Audya membaca ulang tanggal pada lembar kegiatan magang. Empat pekan lagi. Setelah itu dia tidak perlu berangkat setiap pagi menuju gedung ini, menunggu lift yang penuh, atau mendengar suara keyboard dari kubikel sebelah sepanjang hari.
Dulu, kalimat itu pasti terdengar seperti kabar baik.
Sekarang perasaannya justru bercampur. Ada lega karena satu kewajiban kuliah akan selesai. Ada takut menghadapi sidang dan laporan akhir. Ada pula wajah seseorang yang langsung muncul setiap kali dia membayangkan hari terakhir bekerja.
"Jangan senyum sendiri di depan tanggal," gumam Audya.
Dia meratakan kertas dan memasukkannya ke map. Janji untuk pergi setelah magang selesai bukan alasan menghitung hari seperti menunggu pembagian hadiah. Masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan dengan benar.
Mayang memanggilnya setelah rapat pagi. Wanita itu menyerahkan daftar berkas yang perlu disiapkan untuk penutupan magang: catatan kegiatan, hasil pekerjaan yang boleh digunakan sebagai contoh, dan ringkasan hal yang sudah dipelajari.
"Mulai dicicil sekarang. Jangan tunggu minggu terakhir," pesannya.
Audya mengangguk. "Untuk contoh pekerjaan, tetap diperiksa mbak dulu sebelum masuk laporan kampus?"
"Iya. Nanti kamu juga latihan menjelaskan prosesnya. Bu Vina akan ikut melihat persiapan administrasinya."
Nama Vina membuat Audya teringat hari pertama datang. Dia yang masih kebingungan mencari ruangan, lalu bertemu pria tampan di depan pintu. Rasanya belum terlalu lama, tetapi banyak hal sudah berbeda sejak hari itu.
"Kalau nanti magang selesai, apa ada surat keterangan juga, Mbak?"
"Ada prosesnya. Nanti dibantu bagian terkait. Kenapa?"
"Mau saya simpan untuk melamar kerja setelah lulus."
Mayang tersenyum kecil. "Bagus. Tapi jangan cuma mengejar suratnya. Pastikan kamu bisa menjelaskan pengalaman yang tertulis di sana."
Audya mencatat semua yang perlu disiapkan. Keinginan diterima bekerja di Gantara corp masih ada, tetapi dia belum tahu apakah perusahaan membutuhkan pegawai baru saat dirinya lulus nanti. Tidak mungkin seluruh rencana hidup digantungkan pada satu pintu yang belum tentu terbuka.
Pulang magang juga berarti satu pemasukan berhenti. Honor mengajar Naura masih bisa dilanjutkan sesuai jadwal, tetapi uang tersebut memiliki batas. Audya menghitung dalam kepala sebelum menyadari dia sudah melamun di depan Mayang.
"Ada yang belum jelas?"
"Sudah, Mbak. Maaf, tadi kepikiran kegiatan setelah magang."
"Satu-satu dulu. Bereskan yang sekarang sambil menyiapkan berikutnya."
Audya kembali ke meja dengan map di tangan. Dia membuat daftar kecil, lalu menempelkan pada sisi dalam buku catatan. Tidak perlu dilihat semua orang. Cukup menjadi pengingat saat dirinya tergoda menghabiskan waktu memikirkan ajakan semalam.
Di halaman berikutnya, dia menuliskan kegiatan yang ingin dilanjutkan setelah magang. Mengajar Naura tetap dua kali seminggu. Laporan kuliah belum selesai, dan naskah cerita yang sempat dibuka lagi juga menunggu. Audya tidak langsung menambahkan pekerjaan baru hanya karena takut pemasukan berkurang. Dia perlu tahu dahulu berapa banyak waktu yang benar-benar tersedia.
Pernah rasanya semua bisa dikerjakan sekaligus kalau dirinya cukup kuat. Kenyataannya, tubuhnya sudah pernah tumbang karena terlalu dipaksa. Audya tidak ingin mengulang pola yang sama hanya dengan nama pekerjaan berbeda. Dia menandai tiga kegiatan utama, lalu menutup buku sebelum daftar itu berubah menjadi tuntutan yang tidak mungkin dipenuhi.
Kesempatan untuk membuktikan niat itu datang lebih cepat dari perkiraan. Argantara melewati ruang divisi sebelum makan siang untuk menemui Mayang. Audya menyapa, pria itu membalas dengan anggukan, lalu langsung membicarakan pekerjaan.
Tidak ada tatapan panjang. Tidak ada pesan rahasia di balik kalimat biasa.
