Tak terasa sudah hari minggu saja, dan minggu depan Arjuna akan melaksanakan Try out karena sebentar lagi dirinya akan lulus dari SMA.
Hari ini Adhista sedang bermain di rumah Arjuna sambil menemani sang kekasihnya itu belajar.
Sebenarnya Arjuna pintar, tapi dia pemalas. Jadi Adhista ikut menemaninya agar Arjuna tidak bermalas-malasan saat belajar.
"Ayo cepet, masa hapalan sedikit aja ngga bisa sih?" ucap Adhista sambil membaca buku detik-detik milik Arjuna.
"Aku baca sekali lagi, terus nanti kamu cocokin yang salah dimana," ujar Arjuna lalu fokus membaca bukunya lagi.
"Iya udah cepet, semangat sayang," seru Adhista lalu mencubit pipi Arjuna.
Saat Adhista sedang menunggu Arjuna yang menghapal beberapa materi, dirinya sibuk mengedit foto-fotonya bersama dengan Arjuna.
Melihat ulang foto-foto sore itu membuat Adhista tersenyum sendiri seperti orang kurang waras. Foto bayangan mereka berdua di atas rumput, foto Arjuna yang wajahnya ia tutupi dengan telapak tangannya, sampai foto dirinya yang sedang cemberut karena mie ayamnya diambil satu suap.
"Kak, ini yang mana yang mau dicetak?" tanya Adhista sambil mengangkat handphonenya tinggi-tinggi.
"Yang mana aja, kamu kan yang milih," jawab Arjuna tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
"Ish ditanya malah gitu jawabnya."
"Lagi ngapal, Dhis," jawab Arjuna sambil menutup satu telinganya dengan tangan.
"Iya iya maaf, lanjut," seru Adhista lalu kembali sibuk dengan handphonenya.
"Kak, coba deh liat ini," seru Adhista sambil menggeser handphonenya ke depan wajah Arjuna.
"Apaan?"
"Ini foto kita di taman, aku kasih tulisan kecil di pojoknya. Bagus ngga?"
Arjuna memicingkan matanya membaca tulisan kecil di sudut foto itu, kemudian tersenyum tipis.
"Bagus," jawabnya singkat, lalu kembali menunduk ke bukunya.
"Cuma bagus doang? Aku ngedit ini dari tadi loh," protes Adhista sambil menarik lengan seragam rumahan Arjuna.
"Iya, bagus banget, cantik, keren, juara satu se-Indonesia. Udah ya, aku mau ngapal," jawab Arjuna asal-asalan dan langsung mendapat lemparan bantal kecil ke arah kepalanya.
Beberapa menit kemudian Arjuna menutup bukunya dan menyodorkannya kepada Adhista.
"Udah. Tanya," ucapnya.
"Beneran udah hafal?"
"Beneran."
Adhista membuka halaman yang tadi dibaca Arjuna, lalu mulai bertanya satu per satu. Dua pertanyaan pertama dijawab dengan benar dan cepat. Pertanyaan ketiga dijawab dengan lancar juga, walaupun ada satu kata yang tertukar. Pertanyaan keempat, Arjuna diam.
"Ayo, kok diem?"
"Bentar, lagi loading."
"Loading apaan, tadi katanya udah hafal," sindir Adhista.
"Ya kan manusia bisa lupa, Dhis," jawab Arjuna sambil melirik ke arah buku yang dipegang Adhista, berusaha mengintip.
"HEH ngintip ya kamu!" seru Adhista lalu menutup bukunya rapat-rapat ke dada.
"Ngga, aku cuma liat aja."
"Sama aja bego!"
Arjuna tertawa keras sampai kepalanya terantuk pinggiran meja belajar, dan itu justru membuat Adhista ikut tertawa sampai matanya menyipit.
Pintu kamar diketuk, kemudian Indah masuk sambil membawa nampan berisi dua gelas susu dan sepiring pisang goreng.
"Kalian ini kalo ketawa kedengeran sampe bawah loh," ucap Indah sambil meletakkan nampan itu di lantai, di antara mereka berdua.
"Habisnya Kak Juna curang Bun, katanya udah hafal padahal ngintip," adu Adhista.
"Ya emang gitu anak Bunda, dari kecil ngga berubah," jawab Indah sambil terkekeh.
