"Sabtu kemarin datang ke sekolah anaknya pak Argantara, ya?"
Pertanyaan Karin membuat Audya berhenti menyalakan komputer. Wanita itu berdiri di dekat meja dengan ponsel di tangan. Andin yang sedang mengambil berkas ikut menoleh, begitu pula seorang karyawan di kubikel seberang.
Audya merasakan perutnya menegang sebelum sempat menjawab.
"Iya, Mbak. Ada acara sekolah."
"Pantas. Kakak saya juga datang. Anaknya satu sekolah sama Naura. Saya lihat kamu di foto yang dia kirim."
Karin memperlihatkan layar sebentar. Bukan foto yang dikirim Larasati, melainkan foto suasana ruangan saat anak-anak menghias bingkai. Audya terlihat duduk di satu meja dengan Argantara dan Naura.
Tidak ada yang salah pada gambar itu. Audya tahu. Namun di kantor ini, sesuatu yang tidak salah pun bisa berubah ketika dibicarakan cukup banyak orang.
"Kamu sekarang dekat sama keluarganya juga?" tanya Karin.
Audya duduk lebih tegak. "Saya mengajar les Naura di rumah. Jadi kemarin diundang melihat acaranya."
"Oh, guru privat. Baru tahu."
"Iya."
Dia berharap percakapan selesai sampai di sana. Sayangnya seorang rekan di seberang meja menyahut bahwa pantas saja Audya sering mendapat perhatian dari atasan. Kalimat itu disertai tawa pendek, seolah hanya gurauan yang seharusnya tidak membuat siapa pun keberatan.
Audya menggenggam mouse sampai telapak tangannya terasa tidak nyaman. Dia teringat hari ketika memilih diam karena takut nilai magang menjadi taruhan. Ketakutan itu masih ada. Bedanya, sekarang dia juga tahu diam tidak selalu membuat mereka berhenti.
"Saya mengajar Naura setelah jam kantor," jawabnya. "Untuk tugas di sini, tetap diperiksa mbak Mayang. Kalau ada yang salah, saya tetap diminta memperbaiki."
"Santai saja. Cuma bilang."
Audya mengangguk kecil. "Saya juga cuma menjelaskan supaya tidak salah paham."
Suaranya tidak keras, tetapi ruangan di sekitar mereka mendadak lebih sepi. Karin menarik kembali ponselnya dan pergi ke meja sendiri. Audya menatap layar komputer yang sudah menyala, menunggu jantungnya berhenti memukul terlalu cepat.
Mayang masuk beberapa menit kemudian. Dia tidak menyaksikan awal percakapan, tetapi sempat mendengar bagian terakhir dari dekat pintu. Wanita itu memanggil Audya setelah meletakkan tas.
"Ada yang perlu dibicarakan?"
Audya sempat ingin menjawab tidak. Itu jawaban paling mudah dan paling cepat. Namun kemarin malam dia baru meminta Bu Erna meluruskan tuduhan, bukan membiarkannya terus menyebar. Rasanya aneh jika untuk dirinya sendiri dia kembali memilih pura-pura tidak terjadi apa-apa.
Dia menjelaskan pertanyaan tentang foto dan komentar yang menghubungkan pekerjaan les dengan penilaian magang. Tidak semua kalimat diulang. Cukup bagian yang membuat hubungan kerja terasa tidak nyaman.
Mayang mendengarkan tanpa langsung menyuruhnya mengabaikan.
"Pekerjaan kamu dinilai dari hasil dan prosesnya. Yang memeriksa kegiatan harian kamu di divisi ini saya. Kalau ada komentar yang mengganggu pekerjaan, beri tahu dengan jelas kapan dan apa yang dikatakan."
Audya mengangguk. "Saya takut nanti dianggap dapat kemudahan karena mengajar Naura."
"Kamu tidak bisa mengatur semua anggapan orang. Tapi penugasannya bisa kita buat jelas. Catatan pekerjaanmu juga harus lengkap."
Mayang menunjukkan lembar kegiatan yang selama ini mereka periksa bersama. Ada pekerjaan selesai, koreksi, dan hal yang masih dipelajari. Audya mengenali bagian yang membuatnya dipuji, juga bagian yang beberapa hari lalu membuatnya ingin bersembunyi.
"Menjelang selesai nanti, kamu juga perlu bisa menjelaskan pekerjaanmu kepada pihak yang menilai magang," tambah Mayang. "Jangan hanya mengandalkan mbak yang menjelaskan."