Audya seharusnya lega. Anehnya, ada rasa kecewa yang sangat tidak masuk akal. Dia sendiri yang meminta agar semua tetap seperti biasa, tetapi sekarang malah hampir merajuk karena pria itu benar-benar melakukannya.
"Susah banget jadi gua," bisiknya sambil membuka berkas.
Dia memaksa perhatian kembali pada layar. Beberapa menit kemudian, angka-angka berhasil menyita pikirannya. Ketika Argantara meninggalkan ruangan, Audya baru menyadari setelah mendengar pintu tertutup.
Sepulang kerja, dia tidak langsung membuka laptop. Dina sedang memotong sayur di dapur, dan Audya duduk di bangku kecil untuk membantu. Dari ruang tengah terdengar Andira membaca soal dengan suara pelan.
"Bu, aku mau cerita."
Dina menoleh. "Tentang kantor?"
"Ada hubungannya. Tapi bukan soal pekerjaan."
Audya mendadak gugup. Bagaimana mungkin bercerita kepada ibu terasa hampir sesulit menjawab Argantara kemarin? Dia sudah besar, sudah bisa bekerja, tetapi untuk urusan seperti ini lidahnya tetap berantakan.
"Pak Argantara mengajak aku pergi setelah magang selesai. Berdua. Katanya mau mengenal aku lebih dekat."
Pisau di tangan Dina berhenti. Wanita itu meletakkannya di atas talenan sebelum benar-benar menghadap putrinya.
"Kamu jawab apa?"
"Aku bilang mau. Tapi pelan-pelan."
Dina diam cukup lama sampai Audya mulai merasa perlu menambahkan penjelasan. Dia bercerita bahwa urusan magang tetap melalui Mayang, tidak ada janji pekerjaan, dan mereka belum menentukan hari atau tempat untuk pergi.
"Ibu belum tanya sebanyak itu," ujar Dina akhirnya.
Audya menunduk malu. "Aku takut ibu berpikir yang aneh-aneh."
"Ibu sedang memikirkan kamu. Kamu nyaman sama beliau?"
Audya mengangguk, lalu tersenyum tanpa bisa ditahan. "Iya. Walaupun masih sering gugup."
Dina memperhatikan wajah putrinya dengan lembut. "Kamu tahu beliau punya anak. Hidupnya tentu berbeda dari teman-teman kamu. Jangan cuma melihat baiknya saat semuanya sedang menyenangkan. Kenali pelan-pelan seperti yang kamu bilang."
"Iya, Bu."
"Dan kalau suatu saat kamu tidak nyaman, bilang. Bukan berarti karena sudah menerima ajakan, kamu tidak boleh berubah pikiran."
Audya menatap baskom di pangkuan. "Aku juga belum tahu banyak tentang beliau di luar kantor dan Naura."
"Ya makanya kenalan. Tidak semua harus langsung diputuskan."
Dina mengambil potongan wortel yang jatuh di dekat talenan, lalu melanjutkan pekerjaannya. Gerakan biasa itu membuat percakapan terasa lebih ringan. Audya tidak sedang diminta menentukan seluruh masa depan di dapur malam ini. Dia hanya memberi tahu bahwa ada seseorang yang ingin dikenalnya, dan ibu bersedia mendengarkan tanpa mengambil keputusan menggantikannya.
Audya mengangguk lagi. Dia tidak mendengar larangan, tetapi juga tidak mendapat sambutan berlebihan hanya karena pria yang dimaksud kaya dan pernah membantu keluarga mereka. Itu membuatnya lebih tenang.
Dina kembali memotong sayur. Beberapa saat kemudian dia bertanya, lebih pelan, tentang Liam.
Audya mengaduk potongan sayur di dalam baskom. "Aku masih berteman sama Liam. Tapi rasanya sudah berubah, Bu."
"Sudah kamu bicarakan?"
"Belum. Dia dulu juga enggak tahu aku suka."
Dina tidak memaksa. Dia hanya mengingatkan agar Audya memahami perasaannya sendiri, bukan memilih seseorang karena sedang kecewa kepada orang lain.
Malam itu, setelah pekerjaan rumah selesai, Audya membuka daftar persiapan magang. Empat pekan masih cukup untuk melakukan banyak hal jika tidak dihabiskan dengan menunggu.
Dia menulis dua halaman laporan sebelum tidur. Ponselnya tidak berbunyi dari Argantara, dan kali ini Audya berhasil tidak memeriksanya setiap beberapa menit. Ajakan itu sudah jelas. Dia tidak perlu meminta pembuktian baru setiap malam agar bisa mempercayainya.