Audya meminta penjaga toko mengulangi cara menerima panggilan. Bukan karena dia tidak mengerti, melainkan karena sedang membayangkan jari ibunya yang mudah salah menekan tombol.
Ponsel sederhana itu terasa ringan di tangan. Audya mencoba suaranya, memastikan layarnya terbaca, lalu meminta penjaga menyiapkan kartu agar bisa langsung dipakai. Dia tidak membutuhkan banyak fitur. Yang terpenting, Dina tidak lagi harus meminjam ponsel tetangga untuk mengabari anaknya.
Total uang yang dikeluarkan tiga ratus dua puluh ribu. Audya menyimpan nota di bagian dompet yang terpisah, mencatat sisanya pada ponsel sendiri sebelum meninggalkan toko.
Satu juta seratus delapan puluh ribu. Masih cukup untuk diatur, asal dia tidak menganggap semuanya boleh dibelanjakan sekaligus.
Ketika tiba di rumah, Dina sedang merapikan kursi ruang tamu. Tidak biasanya ibunya memindahkan kursi tambahan ke dekat meja pada jam seperti ini.
"Ada tamu, Bu?"
"Bu Erna tadi bilang mau datang setelah magrib. Katanya mau bicara soal mi yang waktu itu."
Audya berhenti melepas tas. Rasa senang karena membawa ponsel mendadak tertutup ingatan tentang ibunya yang dibentak di depan toko.
"Mau protes lagi?"
"Ibu belum tahu. Tadi cuma bilang begitu."
Audya hampir meminta agar percakapan ditunda saja. Dia lelah dan tidak yakin bisa menahan mulut jika wanita itu kembali menyalahkan Dina. Namun ibunya tampak ingin menyelesaikan sesuatu yang selama berminggu terus membuatnya tidak tenang.
"Aku mandi dulu. Nanti aku temani."
Ponsel baru diletakkan di atas meja, masih dalam kotak. Dina tersenyum ketika diberi tahu, tetapi mereka sepakat mencobanya setelah tamu pulang.
Bu Erna datang sesuai janji. Tidak ada suara tinggi ketika dia mengucapkan salam. Wanita itu malah berdiri beberapa saat di ambang pintu sebelum menerima ajakan duduk.
Bu Dewi juga ada di sana. Dina sebelumnya meminta tetangganya itu menemani karena Bu Dewi pernah mendengar tuduhan yang tersebar dan mengetahui betapa lama Dina memikirkannya.
Audya duduk di samping ibunya. Dia membiarkan Bu Erna memulai tanpa bertanya dengan nada menantang, meski kedua tangannya sudah saling meremas di pangkuan.
"Saya mau meluruskan yang waktu itu," ujar Bu Erna. "Tentang mi yang saya bawa ke sini."
Dina mengangguk pelan.
"Ternyata bungkus itu dari persediaan lama di rumah. Bukan dari belanja di sini."
Audya menatapnya. Butuh beberapa detik sampai kalimat tersebut benar-benar masuk ke kepala.
Bu Erna menjelaskan bahwa anaknya baru membersihkan lemari dapur. Beberapa bungkus mi lama masih tersisa dalam kantong bahan makanan pemberian saudaranya. Anak itulah yang sebelumnya memindahkan sebagian isinya ke wadah bersama belanja baru.
Ketika menemukan mi kedaluwarsa, Bu Erna mengira bungkus tersebut berasal dari belanja terakhir. Dia langsung datang ke toko Dina tanpa bertanya lebih dahulu kepada penghuni rumah yang lain.
"Anak saya ingat karena waktu itu yang dia pindahkan memang dari kantong itu. Saya salah mengambil kesimpulan."
Dina memandangi meja. "Jadi memang bukan barang yang dibeli di toko saya?"
"Iya. Saya minta maaf."
Audya merasa lega dan marah pada saat bersamaan. Penjelasannya ternyata sesederhana barang yang tercampur di rumah sendiri. Sementara ibunya harus menanggung bentakan, kekhawatiran, dan pandangan orang yang mengira dia tega menjual makanan buruk.
"Ibu waktu itu datang sambil marah," kata Audya. Suaranya lebih pelan daripada yang dia perkirakan. "Ibu saya sudah menunjukkan stoknya, tapi tetap dituduh."
Bu Erna menunduk. "Waktu itu saya panik."
"Saya mengerti ibu takut makanannya berbahaya. Tapi setelah itu cerita soal toko kami menyebar."
