Brankas kecil itu ada di sudut bawah lemari, di balik tumpukan kotak suku cadang, dan Laras tidak pernah memperhatikannya sampai suatu sore ia merapikan lemari dan kepalanya membentur sudut besinya. Brankas tua, abu-abu, dengan kunci putar berangka yang catnya sudah mengelupas. Ia tidak tahu kombinasinya, dan ia mengira isinya uang atau dokumen penting, sampai ia bertanya pada kakeknya dan melihat sesuatu yang aneh melintas di wajah tua itu.
"Tidak ada apa-apa di situ," kata Pak Hardi, terlalu cepat untuk orang yang biasanya bicara pelan. "Barang lama."
Tapi sore itu, ketika kakeknya pergi ke belakang untuk salat, Laras melihat tangan tua itu memutar kombinasi, dan tanpa sengaja, atau mungkin tidak sepenuhnya tanpa sengaja, ia menghafal arah putarannya. Bukan untuk membuka diam-diam. Ia tidak akan melakukan itu. Tapi rasa penasaran sudah tertanam, dan rasa penasaran, seperti yang akan ia pelajari nanti, adalah hal yang tidak bisa dibatalkan.
Kesempatan datang dengan jujur tiga hari kemudian. Ada seorang pelanggan datang menanyakan sebuah jam saku yang dulu ia titipkan, jam tangan kakeknya, katanya, sudah lama, ia hanya kebetulan lewat dan ingat. Pak Hardi mendengar pertanyaan itu dari kursinya, dan wajahnya berubah, mengeras dan menutup, seperti pintu yang ditarik perlahan.
"Belum selesai," katanya. "Suku cadangnya belum dapat."
"Sudah berapa tahun, Pak?" tanya pelanggan itu, tidak marah, hanya heran. "Kakek saya yang menitipkan sampai meninggal belum jadi."
"Belum selesai," ulang Pak Hardi, dan ada sesuatu di suaranya yang membuat pelanggan itu memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut, mengucapkan terima kasih, dan pergi.
Setelah pintu menutup, ruangan terasa tegang. Laras tidak bertanya. Tapi malam itu, saat menutup bengkel, ia tidak bisa menahan diri.
"Jam saku apa, Kek? Yang di brankas?"
Pak Hardi sedang mengelap mejanya dengan kain. Tangannya berhenti sejenak. "Bukan urusanmu."
"Aku menjaga bengkel ini sekarang. Kalau ada titipan yang menggantung, itu urusanku."
Lelaki tua itu menatapnya lama. Lalu, dengan helaan napas yang seperti membawa beban tahun-tahun, ia berjalan ke sudut, berlutut pelan dengan tangan menahan lemari, dan memutar kombinasi brankas. Pintu kecil itu terbuka dengan derit. Dari dalam, ia mengeluarkan sebuah bungkusan kain flanel, dan membukanya di atas meja, di bawah cahaya lampu yang sudah meredup mengikuti malam.
Sebuah jam saku kuningan. Besar, berat, dengan ukiran rumit di tutupnya yang sudah aus di beberapa tempat oleh sentuhan ibu jari yang berulang selama entah berapa puluh tahun. Pak Hardi menekan kenop di atasnya, dan tutup itu membuka dengan pegas yang masih kuat, memperlihatkan angka-angka Romawi yang anggun dan jarum-jarum tipis yang membatu.
"Punya Pak Soemarno," kata Pak Hardi pelan. "Pelanggan lama. Pelanggan paling lama yang pernah kakek punya."
"Kenapa belum selesai?"
Pak Hardi membalik jam itu, membuka tutup belakangnya yang juga berukir, dan menunjuk ke dalam dengan ujung pinset. Di tengah mekanisme yang rumit itu, ada sebuah bagian kecil, sebuah roda dengan bentuk khusus yang Laras belum kenal.
"Ini namanya roda perantara untuk mekanisme penanggalan. Jam ini punya penunjuk tanggal, model lama, buatan tahun yang bahkan lebih tua dari kakek. Rodanya retak. Bukan patah, retak halus, tapi cukup untuk membuat seluruh mekanisme tersendat. Tidak bisa dilas, tidak bisa ditambal. Harus diganti yang sama persis." Ia meletakkan jam itu. "Dan yang sama persis sudah tidak dibuat lagi sejak puluhan tahun. Pabriknya tutup sebelum kamu lahir. Aku sudah cari ke semua tukang yang aku kenal, ke kota lain, ke pengumpul. Tidak ada."
Laras menatap roda kecil yang retak itu, benda sekecil kuku jari kelingking yang telah menahan sebuah janji selama bertahun-tahun. "Lalu Pak Soemarno?"
Pak Hardi tidak langsung menjawab. Ia membungkus kembali jam itu dengan flanel, perlahan, dengan kehati-hatian yang melebihi semua jam yang pernah Laras lihat ia pegang.
"Pak Soemarno sudah tidak datang," katanya akhirnya, dan ada sesuatu di suaranya, sesuatu yang Laras tidak bisa baca, yang ditahan rapat. "Tapi jam ini tetap titipannya. Selama belum selesai, dia masih titipan. Kakek tidak akan menutupnya."
Ia membawa bungkusan itu kembali ke brankas, memutarnya terkunci, dan saat ia berdiri, Laras melihat sesuatu di pundak tuanya, beban yang lebih tua dari tremor di tangannya, lebih tua dari sewa yang naik, lebih tua dari segalanya di ruko sempit ini.
"Ayo," kata Pak Hardi, suaranya kembali datar, seolah pintu telah ditutup lagi. "Sudah malam. Kita pulang."
Laras mematikan lampu. Tapi di kegelapan, di antara detak puluhan jam yang tak pernah berhenti, ia tahu satu jam tidak berdetak, terkunci dalam brankas, menunggu sesuatu yang mungkin tak akan pernah datang, dan ia tahu ia tidak akan bisa berhenti memikirkannya.