Ponsel Dina berbunyi ketika Audya sedang memakai sepatu. Ibunya yang berada di dapur langsung menghampiri meja, tetapi layar hanya menampilkan pemberitahuan dari penyedia layanan.
Senyum yang sempat muncul perlahan turun.
Audya menunduk lagi, mengikat tali sepatu lebih lama daripada yang diperlukan. Setelah sekian tahun tidak mengetahui apa-apa, sekarang satu nomor membuat seluruh perhatian ibunya mudah berpindah.
"Kak Aliana bilang akan telepon hari Minggu, Bu. Hari ini baru Senin."
"Ibu tahu. Tadi cuma lihat siapa."
Audya mengangguk. Dia tidak ingin mengawasi ibunya seolah menunggu kabar anak adalah kesalahan. Namun dia juga takut melihat Dina kembali menyimpan harapan yang terlalu besar.
Sebelum berangkat, Audya mengingatkan jadwal lesnya sore nanti. Andira sudah tahu giliran menjaga toko dan mengangguk dari meja makan. Tidak ada pertengkaran tentang siapa yang lebih lelah. Pagi yang tenang seharusnya cukup untuk membuat Audya senang.
Sayangnya, sepanjang perjalanan kepalanya tetap dipenuhi suara Aliana.
Kakak malu.
Kalimat itu terus datang setiap kali Audya membayangkan ibu menyimpan kertas nomor lama. Dia mengerti rasa malu bisa membuat orang menghindar. Dia sendiri pernah ingin menghilang hanya karena salah di depan Mayang. Tetapi bertahun-tahun? Bagaimana seseorang bisa membiarkan waktu berjalan selama itu tanpa memberi satu kabar pun?
Di kantor, Audya membuka daftar tugas sebelum pikirannya semakin jauh. Dia sedang menyiapkan catatan untuk pekerjaan rutin yang nantinya dikembalikan kepada pegawai divisi setelah magangnya berakhir.
Mayang meminta daftar itu dibuat sederhana, agar orang yang melanjutkan tidak perlu menanyakan letak setiap berkas satu per satu.
Audya menuliskan lokasi penyimpanan, pekerjaan yang sudah diperiksa, dan dokumen yang masih ditunggu. Saat membaca kembali, dia baru menyadari ada beberapa bagian pekerjaan yang selama ini hanya diingat di kepala.
Kalau dirinya tidak datang, orang lain belum tentu tahu urutannya.
Dia memperbaiki catatan sampai makan siang. Kali ini rasa puas datang dari hal yang berbeda. Bukan menemukan angka yang salah, melainkan membuat pekerjaannya bisa dipahami orang lain tanpa kehadirannya.
Menjelang pulang, pesan dari Aliana masuk.
Kakak masuk kerja sampai malam hari ini. Kalau ibu mencari, tolong bilang nanti kakak kabari setelah selesai.
Audya membacanya dua kali sebelum membalas.
Nomor ibu sudah ada, Kak. Langsung kabari ibu saja. Beliau sudah bisa baca pesan pendek.
Tidak ada nada marah yang ditambahkan. Audya hanya tidak ingin kembali menjadi orang yang harus meneruskan semua kabar dari satu anggota keluarga kepada yang lain.
Aliana membalas bahwa dia akan mengirim pesan. Beberapa menit kemudian, Dina mengabari Audya bahwa kakaknya sedang bekerja. Ada kegembiraan kecil dalam kalimat yang diketik dengan banyak spasi itu.
Audya tersenyum sendiri di dalam angkutan. Setidaknya hari ini Aliana melakukan sesuatu sebelum diminta berulang kali.
Naura sedang menempelkan potongan kertas ketika Audya tiba. Gadis kecil itu ingin menunjukkan bingkai baru untuk gambar, tetapi lem menempel lebih banyak pada ujung jarinya daripada pada kertas.
"Kakak, ini susah lepas."
Audya membantu membersihkan tangan muridnya sebelum memulai pelajaran. Kesibukan sederhana itu membuat pikirannya kembali berada di tempat yang tepat. Ada buku untuk dibuka, angka untuk dihitung, dan seorang anak yang menunggu didengarkan.
Hari itu Naura ingin membaca tulisan pendek di bawah gambar. Audya membantunya mengenali huruf satu per satu, lalu meminta dia mencoba menggabungkannya. Beberapa kali Naura menebak berdasarkan gambar tanpa melihat tulisan, sehingga Audya menutup sebagian halaman dengan kertas kosong.
