Telepon dari Pak Yusuf datang di hari yang biasa, dan itulah yang membuatnya terasa luar biasa. Laras sedang membersihkan sebuah jam dinding milik Bu Tanti, tangannya kotor oli, ketika ponselnya bergetar di meja dengan nama mantan bosnya di layar. Ia mengelap tangannya tergesa dan mengangkat.
"Laras! Apa kabar, anak hilang." Suara Pak Yusuf hangat, suara orang yang tahu ia membawa kabar baik. "Cutinya bagaimana? Masih jaga bengkel kakekmu?"
"Masih, Pak. Sebulan lagi."
"Bagus, bagus. Justru itu aku telepon." Ia berdeham. "Begini. Kamu tahu kita mau buka cabang baru di mal yang besar itu, yang baru jadi. Aku ditunjuk jadi kepala teknisi di sana, dan aku boleh bawa tim sendiri. Aku langsung ingat kamu."
Laras meletakkan kain lapnya pelan.
"Posisi tetap, Las. Bukan harian lagi, bukan kontrak. Karyawan tetap, ada BPJS, ada tunjangan. Gajinya," ia menyebut angka, dan angka itu hampir dua kali lipat dari yang dulu ia terima di konter lama, "dan kamu jadi teknisi senior, pegang anak-anak baru. Aku butuh orang yang tangannya bersih dan kepalanya dingin. Kamu itu orangnya."
Laras menatap jam dinding Bu Tanti yang terbuka di mejanya, gerigi-geriginya menganga di bawah cahaya.
"Kapan mulainya, Pak?"
"Itu dia bagusnya. Cabangnya buka tiga bulan lagi. Persiapan dulu, perekrutan, pelatihan. Jadi waktunya pas buat kamu. Beresin urusan bengkel kakekmu, lalu masuk. Tidak perlu buru-buru, tapi aku butuh jawaban dalam beberapa minggu, biar aku bisa atur tim." Suaranya melembut. "Aku tahu kamu sayang kakekmu. Tapi kamu masih muda, Las. Masa depanmu bukan di benerin jam tua. Maaf aku ngomong begitu, tapi kamu tahu maksudku."
Mereka menutup telepon dengan janji Laras akan mengabari. Ia duduk diam cukup lama setelahnya, ponsel masih di tangan, dan menyadari bahwa hatinya berdetak lebih cepat. Bukan karena terkejut. Tapi karena untuk pertama kalinya, tawaran itu mengubah segalanya menjadi nyata.
Selama ini, tiga bulan adalah pinjaman. Ia menjaga bengkel sambil menunggu kembali ke kehidupannya yang sebenarnya, kehidupan di mana ia tahu siapa dirinya, di mana tangannya cepat dan dunia masuk akal dan uang masuk dalam aliran yang bisa dihitung. Bengkel ini titik henti sementara, bukan tujuan. Tapi sekarang ada tanggal. Ada gaji. Ada masa depan yang menunggu di seberang, dengan pintu yang terbuka, dan persis di saat ia harus melangkah ke sana, masa jaga bengkel akan habis.
Dua hal itu, ia sadar, dijadwalkan pada minggu yang nyaris sama. Akhir masa cutinya. Awal pekerjaan barunya. Dan di antaranya, kakeknya yang seharusnya sudah pulih dan kembali bekerja, tapi yang tangannya, ia tahu betul meski tak ada yang mengatakannya, tidak akan pulih seperti dulu.
Ia menatap bengkel itu dengan mata baru. Bukan lagi sebagai beban yang lucu dan menyita waktu. Bukan lagi sebagai teka-teki. Tapi sebagai sebuah pilihan yang sebentar lagi harus ia ambil, dan untuk pertama kalinya itu membuatnya tidak nyaman, karena selama ini ia tidak pernah menganggap ini sebagai sesuatu yang bisa dipilih. Tempat ini akan tutup. Itu sudah pasti, secara angka, secara logika, secara segala hal yang ia percayai. Kakeknya terlalu tua, tangannya tidak bisa lagi, sewa naik dua kali lipat, pemasukan tak cukup untuk membeli minyak. Tidak ada jalan keluar yang masuk akal. Tempat ini akan tutup, dan ia akan kembali ke mal, dan itu hal yang benar.
Lalu kenapa pikiran itu terasa seperti menelan sesuatu yang terlalu besar untuk kerongkongannya?
Malam itu, di rumah, ia mencoba menceritakannya pada kakeknya saat makan, tapi kata-katanya tersangkut. Ia hanya bilang, "Pak Yusuf telepon. Ada tawaran kerja."
Pak Hardi mengunyah pelan, lalu mengangguk. "Bagus. Pekerjaan tetap?"
"Tetap."
"Ambil." Ia tidak ragu sedikit pun, dan kepastian dalam suaranya entah kenapa membuat dada Laras nyeri. "Itu masa depanmu, Las. Bukan ini." Ia menunjuk ke arah pintu, ke arah Jalan Cendana di kejauhan dalam gelap. "Aku tidak membesarkanmu supaya kamu terjebak di ruko tua yang rugi. Aku besarkan kamu supaya kamu bisa pergi ke tempat yang lebih baik dari tempat aku."
Laras menatap kakeknya, lelaki tua yang menyuruhnya pergi dengan suara yang begitu yakin sehingga ia tahu kalimat itu sudah dipikirkan jauh sebelum tawaran ini datang, mungkin sudah dipikirkan sejak ia masih kecil, dan ia merasakan sesuatu yang aneh: bahwa kepergiannya adalah hal yang diinginkan kakeknya, dan justru karena itu, untuk pertama kalinya, ia tidak yakin ingin pergi.