Dina menyentuh lengan Audya, bukan menyuruh diam, hanya mengingatkan agar nadanya tetap dijaga. Audya mengambil napas sebelum melanjutkan.
"Kalau ibu mau meluruskan, tolong sampaikan juga kepada orang yang dulu ibu beri tahu. Jangan hanya kepada kami."
Ruangan hening. Bu Dewi meletakkan gelasnya dan mengangguk.
"Itu memang perlu, Bu. Saya juga masih dengar ada yang membicarakan. Kasihan kalau yang sampai ke orang cuma tuduhan awalnya."
Bu Erna sempat menjelaskan bahwa cerita mungkin sudah berpindah dari orang ke orang. Audya tidak membantah hal itu. Dia hanya menunggu sampai wanita tersebut berhenti mencari penjelasan untuk sesuatu yang kini berada di luar jangkauannya.
"Saya akan bilang di kelompok ibu-ibu dan kepada tetangga yang waktu itu saya ceritakan langsung," ucap Bu Erna akhirnya.
Dina mengangkat wajah. "Terima kasih kalau ibu mau melakukan itu. Saya tidak pernah sengaja menjual barang yang sudah tidak layak."
Suaranya bergetar pada kalimat terakhir. Audya baru menyadari betapa keras ibunya menahan perasaan sejak percakapan dimulai.
Bu Erna meminta maaf sekali lagi. Kali ini Dina mengangguk dan mengatakan bahwa penjelasannya sudah diterima. Tidak ada pelukan atau percakapan akrab mendadak. Mereka masih perlu membiarkan rasa tidak enak itu mereda.
Sebelum pulang, Bu Erna menuliskan pesan pelurusan di kelompok warga yang juga diikuti Bu Dewi. Dia membacakannya: tuduhan sebelumnya keliru, mi berasal dari persediaan lama di rumahnya, dan toko Dina tidak bersalah dalam kejadian tersebut.
Audya mendengarkan sampai selesai. Pernyataan itu tidak menjamin semua pelanggan akan kembali besok. Namun setidaknya ibunya tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang harus membela nama sendiri.
Setelah kedua tetangga pulang, Dina tetap duduk sambil memegang ujung bajunya. Audya mendekat, lalu berjongkok di hadapannya.
"Sudah jelas sekarang, Bu."
Dina mengangguk, dan air matanya akhirnya jatuh. "Ibu paling takut kalian ikut malu karena orang bilang ibu curang."
Audya menggeleng. Dia memeluk ibunya tanpa mencoba menghentikan tangis terlalu cepat. Selama ini Dina terlalu sering diminta kuat, seolah menangis sebentar akan membuat seluruh rumah runtuh.
Rudi yang duduk tidak jauh dari mereka menggerakkan tangan. Dina menoleh, lalu mendekat ketika suaminya mengulurkan jemari. Tidak ada kalimat panjang. Rudi hanya menggenggam tangannya, menunggu sampai napas istrinya kembali teratur.
Andira mengambil tisu dan meletakkannya di meja. Gadis itu sempat bertanya apakah besok mereka perlu memberi tahu semua pembeli. Dina menggeleng pelan.
"Kalau ada yang tanya, ibu jelaskan. Yang penting Bu Erna sudah bilang yang sebenarnya."
Audya mengangguk. Dia tidak ingin hari-hari ibunya habis untuk mengulang pembelaan yang sama kepada setiap orang. Besok toko tetap perlu dibuka, barang perlu diperiksa, dan pembeli perlu dilayani. Pelurusan malam ini memberi mereka kesempatan melakukan semua itu tanpa terus menanggung tuduhan yang belum dijawab.
Dina akhirnya melepaskan tangan suaminya untuk mengambil air minum. Wajahnya lelah, tetapi bahunya tidak lagi setegang ketika menunggu Bu Erna datang.
Malam semakin sepi ketika mereka akhirnya membuka kotak ponsel. Andira ikut mendekat untuk menyimpan nomor-nomor penting. Dina mencoba menelepon Audya, salah menekan sekali, lalu berhasil pada percobaan kedua.
"Halo, Kak?" ucapnya sambil menahan tawa.
Audya menjawab dari kursi seberang. "Iya, Bu. Kedengaran."
Dia memandangi wajah ibunya yang masih sedikit sembap. Hari itu tidak mengubah toko mereka menjadi ramai atau membuat hidup mendadak ringan. Namun sebuah tuduhan sudah ditarik kembali, dan suara ibu kini bisa sampai kepadanya tanpa harus melewati pintu rumah orang lain.