"Kakak jangan langsung pulang. Oma mau ketemu."
Naura menyampaikan pesan itu ketika Audya baru selesai menutup buku. Gadis kecil tersebut kemudian sibuk memasukkan pensil ke kotak, memastikan dua warna yang paling disukai tidak tertinggal di bawah meja.
Audya mengangguk. Dia melihat lembar catatan mengajar yang disimpan bersama buku Naura. Delapan pertemuan sudah terisi sejak pertama datang. Pada bagian awal hanya ada catatan perkenalan dan kebiasaan belajar. Sekarang sudah ada angka, latihan membaca, serta beberapa hal yang masih harus diulang.
Ternyata waktu berjalan juga ketika dirinya terlalu sibuk memikirkan pekerjaan berikutnya.
Larasati datang membawa amplop dan meminta Audya duduk sebentar. Naura sudah berpindah ke karpet, mengatur boneka kelinci di antara mainan lain.
"Ini honor untuk delapan pertemuan pertama. Tolong diperiksa, ya."
Audya menerima amplop dengan kedua tangan. Dia tahu pembayaran memang akan diberikan setelah jumlah pertemuan terpenuhi. Namun tetap saja ada rasa lega yang langsung memenuhi dada.
"Terima kasih, Bu."
"Sama-sama. Saya juga mau tanya, menurut kamu Naura sekarang bagaimana?"
Audya membuka catatannya. Dia menjelaskan bahwa Naura mulai lebih mudah mengikuti penjumlahan dengan benda, tetapi masih bisa tertukar mengenali beberapa angka jika ditunjukkan tanpa urutan. Membaca juga perlu diulang perlahan, terutama ketika perhatian muridnya sedang berada di hal lain.
Larasati mendengarkan sampai selesai. "Di rumah dia memang lebih sering ambil bukunya sendiri. Kadang cuma dibuka, lalu ditutup lagi."
"Tidak apa-apa, Bu. Yang penting jangan sampai setiap lihat buku langsung merasa akan dimarahi."
Audya segera menambahkan bahwa latihan tetap perlu dibiasakan. Dia tidak ingin ucapannya terdengar seperti membolehkan Naura berhenti setiap kali bosan. Ada bedanya memberi jeda dan membiarkan semuanya terbengkalai, meski dirinya juga masih belajar menemukan cara yang tepat.
"Untuk jadwal tetap Senin dan Kamis?" tanya Larasati.
"Iya, Bu. Kalau nanti ada perubahan dari kampus, saya kabari lebih awal."
"Baik. Saya senang kamu memberi tahu kalau ada yang perlu disesuaikan."
Audya mengangguk dan membuka amplop sesuai permintaan. Dua juta rupiah. Jumlahnya sesuai kesepakatan. Setelah menghitung dengan tenang, dia menyimpan uang itu di bagian tas yang tertutup ritsleting.
Kali ini, sebelum uang tersebut terlanjur habis untuk kebutuhan yang saling mendahului, dia ingin membaginya dengan jelas.
Naura mendekat membawa kelinci. "Kakak masih datang lagi, kan?"
"Masih. Hari Kamis kita ketemu lagi."
"Tadi oma kasih amplop. Kayak waktu bu guru selesai acara."
Audya tersenyum. "Itu untuk pekerjaan kakak mengajar. Belajarnya masih lanjut."
Naura tampak puas setelah mendapat kepastian. Dia mengangkat kelincinya agar ikut melambaikan tangan, lalu kembali ke karpet.
Argantara tiba ketika Audya sedang mengenakan tas. Kemejanya masih rapi, tetapi wajahnya terlihat lelah. Audya sempat mempertimbangkan cukup mengangguk dan langsung pergi supaya tidak mengganggu.
"Sudah mau pulang?" tanya pria itu lebih dahulu.
"Iya, Pak. Tadi sudah selesai mengajar."
"Bagaimana Naura hari ini?"
"Lebih banyak cerita soal acara sekolah. Tapi belajarnya tetap jalan."
Argantara melirik putrinya yang kini berusaha memasukkan kelinci ke kursi mainan. "Di mobil kemarin juga begitu. Sampai tertidur sendiri."
Audya tersenyum mengingatnya. Setelah percakapan di bangku sekolah, rasanya ada sesuatu yang berubah. Tidak besar, tidak pula bisa ditunjuk dengan jelas. Dia hanya lebih sadar ketika Argantara menatapnya dan lebih lama memikirkan kalimat yang akan diucapkan.
"Fotonya sudah dikirim ibu?"
"Sudah, Pak. Terima kasih."
"Naura minta dicetak. Katanya mau ditaruh dekat bingkai yang dibuat."
