Pesan itu masuk pada Minggu siang, ketika Audya sedang memeriksa catatan belanja toko.
Ini kakak. Yuni kasih nomor kamu. Bisa bicara sebentar?
Audya menatap layar tanpa bergerak. Nomornya tidak dikenal, dan tidak ada foto yang bisa membantunya memastikan. Namun kata kakak membuat dadanya langsung terasa penuh.
Dia membalas dengan pertanyaan singkat. Tidak lama kemudian, panggilan masuk.
"Audya?"
Suara di seberang lebih berat daripada yang diingatnya, tetapi cara menyebut namanya masih sama. Audya berdiri perlahan, menjauh dari pintu toko agar percakapan tidak bercampur suara pembeli.
"Kak Aliana?"
"Iya."
Untuk beberapa detik, tidak ada kalimat lain. Audya pernah membayangkan banyak hal yang akan diteriakkan jika kakaknya kembali. Sekarang kesempatan itu datang hanya melalui ponsel, dan seluruh kalimatnya justru berebut sampai tidak ada yang bisa keluar.
"Kamu bisa bicara sendiri dulu?" tanya Aliana.
"Ibu sedang bantu ayah di kamar. Tapi aku enggak mau bohong kalau ibu tanya siapa yang menelepon."
"Kakak enggak minta kamu bohong. Kakak cuma... belum tahu harus mulai dari mana."
Audya bersandar pada dinding dekat dapur. Lututnya terasa kurang kuat untuk terus berdiri tegak.
"Mulai dari kakak sekarang di mana."
"Semarang. Kakak kerja di toko pakaian. Tinggal di kos."
Audya mengulang nama kota itu dalam hati. Selama bertahun-tahun, Aliana berada di suatu tempat yang nyata. Ada jalan yang dilewati, kamar untuk tidur, dan pekerjaan yang didatangi. Sementara di rumah, keberadaannya hanya menjadi pertanyaan yang tidak pernah selesai.
"Kenapa enggak pernah kasih kabar?"
Aliana menarik napas yang terdengar sampai ke seberang.
"Awalnya kakak pikir sebentar lagi keadaan akan bagus. Bisa pulang bawa uang. Tapi ternyata tidak seperti yang dibayangkan."
"Terus karena enggak jadi kaya, kakak enggak bisa telepon?"
Kalimat itu keluar lebih tajam daripada yang direncanakan. Audya tidak menariknya kembali. Dia sudah terlalu lama menelan pertanyaan yang sama.
"Kakak malu."
"Kami yang di rumah enggak tahu kakak masih hidup baik-baik atau enggak. Ibu tanya orang, simpan nomor lama, takut setiap ada yang pergi. Kakak tahu?"
Aliana diam.
"Aku enggak bilang semua hidup kami salah kakak. Tapi kakak pergi tanpa membiarkan kami tahu apa-apa. Itu sakit."
Audya menutup mata. Dia belum pernah mengatakannya sejelas itu, bahkan kepada ibunya sendiri. Selama ini kemarahannya lebih sering keluar sebagai keluhan tentang beban yang harus ditanggung.
"Kakak tahu sudah salah," jawab Aliana akhirnya. "Makin lama, makin takut menghubungi. Rasanya enggak tahu harus menjelaskan apa."
"Sekarang juga belum jadi gampang."
"Iya."
Jawaban itu tidak memperbaiki tahun-tahun yang hilang. Namun Aliana tidak menyalahkan ibu, ayah, atau kemiskinan mereka untuk membenarkan semuanya. Audya membutuhkan setidaknya hal itu sebelum mampu mendengarkan lebih lanjut.
Aliana menanyakan keadaan keluarga. Audya menjelaskan secukupnya: dirinya kuliah dengan beasiswa dan sedang magang, Andira sudah masuk sekolah menengah atas, ibu masih mengurus toko.
Ketika sampai pada ayah, suaranya melambat.
"Ayah stroke. Sekarang banyak kegiatan perlu dibantu. Belum lama ini sempat dirawat karena jatuh dari kursi roda, tapi sudah pulang."
Suara Aliana berubah. "Ayah pakai kursi roda?"
"Sudah lama, Kak."
Dua kata itu membuat percakapan terhenti lagi. Audya mendengar isakan yang ditahan, lalu bunyi seperti kain digeser dekat ponsel.
Dia tidak merasa menang karena kakaknya menangis. Justru ada sedih yang semakin berat ketika menyadari mereka membicarakan orang yang sama dari dua kenyataan yang sangat berbeda.
"Ibu bisa diajak bicara?" tanya Aliana pelan.