Audya meminta izin menyalin daftar keterampilan yang masih perlu dilatih. Ada beberapa yang sudah cukup sering dikerjakan, ada pula yang baru dilihat saat mendampingi Mayang. Dia memberi tanda pada bagian yang belum bisa dijelaskan dengan lancar.
Daftar itu membuat sisa waktunya di kantor terasa lebih nyata. Audya masih punya banyak pekerjaan sebelum bisa memikirkan hasil penilaian akhir. Dia tidak mau waktunya habis untuk mengawasi tatapan orang sampai lupa memperbaiki kemampuan sendiri.
Semuanya tercatat. Ternyata sesuatu yang kadang terasa merepotkan bisa menjadi pegangan ketika omongan orang mulai bergerak ke mana-mana.
Dalam pengarahan singkat pagi itu, Mayang kembali menjelaskan pembagian tugas dan siapa yang bertanggung jawab memeriksanya. Di akhir, dia meminta urusan pribadi rekan kerja tidak dijadikan komentar yang merendahkan di ruang kerja.
Tidak ada nama yang disebut. Namun Audya melihat beberapa orang menunduk pada catatan masing-masing.
Hari tidak langsung menjadi nyaman. Karin tetap jarang menatap ke arahnya, dan Audya masih merasa ada mata yang mengikuti ketika dia pergi mengambil air. Dia mencoba memisahkan yang sungguh terjadi dari yang hanya muncul karena dirinya sedang waspada.
Menjelang istirahat, Karin menyerahkan berkas yang diminta Mayang melalui meja Audya. Mereka bertukar keterangan singkat tentang halaman yang belum lengkap. Tidak ada pembahasan foto lagi.
Audya menerima berkas itu dan mencatat kekurangannya. Dia belum merasa nyaman, tetapi masih bisa bekerja bersama tanpa membalas dengan sikap bermusuhan. Untuk hari ini, itu sudah cukup. Keakraban tidak perlu dipaksakan hanya supaya ruangan terlihat baik-baik saja.
Saat istirahat, pesan Liam masuk.
Naura sampai minta foto kemarin dicetak, ya. Tante kirim di grup keluarga. Lucu banget mukanya pas pegang bingkai.
Audya memandang layar lebih lama. Foto yang baginya hanya menyimpan satu siang ternyata sedang dilihat orang-orang di berbagai tempat. Dia tidak marah. Tidak ada alasan untuk marah kepada Larasati yang bangga pada cucunya. Namun untuk pertama kalinya, Audya memikirkan bagaimana kedekatan yang masih samar itu tampak dari luar.
Dia membalas singkat tentang Naura yang sangat serius mengatur bunga. Liam mengirim tawa, lalu menanyakan kabar magang. Audya menjawab bahwa pekerjaan masih berjalan dan ada beberapa hal yang sedang diperbaiki.
Sore menjelang pulang, Argantara meminta berkas dari Mayang. Audya sedang membantu menyusun lampiran ketika pria itu datang. Dia menyapa dengan sopan, lalu segera kembali pada pekerjaannya.
Tidak ada yang berbeda dalam ucapan Argantara. Justru Audya yang terlalu cepat menunduk setiap merasa pria itu melihat ke arahnya.
Setelah berkas selesai, Mayang menyerahkannya dan meminta Audya menyimpan salinan. Tidak ada kesempatan untuk berbicara di luar pekerjaan. Audya merasa lega, tetapi ada bagian kecil dalam dirinya yang kecewa.
Di perjalanan pulang, ponselnya bergetar. Pesan Argantara hanya menanyakan apakah besok tetap mengajar seperti biasa. Audya mengiyakan.
Dia hampir menambahkan permintaan maaf karena tadi bersikap kaku. Jempolnya berhenti sebelum kalimat itu selesai. Lebih baik bicara langsung kalau memang ada yang perlu dijelaskan.
Ketika tiba di rumah, suara Dina terdengar dari toko. Seorang pelanggan mengatakan sudah membaca pesan Bu Erna. Ibunya menjawab tenang dan memperlihatkan barang yang ditanyakan.
Audya melewati mereka dengan perasaan campur aduk. Tuduhan terhadap toko mulai diluruskan, sementara di tempat kerjanya sendiri komentar lama menemukan bahan baru.
Dia tidak ingin seluruh hidupnya bergantung pada apa yang dikatakan orang. Namun sekarang ada pertanyaan yang lebih sulit diabaikan: seberapa jauh dia berani mendekat kepada Argantara kalau keberadaannya selalu mudah disalahartikan?