Dokter itu muda, mungkin seumuran Laras, dan punya cara bicara yang sabar pada pasien tua. Pak Hardi akhirnya mau diperiksa keesokan paginya, bukan karena Laras berhasil membujuknya, tapi karena jam Pak Wahyu sudah selesai dan diantar, sehingga tak ada lagi alasan untuk menunda.
"Tekanan darah Bapak agak tinggi, tapi bukan itu yang membuat jatuh," kata dokter sambil memegang lembut pergelangan tangan Pak Hardi, memintanya merentangkan jari. Mereka semua melihat getaran itu, halus tapi nyata. "Ini tremor. Pada usia Bapak, sering kali memang bagian dari penuaan saraf. Tidak berbahaya untuk hidup. Tapi untuk pekerjaan yang butuh ketelitian tinggi, ini akan mengganggu."
"Pekerjaan saya memperbaiki jam," kata Pak Hardi datar. "Tidak ada yang lebih butuh ketelitian dari itu."
Dokter tersenyum kecil, tidak meremehkan. "Kalau begitu, saran saya, Bapak istirahat dulu. Beberapa minggu, kalau bisa beberapa bulan. Bukan berhenti selamanya, tapi beri tubuh waktu. Stres dan kelelahan memperparah tremor. Kalau Bapak terus memaksakan tangan untuk hal yang sangat halus dan terus gagal, itu justru menambah tekanan, dan tekanan menambah getaran. Lingkaran yang tidak menolong."
Di mobil sewaan dalam perjalanan pulang, mereka berdua diam. Laras menyetir, dan dari sudut matanya ia melihat kakeknya menatap tangannya sendiri yang terbuka di atas paha, seperti orang menatap alat yang tiba-tiba berkhianat.
"Tiga bulan," kata Pak Hardi tiba-tiba.
"Apa?"
"Dokter bilang beberapa bulan. Kakek bilang tiga. Setelah itu kakek kembali kerja."
Laras tahu ke mana arah pembicaraan ini, dan ia sudah memikirkannya sepanjang malam, berbaring di kamar lamanya di rumah kakek yang tak banyak berubah sejak ia SMA. "Lalu bengkelnya bagaimana selama tiga bulan?"
"Tutup."
"Tidak bisa tutup tiga bulan, Kek. Pelanggan pindah, sewa tetap jalan." Ia berhenti di lampu merah, menoleh. "Aku ambil cuti. Aku jaga."
Ia sendiri kaget mendengar dirinya mengatakannya. Tapi begitu kalimat itu keluar, ia tahu memang itu satu-satunya jalan yang masuk akal. Kakeknya membesarkannya sejak ia berumur enam tahun, sejak orang tuanya pergi ke kota lain mencari kerja dan tak pernah benar-benar kembali utuh. Kakeknya yang menemani ujian, yang membayar sepatu, yang diam-diam menyimpan rapornya. Tiga bulan menjaga sebuah ruko terasa seperti hutang yang terlalu kecil.
"Kamu tidak bisa memperbaiki jam," kata Pak Hardi, tapi tidak menolak.
"Aku tidak akan memperbaiki. Aku akan menjaga. Terima titipan, catat, kalau gampang aku coba, kalau susah ditahan sampai kakek sembuh." Lampu hijau. Ia melaju. "Anggap saja aku menunggui toko kosong yang kebetulan bunyi."
Dan begitulah, dengan setengah hati dari kedua pihak, kesepakatan itu jadi.
Minggu pertama berjalan lebih lambat dari yang pernah Laras bayangkan tentang waktu. Di konter mal, satu hari bisa berisi tiga puluh, empat puluh pelanggan, antrean tak putus, ponsel datang dengan layar pecah dan pergi dengan layar baru, uang masuk dalam aliran yang stabil dan bisa dihitung. Di sini, ia bisa duduk dua jam tanpa lonceng pintu berbunyi sekali pun. Ia membersihkan etalase yang sudah bersih. Ia menyusun ulang laci yang sudah tersusun. Ia menatap jam-jam dinding berdetak dan mencoba menebak mana yang paling akurat, lalu menyadari ia tak punya cara membuktikannya.
Di penghujung hari ketujuh, ia membuka buku kas yang diserahkan kakeknya, buku tulis bersampul cokelat dengan garis-garis yang ditarik tangan menggunakan penggaris dan pulpen. Ia menjumlah pemasukan minggu itu. Ganti baterai jam tangan, dua belas ribu kali empat orang. Servis ringan jam dinding, satu, lima puluh ribu. Pasang tali kulit, satu, dua puluh ribu. Ia menjumlah ulang, yakin ada yang terlewat.
Seratus delapan belas ribu rupiah. Dalam tujuh hari.
Laras menyandarkan punggung ke kursi rotan dan menatap angka itu lama sekali. Di mal, ia bisa menghasilkan lebih dari itu dalam satu jam sibuk. Ia membuka aplikasi catatan di ponselnya dan mulai mengetik dengan jari yang terlatih cepat. Sewa ruko, ia tahu dari kakeknya, dua juta sebulan, dan tahun depan pemilik mau menaikkannya. Listrik. Air. Minyak, suku cadang, oli. Ia membuat kolom, memasukkan angka, dan hasilnya muncul di layar dengan kejujuran yang dingin: bengkel ini rugi. Bukan rugi karena satu bulan buruk. Rugi karena memang begitu cara kerjanya.
Ia menatap deretan jam di dinding, semua benda yang dirawat dengan tangan selama puluhan tahun, semua waktu yang dijaga agar tetap berjalan, dan untuk pertama kalinya pertanyaan itu terbentuk dengan jernih di kepalanya, bukan sebagai cemoohan, tapi sebagai teka-teki yang tak bisa ia pecahkan: kalau angkanya sejelas ini, kenapa tempat ini masih ada?
Lonceng pintu berdenting. Seorang ibu masuk, memeluk sesuatu yang dibungkus saputangan, dan Laras menutup aplikasi di ponselnya, belum tahu bahwa pertanyaan itu baru saja akan mulai dijawab.