Mayang menunjuk dua baris yang diberi tanda pada layar. Audya berdiri di samping mejanya, masih dengan tas tersangkut di bahu. Dia baru hendak meminta maaf karena datang terlambat ketika Mayang mempersilakannya duduk.
"Urusan di sekolah sudah selesai?"
"Untuk pagi ini sudah, Mbak. Terima kasih sudah diizinkan."
"Sekarang lihat ini. Kamu tandai karena nomor buktinya sama?"
Audya mengangguk dan menjelaskan pemeriksaannya. Nomor transaksi serta nominalnya sama, tetapi baris kedua dimasukkan pada tanggal berikutnya. Sementara itu, berkas yang dia terima hanya memiliki satu bukti pembayaran.
"Aku belum hapus karena belum tahu ini salah salin atau memang ada transaksi lain."
"Bagus. Kita cocokkan dengan dokumen aslinya."
Mayang meminta berkas dari petugas yang menyimpan bukti transaksi. Audya menunggu sambil membuka catatannya sendiri. Ketika dokumen tersedia, mereka memeriksa tanggal, penerima, dan nomor pembayaran bersama-sama.
Ternyata satu salinan tercampur ke kelompok hari berikutnya dan dimasukkan lagi. Kesalahan pencatatan, bukan uang yang benar-benar keluar dua kali. Audya mengembuskan napas lega. Sekarang dia tahu apa yang perlu dibetulkan dan mengapa.
"Perbaiki di salinan kerja kamu, lalu catat alasannya. Yang semula jangan ditimpa," pesan Mayang. "Setelah itu periksa totalnya lagi."
Audya kembali ke meja. Andin sempat melirik, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Kali ini Audya juga tidak mencari arti tatapan itu. Dia punya pekerjaan yang lebih jelas daripada menebak isi kepala orang lain.
Menjelang siang, perbaikannya selesai. Audya memeriksa ulang jumlah akhir dan menyerahkan hasilnya kepada Mayang. Dia menunjukkan baris yang berubah serta bukti yang menjadi dasarnya.
Argantara datang saat Mayang sedang membaca catatan tersebut. Audya spontan meluruskan punggung.
"Rekapnya sudah siap?"
"Sudah, Pak. Ada pencatatan ganda yang ditemukan Audya. Sudah kami cocokkan dengan dokumen asli dan diperbaiki. Ini catatan perubahannya."
Argantara memeriksa halaman yang disodorkan. Audya menahan keinginan untuk merapikan rambut. Di sini dia sedang menyerahkan pekerjaan. Tidak ada Naura, tidak ada tutup botol, dan tidak ada alasan untuk tersenyum sendiri seperti orang kehilangan akal.
"Baik. Terima kasih sudah diperiksa," ucap Argantara.
Hanya itu. Namun Audya kembali ke kursinya dengan bahu lebih ringan. Hasil kerjanya berguna. Setelah berminggu merasa hanya menjadi sasaran komentar, dia membutuhkan bukti sederhana seperti itu.
Ponselnya bergetar menjelang pulang. Pesan dari ibu Rani mengabarkan mereka akan mengantar Andira setelah urusannya selesai sore ini. Audya berterima kasih dan memberi tahu bahwa Dina berada di rumah.
Perasaan ringan tadi perlahan berganti tegang. Dia membuka percakapan dengan Andira. Pesan yang dikirim kemarin sudah dibaca, tetapi tetap tidak dijawab.
Audya mengetik beberapa kalimat panjang, lalu menghapus semuanya. Apa gunanya berdebat lewat pesan kalau sebentar lagi bertemu? Dia menyimpan ponsel dan membereskan meja.
Saat tiba di rumah, Dina sedang menata piring. Ada telur dadar di samping tahu goreng. Audya melihat ibunya membagi telur itu menjadi beberapa potong, kemudian menempatkan potongan paling besar di piring yang masih kosong.
Dia tahu untuk siapa.
"Ibu boleh senang dia pulang," kata Audya sebelum sempat menahannya. "Tapi yang tadi kita bicarakan jangan dilupakan."
Dina menghentikan tangannya. "Ibu tidak lupa."
Audya merasa bersalah karena nada suaranya terlalu tajam. Dia mengambil gelas dan mengisinya satu per satu tanpa melanjutkan komentar.
Andira datang tidak lama kemudian. Ibu Rani hanya mengantar sampai depan. Dina mengucapkan terima kasih, sementara Audya berdiri di belakang pintu. Adiknya membawa ransel yang tampak lebih penuh daripada saat terakhir terlihat di rumah.
