Kursi di depan ruang guru terasa terlalu sempit untuk kegelisahan Dina. Sejak tiba, wanita itu beberapa kali membuka tasnya, memastikan surat dan kartu pelajar lama Andira yang dibawa tidak tertinggal. Padahal barangnya tetap berada di sana.
Audya duduk di sampingnya dengan pakaian kerja. Semalam dia sudah mengirim pesan kepada Mayang, menjelaskan keperluan pagi ini dan meminta izin datang terlambat. Balasannya tidak panjang. Mayang mengizinkan, tetapi meminta Audya mengabari perkiraan waktu tiba.
Lebih baik begini daripada terlambat diam-diam lalu kebingungan mencari alasan. Audya baru belajar bahwa memberi tahu sebelum terjadi ternyata jauh lebih menenangkan.
"Ayah kamu nanti bagaimana kalau mau ke kamar mandi?" bisik Dina.
"Sebelum berangkat sudah dibantu, Bu. Bu Dewi juga sudah mau menemani sampai ibu pulang. Nanti kita langsung kembali."
Dina mengangguk, tetapi jari-jarinya masih meremas tali tas. Menit berikutnya, dia menanyakan hal yang sama dengan kalimat berbeda. Audya menjawab sekali lagi tanpa meninggikan suara.
Pintu terbuka. Seorang guru mempersilakan mereka masuk dan memperkenalkan diri sebagai Bu Sari. Di meja sudah tersedia catatan kehadiran serta beberapa lembar tugas.
"Terima kasih sudah datang, Bu. Saya ingin mencocokkan informasi dulu. Beberapa hari ini Andira tidak hadir. Dari salah satu temannya, kami mendengar dia bilang sedang ada urusan keluarga."
Dina menatap Audya. Audya membalas tatapan itu sebentar, kemudian menghadap guru di depannya.
"Ayah kami memang sempat dirawat. Tapi kami tidak meminta Andira bolos, Bu. Belakangan dia juga tidak tinggal di rumah."
Kalimat terakhir membuat tenggorokannya terasa kering. Mengatakannya pada orang asing seperti mengakui sesuatu yang selama ini gagal mereka tangani.
Bu Sari tidak langsung menegur. Dia menanyakan kapan terakhir Andira pulang, apakah keluarga mengetahui tempat tinggalnya, dan nomor yang masih bisa dihubungi. Dina menjawab terbata. Audya membantu melengkapi tanpa menutupi kepergian adiknya.
Setiap menyebut hari, Dina menoleh seolah meminta Audya memastikan ingatannya. Mereka akhirnya mencatat urutannya pada selembar kertas. Ternyata ada beberapa hari yang sama sekali tidak mereka ketahui dihabiskan Andira di mana. Audya menatap ruang kosong di antara tanggal-tanggal itu. Selama ini, marah telah membuatnya terlalu mudah mengatakan bahwa dia tidak peduli.
"Kami perlu memastikan dia aman dulu," ujar Bu Sari. "Setelah itu baru bicarakan kehadiran dan tugasnya."
Audya mengangguk. Rasa kesalnya pada Andira belum hilang. Namun mendengar orang lain menyebut keselamatan adiknya membuat kalimat-kalimat yang biasa dia pakai untuk membenarkan sikap acuh terasa tidak cukup lagi. Andira memang menyebalkan. Andira juga masih lima belas tahun.
"Bu, saya mau bertanya. Apa ada kegiatan sekolah yang biayanya tiga juta lima ratus?" tanya Audya.
Kening Bu Sari berkerut. "Kegiatan yang mana?"
"Adik saya meminta uang dengan alasan acara sekolah."
Bu Sari memeriksa agenda di mejanya, lalu menggeleng. "Tidak ada kegiatan dengan biaya itu dalam waktu dekat. Kalau ada pembayaran resmi, ada pemberitahuan untuk orang tua."
Dina menutup matanya sebentar. Audya merasa telapak tangannya kembali panas. Meski sudah menduga, mendengar kepastian tetap berbeda. Empat juta yang diberikan ibunya bukan untuk keperluan seperti yang dikatakan Andira.
"Mungkin dia salah menyampaikan," gumam Dina.
Audya hampir menyahut. Dia menahan diri dengan menggigit bagian dalam pipi. Berdebat di sini tidak akan mengembalikan uang, apalagi membawa adiknya pulang.
Bu Sari menghubungi seorang rekan guru untuk meminta bantuan memanggil teman dekat Andira. Sementara menunggu, dia menunjukkan tugas-tugas yang belum dikumpulkan. Ada beberapa nilai baik di antara kolom yang kosong.