Audya menegakkan tubuh. "Bisa. Tunggu sebentar."
Dia menuju kamar orang tuanya. Dina baru selesai merapikan bantal Rudi ketika melihat wajah Audya. Tangannya langsung berhenti.
"Ada apa, Kak?"
Audya menyodorkan ponsel. "Kak Aliana, Bu. Dia mau bicara."
Dina tidak segera mengambilnya. Matanya berpindah dari wajah Audya ke layar, seolah khawatir gerakan terlalu cepat akan membuat kabar itu hilang.
"Aliana?"
Audya mengangguk.
Begitu ponsel menempel di telinga, wajah ibunya berubah. Air mata jatuh bahkan sebelum dia berhasil mengucapkan pertanyaan pertama.
"Kamu sehat, Nak?"
Hanya itu yang keluar. Bukan tuntutan pulang, bukan pertanyaan tentang uang, bukan pula daftar kejadian yang terlewat. Audya berbalik sedikit untuk mengusap pipinya sendiri.
Rudi memperhatikan dari tempat tidur. Dina memegang tangan suaminya sambil terus mendengarkan. Setelah beberapa kalimat yang terputus tangis, dia meminta Audya membantu menyalakan suara agar ayah juga bisa mendengar.
"Yah, ini Aliana."
Rudi tidak langsung menjawab. Jemarinya bergerak dalam genggaman Dina, dan matanya basah. Audya mendekatkan ponsel tanpa memaksanya berbicara.
Andira muncul di pintu setelah mendengar suara tangis. Dia tetap berdiri di sana, kedua tangan memegang kusen, mendengarkan suara kakak yang sebagian besar hanya diingatnya dari masa kecil.
Dina memanggilnya mendekat. Andira menurut dengan langkah ragu, lalu membungkuk sedikit ke arah ponsel.
"Kak, ini Andira."
Aliana menyebut namanya, kali ini disertai tangis yang lebih terdengar. Dia menanyakan sekolah dan terkejut ketika Andira menjawab sudah mengenakan seragam putih abu-abu.
"Kakak masih ingat kamu kecil," gumam Aliana.
"Sekarang sudah besar."
Andira mengatakannya tanpa senyum. Audya tahu adiknya belum memahami seluruh persoalan, tetapi kalimat pendek itu cukup menunjukkan berapa banyak waktu yang lewat tanpa kehadiran Aliana. Tidak ada yang perlu menjelaskan dengan hitungan tahun.
Aliana meminta Andira belajar baik-baik. Gadis itu mengangguk, kemudian mengingatkan bahwa anggukannya tidak terlihat dan menjawab dengan suara. Setelah itu dia bergeser agar ibu bisa kembali mendekat. Tangannya tetap berada di tepi kasur, seolah belum siap meninggalkan percakapan meski tidak tahu apa lagi yang ingin dikatakan.
Aliana meminta maaf. Kalimatnya berulang, kadang tidak selesai. Dina menjawab bahwa mereka ingin mengetahui keadaannya dan mendengar kabar lagi, bukan hanya hari ini.
"Kakak belum bisa pulang sekarang, Bu. Tapi minggu depan kakak telepon lagi. Nomor ini bisa disimpan."
Dina mengangguk meski Aliana tidak bisa melihat. Dia mengulang janji itu pelan, memastikan tidak salah dengar.
Panggilan berakhir setelah mereka berbicara cukup lama. Audya menyimpan nomor Aliana di kedua ponsel, lalu meletakkan ponsel ibu di meja dekat tempat tidur.
Tidak ada yang langsung kembali beraktivitas. Dina duduk bersama Rudi, Andira merapat ke tepi kasur, dan Audya tetap berdiri dengan perasaan yang sulit diberi satu nama.
Kakaknya ditemukan. Dia hidup, bekerja, dan akhirnya mau berbicara. Namun alasan pergi, luka karena ditinggalkan, serta persoalan pulang belum selesai hanya dengan satu panggilan.
Sore harinya, Audya menerima pesan singkat dari Aliana berisi ucapan terima kasih karena sudah mengangkat telepon. Dia menatapnya beberapa saat sebelum membalas.
Minggu depan tolong benar-benar telepon ibu. Jangan buat ibu menunggu tanpa kabar lagi.
Balasan datang tidak lama kemudian.
Iya. Kakak akan telepon.
Audya meletakkan ponsel. Untuk saat ini, dia akan melihat apakah janji itu ditepati. Memaafkan belum bisa dipaksakan, tetapi nomor kakaknya tidak lagi hanya tersimpan pada kertas lama yang tidak tersambung ke siapa pun.