebab di dalam kepala, berbagai kemungkinan sudah berebut meminta dipercaya.