"Mama," protes Arjuna.
"Kenapa? Bunda ngomong fakta," jawab Indah lalu mengelus kepala putranya itu sebentar. Terlalu sebentar, tapi Adhista sempat melihat bagaimana tangan wanita itu berhenti sepersekian detik di sana.
"Dhista, kamu makan dulu ya, nanti Bunda buatin makan siang," ucap Indah lalu keluar dari kamar dan menutup pintunya kembali.
Adhista mengambil satu pisang goreng dan menggigitnya, lalu matanya tak sengaja menangkap sesuatu di sela-sela tumpukan buku Arjuna. Sebuah strip obat yang sudah tinggal beberapa butir.
"Ini obat apa?" tanya Adhista sambil mengambil strip itu dan membaca tulisannya yang sama sekali tidak ia mengerti.
Arjuna langsung mengambilnya dari tangan Adhista, tidak kasar, tapi cepat sekali.
"Vitamin," jawabnya.
"Vitamin kok namanya susah gitu."
"Ya emang gitu nama vitamin di apotek, Dhis," jawab Arjuna sambil memasukkan strip itu ke laci mejanya.
Adhista menatap laci yang baru saja ditutup itu beberapa saat. Dia ingin bertanya lagi, ingin sekali. Tapi setiap kali dirinya bertanya soal sakitnya Arjuna, jawaban yang ia dapat selalu sama, dan ujungnya Arjuna akan diam seharian.
Jadi Adhista memilih menelan pertanyaannya, lagi.
"Yaudah, lanjut hafalan. Awas kalo salah, aku cubit," ancam Adhista sambil membuka buku itu lagi.
"Iya bawel."
Mereka belajar sampai lewat tengah hari. Adhista membacakan soal, Arjuna menjawab, kadang benar, kadang ngasal sampai Adhista harus menahan diri untuk tidak melempar buku ke kepalanya.
Sampai kemudian suara Arjuna berhenti terdengar.
Adhista menoleh dan mendapati kekasihnya itu sudah tertidur dengan kepala di atas meja, buku detik-detik masih terbuka di depan wajahnya.
"Kak?" panggil Adhista pelan.
Tidak ada jawaban.
Adhista memperhatikan wajah Arjuna dari dekat. Wajah yang beberapa minggu lalu terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit, dan sekarang tertidur di sini, di kamarnya sendiri, sambil sesekali mengerutkan dahi.
Diam-diam, Adhista mengambil handphonenya dan memotret pemandangan itu. Satu foto lagi untuk dicetak nanti.
"Cepet sembuh ya, kak," bisik Adhista sambil menarik selimut kecil dari kasur dan menyampirkannya ke punggung Arjuna.
***
Menjelang sore, Adhista berpamitan pulang.
"Bunda, Dhista pulang ya. Makasih makan siangnya," seru Adhista dari anak tangga.
Tidak ada jawaban. Adhista turun dan berjalan menuju dapur, dan di sanalah dia berhenti.
Indah berdiri membelakanginya, handphone menempel di telinga, satu tangannya memegang pinggiran meja dapur erat-erat.
"Iya dok, saya ngerti. Jadi hasil yang kemarin itu berarti belum bisa jadi patokan ya?" ucap Indah pelan. "Iya... iya dok. Minggu depan saya bawa Arjuna ke sana lagi. Tolong jangan bilang apa-apa dulu ke dia, dok."
Adhista berdiri diam di ambang pintu dapur. Kakinya terasa berat sekali, dan entah kenapa telapak tangannya mendadak dingin.
Indah menoleh dan langsung menurunkan handphonenya, lalu tersenyum. Senyum yang terlalu cepat dibuat.
"Eh, Dhista. Udah mau pulang ya sayang?"
"I-iya Bun," jawab Adhista.
"Yaudah hati-hati ya di jalan. Salam buat Ayah sama Ibu kamu," ucap Indah lalu mengantar Adhista sampai ke depan pintu, seolah percakapan tadi tidak pernah ada.
Adhista mengangguk dan berjalan keluar pagar. Namun sepanjang jalan pulang, satu kalimat terus berputar di kepalanya, tidak mau pergi sama sekali.
Tolong jangan bilang apa-apa dulu ke dia, dok.