"Halo Dhis, aku udah di parkiran ya. cepet aku tunggu," ucap Arjuna melalui telepon genggamnya.
"Iya oke, aku beres-beres dulu. Jangan kabur!" seru Adhista lalu mematikan teleponnya dan membereskan semua perlengkapan sekolahnya.
Setelah selesai dengan semua itu, Adhista langsung pamit kepada teman-temannya dan berlari menuju parkiran.
"Ngapain sih lari-lari udah kaya abis dikejar anjing aja kamu Dhis," ucap Arjuna memperhatikan Adhista yang sedang mengatur nafasnya.
"Ish aku takut ditinggal kamu tau! nyebelin," jawab Adhista lalu memakai masker dan helmnya.
"Nih minum dulu, aku tau kamu haus," seru Arjuna sambil memberikan botol minumnya kepada Adhista.
"Ya ampun peka banget, ngga nyesel aku jadiin kamu pacar," jawab Adhista dengan wajah sumringah dan memeluk lengan Arjuna.
"Udah ja
jangan lebay, ayo naik. Keburu sore," ucap Arjuna sambil menyalakan mesin motornya.
"Kita mau kemana emang?" tanya Adhista sambil naik dan melingkarkan tangannya di perut Arjuna.
"We time."
"Apaan tuh?"
"Ya waktu kita berdua. Udah lama kan aku ngga ngajak kamu jalan, terakhir tuh sebelum aku masuk rumah sakit," jawab Arjuna lalu menjalankan motornya keluar dari gerbang sekolah.
Adhista tidak menjawab, tapi pelukannya mengerat. Dia hanya tersenyum di balik maskernya, senyum yang tidak dilihat siapa pun termasuk oleh pemilik punggung yang sedang ia peluk itu.
***
Motor Arjuna berhenti di depan sebuah warung mie ayam kecil di pinggir jalan, tempat yang dulu sering mereka datangi sepulang sekolah.
"Bang, dua ya. Yang satu ngga pake sawi, ngga pake bawang, ngga pake kuah banyak-banyak," seru Arjuna kepada abang penjualnya.
"Ish kok kamu tau?" tanya Adhista sambil melotot.
"Ya tau lah, kamu pacar aku bukan sih," jawab Arjuna sambil mengambilkan air minum untuk Adhista.
"Ya pacar kamu lah, masa pacarnya Kak Chandra," jawab Adhista asal yang langsung mendapat jitakan pelan di kepalanya.
Mereka makan sambil bercerita tentang apa saja. Tentang guru fisika yang katanya galak, tentang Hanin yang ketiduran waktu jam pelajaran, tentang Oca yang ketahuan bawa handphone, sampai tentang Bunga yang katanya semakin sering datang ke rumah Adhista.
"Kak," panggil Adhista di sela-sela suapannya.
"Hm?"
"Habis lulus kamu mau kuliah dimana?"
Sendok di tangan Arjuna berhenti sebentar. Hanya sebentar, tapi Adhista melihatnya.
"Belum tau," jawab Arjuna sambil kembali menyuap mienya.
"Masa belum tau sih, kan tinggal beberapa bulan lagi."
"Kamu aja deh yang mikirin kuliah. Kamu masih lama, jadi belajarnya yang bener dari sekarang," jawab Arjuna mengalihkan pembicaraan.
"Loh kok jadi aku," protes Adhista.
"Ya iya, kamu tuh pinter Dhis. Sayang kalo dibuang-buang. Nanti kamu masuk universitas yang bagus, terus jadi orang, terus jangan lupa sama aku," jawab Arjuna sambil tertawa kecil.
"Ih ngomong apa sih, kan nanti kita kuliahnya bareng."
Arjuna tidak menjawab. Lelaki itu hanya tersenyum, lalu mengusap sudut bibir Adhista yang belepotan kuah dengan ibu jarinya.
***
Setelah dari warung mie ayam, Arjuna membawa Adhista ke sebuah taman kota yang letaknya tidak jauh dari sekolah mereka. Sore itu tamannya cukup sepi, hanya ada beberapa anak kecil yang bermain sepeda dan beberapa orang tua yang duduk di bangku panjang.
