Matahari mulai menampakkan sinarnya, beberapa murid SMA Harapan Masa mulai memasuki sekolahnya itu untuk bertemu teman-teman dan juga belajar disana.
"Kak beneran mau ikut upacara?" tanya Adhista kepada Arjuna yang sedang fokus mengendarai sepeda motornya.
"Iya Dhis, kalem atuh euy. Aku udah baikan kok," jawab Arjuna.
"Ih masalahnya kan kemarin kamu baru di rawat, masa--" ucapan Adhista terhenti karena langsung dipotong oleh Arjuna.
"Iya, itu seminggu yang lalu Dhis. Ya ampun, udah ya sayang, aku baik-baik aja," seru Arjuna menenangkan Adhista sambil mengelus telapak tangan Adhista yang berada di perutnya.
"Eum, okay. Nanti kalo ada apa-apa panggil aku aja ya, i love u," ucap Adhista lalu mengeratkan pelukannya.
Beberapa menit kemudian...
"Udah Dhis, gue duluan ya. See u," ujar Arju
Arjuna sambil menepuk pelan helm yang masih dipakai Adhista, lalu berjalan menuju kelasnya yang berada di lantai dua.
Adhista masih berdiri di parkiran, memperhatikan punggung kekasihnya itu sampai hilang di balik tangga. Jalannya masih pelan, tidak secepat dulu. Tapi setidaknya, Arjuna sudah kembali ke sekolah.
"Woy bengong mulu, ntar disamber tuyul lo," seru Hanin yang tiba-tiba muncul dari belakang sambil merangkul leher Adhista.
"Ish kaget tau!" jawab Adhista sambil melepas helmnya.
"Kak Juna udah masuk ternyata ya? Alhamdulillah," ucap Oca yang berjalan menyusul di belakang Hanin.
"Iya, tapi gue was-was Ca. Upacara kan lama, panas lagi," jawab Adhista sambil menggigit bibirnya.
"Yaelah Dhis, doain yang bener napa. Bukannya khawatir mulu," omel Hanin lalu menarik tangan Adhista menuju lapangan.
Upacara berjalan seperti biasanya, panjang dan membosankan. Namun bagi Adhista, upacara pagi ini terasa lebih lama dari biasanya, karena matanya sama sekali tidak fokus ke depan. Kepalanya terus menoleh ke barisan kelas dua belas, mencari satu orang di antara puluhan kepala yang berdiri di sana.
Arjuna berdiri di barisan paling belakang. Wajahnya masih pucat, tapi lelaki itu berdiri tegak sampai upacara selesai. Adhista menghembuskan napas lega.
"Adhista Chalondra! Hadap depan!" tegur guru piket dan membuat teman-teman satu barisannya menahan tawa.
Begitu barisan dibubarkan, Adhista langsung menerobos kerumunan menuju barisan kelas dua belas.
"Kak, pusing ngga? Mau aku ambilin minum? Mau duduk dulu?" tanya Adhista beruntun sambil memegangi lengan Arjuna.
"Ya ampun Dhis, aku cuma berdiri satu jam, bukan naik gunung," jawab Arjuna sambil melepas topi upacaranya.
"Muka kamu pucet tau!"
"Emang dari lahir udah gini," jawab Arjuna asal lalu terkekeh melihat Adhista yang langsung memasang wajah cemberut andalannya.
"Nyebelin. Yaudah kalo gitu aku ngga mau nemenin kamu istirahat nanti."
"Eh jangan gitu dong sayang," seru Arjuna cepat, membuat Adhista tertawa karena berhasil membalas.
***
Bel istirahat berbunyi, Adhista dan kawan-kawannya langsung berhamburan menuju kantin seperti biasa.
"Gue beli minum dulu ya, kalian duluan aja," ucap Adhista lalu berjalan menuju koperasi sekolah.
Baru beberapa langkah, seseorang memanggilnya dari belakang.
"Eh, itu punya kamu bukan?"
Adhista menoleh. Seorang lelaki berdiri di sana, memakai seragam dengan lengan yang digulung rapi sampai siku, dan tangannya menyodorkan sesuatu. Papan nama Adhista yang ternyata sudah copot dari saku seragamnya.
