Ibu itu meletakkan bungkusan saputangannya di atas meja kerja dengan kehati-hatian yang berlebihan, seperti orang meletakkan telur. Ia membukanya pelan-pelan, lipatan demi lipatan, dan di dalamnya ada sebuah jam tangan pria, tua, kaca depannya buram di tepi, tali kulitnya retak-retak dan menghitam karena keringat bertahun-tahun.
"Bisa diperbaiki, Mbak?" tanya ibu itu. "Sudah mati lama. Saya simpan saja di laci. Tapi anak saya wisuda bulan depan, dan saya ingin dia memakai ini hari itu."
Laras mengambil jam itu, memutar mahkotanya. Tidak ada respons, jarum-jarumnya membatu di angka empat lewat sepuluh, entah sejak kapan. Ia membaliknya, melihat tulisan halus terukir di tutup belakang, sudah aus tapi masih terbaca: sebuah nama dan tanggal. Refleksnya, refleks yang telah dilatih ribuan kali di balik etalase mal, mengambil alih sebelum ia sempat berpikir.
"Bu, sebenarnya untuk jam model begini, kalau dihitung-hitung, lebih murah beli baru. Yang baru malah bisa lebih bagus, ada yang anti air, lebih awet. Kalau ini diservis, belum tentu tahan lama, dan ongkosnya bisa—"
Ia berhenti.
Ia berhenti karena melihat wajah ibu itu berubah. Bukan marah. Lebih buruk dari marah. Wajah itu seperti orang yang baru saja diberitahu bahwa sesuatu yang ia bawa dengan tangan gemetar ternyata tidak berharga, bahwa ia sudah keliru datang. Mata ibu itu turun ke jam di tangan Laras, dan ia mengulurkan tangan, perlahan, seperti hendak mengambilnya kembali.
"Ini jam ayahnya," kata ibu itu pelan. "Suami saya. Dia sudah tidak ada tiga tahun. Anak saya yang wisuda itu... ayahnya tidak sempat lihat dia jadi sarjana." Ia menelan sesuatu. "Bukan soal jamnya bagus atau tidak, Mbak. Saya cuma ingin ada sebagian dari ayahnya di tangannya, hari itu. Cuma itu."
Laras merasa wajahnya panas. Ia ingin menarik kembali kalimatnya, menelannya bulat-bulat, tapi kalimat yang sudah keluar tidak bisa diperbaiki seperti baterai diganti. Dari belakang, dari kursi rotan tempat ia duduk sambil pura-pura menyortir gerigi padahal sejak tadi mendengarkan, Pak Hardi bangkit pelan-pelan.
"Boleh saya lihat, Bu?" Suaranya berbeda dari yang biasa Laras dengar, lebih lembut, suara yang sudah lima puluh tahun menerima benda-benda yang dibawa orang bukan karena rusak, tapi karena tak rela kehilangan. Ibu itu menyerahkan jam dengan lega yang kentara.
Pak Hardi memutar mahkotanya, mendekatkannya ke telinga, menggoyangnya halus di samping kepala. "Per utamanya masih ada. Tidak patah, cuma macet, mungkin karena oli lama mengering jadi getah. Ini bisa hidup lagi, Bu. Bukan jam baru, memang. Tapi yang Ibu mau bukan jam baru." Ia tersenyum tipis. "Beri saya seminggu. Ongkosnya untuk membersihkan dan mengoli, tidak mahal. Saya kerjakan sendiri."
Mata ibu itu berkaca, tapi tidak tumpah. Ia mengangguk berkali-kali, mengucapkan terima kasih lebih dari yang perlu, dan saat ia keluar dan lonceng pintu berdenting, ruangan terasa berbeda, seolah sesuatu yang penting baru saja lewat dan meninggalkan jejak di udara.
Laras berdiri diam. "Maaf," katanya akhirnya, entah pada kakeknya atau pada ibu yang sudah pergi. "Aku tidak bermaksud—"
"Aku tahu kamu tidak bermaksud." Pak Hardi meletakkan jam itu di atas alas kulit, di bawah lampu. "Kamu cuma bicara dengan bahasa tempat kamu bekerja. Di malmu, orang datang karena barang mereka rusak dan mereka mau itu berfungsi lagi. Cepat, murah, beres. Itu pekerjaan yang baik, jangan salah. Tapi di sini lain."
Ia menarik bangku, menepuk tempat di sebelahnya. Laras duduk.
"Orang yang datang ke sini," kata Pak Hardi, sambil membalik jam itu di jarinya, "jarang datang karena mereka butuh tahu jam berapa sekarang. Untuk itu ada benda di saku semua orang." Ia mengangkat dagu ke arah ponsel Laras di meja. "Mereka datang karena ada sesuatu di dalam benda ini yang mereka tidak mau biarkan berhenti. Tugas kita bukan bikin jam jalan. Tugas kita menahan supaya sesuatu itu tidak benar-benar mati. Mengerti bedanya?"
Laras tidak menjawab. Tapi ia mengangguk pelan.
"Sekarang," kata kakeknya, mengambil sebuah alat kecil pipih dari laci, semacam pisau tumpul yang ujungnya melengkung, "karena tanganku begini, aku tidak bisa kerja cepat. Tapi aku masih bisa mengajar. Ambil jam itu. Yang pertama harus kamu pelajari bukan memperbaiki. Yang pertama, membuka tutup belakang tanpa menggoresnya. Karena goresan di tutup belakang artinya tukang yang ceroboh, dan orang menilai tukang dari hal yang tidak mereka lihat."
Ia menyerahkan alat itu. Tangan Laras, yang biasa memegang obeng pentalobe dengan percaya diri penuh, tiba-tiba terasa kikuk memegang benda asing ini. Ia menjepit jam di alas, mencari celah tipis antara tutup dan badan, dan menempelkan ujung melengkung itu.
"Pelan," kata Pak Hardi. "Bukan tenaga. Sudut. Cari sudutnya, biar logam yang bekerja, bukan ototmu."
Laras menahan napas, memiringkan pergelangan tangannya sedikit demi sedikit, dan dengan satu bunyi klik halus yang nyaris tak terdengar di antara detak jam-jam dinding, tutup belakang itu terangkat, mulus, tanpa cacat. Untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan, dadanya terasa hangat oleh sesuatu yang mirip kebanggaan kecil, kebanggaan atas hal yang amat, amat kecil.