Pesan itu masuk pukul sebelas lewat dua puluh, di antara dua antrean pelanggan yang menunggu layar ponsel mereka diganti. Laras membacanya sambil tetap memegang obeng pentalobe sebesar ujung jarum. Kakek jatuh di bengkel. Tidak parah, katanya. Tapi Bu Surti yang mengetik pesan itu menambahkan tiga tanda seru, dan tiga tanda seru dari tetangga sebelah ruko berarti sesuatu yang tidak ringan.
"Bos, aku izin keluar sebentar," katanya pada Reza, sesama teknisi di konter servis ponsel itu, sambil menutup casing Samsung yang baru dipasanginya baterai. "Kakekku jatuh."
Reza hanya mengangkat dagu. Di mal, semua orang terbiasa pergi dan datang seperti air keran. Laras menyambar jaket, menyelinap keluar dari etalase berlampu putih yang memantulkan wajahnya sendiri di kaca, dan setengah berlari ke parkiran motor. Sepanjang jalan ia mengulang kalimat itu di kepala. Tidak parah. Tidak parah. Ia ingin percaya, tapi ia juga tahu kakeknya tujuh puluh satu tahun dan tidak pernah mau mengeluh sampai sesuatu sudah betul-betul tidak bisa ditahan.
Jalan Cendana selalu terasa seperti masuk ke dalam foto lama. Begitu motornya membelok dari jalan besar yang ramai oleh pusat perbelanjaan dan papan iklan digital, suara berganti. Klakson menghilang, digantikan dengung kipas angin tua, suara mesin jahit, dan radio yang menyetel lagu dangdut dari warung kopi di ujung deret. Deretan ruko dua lantai itu berdiri rapat, catnya mengelupas di sana-sini, kanopi sengnya berkarat di tepian. Tukang kunci. Penjahit permak. Fotokopi. Dan di nomor sebelas, papan kayu yang catnya sudah pudar: REPARASI JAM HARDIMAN, SEJAK 1974.
Laras memarkir motornya asal, tidak sampai dikunci stang, dan mendorong pintu kaca yang berdenting karena lonceng kecil di atasnya. Dan seperti selalu, dinding suara itu menyambutnya. Detak. Puluhan detak. Jam dinding dari berbagai zaman menggantung berderet di seluruh tembok, masing-masing berdetak dengan iramanya sendiri, tidak ada satu pun yang serempak, sehingga seluruh ruangan terdengar seperti hujan kecil yang tak pernah berhenti. Dulu, waktu kecil, suara ini menenangkannya. Sekarang ia hanya berpikir betapa anehnya menghidupi puluhan jam yang tak satu pun menunjuk waktu yang sama.
"Kek?"
"Di sini." Suara itu datang dari balik meja kerja, kalem, sedikit serak. "Tidak usah teriak, Las. Kakek belum tuli."
Pak Hardi duduk di kursi rotannya, satu tangan menahan siku yang lain. Di lantai dekat kakinya ada bangku kecil yang terbalik, dan beberapa lembar kertas berserakan. Bu Surti dari ruko penjahit berdiri di sampingnya, wajahnya cemas, sebuah gelas teh di tangan.
"Untung tadi Ibu lewat," kata Bu Surti pada Laras. "Kakekmu mau ambil sesuatu di rak atas, naik bangku, lalu oleng. Kepalanya nyaris kena sudut meja."
Laras berjongkok, memeriksa siku kakeknya, lutut, pelipis. Ada lecet merah di lengan bawah, kulitnya yang setipis kertas itu mengelupas sedikit. "Kepala kebentur?"
"Tidak. Cuma siku. Sudah, jangan dramatis." Pak Hardi menarik lengannya pelan. "Kakek cuma kehilangan keseimbangan. Sudah biasa orang tua."
"Tidak biasa, Kek. Orang tidak jatuh begitu saja." Laras berdiri, mengeluarkan ponsel. "Ke dokter sekarang. Aku antar."
"Tidak." Suara itu naik sedikit, lalu turun lagi, seperti orang yang sadar tak perlu meninggikannya. Pak Hardi menunjuk meja kerjanya dengan dagu. Di atas alas kulit berwarna gelap, di bawah kaca pembesar berlampu, terbaring sebuah jam tangan terbuka, bagian dalamnya menganga, gerigi-gerigi kecil berkilau seperti perhiasan di bawah cahaya. "Itu punya Pak Wahyu. Dijanjikan jadi sore ini. Tutup belakangnya sudah kubuka, kalau ditinggal kemasukan debu, kerjaan dua hari sia-sia. Selesaikan dulu jam itu, baru kita bicara dokter."
Laras menatap jam itu, lalu menatap kakeknya. Ia bekerja dengan ponsel setiap hari, ratusan, ribuan unit dalam karier pendeknya. Ia bisa membongkar dan memasang kembali sebuah ponsel kelas atas dalam dua puluh menit dengan mata tertutup. Tapi gerigi-gerigi di meja itu, halus seperti butir-butir pasir yang disusun manusia, membuat tangannya terasa kasar dan bodoh. Ia tahu cara mengganti modul. Ia tidak tahu cara membujuk logam sekecil itu untuk hidup kembali.
"Aku tidak bisa menyelesaikan itu, Kek," katanya jujur. "Aku tidak tahu caranya."
"Maka kakek yang selesaikan. Kamu antar setelahnya."
"Tanganmu gemetar."
Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang ia maksud, dan ruangan terasa hening sesaat, meski jam-jam tetap berdetak. Pak Hardi menatap tangannya sendiri, tangan yang sejak tadi memang bergetar halus, seperti daun yang tersentuh angin yang tak terasa orang lain. Ia mengepalkannya pelan, membuka lagi, seolah menguji apakah ia masih pemiliknya.
"Sekarang gemetar," katanya akhirnya, suaranya lembut, hampir seperti pada diri sendiri. "Sebentar lagi tidak."
Bu Surti pamit, menepuk bahu Laras pelan saat lewat, bisikan yang tak perlu kata-kata. Pintu berdenting menutup. Laras berdiri di tengah ruangan kecil itu, di antara aroma minyak pelumas yang manis dan logam, di antara laci-laci kayu bertumpuk yang masing-masing diberi nomor dengan tinta yang sudah memudar, di antara puluhan detak yang tak pernah sepakat.
Ia menghela napas. Lalu menarik bangku kecil itu, mendudukkannya tegak, dan duduk di sebelah kakeknya, cukup dekat untuk bisa menahan kalau tangan tua itu kembali oleng. Ia tidak akan ke dokter sekarang. Ia tahu itu, kalah sebelum bertanding. Tapi ia bisa menunggu. Ia bisa menunggui satu jam selesai.
Di luar, di Jalan Cendana, sore mulai turun pelan-pelan, dan tak satu pun jam di dinding itu menunjukkan jam yang sama.