"Eh iya, punya aku. Makasih ya kak," jawab Adhista sambil menerimanya.
Adhista menatap lelaki itu sebentar dan mengernyit. Rasanya wajah ini tidak asing.
"Kita pernah ketemu ya kak? Kayaknya aku pernah nabrak kakak deh di kantin," tanya Adhista.
Lelaki itu tertawa kecil, suaranya pelan sekali, sama seperti waktu itu.
"Iya, yang bawa nasi goreng terus hampir tumpah ke seragam aku," jawabnya.
"Astaghfirullah maaf kak, aku emang suka ngga liat-liat kalo jalan," seru Adhista sambil menangkupkan kedua tangannya minta maaf.
"Santai aja. Aku Revi, kelas dua belas," ucap lelaki itu memperkenalkan diri.
"Adhista kak, panggil aja Adhis."
"Iya, aku tau kok," jawab Revi lalu buru-buru menambahkan, "maksudnya, anak sekelas aku sering nyebut nama kamu."
Adhista mengernyit bingung, tapi belum sempat bertanya, dari arah tangga terdengar suara yang sangat ia kenal.
"Dhis."
Arjuna berjalan mendekat dengan langkah pelan, satu tangannya masuk ke saku celana. Matanya menyapu Revi dari atas ke bawah, lalu berhenti di wajah Adhista.
"Eh Kak Juna! Aku lagi mau ke koperasi, terus papan nama aku jatoh terus dibalikin sama Kak Revi," jelas Adhista panjang lebar tanpa diminta.
"Oh," jawab Arjuna singkat lalu berdiri di samping Adhista dan menggenggam tangannya, terang-terangan.
Revi melirik genggaman tangan itu sebentar, lalu tersenyum kaku.
"Jun, ini pacar lo?" tanya Revi.
"Iya. Kenapa?" jawab Arjuna dengan suara baritonnya yang datar.
"Ngga apa-apa. Pantesan lo betah banget nungguin adek kelas di depan gerbang tiap pagi," jawab Revi lalu tertawa kecil. "Gue duluan ya, mau ke perpus."
Setelah Revi pergi, Adhista menoleh ke arah Arjuna sambil menahan senyum.
"Kalian sekelas?"
"Iya, sekelas," jawab Arjuna acuh.
"Terus kenapa muka kamu jadi kaya orang abis makan cabe satu kilo gitu?"
"Ngga papa."
"Bohong."
"Ngga papa, Dhis," ulang Arjuna, tapi genggaman tangannya justru semakin erat.
Adhista tertawa puas sampai harus menutupi mulutnya sendiri. Baru kali ini dirinya melihat Arjuna cemburu, dan ternyata rasanya menyenangkan sekali.
"Kak Juna cemburu ya?"
"Enggak."
"Cemburu."
"Adhista."
"Iya iya maaf," seru Adhista lalu menarik lengan seragam Arjuna. "Yaudah temenin aku ke koperasi, aku haus."
Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor yang mulai sepi. Diam-diam, tangan Adhista menyelinap ke saku celana Arjuna, meraba-raba isinya.
"Ngapain sih?" tanya Arjuna sambil menahan tangan Adhista.
"Ngecek," jawab Adhista polos. "Kalo aku nemu rokok satu batang aja, aku ngambek seminggu."
Arjuna terdiam sesaat, lalu mengacak rambut Adhista dengan gemas.
"Ngga ada. Udah aku buang semua," jawabnya pelan.
"Beneran?"
"Beneran."
Adhista tersenyum lebar dan mengangguk puas, tanpa tahu bahwa saat mengucapkan kalimat itu, Arjuna sengaja tidak menatap matanya.
Bel masuk berbunyi. Anak-anak berlarian kembali menuju kelas masing-masing.
"Nanti pulang tunggu aku ya, jangan pulang duluan," ucap Arjuna sebelum melepas tangan Adhista di depan tangga.
"Siyap kak!" jawab Adhista sambil memberi hormat ala upacara tadi, membuat Arjuna terkekeh dan menggelengkan kepalanya.