Andira sudah mengelap meja untuk kedua kalinya ketika Audya keluar dari kamar. Buku-buku ditumpuk rapi di satu sisi, gelas kosong disiapkan di nampan, dan kipas angin dipindahkan menghadap tempat duduk tamu.
"Kalau dilap lagi, nanti mejanya tipis," ujar Audya.
Andira menatapnya sebentar tanpa tertawa. Tangannya tetap bergerak sampai Dina muncul dari dapur dan menyuruhnya mengganti baju.
"Rani datang buat belajar. Bukan periksa kebersihan rumah."
"Aku tahu, Bu."
Namun Andira masih menyembunyikan kain lap sebelum pergi. Audya memperhatikan meja yang bersih, lalu kursi roda ayah yang berada tidak jauh dari sana. Dia tahu adiknya sedang takut. Rumah yang selama ini digambarkan dengan cerita berbeda akhirnya akan dilihat langsung.
Rani datang tidak lama kemudian dengan tas sekolah dan sekantong jeruk dari ibunya. Andira menyambut di depan toko, sempat berdiri menutupi jalan sebelum sadar tamunya perlu masuk.
"Lewat sini. Hati-hati, lantainya agak tinggi."
Rani mengikuti, lalu menyalami Dina. Ketika melihat Rudi, dia mendekat dan menyapa dengan suara yang biasa saja. Tidak berbisik kepada Andira, tidak memandang kursi rodanya terlalu lama.
Audya merasakan ketegangan di bahunya sendiri berkurang. Ternyata dia juga menunggu reaksi tamu adiknya, meski sejak pagi berusaha terlihat tidak peduli.
"Ibu titip ini, Tante. Katanya buat dimakan bersama."
Dina menerima kantong itu sambil mengucapkan terima kasih. Dia kembali meminta maaf karena keluarga Rani sempat dibuat khawatir oleh urusan Andira.
"Ibu bilang enggak apa-apa, Tante. Yang penting sekarang Andira sudah pulang."
Jawaban Rani sopan, tetapi ketika menoleh kepada Andira, wajahnya belum kembali akrab. Audya tidak berharap satu kantong jeruk bisa membuat seluruh persoalan selesai.
Dia membawa laptop ke kursi dekat toko, memberi mereka ruang untuk belajar. Dina menemani Rudi di bagian dalam. Dari tempatnya, Audya masih bisa mendengar percakapan dua remaja itu meski tidak berniat menguping.
Awalnya hanya pembagian tugas. Rani membaca petunjuk, Andira mengeluarkan catatan yang tertinggal selama tidak masuk. Sesekali mereka bertukar buku tanpa saling menatap.
Kemudian Rani menutup salah satu halaman.
"Gua masih kesal soal ibu gua."
Suara Andira terdengar kecil. "Gua sudah minta maaf."
"Iya. Tapi waktu ditanya ibu, lu bilang tante sudah kasih izin. Ibu percaya sama lu."
Tidak ada jawaban beberapa saat. Audya menahan keinginan menoleh. Ini pembicaraan yang harus diselesaikan Andira sendiri, bukan dengan kakak yang tiba-tiba datang membela atau menambah teguran.
"Gua takut disuruh pulang," ujar Andira akhirnya.
"Terus ibu gua yang jadi ikut bohong padahal enggak tahu apa-apa?"
"Enggak. Gua yang salah."
Audya memindahkan kursor pada layar, tetapi tidak satu kata pun berhasil ditulis. Kalimat terakhir adiknya terdengar berbeda dari permintaan maaf yang biasa keluar ketika ingin pembicaraan cepat selesai.
Rani menarik napas. "Gua datang karena tugas kita tetap harus dikerjakan. Bukan berarti gua sudah lupa semuanya."
"Gua ngerti."
Mereka kembali membuka buku. Kali ini Andira tidak memaksa temannya tertawa atau bersikap seperti sebelum kejadian. Dia mengerjakan bagian yang menjadi tanggung jawabnya dan bertanya ketika ada petunjuk yang tidak dipahami.
Menjelang siang, Audya membawa air tambahan. Rani mendongak dan mengucapkan terima kasih, lalu bertanya apakah kakaknya Andira memang kuliah sambil magang.
"Iya. Masih dijalani dua-duanya," jawab Audya.
"Keren, Kak. Aku lihat tugas kuliah sepupuku saja sudah pusing."
Audya tertawa kecil. "Yang ngerjain juga pusing."