"Andira sebenarnya bisa mengikuti pelajaran. Sayang kalau dibiarkan semakin tertinggal."
Dina menyentuh sudut kertas itu. "Dulu dia rajin sekali, Bu. Kalau ada lomba, dia yang paling semangat."
"Kemampuan itu masih ada. Tapi kami perlu kerja sama dari rumah. Dia harus hadir dulu supaya bisa dibantu."
Audya memandangi nama adiknya yang tertulis di bagian atas. Di rumah dia hanya melihat tuntutan dan kemarahan Andira. Di kertas ini ada anak yang pernah berusaha. Keduanya sama-sama nyata, meski akhir-akhir ini Audya hanya mau mengingat salah satunya.
Tidak lama kemudian, informasi yang mereka tunggu datang. Andira beberapa malam tinggal di rumah teman sekelas bernama Rani. Dengan bantuan sekolah, ibu Rani dihubungi. Suara wanita itu terdengar heran ketika mengetahui Dina tidak pernah memberi izin.
Andira ternyata mengatakan orang tuanya sudah tahu dia menginap untuk mengerjakan tugas kelompok.
Dina meraih ponsel yang disodorkan Bu Sari. "Boleh saya bicara dengan anak saya?"
Ada jeda cukup lama. Audya mendengar suara samar dari seberang sebelum nada Dina berubah.
"Ibu sekarang di sekolah kamu. Ibu mau kamu pulang hari ini."
Audya tidak bisa mendengar jawaban lengkap Andira. Namun wajah ibunya menegang, lalu perlahan melemah. Dia mengenali perubahan itu. Biasanya setelah ini Dina mulai mengalah.
"Tidak, ibu tidak akan kirim uang lagi," kata Dina tiba-tiba.
Audya menoleh.
"Kamu pulang. Kita bicara di rumah."
Suara Dina bergetar, tetapi kalimatnya tidak ditarik kembali. Setelah percakapan singkat dengan ibu Rani, disepakati Andira akan diantar sore nanti. Audya mencatat nomor wanita itu, meminta izin menyimpannya agar keluarga bisa saling mengabari.
Sebelum meninggalkan sekolah, Bu Sari meminta Dina datang kembali bersama Andira untuk membicarakan tugas yang tertinggal. Mereka belum menentukan semuanya pagi ini. Yang terpenting, Andira sudah ditemukan dan tempatnya dipastikan.
Di luar gerbang, Dina berhenti di bawah pohon.
"Ibu takut dia malah pergi lebih jauh."
Audya menatap jalan. Angkutan yang mereka tunggu belum terlihat.
"Kalau setiap dia mengancam pergi lalu ibu kasih uang, besok begitu lagi."
"Ibu tahu. Tapi ibu sudah pernah kehilangan kakak kamu."
Nama Aliana tidak disebut, tetapi keduanya tahu siapa yang dimaksud. Audya merasakan kekesalannya tersangkut di tenggorokan. Dia sering lupa bahwa sebelum menjadi ibu yang terus mengalah, Dina adalah orang yang bertahun menunggu anak sulungnya pulang.
"Aku juga enggak mau Andira hilang, Bu," jawab Audya lebih pelan. "Tapi aku enggak sanggup kalau semuanya harus dibayar terus."
Dina mengangguk. Untuk pertama kalinya pagi itu, dia tidak langsung meminta maaf. Hanya berdiri di samping Audya sambil menunggu kendaraan datang.
Setelah memastikan ibunya mendapat angkutan menuju rumah, Audya menyeberang untuk mencari kendaraan ke kantor. Jam di ponselnya menunjukkan pagi sudah cukup jauh berjalan. Dia mengirim kabar kepada Mayang sebelum naik.
Balasan masuk saat Audya baru duduk.
Kalau sudah sampai, temui mbak. Kita bahas catatan transaksi kamu kemarin.
Audya membaca pesan itu dua kali. Apakah ada yang salah dengan hasil kerjanya? Dia teringat dua nomor yang berulang dan bukti yang belum lengkap. Semalam kepalanya penuh urusan Andira. Bisa saja ada sesuatu yang terlewat.
Tangannya merapatkan tas di pangkuan. Pagi ini dia baru saja mendengar begitu banyak alasan yang tidak sesuai kenyataan. Dia tidak ingin datang ke kantor membawa hal serupa.
Kalau memang pekerjaannya keliru, dia akan memeriksa dan membetulkannya. Namun sebelum itu, dia harus melihat dokumennya dulu.