Dunia di dalam jam ternyata punya bahasanya sendiri, dan Laras menghabiskan minggu-minggu berikutnya belajar mengucapkannya dengan canggung, seperti orang dewasa yang baru belajar bahasa asing dan tahu lidahnya tak akan pernah benar-benar pas.
"Ini balance wheel," kata Pak Hardi suatu pagi, menunjuk sebuah roda kecil yang bergetar maju-mundur di dalam mesin terbuka, begitu cepat sehingga terlihat hanya sebagai kabut berkilau. "Ini jantungnya. Dia berayun ke kanan dan ke kiri, sekian kali tiap detik, dan dari ayunan itulah jam tahu berapa lama satu detik. Kalau jam mati, yang pertama kamu lihat: apakah jantung ini masih mau berayun."
Laras mencondongkan badan ke kaca pembesar. Di konter mal, semua yang ia kerjakan digerakkan listrik, mengalir tak terlihat lewat jalur tembaga sehalus rambut. Di sini, semuanya bisa dilihat. Tenaga bukan disihir dari baterai, melainkan disimpan dalam sebatang per logam yang digulung ketat, lalu dilepaskan sedikit demi sedikit, gerigi demi gerigi, sampai ke jantung yang berdetak ini. Tidak ada yang gaib. Semuanya logam, bentuk, dan kesabaran.
"Yang ini?" Ia menunjuk gulungan logam tipis yang melingkar serapi sarang siput.
"Pegas rambut. Hairspring. Dia yang membuat jantung tadi berayun balik tiap kali. Sehalus rambut, makanya namanya begitu." Pak Hardi menggeleng pelan. "Itu bagian paling tidak boleh kamu sentuh dengan tangan telanjang. Sekali tertekuk, sulit sekali dibetulkan. Banyak tukang muda berhenti karena merusak ini."
Laras menghafal nama-nama itu seperti dulu ia menghafal kode kerusakan ponsel. Mahkota, bagian yang diputar untuk mengatur jarum. Bumi, dasar mesin. Batu, permata kecil keras tempat poros berputar agar tidak aus. Ia mencatat semuanya di ponselnya dengan jari cepat, lalu menyadari bahwa kakeknya mencatat hal serupa dulu di buku, dengan tangan, dan entah kenapa itu membuatnya merasa kedua cara itu tidak sejauh yang ia kira.
Frustrasi datang di hari kesepuluh.
Ia sedang mencoba memasang kembali sebuah roda gerigi sebesar biji wijen ke porosnya, jam dinding tua milik seorang pensiunan yang ringan dan tidak terlalu berharga, jam latihan, kata kakeknya. Pinset di tangannya, gerigi terjepit di ujungnya, dan ia harus mendudukkannya pas di lubang sekecil titik. Ia mendekatkannya. Lebih dekat. Tangannya, tangan yang selalu ia banggakan stabil, tiba-tiba terasa seperti milik orang lain. Pinset itu meleset sepersekian milimeter, gerigi itu terpental, dan saat ia menjepitnya lagi dengan terlalu cepat, terlalu kesal, salah satu gigi halusnya bengkok, lalu patah.
"Aduh." Ia meletakkan pinset, menutup mata. "Maaf, Kek. Patah. Aku merusaknya."
Ia menunggu kemarahan. Di mal, merusak komponen pelanggan berarti potongan gaji, omelan supervisor, laporan. Ia sudah menyiapkan diri untuk semuanya. Tapi Pak Hardi hanya mengambil jam itu, melihat gerigi yang patah, dan meletakkannya kembali tanpa ekspresi yang bisa dibaca.
"Tahun pertama aku jadi tukang," katanya akhirnya, suaranya tenang, "guruku, namanya Pak Liem, memberiku sekotak gerigi rusak. Bukan untuk diperbaiki. Untuk dipasang dan dilepas, dipasang dan dilepas, sampai tanganku berhenti gemetar. Aku merusak sepuluh sebelum berhasil mendudukkan satu dengan benar. Dia bilang, gerigi yang kamu rusak itu bukan kerugian. Itu biaya sekolah. Kamu bayar dengan logam, bukan dengan uang."
Laras menatapnya.
"Tanganmu cekatan, Las. Aku lihat itu. Untuk benda yang kamu kenal, kamu cepat dan tepat. Tapi mekanik itu lain. Listrik mengalir, dia memaafkan. Mekanik tidak. Mekanik harus didekati pelan, karena dia tidak peduli kamu buru-buru atau tidak." Ia membuka laci di bawah meja, laci yang dicat dengan angka tujuh yang sudah pudar, dan mengeluarkan sekotak kecil gerigi-gerigi tua dari berbagai jam yang sudah lama mati. "Ini punyaku dulu. Sekarang punyamu. Latih dengan ini, bukan dengan punya orang."
Laras menerima kotak itu. Logam-logam kecil di dalamnya berkelontang halus. Ia menatap kakeknya, lelaki tua yang sepanjang ingatannya jarang sekali memuji, yang menunjukkan kasih sayang lewat sepatu baru yang diam-diam ditaruh di depan pintu kamar dan bukan lewat kata-kata, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun ia merasa ada sesuatu yang mencair, setipis es di permukaan, di antara mereka berdua.
"Terima kasih, Kek."
Pak Hardi mendengus pelan, tapi ada sesuatu di sudut matanya. "Jangan berterima kasih dulu. Tunggu sampai kamu merusak sepuluh. Baru kita lihat apa kamu masih mau di sini."
Dan untuk pertama kalinya sejak ia tiba di Jalan Cendana, Laras tertawa, kecil, tapi sungguh-sungguh, dan suaranya bercampur dengan detak puluhan jam yang tak pernah serempak itu, tak lagi terdengar seperti keributan, melainkan seperti sesuatu yang hampir mirip lagu.