Warung kopi Mas Gun ada di ujung deret, ruko paling pojok yang kebagian matahari sore, dan menjadi semacam ruang tamu bersama untuk semua penghuni Jalan Cendana. Laras mulai mampir ke sana saat bengkel sepi, awalnya untuk membeli kopi, lama-lama untuk hal yang lebih tua dari kopi: bicara dengan orang.
"Jadi kamu cucunya Pak Hardi yang dari mal itu, ya?" Mas Gun, lelaki gempal berkaus oblong dengan handuk kecil tersampir di bahu, menuang kopi tubruk ke gelas tanpa ditanya. "Cucu yang pintar komputer."
"Pintar ponsel, Mas. Beda."
"Sama saja buat kami orang tua." Ia tertawa. "Dulu Pak Hardi yang benerin semua jam di jalan ini. Jam dinding warungku ini," ia menunjuk jam bulat besar di atas pintu, "sudah tiga kali dia servis. Tidak pernah mau aku bayar penuh. Katanya jam langganan harga langganan."
Laras tersenyum. Ia mulai mengenal mereka satu per satu. Bu Tanti, penjahit permak di ruko sebelah bengkel, perempuan paruh baya bersuara nyaring yang mesin jahitnya berderak dari pagi sampai sore dan yang tangannya selalu penuh benang. Koh Aan, tukang kunci di seberang, lelaki kurus pendiam yang bisa membuka segala gembok tapi paling banyak bicara soal cucu-cucunya. Pak Ndaru, fotokopi, yang mesinnya tua dan sering macet dan yang selalu mengeluh tapi tak pernah benar-benar pergi.
Mereka semua, Laras sadar, adalah orang-orang yang menjalankan usaha kecil yang dengan logika ponsel di mal seharusnya sudah lama tidak masuk akal. Siapa yang masih permak baju di zaman baju murah? Siapa yang masih fotokopi saat semua orang punya pemindai di saku? Tapi mereka ada, bertahun-tahun, saling pinjam gunting dan kembalian, saling titip toko saat yang satu ke kamar mandi, membentuk sesuatu yang tidak ada di neraca mana pun.
Sore itu, suasana di warung berbeda. Lebih sepi dari biasa, dan ketika Laras datang, percakapan yang sedang berlangsung berhenti sejenak, lalu dilanjutkan dengan suara yang lebih pelan.
"Kamu sudah dengar?" tanya Bu Tanti, yang ada di sana sambil minum teh. "Soal sewa."
"Sewa apa?"
Bu Tanti dan Mas Gun bertukar pandang. "Pemilik ruko," kata Mas Gun akhirnya. "Pak Bambang. Bukan dia sebenarnya, anaknya. Bapaknya sudah tua, anaknya yang urus sekarang. Anak muda, sekolah di kota besar, pikirannya bisnis." Ia menyeruput kopinya. "Tahun depan, waktu kontrak kita semua habis bareng, dia mau naikkan sewa. Bukan naik sedikit. Hampir dua kali lipat."
Laras meletakkan gelasnya. "Dua kali lipat?"
"Katanya nilai tanah di sini naik. Katanya kalau dijadikan kafe atau toko baju anak muda, bisa dapat segitu. Dia tidak salah hitung," kata Mas Gun, dan ada kepahitan yang ditahan dalam pengakuan jujurnya itu. "Kalau aku jadi dia, mungkin aku juga mau begitu. Tapi aku bukan dia. Aku cuma penjual kopi."
"Koh Aan sudah ancang-ancang pindah ke pasar," kata Bu Tanti. "Lebih jauh, lebih sumpek, tapi murah. Pak Ndaru bilang mungkin dia tutup saja, sudah capek. Aku belum tahu. Jahitan permak mana bisa bayar sewa segitu."
Laras menghitung di kepalanya, refleks yang tak bisa ia matikan. Bengkel kakeknya membayar dua juta sebulan. Kalau naik hampir dua kali lipat, itu hampir empat juta. Bengkel yang minggu lalu hanya menghasilkan seratus delapan belas ribu dalam tujuh hari. Angkanya bahkan tidak perlu dihitung serius. Angkanya berteriak sendiri.
Ia pulang ke bengkel dengan kepala penuh. Pak Hardi sedang duduk di kursinya, mengamati sebuah jam tangan di bawah lampu, tidak mengerjakannya, hanya mengamatinya, seperti yang sering ia lakukan belakangan.
"Kek," kata Laras hati-hati. "Kontrak ruko ini habis kapan?"
Pak Hardi tidak mengangkat kepala. "Akhir tahun depan. Februari."
"Kakek tahu sewanya mau dinaikkan?"
Kali ini ia mengangkat kepala, dan menatap cucunya dengan tatapan yang mengatakan ia sudah tahu, sudah lama tahu, dan sudah memutuskan untuk tidak membicarakannya. "Pak Bambang yang muda sudah datang. Dua bulan lalu. Sebelum kakek jatuh."
"Dan kakek tidak cerita?"
"Apa yang mau diceritakan?" Ia meletakkan jam itu. "Sewa naik. Itu bukan hal baru di dunia. Semua naik. Aku sudah tujuh puluh satu tahun, Las. Aku sudah melihat banyak hal naik dan banyak hal hilang."
Laras berdiri di tengah ruangan, di antara puluhan jam yang berdetak, dan untuk pertama kali ia melihat tempat ini bukan sebagai relik yang lucu, bukan sebagai teka-teki ekonomi yang membingungkan, melainkan sebagai sesuatu yang sedang ditekan dari segala sisi, perlahan, oleh zaman dan oleh angka, dan ia tidak tahu apakah ada sesuatu yang bisa, atau seharusnya, dilakukan untuk menahannya.