Mereka duduk di rumput, di bawah pohon yang cukup rindang, memandangi langit yang mulai berubah warna menjadi jingga.
"Dhis."
"Hm?"
"Foto yuk," ajak Arjuna sambil mengeluarkan handphonenya.
"Tumben banget kamu mau difoto, biasanya di ajak foto aja susahnya minta ampun," ejek Adhista sambil merapikan rambutnya.
"Ya sekali-kali. Sini deket."
Mereka berfoto berkali-kali sampai Adhista sendiri yang bosan. Foto berdua sambil tertawa, foto Adhista yang sedang cemberut, foto Arjuna yang wajahnya ditutupi telapak tangan Adhista, sampai foto bayangan mereka berdua di atas rumput yang memanjang karena matahari sore.
"Nih liat, muka kamu jelek banget yang ini," ejek Adhista sambil memperlihatkan layar handphone Arjuna.
"Hapus."
"Ngga mau, ini malah yang paling bagus. Aku simpen buat jaga-jaga kalo kamu nakal," jawab Adhista lalu berlari kecil menghindari tangan Arjuna yang berusaha merebut handphonenya.
"Kirim semuanya ke aku ya," pinta Adhista sambil melihat hasil fotonya satu per satu.
"Iya nanti aku kirim. Kamu edit yang bagus, terus cetak, terus taroh di kamar kamu," ucap Arjuna.
"Ish kenapa harus dicetak sih? Kan di handphone juga bisa dilihat."
"Handphone bisa hilang, bisa rusak, bisa kereset," jawab Arjuna sambil menatap lurus ke depan. "Kalo dicetak kan enggak."
Adhista mengernyit menatap wajah samping kekasihnya itu. Ada sesuatu di nada suara Arjuna yang tidak Adhista mengerti, dan entah kenapa membuat dadanya terasa tidak enak.
"Kak Ju—"
*Uhuk*
Arjuna terbatuk. Sekali, dua kali, lalu semakin lama semakin panjang sampai bahunya berguncang. Buru-buru lelaki itu menutup mulutnya dengan lengan seragamnya.
"Kak! Kenapa? Aku ambilin minum ya, tunggu bentar," seru Adhista panik lalu bangkit hendak berlari ke arah penjual minuman.
"Dhis," tahan Arjuna sambil menarik ujung rok Adhista. Napasnya masih sedikit terputus-putus. "Duduk. Aku gapapa, keselek angin doang tadi."
"Bohong terus!"
"Beneran," jawab Arjuna sambil menepuk tempat di sampingnya. "Duduk sini, jangan bikin sore aku jadi ngga enak."
Adhista akhirnya duduk kembali, walau bibirnya masih maju beberapa senti. Tangannya langsung mengusap-usap punggung Arjuna pelan, kebiasaan yang ia lakukan sejak dulu.
"Kamu tuh kalo sakit bilang. Jangan disimpen sendiri," ucap Adhista lirih.
"Iya."
"Janji?"
"Janji," jawab Arjuna, lalu menarik kepala Adhista untuk bersandar di bahunya.
Mereka duduk seperti itu cukup lama, tanpa bicara apa-apa, hanya mendengarkan suara anak-anak yang berteriak dan suara motor yang lewat di jalan sebelah taman.
Langit sudah hampir gelap ketika Arjuna akhirnya mengantar Adhista pulang.
"Makasih ya kak, hari ini seneng banget," ucap Adhista sambil melepas helmnya di depan pagar rumah.
"Sama-sama. Oiya Dhis," panggil Arjuna sebelum gadis itu masuk.
"Apa?"
"Minggu besok ke rumah aku ya, temenin aku belajar. Minggu depannya aku udah try out," ucap Arjuna sambil memasang wajah memelas yang dibuat-buat.
"Ih males, kamu kalo belajar suka tidur," jawab Adhista pura-pura menolak.
"Makanya ditemenin. Ya? Ya? Ya?"
"Iya iya, cerewet," seru Adhista lalu masuk ke dalam rumahnya sambil tertawa.