Dina membuka kotak plastik di bawah lemari pada Minggu pagi. Isinya kuitansi lama, beberapa foto, dan buku kecil yang sampulnya hampir lepas. Audya yang sedang melipat pakaian berhenti ketika ibunya mengeluarkan secarik kertas dengan deretan angka.
"Mau simpan nomor siapa, Bu?"
Dina tidak langsung menjawab. Dia mengusap kertas itu dengan ibu jari sebelum menyerahkannya kepada Audya.
Di bagian atas tertulis satu nama.
Aliana.
Audya merasakan sesuatu menegang di dadanya. Nama itu jarang diucapkan lengkap di rumah. Biasanya hanya kakak kamu, anak pertama, atau kalimat yang berhenti sebelum sampai pada orang yang dimaksud.
"Ini nomor lama kakakmu. Ibu tahu mungkin sudah tidak bisa. Tapi mau dicoba sekali lagi."
Audya duduk di lantai di samping ibunya. Dia masih marah setiap mengingat Aliana pergi dan tidak kembali. Namun melihat Dina memegang kertas usang membuat kemarahan itu sulit dijadikan alasan untuk menolak.
Mereka memasukkan nomor dan mencoba menelepon. Jawaban yang terdengar bukan suara seseorang. Nomor tersebut tidak dapat dihubungi. Audya mencoba sekali lagi setelah memeriksa digitnya, memastikan tidak ada angka yang salah terbaca.
Hasilnya tetap sama.
Dina menerima kembali ponsel dengan senyum kecil yang terlalu cepat dipasang.
"Sudah ibu duga."
Audya memandang kotak yang masih terbuka. Ada foto mereka bertiga ketika Andira belum masuk sekolah. Aliana berdiri paling tinggi, satu tangannya berada di bahu Audya. Selisih usia lima tahun terlihat jelas pada wajah mereka saat itu.
Audya ingat pernah menganggap kakaknya bisa melakukan semuanya. Mengikat rambut, menawar barang di pasar, berbicara dengan orang yang tidak dikenal tanpa malu. Sulit mempertemukan ingatan itu dengan perempuan yang kemudian meninggalkan rumah.
Pada salah satu foto, Aliana memakai gelang plastik yang dahulu sering dipinjam Audya diam-diam. Dia masih ingat pertengkaran kecil ketika gelang itu putus. Aliana marah, Audya menangis, lalu sore harinya mereka sudah duduk bersama menonton televisi seolah tidak terjadi apa-apa.
Ternyata pernah ada masa ketika masalah di antara mereka bisa selesai sebelum hari berganti. Audya mengusap tepi foto yang mulai melengkung. Selama beberapa tahun terakhir, dia lebih sering mengingat kakaknya melalui kepergian dan akibatnya. Wajah dalam foto mengingatkan bahwa sebelum itu ada banyak hari biasa yang juga milik mereka.
"Ini jangan dibuang, Bu," katanya.
Dina menoleh heran. "Ibu memang tidak pernah mau membuangnya."
Audya mengangguk malu. Dia tidak benar-benar mengira ibunya akan melakukan itu. Barangkali kalimat tadi lebih ditujukan kepada dirinya sendiri, yang begitu mudah ingin menghapus semua kenangan baik setiap kali kembali marah. Dia meletakkan foto di luar kotak, jauh dari tumpukan kuitansi, lalu membantu ibu membuka buku tanpa merobek halaman yang sudah rapuh.
"Dulu ibu pernah tanya siapa saja?" tanya Audya.
Dina menyebut beberapa nama. Saudara, tetangga, teman sekolah Aliana. Pada awal kepergiannya, mereka mencoba menghubungi siapa pun yang mungkin tahu. Ada yang tidak mengangkat, ada yang hanya mendengar Aliana hendak bekerja di luar kota.
"Lama-lama ibu takut setiap mau bertanya. Jawabannya selalu tidak tahu. Ayah juga mulai sering sakit."
Audya menunduk. Dia ingat sebagian masa itu sebagai hari-hari ketika rumah terasa tegang dan orang dewasa berbicara pelan di depan pintu. Saat itu dia lebih sibuk merasa ditinggalkan daripada memahami apa yang dilakukan orang tuanya untuk mencari.
Dina membuka buku kecil. Di antara catatan belanja dan nomor saudara, ada nama Yuni. Audya mengenal nama itu. Teman sekolah Aliana yang dulu beberapa kali datang ke rumah dan suka membawa majalah untuk dibaca bersama.