"Jangan lihat kelincinya dulu. Coba yang ini dibaca."
Naura mengerutkan kening, kesal karena jalan mudahnya ditutup. Namun setelah berhasil membaca satu kata, dia sendiri yang meminta kertas dipindahkan ke gambar berikutnya.
Audya mencatat bagian yang masih tertukar. Ada kepuasan kecil ketika muridnya mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya selalu dijawab dengan gelengan. Dia tidak perlu membuat Naura menguasai seluruh buku hari itu. Cukup tahu latihan mana yang bisa dilanjutkan tanpa membuat anak itu takut mencoba.
Ketika ponsel bergetar di dalam tas, Audya membiarkannya sampai mereka selesai membaca. Dia juga sedang berlatih memberi perhatian pada satu hal yang berada di hadapannya, tanpa terus merasa harus menjawab semua yang datang bersamaan.
Selesai belajar, Naura dibawa pengasuh untuk mandi. Audya sedang menyimpan catatan ketika Argantara muncul di ruang depan. Pria itu menanyakan perkembangan pelajaran, lalu memperhatikan wajahnya beberapa saat.
"Kamu kurang tidur?"
Audya menyentuh bawah matanya tanpa sadar. "Kelihatan sekali, ya, Pak?"
"Sedikit."
Dia hampir menjawab bahwa semuanya baik-baik saja. Namun setelah beberapa kali mengobrol, kalimat itu terasa semakin sulit dipakai hanya untuk menutup percakapan.
"Kemarin kakak saya menelepon. Sudah lama kami tidak dapat kabar. Jadi semalam ibu masih ingin cerita terus."
Argantara mengangguk, menunggu. Dia tidak langsung bertanya mengapa atau berapa lama, dan justru karena itu Audya bisa melanjutkan.
"Kakak saya pergi merantau beberapa tahun lalu. Setelah itu hubungan kami putus. Baru sekarang tersambung lagi."
"Kamu senang?"
Audya tertawa pendek. "Saya juga sedang bingung jawabnya. Senang tahu dia masih ada. Tapi kalau ingat ibu dan ayah selama ini, saya masih kesal."
Argantara duduk di kursi yang berjarak satu meja kecil darinya. Audya ikut duduk karena percakapan ternyata tidak selesai dengan jawaban singkat.
"Saya takut ibu langsung berharap semuanya kembali seperti dulu," lanjut Audya. "Padahal baru satu kali telepon. Kakak juga belum bisa pulang."
"Sudah kamu sampaikan ke ibu?"
"Belum begitu jelas. Takut terdengar seperti melarang ibu senang."
Argantara memandang tangannya sebentar. "Kadang saya juga tidak tahu harus mengatakan apa kalau ibu berharap saya sudah siap melakukan sesuatu yang belum sanggup saya lakukan."
Audya menatapnya. Pria itu tidak menjelaskan lebih jauh, tetapi untuk pertama kalinya dia menyadari ketenangan Argantara mungkin juga dibangun dari percakapan keluarga yang tidak mudah.
"Bapak biasanya bagaimana?"
"Pernah diam terlalu lama. Akhirnya orang lain menebak sendiri. Tidak selalu tepat."
Jawaban itu membuat Audya memikirkan banyak hal sekaligus: Aliana yang pergi tanpa penjelasan, dirinya yang menyimpan perasaan kepada Liam, dan Dina yang mencoba melindungi semua orang dengan mengalah.
Dia mengusap tali tas. "Saya mungkin harus bilang kalau masih butuh waktu."
Argantara mengangguk. "Kalau itu yang kamu rasakan."
Tidak ada janji akan mencari kakaknya, membawanya pulang, atau membereskan persoalan rumah. Audya ternyata tidak membutuhkan semuanya saat itu. Dia hanya ingin menyelesaikan beberapa kalimat tanpa harus segera menjadi orang yang paling kuat.
Ketika berpamitan, wajahnya masih lelah, tetapi tidak setegang saat datang.
Di rumah, Audya duduk di samping Dina sebelum membuka laptop. Dia mengatakan bahwa dirinya senang Aliana sudah menghubungi, tetapi belum bisa bersikap akrab seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Dina mendengarkan, lalu menggenggam tangannya.
"Ibu tidak minta kamu langsung lupa, Kak."
Audya mengangguk. Kalimat itu tidak menghapus kemarahannya. Namun malam itu dia bisa membiarkan ibunya membicarakan kabar Aliana tanpa merasa harus memilih antara ikut tersenyum atau menolak mendengarkan sama sekali.