Andira menatap bukunya. Audya tidak menambahkan soal beasiswa atau biaya keluarga. Dia sudah mengatakan kepada adiknya bahwa tidak akan ikut berbohong. Namun itu tidak berarti harus membuka semua keadaan rumah setiap kali ada kesempatan.
Saat Dina mengajak mereka makan, Rani meminta waktu untuk mengabari ibunya terlebih dahulu. Andira memperhatikan temannya menelepon, menjelaskan lokasi dan perkiraan waktu pulang tanpa terlihat keberatan.
Audya pura-pura tidak melihat ketika adiknya diam lebih lama setelah panggilan selesai.
Makan siang berlangsung sederhana. Sayur, tempe, dan telur yang dibagi. Rani makan sambil bercerita tentang guru yang memberi tugas mereka. Dina menanggapi sesekali, sementara Rudi mendengarkan dari kursinya.
Andira tidak mengeluhkan lauk. Dia malah berdiri mengambilkan air ketika gelas Rani kosong. Audya belum tahu apakah itu karena ada tamu atau karena adiknya mulai berubah. Untuk sekarang, dia memilih tidak menguji setiap perbuatan baik dengan prasangka.
Setelah makan, mereka menyelesaikan bagian terakhir tugas. Audya membantu memeriksa satu hitungan yang hasilnya berbeda, tetapi meminta mereka menunjukkan langkahnya terlebih dahulu. Ternyata kesalahan ada pada angka yang tersalin dari halaman sebelumnya.
"Nah, ketemu. Kakak cuma bantu lihat. Yang betulkan tetap kalian."
Rani tertawa, sedangkan Andira mencoret angka yang salah. Ruang tengah tidak lagi sekaku saat tamu itu baru datang.
Menjelang sore, Rani bersiap pulang.
Andira sempat menghentikannya sebelum tas benar-benar diangkat.
"Nanti gua boleh telepon ibu lu? Mau minta maaf sendiri. Yang waktu itu gua cuma ngomong sebentar."
Rani mengangguk. "Nanti gua tanyakan ibu lagi sibuk atau enggak."
Tidak ada janji bahwa panggilan itu akan mengembalikan semuanya seperti semula. Namun Andira tampak menerima jawaban tersebut tanpa memaksa. Dia mengantar temannya melewati toko, lalu membantu memindahkan satu kardus kosong agar jalan keluar lebih lapang.
Dina yang sedang merapikan piring melihat dari dalam. Dia tidak ikut menjelaskan bahwa Andira sebenarnya anak baik atau meminta Rani memaklumi. Audya memperhatikan ibunya menahan kalimat yang biasanya langsung keluar untuk melindungi anak. Kali ini, Andira diberi kesempatan membawa permintaan maafnya sendiri sampai selesai.
Sebelum pergi, Rani mengingatkan agar bagian tugas Andira dikirim malam itu, bukan besok pagi.
"Iya. Jam delapan sudah gua kirim."
Setelah temannya pergi, Andira masih berdiri memandangi jalan. Audya membawa gelas kotor ke dapur, lalu kembali karena adiknya belum masuk.
"Kenapa?"
"Dia enggak bilang apa-apa soal rumah."
Audya bersandar pada kusen. "Memangnya kamu berharap dia bilang apa?"
Andira menggeleng. Matanya mulai basah, tetapi dia cepat mengusapnya dengan lengan.
"Gua takut selama ini ternyata cuma ada di kepala gua."
Audya tidak langsung mengatakan semuanya memang begitu. Dia tidak mengenal seluruh teman Andira. Mungkin ada yang suka membandingkan barang, mungkin ada ucapan yang benar-benar pernah menyakitinya. Namun kebohongan adiknya tetap keputusan yang dibuat sendiri.
"Kalau ada yang pernah bikin kamu malu, ceritakan. Tapi jangan jadikan itu alasan buat menyakiti orang rumah."
Andira mengangguk. Kali ini dia tidak membalas dengan tuduhan bahwa Audya selalu merasa paling benar.
Malamnya, tugas dikirim sebelum jam delapan. Setelah itu Andira membawa ponsel kepada Dina dan mengajari cara menghubungi nomor Audya yang sudah ditaruh paling atas.
Audya menerima panggilan dari jarak beberapa langkah. Suara ibunya terdengar bersamaan dari ponsel dan ruang tengah, membuat mereka bertiga tertawa karena bingung harus mendengarkan yang mana.
Tidak semua rasa kecewa hilang pada hari itu. Namun ketika Audya kembali membuka laporan, rumah terasa lebih ringan. Ada hal-hal yang akhirnya mulai dikatakan apa adanya, meski masih diselingi diam yang panjang.