Audya memegang tali tas lebih erat. Entah kenapa kabar sederhana itu membuat hatinya bergerak. Mungkin karena keberadaannya di rumah ini perlahan tidak hanya tercatat pada jadwal les.
Larasati memanggil Argantara untuk membicarakan keperluan esok hari. Audya menggunakan kesempatan itu untuk berpamitan. Dia tidak ingin berdiri terlalu lama sambil berharap ada satu kalimat tambahan yang sebenarnya belum tentu datang.
Di angkutan, Audya membuka catatan pengeluaran. Pertama, ponsel untuk ibu. Kemudian kebutuhan rumah yang bisa dibantu tanpa menghabiskan seluruh honor. Sebagian harus disimpan untuk ongkos, kuliah, dan kebutuhan dirinya sampai pemasukan berikutnya.
Dia berhenti ketika jemarinya hendak menuliskan semua uang untuk rumah. Kebiasaan lama memang mudah sekali kembali. Audya sayang keluarganya, tetapi dirinya juga perlu berangkat bekerja besok pagi.
Sesampainya di rumah, dia menunjukkan amplop kepada Dina. Ibunya langsung tersenyum, lalu menggeleng ketika Audya mengeluarkan beberapa lembar uang.
"Simpan buat kamu dulu. Yang kemarin sudah habis untuk ibu."
"Aku sudah pisahkan, Bu. Ini lima ratus ribu buat kebutuhan rumah. Sisanya masih aku pegang."
Dina tidak langsung menerima. Audya duduk di sampingnya dan memperlihatkan catatan yang baru dibuat agar ibunya tahu dia tidak sedang menyerahkan semuanya lagi.
"Besok aku mau lihat ponsel buat ibu. Yang gampang dipakai. Nanti kita coba sama-sama."
"Jangan yang mahal."
"Iya. Aku juga enggak sanggup yang mahal."
Mereka tertawa kecil. Kali ini candaan tentang uang tidak terasa seperti usaha menutupi kepanikan.
Andira yang mendengar dari meja belajar menoleh. "Aku bisa bantu ajari ibu. Yang kemarin sudah bisa telepon sendiri."
"Bagus. Nanti gantian ngajarin, jangan cuma aku."
Andira mengangguk, lalu kembali ke bukunya. Audya merasa lega karena percakapan itu tidak berubah menjadi permintaan barang baru seperti yang sempat ditakutkannya.
Setelah makan, Audya menghitung uang sekali lagi di kamar. Lima ratus ribu sudah diberikan kepada ibu. Satu juta lima ratus ribu masih ada, sebagian akan dipakai membeli ponsel. Uang cadangan ayah dari amplop sebelumnya tetap tidak disentuh.
Sebelum tidur, dia membuka folder cerita di laptop. Sudah lama naskah yang dulu dikerjakannya untuk aplikasi menulis itu tidak bertambah banyak. Magang, tugas kuliah, dan keadaan rumah membuatnya sering hanya membuka halaman terakhir, membaca beberapa baris, kemudian menyerah karena mengantuk.
Audya menatap kalimat yang belum selesai. Dulu dia bisa menghabiskan waktu memikirkan percakapan dua tokoh sampai lupa makan. Sekarang percakapan dalam hidupnya sendiri justru lebih sulit dipahami.
Dia menambahkan satu paragraf, menghapus dua kalimat yang terlalu panjang, lalu berhenti. Belum cukup untuk diunggah. Tidak ada penghasilan tambahan yang langsung datang hanya karena malam ini dia kembali menulis.
Namun Audya senang naskahnya tidak sepenuhnya ditinggalkan. Ada bagian dari dirinya yang tetap ingin bercerita, meski untuk sementara hanya sempat beberapa kalimat sebelum tidur. Dia menyimpan perubahan dan mencatat bagian yang ingin dilanjutkan lain waktu. Setidaknya besok tidak harus memulai dengan kebingungan yang sama.
Dia menyimpan catatan dan menutup tas. Ada keinginan membeli sesuatu untuk dirinya, sekadar merayakan honor pertama mengajar Naura. Namun malam sudah terlalu larut untuk keluar lagi.
Audya mengambil satu jeruk yang tersisa dari pemberian ibu Rani, mengupasnya sambil duduk di tepi kasur. Rasanya manis. Untuk malam ini, itu cukup menjadi teman menikmati lega yang sejak tadi belum hilang.
Dia sudah bekerja, menerima hasilnya, membantu rumah, dan masih menyisakan sesuatu untuk hari berikutnya. Bagi Audya, urutan sederhana itu terasa seperti kemajuan yang layak dinikmati pelan-pelan.