Tidak ada pelukan. Andira masuk dengan wajah tertutup dan langsung hendak menuju kamar.
"Cuci tangan dulu. Kita makan," panggil Dina.
"Aku enggak lapar."
"Kalau begitu duduk dulu. Ibu perlu bicara."
Andira berhenti. Matanya berpindah dari Dina ke Audya, lalu ke ayah mereka yang duduk di kursi roda dekat meja. Tidak ada yang menaikkan suara, tetapi suasananya membuat Audya ikut sulit bernapas.
"Uang kemarin dipakai untuk apa?" tanya Dina.
"Sudah aku bilang, buat acara."
"Ibu sudah ke sekolah. Tidak ada acara dengan biaya itu."
Andira menarik kursi dengan suara berderit. "Bukan acara sekolahnya. Aku sama teman-teman yang bikin rencana."
"Terus kenapa bilangnya acara sekolah?" sela Audya.
"Karena kalau aku bilang mau pergi sama teman, pasti enggak dikasih."
Jawaban itu membuat Audya menatapnya tidak percaya. Andira mengatakannya seolah kebohongan merupakan jalan keluar yang wajar.
"Jadi memang sengaja bohong?"
"Kakak enggak usah ikut campur. Aku mintanya sama ibu."
Audya meletakkan gelas yang dipegangnya sebelum tangannya semakin gemetar.
"Ibu sampai pinjam uang. Yang bayar aku. Seluruh gaji magangku habis. Kamu pikir itu bukan urusanku?"
Andira membuka mulut, kemudian menutupnya lagi. Untuk pertama kalinya sejak datang, matanya benar-benar menatap Audya.
"Aku enggak tahu."
"Karena kamu enggak pernah tanya."
Rudi menggerakkan tangan di sandaran kursi. Dina segera menoleh, menyangka suaminya ingin minum. Namun pria itu menggeleng dan mengulurkan tangan ke arah Andira. Gadis itu ragu sebelum mendekat. Jemari ayahnya menyentuh punggung tangannya sebentar, lemah tetapi cukup untuk membuat wajah Andira berubah. Audya memalingkan pandangan ke meja. Dia belum sanggup ikut melembut hanya karena adiknya akhirnya pulang. Ada malam di lantai rumah sakit dan rasa takut yang belum selesai dia tanggung. Tidak mungkin semuanya hilang begitu saja.
"Sudah," potong Dina pelan. "Ibu yang memutuskan meminjam. Itu kesalahan ibu. Tapi kamu tetap harus menjelaskan uangnya, Andira."
Hening beberapa saat. Dari jawaban yang keluar sepotong-sepotong, uang itu dipakai membeli pakaian, membayar bagian perjalanan bersama teman, dan kebutuhan selama menginap. Tidak semuanya sudah habis. Namun Andira belum mau menyebut sisa yang pasti.
Audya menekan kedua telapak tangan di atas lutut. Dia ingin menyuruh adiknya membongkar tas saat itu juga. Sebaliknya, Dina mengambil buku kecil dari dekat meja toko.
"Tulis pengeluarannya. Sisa uangnya besok kita hitung bersama. Ibu tidak akan memberi uang tambahan sebelum jelas."
"Terus aku sekolah pakai apa?"
"Ongkos dan makan tetap ibu siapkan. Yang ibu maksud uang untuk pergi dan belanja. Besok ibu antar kamu menemui wali kelas."
Andira menunduk. Audya mengira adiknya akan membanting kursi atau kembali mengancam pergi. Namun bahu yang tadi kaku malah perlahan turun.
"Aku malu kalau harus datang sama ibu. Mereka pasti tanya-tanya."
"Kamu beberapa hari tidak masuk. Gurumu perlu bicara," jawab Dina.
"Bukan guru. Teman-teman."
Audya memandang adiknya lebih lama. Baju baru, uang yang dipaksakan, dan alasan yang berlapis. Mendadak semuanya terlihat memiliki tujuan yang sama, meski belum membuat perbuatannya bisa dimaafkan.
"Mereka tahu keadaan rumah kita?" tanya Audya.
Andira menggeleng kecil.
Di meja, makanan mulai dingin. Audya menarik kursi dan duduk. Kemarahannya belum reda, tetapi kali ini dia tidak meninggalkan ruangan.
"Kamu sudah cerita apa saja ke mereka?"
Andira menatap buku kosong di depannya. Tangannya menggenggam pulpen, tetapi belum menuliskan apa pun. Setelah cukup lama, dia berbisik.
"Banyak, Kak."