Pemuda itu masuk dengan langkah cepat dan napas yang masih buru-buru, seperti orang yang baru turun dari ojek dan tergesa, dan ia meletakkan jam tangannya di meja sebelum Laras sempat menyapa.
"Mbak, ini bisa diperbaiki sekarang? Hari ini juga?" Ia menunjuk jam tangan perak yang cukup bagus, model formal, jenis yang dipakai orang untuk terlihat rapi. "Mati pagi tadi. Padahal lusa aku ada wawancara kerja. Wawancara penting, Mbak. Posisi yang aku tunggu setahun. Aku harus pakai ini, ini hadiah dari almarhum bapak waktu aku lulus."
Laras mengambil jam itu, membuka tutup belakangnya dengan gerakan yang sekarang sudah mulai luwes, dan mengamati ke dalam dengan kaca pembesar. Ia sudah cukup belajar untuk membaca beberapa hal sendiri sekarang. Ia melihat balance wheel yang diam, dan saat ia mengguncang halus, ia melihat sesuatu yang lepas, sebuah bagian kecil yang tampak tergeser dari tempatnya.
"Sebentar." Refleks dunia servis cepat menyala di dalam dirinya, refleks yang sudah ribuan kali menyelesaikan masalah dalam hitungan menit. Ia bisa melihat masalahnya. Mungkin hanya perlu didudukkan kembali, sedikit minyak, dan jam ini akan jalan. Setengah jam. Mungkin kurang. Pemuda ini butuh, dan ia bisa.
Ia mengambil pinset, mendekat, hendak mendorong bagian yang tergeser itu kembali ke tempatnya. Tangannya sudah di atas mekanisme ketika sebuah suara menghentikannya.
"Tunggu."
Pak Hardi bangkit dari kursinya, berjalan pelan, dan meminta jam itu dengan ulurannya tangan. Ia melihat ke dalam lama sekali, memutar mahkota, mendengarkan. Lalu ia meletakkannya.
"Tidak bisa hari ini," katanya pada pemuda itu.
"Tapi tadi Mbak ini—" Pemuda itu menunjuk Laras. "Tadi dia mau benerin. Aku lihat dia hampir benerin!"
"Memang bisa kelihatannya jalan," kata Pak Hardi tenang. "Bagian yang tergeser itu didorong kembali, dikasih minyak, jam jalan. Lima belas menit. Tapi yang membuatnya tergeser bukan kebetulan. Ada batu di sini," ia menunjuk dengan ujung pinset, "permata kecil tempat poros berputar, sudah retak. Itu sebabnya bagian itu lepas. Kalau cuma didorong balik tanpa ganti batunya, jam akan jalan hari ini, mungkin besok. Lalu di hari wawancaramu, di tengah orang menatapmu, dia berhenti lagi. Mungkin saat kamu lihat jam untuk tahu sudah waktunya masuk ruangan."
Pemuda itu terdiam.
"Pekerjaan yang tergesa," kata Pak Hardi, dan ia menoleh sedikit, tidak menatap Laras langsung tapi cukup untuk Laras tahu kalimat itu juga untuknya, "adalah pekerjaan yang akan kembali. Dia kembali di waktu yang paling tidak kamu inginkan. Kamu mau jam ini hidup di hari wawancaramu, bukan hidup hari ini lalu mati di hari wawancaramu."
Pemuda itu menelan ludah. Kemarahannya meredup, digantikan sesuatu yang lebih tua, kekecewaan, kecemasan. "Lalu bagaimana? Lusa aku butuh."
"Batunya aku punya yang cocok. Penggantiannya butuh ketelitian, dan tangan saya begini," ia mengangkat tangannya yang gemetar halus, jujur, "jadi yang kerjakan cucu saya, di bawah pengawasan saya. Selesai besok sore. Sehari sebelum wawancaramu. Cukup waktu untuk kami pastikan dia jalan stabil semalaman." Ia menatap pemuda itu. "Sabar satu hari. Itu lebih murah daripada jam mati saat kamu paling butuh."
Pemuda itu memandang keduanya bergantian, lalu mengangguk pelan, kemarahannya luruh menjadi rasa lega yang ragu-ragu. Ia meninggalkan jam itu dan keluar, dan saat lonceng pintu berdenting menutup, Laras menatap kakeknya.
"Aku hampir merusaknya," katanya pelan. "Aku tidak lihat batunya."
"Kamu lihat masalahnya. Kamu cuma tidak lihat sebabnya." Pak Hardi duduk kembali, lelah oleh berdiri yang singkat. "Itu beda antara kamu dan aku, Las. Di tempat kamu, masalah dan sebabnya sering sama. Layar pecah, ganti layar, selesai. Tidak ada yang tersembunyi. Tapi di mesin tua, masalah yang kamu lihat hampir selalu cuma gejala. Yang membunuhnya ada di tempat lain, lebih dalam, dan dia tidak akan menunjukkan dirinya kalau kamu buru-buru."
Laras mengambil jam pemuda itu, membuka tutupnya lagi, dan kali ini ia mencari, bukan masalahnya, tapi sebabnya. Dan setelah beberapa menit menatap, ia melihatnya, batu kecil yang retak, hampir tak kelihatan, yang sejak tadi ada di sana menunggu ditemukan.
"Kecepatan itu bagus," kata Pak Hardi di belakangnya, suaranya pelan, hampir seperti pada diri sendiri. "Aku tidak bilang kecepatan jelek. Dunia butuh orang cepat. Tapi ada hal-hal yang tidak bisa dipaksa cepat. Mereka selesai dalam waktunya sendiri, atau tidak selesai sama sekali. Tukang yang baik tahu mana yang bisa dipaksa, dan mana yang harus ditunggu."
Laras tidak menjawab. Ia mengambil pinset, menarik napas, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang serba cepat, ia melambat dengan sengaja, membiarkan tangannya bergerak pelan, membiarkan benda kecil di hadapannya menentukan iramanya sendiri, dan menemukan, dengan heran, bahwa ada semacam ketenangan di dalamnya yang tak pernah ia kenal di balik etalase berlampu putih.