"Mbak Yuni pernah tahu kabarnya?"
"Waktu ibu tanya dulu, belum. Setelah itu ibu tidak menghubungi lagi. Nomornya masih yang ini atau bukan, ibu tidak tahu."
Audya menyalin nomor tersebut ke ponselnya sendiri. Kali ini panggilan tersambung, tetapi tidak segera dijawab. Dia hampir menutup ketika suara perempuan terdengar dari seberang.
"Halo?"
Audya memperkenalkan diri dan menyebut nama ibunya. Ada jeda sebelum perempuan itu mengulang namanya dengan nada terkejut.
"Audya? Adiknya Aliana? Sudah besar sekarang, ya."
Kalimat sederhana itu membuat tenggorokan Audya mendadak sempit. Orang ini mengenal kakaknya ketika keluarga mereka masih terasa utuh.
Dia menjelaskan bahwa mereka sedang berusaha mencari kabar Aliana. Tidak menceritakan semua keadaan ayah atau kesulitan rumah. Cukup mengatakan bahwa keluarga sudah lama tidak mendapat kabar langsung.
Yuni terdiam lebih lama kali ini.
"Saya sempat bertukar pesan sama dia tahun lalu. Nomor baru. Tapi setelah itu jarang sekali. Saya kira dia sudah menghubungi rumah."
Audya menegakkan punggung. Dina yang duduk di sampingnya langsung memegang lengannya.
"Masih ada nomornya, Mbak?"
"Saya perlu cari dulu. Ponsel saya sempat ganti. Kalau masih ada, saya coba hubungi."
Ada suara anak memanggil Yuni dari belakang. Perempuan itu meminta waktu untuk memeriksa setelah urusannya selesai. Audya mengiyakan, lalu menanyakan apakah dia boleh menitipkan nomor yang sekarang dipakai keluarga.
"Boleh. Kirim nomor kamu dan ibu, ya. Nanti saya sampaikan kalau tersambung."
Setelah panggilan berakhir, Audya baru menyadari tangannya dingin. Tidak banyak yang mereka dapat. Hanya kabar bahwa tahun lalu Aliana masih sempat berbicara dengan seorang teman. Namun untuk Dina, itu sudah cukup membuat air mata menggenang.
"Dia masih pakai nomor baru. Berarti mungkin bisa dihubungi."
"Mungkin, Bu. Kita tunggu mbak Yuni periksa dulu."
Audya sengaja mengulang kata mungkin. Dia tidak ingin satu panggilan yang belum selesai berubah menjadi kepastian bahwa Aliana akan segera pulang.
Andira muncul dari dapur dan menanyakan siapa yang baru saja ditelepon. Ketika mendengar nama kakak tertuanya, wajahnya berubah. Dia duduk di ujung karpet tanpa diminta.
"Kalau ketemu, kak Aliana bakal pulang?"
Tidak ada yang bisa menjawab. Dina memandang foto yang masih terletak di lantai, sementara Audya menyusun pesan untuk Yuni.
Dia menulis bahwa ibu dan ayah ingin mengetahui keadaan Aliana. Kalimat tentang kemarahan dan tanggung jawab yang sempat terlintas tidak dimasukkan. Itu percakapan yang perlu dilakukan langsung, kalau kesempatan benar-benar datang.
Rudi memperhatikan mereka dari kursi roda. Dina mendekat untuk menjelaskan bahwa mereka baru menghubungi teman lama Aliana. Tidak ada janji tentang pertemuan. Hanya kabar bahwa usaha mencari dimulai lagi.
Ayahnya mengangguk pelan. Matanya berpindah ke foto yang dibawa Dina, lalu berhenti lama pada wajah putri sulungnya.
Audya membereskan kotak setelah memastikan nomor penting sudah disimpan. Untuk pertama kalinya, dia tidak memasukkan kembali seluruh kertas ke bagian terdalam lemari. Buku kecil itu diletakkan di laci yang mudah dijangkau.
Menjelang sore, belum ada balasan dari Yuni. Dina beberapa kali memeriksa ponselnya yang baru, dan Audya membiarkannya sebelum mengajak menyiapkan makan.
Mereka masih harus menjalani hari, meski ada nama lama yang kembali memenuhi pikiran. Audya mengirim satu pesan terakhir kepada Yuni berisi ucapan terima kasih, lalu berhenti. Untuk saat ini, bagian yang bisa mereka lakukan sudah dilakukan.